
Azhar duduk termenung di sudut halaman sekolah, Azhar benar benar merasa patah hati sekarang dan Azhar tidak tahu harus memperjuangkan Nasha dari mana.
Azhar ingin memiliki Nasha bukan hanya demi Azhar sendiri, tapi juga demi Nasha. Walaupun hanya sekali bertemu dengan Ramos, Azhar merasa Ramos adalah orang yg dingin dan semau nya. Saat itu Ramos tidak menghormati keluarga Nasha dengan pergi di tengah acara makan malam, lalu bagaimana bisa ia menghormati dan membahagiakan Nasha?
"Azhar..."
"Azhar......"
"Ehem ehem, Azhar...."
"Eh, huh, ya...?" Azhar langsung berdiri saat mendapati Bilal yg berdiri di belakang nya. Terlihat Bilal terkekeh melihat ekspresi Azhar itu.
"Aku berdiri di sini sudah lebih dari lima menit lho, aku sudah memanggil kamu tiga kali" tutur Bilal. Kemudian ia juga duduk dam. Azhar pun duduk "Kamu ada masalah? Om liat kamu melamun terus"
Azhar mengangguk pelan, raut wajah nya terlihat sedih "Nasha di jodohkan sama orang tuanya, Om" lirih Azhar.
"Oh, masalah asmara..." gumam Bilal dan ia mencari posisi duduk yg nyaman "Terus? Nasha mau di jodohkan?"
"Iya, seperti nya dia akan melakukan apapun yg di minta orang tua nya sebagai bentuk balas budi karena sudah mengadopsi Nasha"
"Aku rasa kasih sayang orang tua tidak membutuhkan balasan sekalipun pada anak angkat nya. Cinta itu seharusnya tanpa syarat"
"Ya, tapi aku benar benar tidak mengerti harus apa sekarang. Nasha terlihat sedih dan juga tertekan. Azhar takut dia tidak bahagia bersama pria itu..."
"Kalau begitu perjuangkan dia, dekati orang tuanya, Azhar"
"Rasa nya akan sulit, karena orang tua Nasha adalah tipe orang yg melihat status sosial"
"Hemm repot juga, padahal status sosial itu tak berarti apa apa jika tak ada kenyamanan dan kebahagiaan di dalam nya. Orang memuji karena dia kaya, hanya itu yg dia dapatkan. Pujian yg hanya sepanjang lidah orang itu saja, tidak lebih"
"Seandainya mereka mau mengerti hal itu, Om. Aku dan Nasha saling mencintai. Rasanya ini sangat sulit bagi kami, dan hati ku terasa sangat sakit saat melihat Nasha menangis tadi"
"Kalau kamu yakin bisa membahagiakan Nasha, perjuangkan dia Azhar. Jangan kan hanya terhalang restu orang tua angkat, terhalang badai paling besar di dunia ini pun kamu harus tetap berjuang. Mendapatkan cinta sejati itu memang tidak mudah, kita akan selalu di uji dan di uji. Bukan hanya dengan tetesan air mata, bahkan mungkin dengan tetesan darah hingga mempertaruhkan nyawa... "ujar Bilal dengan lirih, ingatan nya berputar pada masa lalu. Dimana ada begitu banyak badai yg menerpa diri nya untuk memiliki Zahra nya.
"Kamu lihat ini..." Bilal menunujuk bekas luka di rahang nya "Luka ini aku dapatkan saat aku berusaha mendapatkan Zahra, aku bahkan hampir kehilangan nyawa ku saat itu..."
Azhar mendengarkan Bilal dengan seksama, kini dia mendapat semangat baru dan rasa percaya diri yg mulai tumbuh. Benar kata Bilal, jika memang Nasha adalah cinta sejati nya, maka badai akan terus menerpa untuk menguji cinta mereka. Tapi jika Nasha sendiri tak mau bersusaha, lalu bagaimana Azhar bisa berjuang sendirian saja?
"Tapi Nasha sudah memutuskan, Om. Aku tidak bisa memaksa nya..." ucap Azhar dengan suara rendah.
