True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 25



Azhar mengisi materi kajian dengan baik, bahkan di kajian pertama nya ini jemaah nya langsung menyukai Azhar. Dimana cara dia memberikan materi sangat mudah di fahami, tidak terlalu serius namun meyakinkan. Azhar mempelajari semua itu dari cara mengajar Bilal sewaktu Azhar masih di pesantren dulu.


Dan Nasha pun semakin jatuh cinta dengan Ustadz tampan itu, Nasha yakin tidak ada pria yg lebih baik untuk nya selain Azhar. Kecerdasan nya akan ilmu agama, sifat lembut nya dan kesopanan nya. Azhar mencerminkan lelaki sejati yg tentu akan menjadi lelaki impian setiap wanita.


Setelah kajian selesai, mereka semua sholat ashar berjemaah kemudian setelah selesai mereka pun bersiap pulang karena hari sudah sore.


"Aku liat kamu sangat menikmati apa yg Azhar terangkan" ujar Maryam pada Nasha sembari berjalan keluar dari masjid.


"Iya, dia sangat pintar" jawab Nasha malu malu.


Kemudian terlihat Bilal dan Asma yg juga sudah keluar dari Masjid. Bilal berjalan sembari menggandeng tangan Asma dengan posesif seolah takut Zahra nya itu hilang, dan pemandangan itu membuat Nasha terpukau. Nasha sangat jarang melihat kedua orang tua nya berjalan dengan mesra seperti itu. Dan sepasang kakek nenek itu masih terlihat romantis.


"Bagaiamana, Nash? Suka mengijuti kajian?" tanya Asma pada Nasha.


"Iya, Nyai.." jawab Nasha sungkan dan seketika Asma tertawa geli.


"Kenapa Nyai? Panggil aja tante, di panggil Nyai berasa ngambang di udara aku" tutur Asma masih tertawa geli, dan hal itu malah membuat Nasha hanya bisa tersenyum kikuk.


"Tapi kamu beneran suka mengikuti kajian atau suka sama yg mengisi kajian?" goda Bilal.


"Eh...?" Nasha merespon tak mengerti namun kemudian ia langsung menunduk malu saat memahami godaan Bilal.


"Jadi ingat dulu waktu masih jadi santri, Ustadz nya suami ku, jadi sering di goda in sama Imel dan Nora" sambung Asma kemudian mengingat masa masa ia sewaktu masih di pesantren.


"Hm jadi gitu ya, dulu kamu ikut kajian tiap kamis sore itu karena aku yg ngisi kajian?" goda Bilal.


"Ya engga lah, tiap kamis sore aku ikut tuh meskipun Kak Mukhlis yg ngajar"


"Tapi kalau aku yg ngajar kamu pasti lebih antusias, lebih senang, iya kan????" goda Bilal lagi sambil mengedipkan mata nya membuat Asma tersipu.


"Ingat usia dong, Bi..." sambung Maryam.


"Hmm, usia engga akan mempengaruhi keromantisan sepasang kekasih yg saling cinta. Ya kan, Sayang?"


"He'em" gumam Asma malu malu membuat membuat semua orang terkekeh.


Dan ya, Nasha tak menyangka ternyata tokoh agama seperti mereka bisa saling menggoda juga.


"Kalau kamu mau langsung pulang engga apa apa, Nash. Kita semua bareng Azhar" ujar Asma kemudian saat Azhar sudah datang membawa mobil nya.


"Iya, saya harus langsung pulang. Terimakasih banyak" ucap Nasha kemudian.


"Kami yg makasih atas tumpangan nya tadi" Maryam menimpali.


"Tidak masalah, Neng Maryam" ujar Nasha lagi.


Mereka pun berpisah disana. Nasha harus langsung pulang dan dia harus bersiap dengan kemaharahan Mama nya yg sejak tadi menelepon Nasha namun Nasha tak menjawab panggilan Mama nya itu.


Sesampainya dirumah, benar saja. Raya langsung memperlihatkan wajah sangar nya pada Nasha padahal Nasha sudah memberi tahu ia tak pulang karena ikut kajian, dan Nasha tidak menjawab telpon Mama nya karena ia berada dalam masjid dan kajian masih berlangsung.


