
Karena desakan Mera dan Harry, akhir nya mau tak mau Nasha harus mewakili kedua adik nya itu untuk berbicara kepada orang tua mereka tentang hubungan Mera dan Harry.
Tentu saja Nasha tak punya pilihan lain ketika adik adik nya itu mengancam akan kawin lari.
Setelah mengutarakan apa yg di inginkan kedua adik nya itu, ternyata dua keluarga Nasha itu menyambut dengan senang hati.
Terutama Bu Anjana yg tak mau Mera sampai melakukan kesalahan yg sama seperti diri nya dulu.
"Sebagai imbalan nya, kamu harus jadi sopir ku sampai aku melahirkan" itu lah perjanjian Nasha dan Mera.
Alhasil, Mera benar benar harus menjadi sopir Nasha kemana pun kakak nya itu pergi. Selain untuk memenuhi perintah mendiang suami nya untuk tidak menyetir sampai melahirkan, Nasha juga setengah mengerjai Mera dengan hal itu.
Kini kandungan Nasha sudah semakin membesar, ia tetap melakukan pemeriksaan kandungan dengan rutin, terkadang ia di tembani ibu mertua nya, terkadang di temani Ibu angkat nya dan bergantian dengan ibu kandung nya.
Nasha kini juga sudah bisa merasakan pergerakan anak nya di dalam perut nya, dan hal itu seolah mengobati kesepian Nasha tanpa suami nya di sisi Nasha. Hal itu menghibur Nasha dan memberikan kebahagiaan yg sangat besar untuk nya dan juga untuk keluarga besar nya.
Nasha juga terpaksa harus cuti kuliah ke Dokteran nya namun ia tetap melanjutkan sekolah di pesantren, karena benar kata Azhar, pendidikan islami sangat Nasha butuhkan apa lagi ia tak hanya akan menjadi sosok ibu tapi juga menjadi sosok ayah bagi anak nya nanti.
Nasha harus mempersiapkan semua nya untuk kehadiran anak nya itu, menjadi ibu, Ayah, teman dan sahabat anak nya.
..........
"Sha..." terdengar suara Ummi nya yg di susul dengan pintu kamar nya yg terbuka. Saat ini Nasha sedang membersihkan kamar nya seperti biasa, padahal perut nya sudah sangat besar karena sudah memasuki usia 9 bulan membuat Nasha kesulitan bergerak dan sangat mudah lelah.
"Sha, kamu lagi apa, Nak?" kata Ummi Rifa.
"Bersih bersih, Ummi. Masuk, Ummi..." ujar Nasha.
"Ummi sama Abi mau ke kondangan ya, Nak. Mera jadi datang ke rumah engga?" tanya Ummi Rifa.
"Kata nya jadi, Ummi. Malam ini Mera mau menginap di sini" kata Nasha.
Akhir akhir ini Mera menang sering menginap di rumah Nasha dan tidur di kamar tamu, hal itu atas permintaan Nasha supaya jika ia pergi kemana pun, Mera selalu siap siaga dan lagi lagi ia juga mengerjai Mera, supaya Mera tidak keluyuran.
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu. Kami akan sebentar saja, Nak. Kalau ada apa apa, atau kamu merasa mules, langsung telpon Ummi ya" pesan itu yg selalu di sampaikan Ummi Rifa setiap kali ia hendak meninggalkan rumah, membuat Nasha terkekeh.
"Iya, Ummi. Kata Dokter paling dua minggu lagi lahiran nya, jangan khawatir" tukas Nasha sambil membuka laci dan mengeluarkan buku buku yg ada disana. Kemudian Nasha membersihkan laci itu dan setelah itu mengembalikan buku itu ke tempat nya semula.
Namun sebuah jurnal berwarna hitam menarik perhatiannya karena beberapa kali Nasha melihat mendiang suaminya sedang memegang jurnal itu.
Tak lama kemudian terdengar suara nyaring Mera yg sedang mengucapkan salam dan terdengar suara Abi Fadlan yg menjawab salam nya.
"Mera itu suara nya nyaring juga ya, sudah kayak toak saja" kata Nasha yg membuat Ummi Rifa langsung tertawa.
"Ya, sama seperti kakak nya" kata Ummi Rifa yg membuat Nasha cengengesan.
"Ya sudah, Ummi pergi dulu. Jaga diri ya, Nak" pesan nya lagi.
