True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 24



Azhar masuk ke pesantren sementara Nasha masih menunggu di luar area pesantren karena ia merasa tak nyaman jika masuk kesana bersama Azhar.


Azhar pun merasa senang dengan hal itu, karena ia sendiri tak mungkin membawa wanita yg bukan mahram nya masuk ke pesantren apa lagi mereka hanya datang berdua saja.


Sementara Azhar datang menemui Bilal, karena hari ini kata nya ada kajian di masjid Al Fajar.


"Hari ini Rayhan engga bisa ikut, dia sedang pergi ke rumah mertua nya" ujar Bilal pada Azhar "Dan hari ini Om mau kamu yg mengisi kajian ya" mendengar itu Azhar langsung tersenyum kikuk, karena seperti kata Abi Khalil, Rayhan maupun Azhar hanya akan mengisi kajian kalau Bilal tidak bisa datang. Dan jika Bilal datang, mereka hanya akan menemani "Kenapa? Kok kayak engga mau gitu?" tanya Bilal lagi.


"Om, Azhar..." Bilal terkekeh melihat Azhar yg tampak gerogi.


"Ayo lah Azhar, Om juga mau melihat bagaimana cara kamu mengisi kajian. Rafa sudah bercerita kalau kamu bisa mengisi kajian di rumah"


"Iya, tapi..."


"Engga ada tapi tapi" tegas Bilal "Kajian hari ini tentang bekerja untuk dunia dan akhirat, kamu faham kan maksud Om?"


"Iya, Insya Allah. Tapi mohon bimbingan nya ya Om"


"Kita sama sama belajar nanti" jawab Bilal kemudian ia bersiap pergi.


"Apa kita hanya berdua?" tanya Azhar kemudian.


"Engga kok, istri, anak dan menantu Om juga ikut" jawab Bilal.


Di halaman pesantren, mereka menunggu istri anak dan menantu Bilal itu. Ternyata yg datang Zahra, Maryam dan Afsana.


"Kajian ini penting buat Maryam, karena dia wanita karir" ujar Bilal sambil memperhatikan Maryam yg sedang mengejar Ezra yg terus berlari menuju kakek nya.


Ezra tertawa senang saat Bilal menangkap nya dan langsung menggendong nya. Sementara Afsana menggendong Al yg tertidur.


"Sudah siap?" tanya Zahra.


"Sudah, Sayang" jawab Bilal.


"Assalamualaikum, Azhar" sapa Maryam dan Afsan bersamaan membuat Azhar tersenyum dan langsung menundukan pandangan nya.


"Waalaikum salam, Neng Maryam, Neng Afsana" jawab nya dengan suara rendah.


"Oh ya, Om... Sebenarnya" Azhar berseru pada Bilal saat mereka hendak masuk mobil.


"Kenapa?" tanya Bilal.


"Azhar mengajak eh, bukan tapi ada teman Azhar yg mau ikut kajian bersama Azhar" ucap Azhar pelan.


"Oh, itu sangat bagus. Dimana teman mu itu?" tanya Bilal lagi.


"Menunggu di luar pesantren" jawab Azhar.


"Kenapa engga di ajak masuk?" tanya Asma.


"Wanita, Tante. Azhar engga nyaman bawa dia masuk" jawab Azhar.


"Oh, gadis kota itu..." seru Bilal kemudian yg membuat Azhar mengerutkan dahi nya heran "Rafa sudah bercerita tentang gadis kota itu"


"Astagfirullah, itu mulut Rafa engga kalah sama emak emak"


"Hehe, iya. Nama nya Nasha, sebenarnya dia masih sedikit awam tentang ilmu agama. Dan dia bilang mau ikut belajar" jelas Azhar.


"Jadi kalian datang berdua?" tanya Bilal penuh selidik.


"Bukan bukan..." jawab Azhar cepat cepat bahkan ia langsung terlihat panik mendapat pertanyaan itu "Dia datang bawa mobil sendiri, tadi kami ketemu di kampus. Dia mahasiswi kedokteran di kampus tempat Yunus mengajar. Yg Insya Allah Azhar juga akan mengajar di sana. Jadi tadi kami ketemu di parkiran, dia tanya Azhar mau kemana. Azhar bilang mau ke pesantren dan mau mengajar, dan dia bilang mau ikut belajar. Jadi Azhar memperbolehkan dia ikut" tutur Azhar dengan sangat hati hati, mereka yg mendengar itu hanya terkekeh geli.


"Okey, begini aja. Aku sama Abi bareng kamu ke Masjid Al Fajar, Afsana sama Maryam bareng teman kamu itu. Jadi dia engga sendirian, gimana?" Saran Asma.