"Bahkan Zahra sudah menandatangani surat cerai saat itu, tapi cinta sejati akan selalu menemukan jalan nya sendiri. Kita hanya perlu yakin dan berusaha bahwa cinta itu milik kita, dan setelah badai itu. Aku dan Zahra tidak pernah lagi berpisah atau terfikirkan akan berpisah walau hanya sedetik saja. Kamu harus bisa meyakinkan Nasha, bahwa cinta kalian berhak di perjuangkan"
Azhar tersenyum samar dan mengangguk mengerti "Akan aku lakukan, Om. Tolong doakan kami, semoga Allah menyatukan cinta kami"
"Aamiin..." jawab Bilal "Ini sudah malam, sebaik nya kamu pulang"
Setelah Azhar pergi, Bilal menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Hingga ia merasakan sentuhan tangan yg sangat lembut di pundak nya, Bilal me genggam tangan itu dan mengecup nya dengan mesra.
"Kamu menguping pembicaraan kami, Sayang?" tanya nya sambil menoleh, dan ia mendapati Zahra nya yg sedang tersenyum dengan begitu indah.
"Engga ada maksud menguping, cuma karena kamu engga pulang pulang kayak bang toyib. Jadi aku susulin kesini, eh kamu lagi ngobrol sama Azhar. Ya aku tunggu saja sampai kalian selesai" tutur Asma yg membuat Bilal terkekeh geli.
"Ya udah, ayo pulang..." Bilal merangkul pundak Asma dengan erat bahkan setengah memeluk nya, Asma pun melingkarkan tangan nya di pinggang suami nya itu, ia mencari kehangatan di tengah dingin nya malam.
"Jadi, aku cinta sejati mu ya?" tanya Asma lirih, ia melangkah pelan pelan dan Bilal mensejajarkan langkah nya dengan langkah istri nya itu.
"Iya, kamu cinta sejati ku, Zahra ku. Belahan jiwa ku, kekasih hati ku..."
Puluhan tahun sudah Asma menjadi istri dari sang Ustadz, namun entah mengapa setiap kali Bilal menyatakan perasaan nya dengan begitu mesra, Asma masih saja selalu merona seperti gadis remaja yg baru mengenal cinta.
"Apakah sulit mendapatkan ku?" tanya Asma lagi.
"Sangat sulit, tapi lebih sulit lagi mempertahankan mu" jawab Bilal.
"Karena itulah kita berusaha bertahan bersama..." sambung Asma.
"Ya, karena perjuangan dari satu sisi takkan membuahkan hasil yg maksimal"
"Gendong...." rengek Asma kemudian yg membuat Bilal langsung tertawa geli.
"Kayak nya kamu jauh lebih muda dari aku, masak iya lebih mudah lelah dari pada aku yg sudah tua renta begini" ujar Bilal masih tertawa. Asma cemberut. Dia memang mudah lelah, walaupun usia nya jauh di Bilal. Tapi sebuah fakta bahwa ia juga sudah berumur dengan dua anak dan dua cucu, itu sudah sangat membuktikan ia sudah tak muda lagi.
"Iya sih, kamu memang sudah tua renta, kakek kakek..." ujar Asma lagi.
"Tapi masih cinta kan?"
"Heran nya, iya..." jawab Asma dan ia langsung berlari mendahului Bilal, apa lagi Rumah mereka sudah dekat. Bilal pun ikut berlari.
Kedua nya berlomba mencapai pintu masuk, dan saat Asma hendak mencapai pintu. Tiba tiba pintu sudah terbuka...
"Abi, Ummi... Kenapa ngos ngosan? Ada perampok kah? Atau di kejar orang mabuk?" tanya Faraz heran.
"Habis lomba lari, Ummi yg menang..." jawab Asma bangga dan ia melongos masuk.
"Abi beneran kalah sama Ummi?" tanya Faraz heran, Bilal hanya mengulum senyum "Hem sengaja mengalah..."
▫️▫️▫️
Tbc...