True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 125



Abi Fadlan menepati janji nya untuk memanjakan Nasha dan menjadikan nya ratu di rumah itu karena kehamilan nya.


Kini Nasha tak di izinkan membantu Ummi Rifa untuk melakukan pekerjaan rumah, karena Abi Fadlan mengambil alih tugas itu. Sementara Azhar seperti biasa sibuk dengan segala tanggung jawab yg di pikul nya.


Nasha juga tidak pergi ke kampus atau pun ke pesantren karena semenjak di ketahui kehamilan nya, Nasha mudah pusing dan selalu mual, bahkan ia selalu merasa lemas, seolah tidak memiliki tenaga untuk bergerak.


Membuat semua orang kerepotan terutama ia sudah menangis karena terus mual dan tidak ingin memakan apapun.


"Bi, dulu waktu Ummi hamil Azhar, begini juga ya?" tanya Nasha pada ayah mertua nya itu.


Saat ini kedua nya sedang menonton sinetron setelah Abi Fadlan menyelesaikan pekerjaan rumah nya, sementara Ummi Rifa sudah pergi ke toko dan Azhar pergi ke kampus. Tinggalah mereka berdua bersantai di rumah, bahkan Abi Fadlan merasa ia seperti baby sitter yg sedang mengurus anak anak.


"Engga tuh, Ummi mah anteng. Waktu dia hamil itu tidak ada tanda, eh tiba tiba sudah masuk 4 bulan"


"Kok bisa?"


"bisa dong, kan Azhar itu memang anak yg baik bahkan sejak dia masih janin. Dia sama sekali tidak merepotkan Abi dan Ummi, hebat kan suami mu itu?" tanya Abi Fadlan yg membuat Nasha tertawa namun ia mengangguk membenarkan.


"Memang hebat sih, Bi. Maka nya Nasha itu cinta mati sama Azhar" tukas Nasha.


"Memang nya Kamu tahu arti nya cinta mati, Cil?" goda Abi Fadlan.


"Tahu dong, Bi. Yang tetap mencintai sampai mati, bahkan Nasha mau setelah kematian kami nanti, kami tetap di persatukan di surga kelak" jawab Nasha sambil tersenyum manis.


"Aamiin, kami memang mendidik Azhar supaya menjadi pria yg baik, bertanggung jawab, dan yg pasti Imam idaman" ujar Abi Fadlan lagi yg membuat Nasha terkekeh.


"Oh ya, nak...." Abi berkata sambil memiringkan duduk nya supaya bisa berhadapan dengan Nasha "Abi lihat kamu masih cuek sama Papa Mama kandung mu" tukas nya yg membuat Nasha langsung menampilkan ekspresi kaku nya.


"Abi tahu, kamu pasti masih kecewa sama mereka. Dan sulit melupakan apa yg sudah mereka lakukan, tapi mereka berusaha keras menebus kesalahan mereka kan? mereka sangat menyayangi mu" Nasha masih terdiam mendengarkan perkataan panjang lebar ayah mertua nya.


"Mereka juga ingin sekali kamu main kerumah mereka dan juga menginap di sana, mereka pasti ingin merasakan rasa nya tinggal bersama anak kandung mereka" ucap Abi Fadlan lagi.


"Iya, Bi. Azhar juga sudah memberi tahu itu, entahlah. Nasha masih merasa canggung memanggil mereka Papa Mama dan berada di dekat mereka" jawab Nasha akhir nya.


"Abi faham, nak. Karena itulah, coba lakukan sekali saja. Kunjungi mereka, tinggal bersama mereka walaupun cuma sehari semalam. Abi yakin, perlahan hubungan mu dan mereka akan membaik dan sama seperti keluarga yg lain nya" Abi Fadlan berusaha meyakinkan Nasha karena saat acara syukuran kehamilan Nasha, Abi Fadlan bisa melihat bahwa Nasha dan keluarga kandung nya masih terlihat kaku, tentu saja karena Nasha yg menghindari mereka.


'iya, Bi. Nanti Nasha sama Azhar kesana" jawab Nasha akhir nya yg membuat Abi Fadlan tersenyum senang.


...


Setelah Azhar pulang kerumah setelah melakukan semua pekerjaan nya, Nasha mengutarakan niat nya yg akan berkunjung ke rumah orang tua kandung nya yg tentu saja kabar itu di sambut dengan senang hati oleh Azhar.


"Yakin mau kesana? mau menginap juga?" tanya Azhar sambil melepaskan jaket nya dan menggantung nya di belakang lemari.


"Iya, lagian mau sampai kapan aku menghindari mereka terus? Yg nama nya keluarga kandung akan tetap menjadi keluarga kan sampai kapan pun" ucap Nasha yg membuat Azhar tersenyum bangga, ia memberikan kecupan manis di pipi istri nya itu sebagai hadiah atas keputusan yg di tunggu semua orang.


"Mama pintar sekali, sudah mulai dewasa" goda Azhar yg membuat Nasha mencebikan bibir nya.


"Mama kan memang dewasa, Papa. Maka nya akan jadi Mama" ujar Nasha.


"Iya iya, Mama memang sudah dewasa, bangga sekali Papa sama Mama" ucap Azhar lagi "Oh ya, apa hari ini masih mual mual seperti kemarin?"


"Iya, sama saja setiap hari" jawab Nasha lesu. Azhar pun duduk di samping istri nya itu dan membelai kepala nya.


"Yg sabar ya, Mama. Insya Allah, nanti kelahiran bayi kita ini akan menebus semua kesusahan Mama selama hamil. Dan wanita hamil itu sangat di muliakan lho, apa apa yg di lakukan nya jadi pahala" ujar Azhar menghibur dan tentu saja sang istri akan dengan mudah nya terhibur.


