
Seperti janji Azhar, ia membawa Nasha untuk berkunjung ke rumah orang tua angkat Nasha. Yg paling merasa bahagia menyambut kedatangan Nasha tentu saja adalah Harry.
"Kak Nasha... Azhar..."
"Kak Azhar" tegas Nasha yg membuat Harry mendelik kesal.
"Harry berasa jadi anak kecil kalau manggil Azhar Kakak" ujar Harry.
"Engga apa apa, Har. Lagian tanpa embel embel kakak justru membuat kitalebih dekat seperti teman, jadi engga ada kecanggunan kan?"
"Betul" Harry menwab dengan antusias.
Harry pun membawa Azhar dan Nasha masuk, yg segera di sambut kedua orang tua Harry.
"Akhir nya kalian punya waktu juga berkunjung pada orang tua sendiri" ujar Raya sembari tersenyum tipis, ia pun memeluk Nasha dan mencium kedua pipi nya "Mama kangen sama kamu, Sha" ucap nya sedih.
"Nasha juga kangen sama Mama" jawab Nasha dengan begitu tulus.
"Ayo masuk, ngobrol di dalam" ujar Surya kemudian.
"Papa senang karena perkembangan kamu sangat baik dalam kuliah mu, Sha. Percaya deh sama Papa, kamu engga akan rugi jadi Dokter. Masa depan kamu jelas" tukas Surya yg membuat Nasha tersenyum.
"Bukan uang atau kesuksesan duniawi saja yg Nasha kejar, Pa. Tapi lebih dari itu" jawab Nasha sembari meilirik Azhar dengan senyum.
"Sekarang kamu banyak berubah ya, Sha" sambung Raya.
"Alhamdulillah, Ma. Azhar sangat membantu dalam perubahan hidup Nasha" Raya hanya menganggukan kepala saja dan tiba tiba ia memperhatikan penampilan Nasha.
"Sha, nanti kamu bawa pakaian mu dari sini. Sayang lho pakaian mu itu mahal mahal semua tapi cuma jadi penghuni lemari, kamu bawa saja semua nya, supaya kamu bisa pakai kalau ke kampus juga"
"Iya, Ma. Nanti Nasha bawa sebagian, soalnya di rumah baju Nasha juga sudah banyak" jawab Nasha. Sementara Harry yg sudah mengenal Mama nya tentu mengerti kemana arah pembicaraan itu.
"Oh ya, Papa juga mau belikan kamu mobil, Sha. Jadi kamu bisa nyetir sendiri kalau mau kemana mana, kan Azhar cuma punya mobil satu itu pun masih harus berbagi dengan papa nya, iya kan?"
Azhar mulai merasa tidak nyaman dengan topik ini. Namun ia tetap berusaha menyunggingkan senyum dan berfikir positif saja.
"Engga usah, Pa. Lagian Nasha lebih suka selalu sama Azhar kemana pun" jawab Nasha yg juga memaksakan diri tersenyum, karena ia mulai merasa tidak nyaman dengan topik yg seolah merendahkan suami nya itu.
"Ya sudah kalau gitu, engga apa apa" jawab Surya.
"Azhar, nanti kirim nomor rekening mu ya, aku akan transfer uang untuk Nasha nanti, sekalian untuk bayar kuliah nya bulan ini" seru Raya yg tentu saja membuat Azhar tersinggung namun ia tetap berusaha tenang. Sementara Nasha dan Harry yg mendengar itu tentu saja terkejut, karena kedua orang tua mereka merendahkan Azhar terang terangan. Azhar sudah membuka mulut nya hendak menjawab namun Nasha mendahului nya.
"Engga usah, Ma. Bulan ini Nasha sudah bayar semua nya, dan Azhar juga sudah kasih nafkah yg lebih dari cukup buat Nasha. Jadi Mama jangan khawatir ya" ujar Nasha dengan senyum lebar nya, seolah ingin memperlihatkan betapa bahagia nya ia bersama Azhar.
"Iya, Ma" jawab Nasha masih dengan senyum lebar nya.
Nasha membawa Azhar ke kamar nya, kamar Nasha yg sedikit lebih besar dari kamar Azhar. Bahkan dekorasi kamar itu cukup mewah dengan barang barang yg juga pasti mahal.
"Kenapa?" tanya Nasha karena Azhar hanya terdiam di ambang pintu.
"Engga apa apa, Sayang" Jawab Azhar kemudian ia melangkah masuk saat Nasha menarik nya "Aku engga bawa baju ganti"
"Pakek punya Harry saja, sebentar ya aku carikan dulu di kamar d Harry" ujar Nasha dan Azhar hanya mengangguk.
Saat Nasha pergi, Surya masuk ke kamar Nasha dengan membawa dua paper bag.
"Azhar, ini aku bawain kamu baju dari butik. Kamu pasti suka" ujar Raya dan menyerahkan paper bag Itu, Mau tak mau Azhar harus mengambil nya.
"Terima kasih, Tante" ucap Azhar dengan senyum nya.
"Coba dulu, Azhar. Itu import lho dari Polandia, cuma ada lima lembar di Indonesia" seru Raya yg sekali lagi benar benar ingin merendahkan Azhar.
Nasha yg baru kembali dari kamar Harry tak sengaja mendengar ucapan ibu angkat nya itu. Nasha merasa sangat tersinggung sebenar nya namun ia mencoba menahan diri.
"Ma, Azhar engga suka warna maroon" seru Nasha yg kebetulan sekali Azhar mengeluarkan baju nya dari paper bag Dan baju Itu berwarna maroon. Nasha tidak bohong, Azhar memang tidak suka baju berwarna cerah begitu.
"Kenapa?" tanya Raya tak suka.
"Azhar cuma suka baju warna hitam putih dan abu abu, tapi makasih ya sebelum nya. Karena Azhar engga suka baju ini, sebaiknya kita kasih orang saja. Boleh?" tanya Nasha dan Azhar hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Ya sudah terserah kalian" ketus Raya dan ia segera meninggalkan kamar Nasha.
Nasha langsung mengunci pintu dan kemudian ia duduk di samping Azhar.
"Kamu tersinggung?" tanya Nasha lembut dan Azhar mengangguk namun dengan senyum geli nya "Maafin Mama Papa ya, entah kapan mereka sadar kalau materi itu bukan segala nya"
"Engga apa apa, Sayang. Aku faham kok" jawab Azhar.
Baru beberapa menit ia tinggal di rumah orang tua angkat Nasha, dan ia benar benar terus di rendahkan dari cara yg halus sampai cara yg terang terangan. Azhar tersinggung, manusiawi tentu saja. Namun itu tidak membuat nya sakit hati dan membenci mereka. Justru Azhar bertekad untuk membuktikan pada mereka bahwa ia bisa menjadi suami yg baik untuk Nasha, bertanggung jawab dan bisa memenuhi semua kebutuhan Nasha.
"Oh ya, ini baju nya. Masih baru kok, Kata Harry memang ke besaran sama dia, beli nya sudah lama karena waktu beli nya pas sama aku"
"Makasih, Sayang" ucap Azhar sembari mengusap kepala Nasha dengan lembut