
"Kamu nungguin aku?" tanya Dilan yg melihat Elin masih ada di parkiran, duduk di atas motor Dilan.
"Iya, ada yg mau aku bicarakan" jawab Elin. Dilan menghela nafas berat, ia mengeluarkan kunci motor nya dari dalam ransel nya.
"Ya udah, ayo...." ujar Dilan sambil menaiki motor nya dan menyalakan nya.
Dilan membawa Elin ke sebuah coffee shop di dekat kampus, sesampainya di sana mereka langsung duduk di kursi yg ada di dekat pintu masuk.
"Mau bicara apa, Lin?" tanya Dilan dan dia menghindari tatapan Elin.
"Hubungan kita" jawab Elin dengan suara rendah "Kamu engga ada niatan mau menemui orang tua ku gitu?" pertanyaan Elin itu berhasil membuat Dilan salah tingkah, selama ini kedua keluarga memang sudah saling mengenal. Namun tak ada pertemuan resmi di antara mereka untuk membicarakan hubungan Elin dan Dilan.
"Kita kan masih kuliah, Lin..." jawab Dilan pada akhirnya.
"Tapi kan sebentar lagi kuliah mu selesai" ujar Elin dan perasaan nya mulai gelisah.
"Tapi kuliah mu masih lama kan?"
"Bilang aja kamu engga ada niatan membawa hubungan kita ke jenjang yg lebih serius kan?" tuduh Elin yg sudah tak bisa menahan diri lagi. Dilan terdiam, ia menunduk dalam. Melihat itu Elin hanya bisa berusaha menahan tangis nya "Kenapa? Apa kamu menyukai wanita lain?" tanya Elin dan kini ia tak bisa membendung air mata nya. Dilan masih menunduk, ia terdiam dan saat terdengar suara isak tangis Elin, Dilan langsung mendongak.
"Maaf..." ucap Dilan lembut dan dia menghapus air mata Elin dengan lembut pula, namun kemudian Elin menepis tangan Dilan.
"Nasha? Kamu menyukai Nasha?" tanya Elin lagi dan air mata semakin deras mengalir di pipi nya.
"Elin, aku..."
"Kamu keterlaluan, Dilan...." geram Elin dan ia langsung bergegas pergi dari sana. Dilan pun berlari mengejar nya.
"Dengerin aku dulu, Elin..." teriak Dilan namun Elin segera menghentikan taksi dan pergi dari sana.
"Sial..." geram Dilan, ia menarik rambut nya dengan kasar "Aku memang menyukai Nasha dan mungkin mencintai nya"
.........
"Jadi bagaimana hubungan mu dengan Nasha, Azhar?" tanya Ummi Rifa sembari menyiram tanaman yg ada di halaman rumah nya, sementara Azhar sedang sibuk menanam bunga mawar putih disana.
"Entahlah, Ummi. Masih abu abu" jawab Azhar.
"Jangan memaksakan kehendak mu, Nak. Bagaimana pun juga restu orang tua itu sangat penting, jika memang orang tua Nasha tidak bisa merestui mu, sebaiknya kamu ikhlaskan Nasha" ujar Ummi Rifa, Azhar tersenyum mendengar ucapan sang ibu.
"Azhar akan ikhlas melepaskan Nasha jika setelah Azhar melakukan segala usaha yg terbaik dan tetap tidak bisa mendapatkan nya, maka saat itu Azhar janji akan melepaskan Nasha dengan ikhlas"
Kini Ummi Rifa yg tersenyum mendengar jawaban putra semata wayang nya itu.
Dan tiba tiba sebuah mobil datang kerumah mereka, dan Harry keluar dari mobil itu yg membuat Azhar mengernyit bingung apa lagi seperti nya Harry datang sendirian.
"Assalamualaikum..." sapa Harry sambil menyunggingkan senyum tipis nya.
"Waalaikum salam" Ummi Rifa dan Azhar menjawab secara bersamaan "Silahkan masuk, Har. Aku cuci tangan dulu..." ujar Azhar dan Harry hanya mengangguk.
Sementara Ummi Rifa juga menghentikan aktifitas nya dan ia mempersilahkan Harry duduk di ruang tamu.
Setelah mencuci tangan nya, Azhar kembali menemui Harry.
"Aku fikir kamu datang bersama Nasha" ujar Azhar sejujur nya.
"Kenapa kamu memberikan nya pada ku?" tanya Azhar bingung dan ia memperhatikan sampul buku itu yg bertuliskan nama Laura.
"Aku cuma bingung bagaimana caranya menceritakan kisah hidup kami terutama tentang Mama yg sangat membingungkan" jawab Harry "Kamu boleh membaca nya, selama ini tidak ada yg membaca buku itu selain aku dan sekarang aku ingin kamu membaca nya"
Azhar pun membuka lembar pertama buku dairy itu, yg di di tulis dengan tulisan tangan yg sangat tidak rapi. Di lembar pertama itu, Laura mengisi nya dengan biodata lengkap nya. Termasuk hobi dan cita-cita. Hobi nya berenang, dia juga bercita cita menjadi atlet renang dan juga juga bercita cita ingin jadi Dokter bedah yg hebat.
"Dia ingin jadi Dokter?" tanya Azhar tanpa menatap Harry, karena ia masih sibuk membaca coretan tangan gadis itu yg saat itu masih berusia 12 tahun.
