
Maura menatap foto Habib, satu-satunya foto yang ia miliki, itu pun Maura mengambilnya secara diam-diam.
Meski telah lama menjalin kasih, tetapi keduanya tidak pernah mengabadikan moment kebersamaan mereka. Apalagi sampai foto berdua.
Air mata Maura kembali jatuh, mengingat kembali janji Habib pada sang Ayah.
"Aku akan menikahinya, Om, menjadikan dia ratu dalam hidupku, hatiku, dan rumahku."
Air mata Maura semakin deras, ia melempar ponsel itu kemudian menyembuhkan wajahnya di antara kedua lututnya. "Sakit sekali, ya Allah." Tak henti-hentinya Maura mengadukan rasa sakit itu pada Rabb-nya, berharap Dia menyembuhkannya. Namun, semakin hari semakin perih.
Maura sangat mengenal Habib, pria itu selalu mengatakan bahwa ibunya adalah segalanya. Mau mengerti kenapa Habib tidak bisa menolak permintaan sang Ibu, tapi entah kenapa Maura masih merasa marah, kecewa dan sakit.
"Apa salahku?"
"Aku hanya jatuh cinta, pada dia yang sangat pantas dicintai."
"Tapi apakah aku tidak pantas dicintai olehnya?"
Dari luar kamar, sang Ayah yang sudah tua mengintip Maura dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia merasa tak tega melihat putri semata wayangnya menangis tanpa henti, tetapi ia juga tidak tahu harus melakukan apa untuk menghiburnya.
"Ya Allah, tolonglah putriku," gumamnya penuh harap.
Ia pun juga kecewa pada pria yang sudah ia anggap anak sendiri, yang telah mengucapkan janji dengan begitu yakin padanya, tetapi sekarang justru mengingkari dengan begitu mudahnya.
"Egoiskah aku, jika aku memohon pada-Mu, berikan Habib pada putriku? Dia juga berhak mendapatkan cintanya."
Sementara di sisi lain, Habib dan Zara sedang membuka kado dari keluarga dan teman-teman mereka. Zara tampak begitu bahagia, wajahnya berseri. Beda halnya dengan Habib yang masih murung.
Saat ini, raganya memang bersama Zara. Tetapi hati dan pikirannya dipenuhi oleh Maura.
Baik Habib maupun Zara sudah mandi, sudah berganti pakaian dan kini keduanya ada di kamar pengantin mereka.
"Hadiah dari Mama apa, ya?" gumam Zara yang kini membuka kotak hadiah dari sang Ibu dengan semangat. Namun, seketika ia menutup kotak itu saat melihat apa isinya. Pakaian seksi yang sering Zara lihat di iklan.
"Astagfirullah, kenapa Mama memberikan baju seperti itu, mengerikan sekali," gerutu Zara. "Kak Habib, Kaka tidak mau membuka hadiahnya?" tanya Zara tanpa menatap sang suami. "Hadiahnya banyak sekali, Kak." Lanjutnya dengan senyum lebar.
Namun, yang diajak bicara masih melamun. Bahkan, seolah tak mendengar suara sang istri.
Zara yang tak mendapatkan respon apapun langsung menatap suaminya itu, ia mencolek lengan Habib. "Kenapa Kak?" tanya Zara. "Kakak terlihat cemas," cicitnya.
Habib menatap Zara, menatap wajah polos adik sepupunya yang kini sudah menjadi istrinya. "Kamu bahagia, Zara?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Habib.
"Kamu bahagia menjadi istriku? Kamu pasti tidak mencintaiku sebagai seorang pria, bukan?"
"Aku mengagumi sosok Kak Habib selama ini, tidak pernah merasa jatuh cinta apalagi berpikir akan menjadi istri Kakak. Tapi setelah kita dijodohkan dan Kakak menerima, aku memutuskan untuk mencintai Kakak dengan segenap hatiku."
Habib menelisik wajah Zara, menatap matanya dengan intens, mencari kebohongan di sana. Namun, yang Habib temukan hanya kejujuran dan ketulusan.
"Ya Allah, apa yang telah aku lakukan?" batin Habib berseru menyesal. "Ini malam pernikahanku dengan Zara, istriku. Tapi aku sibuk memikirkan orang lain?"
"Zara?" Habib menyentuh tangan Zara, membuat gadis yang tak pernah disentuh pria yang bukan mahramnya itu langsung tercengang. Bahkan, ia menahan napas ketika Habib menggengam tangannya. "Kaka belum mencintaimu, Dek," ucap Habib dengan jujur.
Dek, panggilan sayang yang selalu ia sematkan sejak kecil. Sebab, Zara memang adik yang sangat ia cintai.
"Tidak apa-apa," kata Zara dengan begitu pasrah. "Kakak punya kesempatan seumur hidup untuk belajar mencintaiku."
"Seumur hidup?" tanya Habib menaikan ujung alisnya.
"Yeah, aku bersedia menunggu seumur hidup untuk dicintai oleh Kakak, sebagai istri, bukan adik." Zara menekan kata terakhirnya, membuat hati Habib terkesiap. Ia terenyuh dengan ketulusan hati Zara.
"Kakak juga akan belajar mencintaimu, sebagai istri, meski harus menghabiskan seumur hidup Kakak."
Habib memberanikan diri menyentuh pipi Zara, membuat sang empunya langsung tersipu dan tertunduk malu. Namun, Habib menangkup kedua pipi Zara, memaksanya mendongak hingga kini tatapan keduanya bertemu.
"Kita akan sama-sama menyempurnakan, dan sama-sama berkomitmen untuk belajar mencintai." Habib berkata dengan yakin, dan penuh tekad.
Yeah, dia harus melupakan Maura dan mengalihkan cintanya pada yang berhak dicintai.
Zara mengangguk pelan.
Habib mendekatkan wajahnya ke wajah Zara, hingga sang istri langsung menutup mata secara spontan. Ia mencium kening istri dengan lembut sembari memejamkan mata.
"Ya Allah, Zara adalah istriku, maka jadikanlah dia ratu dalam hati dan hidupku. Aku mohon, hapuslah cintaku yang tertuju pada Maura. Alihkan semua cinta itu hanya untuk Zara. Istriku yang berhak atas semua cinta dan perhatianku."
Habib menyudahi ciumannya, ia menjauhkan wajahnya dari wajah Zara tetapi istrinya itu masih menutup mata.
"Buka matamu, Zara," pinta Habib dengan begitu lembut. Zara pun membuka mata secara perlahan, ia tersenyum malu saat beradu tatapan dengan Habib.
"Mau kah kau jadi istriku sepenuhnya malam ini, Zara?" Pertanyaan itu membuat pipi Zara langsung terasa panas dan memerah, ia tahu apa maksud pertanyaan suaminya itu.
"Kenapa bertanya, Kak? Bukankah itu sudah kewajiban kita?"