"Ide bagus, Ummi.." sambung Maryam "Kata Kak Rafa cantik banget teman wanita Azhar itu" lanjut nya.


"Kata nya lucu juga, ngira Azhar pria desa" sambung Afsana yg membuat Azhar menjadi salah tingkah dan tersenyum malu.


"Dia bukan teman wanita ku, Neng" jawab Azhar.


"Lah katanya tadi teman mu" ujar Maryam lagi.


"Dan dia wanita kan?" Afsana menimpali.


"Berarti teman wanita mu" kali ini Asma yg menyambung membuat Azhar tak tahu harus menjawab apa selain tersenyum malu.


"Ya sudah, sebaik sekarang kita pergi. Nanti terlambat, kita sudah di tungguin panitia di sana" seru Bilal.


"Biar Ezra sama Maryam aja, Bi..." ujar Maryam dan Ezra langsung melompat ke gendongan ibunya.


Mereka semua pun masuk ke mobil Bilal, dimana Azhar yg menyetir.


Dan saat keluar dari area pesantren, Azhar mengentikan mobil nya di samping mobil Nasha.


Azhar pun menjelaskan bahwa Maryam dan Afsana akan ikut Nasha, sementara Azhar akan membawa kiai dan Nyainya.


Awalnya Nasha ragu dan ia merasa malu jika harus bersama dengan cucu cucu Kiai itu, ia merasa minder namun Azhar meyakinkan itu keinginan mereka biar Nasha tak pergi sendiri.


Nasha pun mau, dan ia keluar untuk menyambut Afsana dan Maryam yg juga keluar dari mobil Abi nya.


"Kenapa masih keluar? Panas lho di luar" ujar Maryam dan ia cepat cepat masuk ke dalam dan di ikuti oleh Afsana.


Nasha pun hanya tersenyum sungkan dan ia pun ikut masuk, Maryam duduk di depan sementara Afsana di belakang.


Mobil Azhar sudah berjalan, Nasha pun mengikuti nya dari belakang. Ia tampak canggung bersama dengan Afsana dan Maryam. Mereka terlihat berbeda, aura mereka sangat berbeda. Itulah yg Nasha rasakan.


"Emm iya, maksud saya..."


"Engga usah terlalu formal begitu, Nasha..." ujar Afsana sambil tersenyum manis "Kami sudah mendengar banyak tentang mu dari Kak Rafa"


"Hah?" Nasha merespon dengan sedikit terkejut karena ia tak mengenal Rafa tapi nama itu terasa tak asing "Rafa siapa?" tanya Nasha.


"Rafa teman nya Azhar, Azhar datang ke desa untuk menghadiri pernikahan Kak Rafa" jawab Maryam.


"Oh gitu..." seru Nasha dan ingat sekarang siapa Rafa, Ustadz di desa itu "Anda juga mengenal Ustadz Rafa?" tanya Nasha masih bersikap formal.


"Hehe, kenal lah. Wong kakak sepupu kami" jawab Maryam "Dan engga usah formal kali, Nash. Udah kayak ke siapa aja kamu ini..." lanjut nya. Nasha tentu terkejut bagaiamana bisa orang desa itu adalah sepupu kedua gadis kota yg cantik cantik ini. Namun Nasha masih malu untuk bertanya lebih lanjut.


"Oh ya, kamu ikut kajian cuma hari ini atau...?"


"Kalau minggu depan ada lagi kajian nya, saya mau ikut lagi" ujar Nasha karena ia merasa butuh kajian ini.


"Ada setiap minggu, setiap hari rabu di Masjid Al Fajar. Kalau hari kamis sore di pesantren, dan masih ada di hari hari yg lain" jawab Afsana "Tergantung kamu sempat nya kapan"


"Gini deh, kita tukeran nomor, nanti kita bisa ke pengajian bareng. Gimana?" Saran Maryam dan Nasha mengangguk saja.


"Ternyata cucu kiai tuh begini, sama seperti wanita yg lain nya kok"


.........


Sementara di mobil Bilal, Azhar dan Bilal membicarakan tentang tema kajian mereka nanti. Azhar banyak bertanya dan Bilal memberikan beberapa penjelasan singkat, karena Bilal tahu, Azhar bertanya bukan karena tidak tahu tapi karena ingin menguatkan pengetahuan nya saja.


"Oh ya, boleh Om bicara sesuatu yg lain?" tanya Bilal kemudian.


"Tentu, Om" jawab Azhar sambil tetap menyunggingkan senyum.


"Jangan terlalu lama dekat dengan wanita, Azhar. Itu bisa berbahaya, kalau kamu memang ada rasa dan begitu juga dia... Ya tinggal putuskan, halal kan atau tinggalkan" ujar Bilal yg membuat Azhar menjadi salah tingkah.