"Papa, Mama ingin makan sesuatu malamr Nasha kemudian yg seperti nya dia akan mulai masa masa mengidam nya.


" Mama mau makan apa?" tanya Azhar dengan penuh kasih sayang.


"Mau makan sate ayam tapi jangan pakai daging ayam, pakai bumbu nya saja, bumbu kacang, terus pakai lontong, pakai kerupuk, campur sayuran" tutur Nasha menampilkan wajah menggemaskan nya. Sementara Azhar yg mendengar apa yg di inginkan istri nya itu malah mengernyit bingung.


"Mau sate, Papa. Tapi bumbu kacang nya saja, terus bumbu kacang nya itu tambahkan sayuran dan lontong" tegas Nasha.


"Mama sayang, kalau bumbu kacang yg di campur lontong dan sayuran itu ya nama nya gado gado. Bukan sate" tegas Azhar yg ingin meralat ketidak jelasan istri nya itu.


Sementara Nasha kini sudah menampilkan wajah kesal nya dan tatapan nyalang nya pada Azhar, hidung nya juga sudah kembang kempis dan pipi nya sudah mengembung seperti bakpao.


"Papa, seharus nya papa itu jadi suami yg siap siaga dong. Istri nya Papa ini lagi mengidam, dan kalau mengidam ya harus di turuti. Papa sebenar nya sayang engga sih sama Mama? perduli engga sih sama mama dan calon bayi kita?"


Azhar hanya bisa menganga mendapatkan komplain yg cukup membuat nya harus garuk garuk kepala. Apa lagi kini ekspresi istri nya itu tiba tiba berubah muram, bibir nya mencebik dan mata nya sudah berkaca kaca.


" Kan cuma pengen itu doang calon bayi nya... Hiks..." Nasha sudah menangis dan itu berhasil membuat Azhar panik dan cemas.


"Sayang, Mama sayang jangan menangis ya...." bujuk Azhar lembut dan ia hendak mengusap kepala Nasha lagi namun Nasha langsung menghindari nya.


"Kenapa papa tega sekali? hiks... Belum juga mengidam yg aneh aneh seperti orang lain"


Azhar meringis mendengar ucapan istri nya, memang nya ada yg lebih aneh dari bumbu sate dan isian gado gado dan Nasha tetap tidak mau menyebutnya gado gado?


"Azhar, Nasha... Makan malam nya sudah siap" terdengar suara Ummi Rifa yg memanggil dari bawah.


Nasha langsung berdiri dan berjalan keluar dengan menghentakan kaki nya karena kesal. Azhar pun langsung mengikuti istri nya itu.


"Sayang, jangan cemberut ya.." pinta Azhar karena Nasha benar benar cemberut sekarang.


"Kenapa? Engga boleh?" tanya Nasha ketus.


"Kalian kenapa?" tanya Ummi Rifa apa lagi setelah melihat wajah masam menantu nya "Kamu kenapa, Sha?" tanya nya.


"Papa nya bayi..." Nasha merengek sambil menunjuk Azhar.


"Kenapa Papa nya bayi?" tanya Abi Fadlan heran.


"Nasha kan cuma mau makan, tapi engga di kasih" Nasha berkata dengan kesal.


"Loh, kenapa engga di kasih Azhar? Memang nya mau makan apa?" tanya Ummi Rifa.


"Iya, Azhar. Istri mu lagi hamil, kalau mengidam harus di turuti..." sambung Abi Fadlan yg memojokan Azhar.


"Astagfirullah, bukan nya engga mau di kasih, Abi, Ummi..." tukas Azhar "Tapi masalahnya Nasha mau makan bumbu sate..."


"Bukan bumbu sate..." sela Nasha yg memotong pembicaraan Azhar.


"Terus mau makan apa? Mau makan sate?" tanya Abi Fadlan lagi.


"Iya" jawab Nasha lirih sambil menggoyangkan badan nya dan tersenyum manis.


"Ya Allah, cuma sate. Kan bisa beli, di perempatan depan tuh ada, Azhar" tukas sang ibu.


"Tapi Nasha mau sate ayam yg engga usah pakek ayam, pakek bumbu nya saja. Terus campur sama lontong, sama sayuran biar bayi nya sehat" tukas Nasha yg tentu saja membuat mertua nya tercengang.


"Gado gado maksud nya?" tanya Abi Fadlan yg membuat Azhar tertawa, merasa menang karena sebelumnya ia di salahkan dan dia memang tidak salah.


"Bukan..." jawab Nasha penuh penekanan "Bumbu sate sama bumbu gado gado itu beda, aroma nya beda, rasa nya beda" lanjut nya yg membuat Azhar kembali terkekeh.


"Tuh kan... Itu mau nya, Abi, Ummi. Aku bukan nya engga masih kasih, tapi aneh..." ujar Azhar yg langsung membuat Nasha cemberut.


Ummi Rifa pun menatap Azhar, memberi isyarat supaya mengalah pada Nasha dan tidak perlu mengomentari keinginan nya.


"Kamu duduk dulu, Sha. Biar Azhar pergi beli makanan mu ya" tukas Ummi Rifa penuh pengertian yg tentu saja membuat Nasha memekik senang "Sate ayam engga usah pakek ayam, terus di campur lontong dan sayuran. Ingat ya, Azhar. Itu pesanan Mama nya bayi, ayo pergi sekarang" perintah Ummi Rifa dan tentu Azhar tak bisa menolak perintah ibunya itu.