"Iya, dia ingin jadi atlet renang dan Dokter" jawab Harry. Azhar menutup buku itu, dan kini ia menatap Harry.
"Em, Har. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Silahkan" jawab Harry.
"Kamu, apa kamu... Em sebelumnya aku minta maaf dan aku harap kamu engga tersinggung"
"Okey, mau tanya soal apa?"
"Apa kamu menyukai Nasha sebagai seorang wanita dewasa? Maksud ku bukan sebagai saudara?"
Harry tercengang mendengar pertanyaan Azhar itu, ia tampak keheranan "Maksud nya?" tanya Harry sambil mengerutkan dahi nya.
"Em maksud ku, di ponsel mu nama kontak Nasha sangat romantis. Aku tanpa sengaja membaca nya saat kita bertemu di bandara dan ponsel mu jatuh, ingat?"
Harry langsung tertawa mendengar hal itu dan ia mengangguk "Well, Azhar. Pertama, aku bukan hanya menganggap Kak Nasha kakak ku, dia sudah seperti ibu bagi ku. Dan yg kedua, itu Kak Nasha sendiri yg menyimpan kontak nya dengan nama seolah dia pacar ku. Semua itu berawal dari teman kelas ku yg bernama Mera, gadis itu sering mendekati ku dan anak nya memang sedikit centil dan pergaulan nya sedikit bebas. Selain Mera, masih ada beberapa gadis lain yg mendekati ku, mungkin karena aku sedikit famous sebagai kapten tim basket di sekolah ku. Nah, Kak Nasha takut aku pacaran dan malah terjebak di pergaulan bebas juga, jadi di depan teman ku dia sering bertingkah seperti pacar ku. Dan bodoh nya, semua orang percaya termasuk Mera. Apa lagi kalau misalnya aku hang out bareng mereka, Kak Nasha suka gangguin dengan cara terus menerus menelefon atau mengirim pesan. Dan imbas nya, aku jomblo sampai sekarang"
Azhar tak bisa menahan tawa geli nya mendengar cerita Harry tentang kekonyolan Nasha itu, ternyata gadis itu memang tipe gadis posesif.
"Dan aku sangat mencintai Kak Nasha sebagai kakak ku, sejak kecil kita selalu bersama dan saling mendukung. Mama sering menghukum kami jika kami melakukan sesuatu yg tidak dia sukai, seperti dulu saat aku ikut lomba lari di sekolah. Mama sangat berharap aku memenangkan lomba itu karena lawan ku anak saingan bisnis Mama, kaki ku cidera dan aku jelas kalah. Hasilnya, Mama kurung aku di gudang, jujur saat itu aku sangat takut dengan gelap, tapi Kak Nasha datang, membawa senter dan dia menyoroti gudang itu dari bawah pintu, hanya sedikit cahaya yg masuk tapi itu sudah mengurangi sedikit ketakutan ku. Mama mengurang ku semalaman, dan Kak Nasha nungguin di depan itu juga semalaman. Dia terus mengoceh panjang lebar untuk mengalihkan rasa takut ku, hingga kami berdua jatuh tertidur" tutur Harry dengan mata yg berkaca kaca. Mengingat kembali masa masa itu. Dimana bahkan ayahnya tak bisa menolong Harry. Dan Nasha yg selalu ada untuk Harry "Karena itulah aku sangat mencintai Kak Nasha dan aku menganggap nya sudah seperti ibu ku. Dia yg selalu mendukung ku dan menemani ku"
Azhar pun hanya bisa membisu mendengar cerita Harry, ia tak habis fikir bagaimana bisa seorang ibu melakukan hal seperti itu pada anak nya yg masih kecil. Azhar merasa sangat prihatin dengan Harry, anak kandung nya sendiri di perlakukan seperti itu. Lalu bagaimana dengan Nasha yg hanya anak angkat nya?
"Dan masih banyak hukuman yg aku dan Kak Nasha alami, Azhar" lanjut Harry sambil mengucek mata nya yg terasa panas.
"Kalian berdua anak anak yg hebat dan luar biasa" hanya itu yang bisa Azhar ucapkan untuk menghibur Harry.
"Dulu Mama engga segila ini, ini semua terjadi saat kematian Kak Laura"
"Aku mengerti, setiap ibu pasti terpukul atas kepergian putri nya" ujar Azhar sambil memandangi buku dairy Laura yg ada di tangan nya.
"Tapi Mama berbeda, dia... Dia sakit" ujar Harry dengan suara tercekat, dan tiba tiba ia langsung berdiri.
"Aku kesini untuk memberi tahu mu, Kak Nasha sangat mencintai mu tapi dia masih terlalu naif dan terbebani dengan balas budi. Tapi jika Kak Nasha terus menerus mengikuti kemauan Mama, maka sampai mati pun Kak Nasha engga akan terlepas dari Mama sekalipun dia menikah, jika yg di nikahi adalah pria pilihan Mama. Dan tolong sempatkan baca isi hati seorang anak itu. Entah kenapa aku ingin kamu membaca nya"
"Iya, Insyaallah aku akan membaca nya" jawab Azhar sambil berjalan mengantar Harry ke depan.
"Aku permisi, Azhar"
"Hati hati, Har..."
▫️▫️▫️
Tbc...