"Sampai sejauh ini kami hanya teman, Om. Azhar masih belum terfikir ke sana" jawab Azhar dengan suara rendah.


"Om faham, Azhar. Hanya saja seorang pria yg engga pernah punya teman dekat wanita dan sekarang sudah punya teman dekat wanita, bahkan kalian bisa di bilang datang berdua ke pesantren meskipun dengan mobil sendiri sendiri. Tapi itu sudah bisa di katakan bersama" tutur Bilal lagi yg membuat Azhar menjadi salah tingkah.


"Dan wanita itu yg mau ikut kamu..." sambung Asma "Kalau dia memang mau belajar agama, mau datang ke pengajian, dia kan bisa datang sendiri atau mengajak teman nya sendiri. Kenapa dia mau nya sama kamu? Itu artinya ada sesuatu dalam diri wanita itu untuk kamu"


Azhar semakin salah tingkah mendengar ucapan Zahra nya Bilal ini, karena ia sendiri memang merasakan sikap yg berbeda dari Nasha untuk nya.


"Coba dulu kalian taaruf, cari tahu perasaan mu dan perasaan nya. Setelah itu putuskan tentang hubungan kalian" Saran Bilal lagi.


"Inysa Allah, Om" jawab Azhar kemudian.


"Azhar, kamu tahu engga. Engga semua pria tergoda sama harta maupun tahta, baik si kaya maupun si miskin. Tapi hampir semua pria bisa tergoda dengan wanita, baik si lajang mau pun si bapak rumah tangga. Kamu faham maksud Om kan?" tanya Bilal.


"Iya, Om. Azhar faham" ujar Azhar sambil mengulum senyum.


Sementara Asma, ia malah menatap tajam Bilal dari kaca mobil. Bilal yg menyadari itu langsung menoleh "Ada apa, Sayang? Emang ada yg salah dengan apa yg aku katakan?" tanya nya lembut.


"Engga, itu fakta" jawab Asma ketus.


"Ya memang..." seru Bilal lagi.


"Ya kamu itu bukti nyata nya..." ucap Asma kemudian yg membuat Bilal mengerutkan dahi nya.


"Maksud mu?" tanya Bilal.


"Klien kamu yg cantik tuh, yg komonikasi nya lancar banget sama kamu. Jangan jangan kalian..."


"Astagfirullah, Sayang..." Bilal menghela nafas panjang "Dia kan cuma nanya nanya karena dia sama keluarga nya pengen naik haji bareng, dia nanya biaya perjalanan dan sebagainya nya" jawab Bilal.


"Masak nanya nya di telpon? Engga bisa datang sendiri ke kantor mu apa?"


"Ya udah, nanti aku suruh dia datang"


"Lah, senang kan kamu? Antusias banget mau dia datang, gitu amat ya..."


"Zahra..."


"Kenapa? Karena aku sudah tua gitu? Mau cari yg muda lagi? Ingat, aku tua kamu juga tau, kamu jauh lebih tua lagi"


"Sayang, Zahra..."


"Ingat, Bilal Sayang. Kita sudah punya dua cucu yg ganteng ganteng, ingat juga alam kubur"


Azhar berusaha kerasa menahan senyum geli dengan tingkah Nyai Zahra nya ini. Ini bukan pertama kalinya Azhar menyaksikan sepasang kekasih ini yg sangat menggemaskan, Azhar yg dekat dengan Rafa dan Rayhan membuat ia juga dengan dengan keluarga mereka. Dan Azhar sangat tak menyangka, di usia nya yg sudah tak muda, sepasang kekasih ini tetap seperti orang yg sedang pacaran.


Sementara Bilal, ia hanya bisa mengelus dada dan menghela nafas panjang. Semakin berlanjut usia istrinya itu, malah sifat posesif nya semakin kuat. Ia juga mudah cemburu, dan selalu mengingatkan Bilal bahwa ia tak mau lagi berbagai Bilal dengan siapapun.


Bilal kemudian menoleh dan melihat istri nya yg cemberut, Bilal mengulurkan tangan nya dan mencubit gemas pipi nya.


"Jelek kalau cemberut gini, kerutan nya makin banyak tuh..."


Sontak Asma langsung memelototi Bilal namun kemudian ia menyunggingkan senyum malu malu saat melihat Azhar dari kaca mobil dan ia tampak mengulum senyum geli.


"Sebentar lagi sampai..." ujar nya kemudian berusaha menetralkan ekspresi wajahnya membuat Bilal dan Azhar terkekeh.


▫️▫️▫️


Tbc...