"Iya, Ummi. Ummi juga hati hati ya..." kata Nasha kemudian ia duduk di tepi ranjang saat Ummi nya sudah keluar dari kamar.
Nasha membuka buku itu dan senyum langsung terbit di bibir nya saat ia mengenali tulisan di dalam buku itu adalah tulisan tangan suami nya.
"Cinta memang gila ya, baru lihat tulisan tangan nya saja sudah bahagia sama deg degan, apa lagi kalau lihat orang nya" gumam Nasha.
Ia membaca isi buku itu yang ternyata ungkapan perasaan Azhar untuk keluarga nya dan terutama untuk Nasha dan calon anak mereka.
"Sayang, bagi ku kamu adalah cinta sejati ku. Cinta sejati bukan hanya dalam artian hidup bersama dan mati bersama.
Cinta sejati memiliki makna yg lebih besar dari itu semua.
Cinta sejati adalah cinta yg mengajarkan mu arti kehidupan yg sejati, yg membawa mu pada pemilik dan pencipta cinta yg sesungguhnya.
Cinta sejati adalah cinta yg memberikan cahaya saat kegelapan menerpa.
Cinta sejati yg memberikan harapan saat semua nya terasa begitu semu dan seolah tak terarah.
Cinta sejati yg membangkitkan mu, menguatkan mu saat kamu berada dalam titik terendah mu.
Cinta sejati adalah harapan, mimpi, kekuatan, dan kebahagiaan yang tiada tandingan nya meskipun kamu di terpa ombak yg akan siap menghempaskan mu ke titik dimana semua nya akan terasa begitu sulit, sakit, dan kelam.
Itu lah yg aku rasakan pada mu sekalipun aku harus menghadapi kenyataan yg begitu pahit.
Sayang, tidak ada yg lebih menyakitkan dalam hidup ku melebihi saat aku harus melihat mu terpuruk, lemah dan menangis sementara aku tak ada di sisi mu untuk menyemangati dan menghapus air mata mu"
Nasha menghapus air mata nya yang kini jatuh membasahi kertas putih itu, ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan, memenangkan hati nya yang kembali berdebar dengan perasaan yang bercampur aduk. Nasha membuka lembar selanjutnya dan isi nya kurang lebih sama. Tentang ungkapan perasaan Azhar, pesan Azhar dan sebagainya.
Di lembar selanjutnya, Azhar menuliskan sesuatu yg tak pernah Nasha bayangkan.
"Nasha sayang ku, cinta ku. Saat aku pergi nanti, maka itu akan membuat mu juga harus berperan sebagai ayah untuk anak kita.
Sementara usia mu masih begitu muda, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih lagi, Sayang.
Karena itu lah, jika ada pria yg datang pada mu, jatuh cinta pada mu, maka aku ridho jika kamu menerima cinta nya asal pria itu juga mencintai anak kita.
Jalan Hidup mu masih panjang, Sayang. Begitu juga dengan masa depan mu, mulailah hidup yg baru. Yg penuh dengan canda tawa dan raihlah kebahagiaan yg selalu kamu impikan, sebuah keluarga yg harmonis dan penuh cinta"
"Ish, Papa kenapa bicara begitu sih?" gerutu Nasha sambil cemberut, seolah Azhar benar benar sedang berbicara pada nya saat ini.
Nasha membuka kembali lembar selanjutnya.
Nasha istri ku, wanita paling cantik di dunia, paling manis dan lucu.
Nasha belahan jiwa ku, kekasih hati ku. Maaf kan aku yg tak sempurna ini, maaf jika aku tak bisa menemani mu untuk memeriksa kandungan mu lagi, maaf jika aku tak bisa menemani mu saat melahirkan anak pertama kita nanti. Maaf jika aku tak bisa mengantar anak kita ke pelaminan nanti.
Sungguh, maafkan aku, habibti. Maaf karena aku tak bisa menemani mu hingga hari tua nanti.
Sayang, aku mencintai mu, dengan segenap jiwa ku dan sepenuh hati ku"
"Ehem ehem..." Nasha langsung terlonjak kaget saat mendengar Mera yg berdeham.
"Khusyuk banget, Neng. Lagi baca mantra?" tanya Mera kemudian melenggang masuk ke kamar Nasha.
"Iya, mantra supaya gampang melahirkan" kata Nasha yg membuat Mera meringis.
"Memang nya boleh? Musyrik engga tuh?"
"Astagfirullah, ya engga lah. Kalau cuma doa dan penyemangat" jawab Nasha sambil mendelik.