"Assalamualaikum, Ma..." sapa Nasha. Ucapan salam pertama nya saat ia pulang.


"Memang nya kamu engga bisa ikut kajian lain kali, huh?" bentak Mama nya tanpa menjawab salam Nasha.


"Kan Nasha engga ada aktifitas lagi tadi, Ma. Pulang juga di rumah engga ngapa ngapain, mending ikut kajian kan" jawab Nasha yg membuat Raya semakin tampak marah.


"Kamu makin lama makin sering membangkang, Sha" seru nya marah.


Harry yg sejak tadi ada di kamar nya pun langsung turun mendengar teriakan Mama nya.


"Nasha engga membangkang, Ma. Nasha cuma jelasin" ucap Nasha dan...


PLAKKKK....


"Mama..." teriak Harry tak terima dengan perlakuan kasar Raya pada Nasha. Ini bukan pertama kalinya Nasha mendapat tamparan seperti ini, dan ini benar benar melukai perasaan Nasha. Selalu.


"Jangan berani ikut campur, Har!" tegas Raya marah. Sementara Nasha hanya bisa terisak sambil memegang pipi nya.


"Mama keterlaluan, Kak Nasha salah apa sampai Mama tampar dia?" teriak Harry dan ia langsung menarik Kakak nya menjauh dari Mama nya.


"Dia membangkang!" balas Raya marah dan menatap kedua anak nya itu dengan sangat tajam.


"Setiap anak akan membangkang kalau punya Mama seperti Mama" teriak Harry lagi dan ia langsung menarik Nasha pergi dari hadapan Mama nya.


Sementara Raya, emosi nya semakin meluap mendengar apa yg Harry katakan. Ia berjalan dengan langkah lebar dan menarik tangan Harry kemudian ia juga hendak menampar Harry namun Nasha mengentikan nya.


"Ma, jangan... Nasha mohon..." ucap nya di tengah isak tangis nya. Sementara Harry justru balas menatap Mama nya dengan marah.


"Kalian berdua benar benar tidak tahu terima kasih, aku ibu kalian. Kalian wajib mengikuti perintah ku dan menghormati ku!"


"Kami akan menghormati Mama sebagai ibu kalau Mama menyayangi kami sebagai anak. Bukan memperlakukan kami seperti mesin Mama" tegas Harry.


"Harry, sshtt...diam, Dek" lirih Nasha menatap memohon pada Harry.


"Jaga omongan mu, Har..." teriak Raya lagi.


"Mama yang..."


"Harry...." Nasha merangkul tangan Harry dengan erat membuat Harry langsung terdiam karena ia tahu apa yg di inginkan Nasha "Nasha minta maaf, Ma. Tolong jangan marahi Harry" lirih Nasha dengan berderai air mata.


Raya tak menanggapi itu, ia langsung pergi dari sana dengan amarah yg masih menggebu.


Harry memukul tembok dengan keras guna melampiaskan amarah nya pada Mama nya.


"Kak Nasha jangan bodoh, Kak. Kalau kakak begini terus, mama akan menjadikan Kak Nasha robot nya, Mama akan menghancurkan hidup Kak Nasha seperti dia menghancurkan hidup Kak Laura" teriak Harry penuh amarah.


Nasha menarik Harry ke pelukan nya untuk menenangkan amarah Harry. Dan juga ia butuh pelukan untuk menekan rasa sakit di hati nya.


Harry bahkan mulai menangis, dan Nasha memeluk nya semakin erat.


"Jangan nangis, Dek...." ucap Nasha padahal ia sendiri masih terus menangis dan tak bisa menghentikan tangis nya.


Harry melerai pelukan nya dan ia menghapus air mata Nasha.


"Kak Nasha juga jangan nangis" ucap Harry berusaha mengontrol emosi nya.


"Sebaiknya kakak mandi dan istirahat, jangan nangis lagi. Okey?"


Nasha mengangguk dan ia langsung pergi ke kamar nya.


Sementara Harry, ia mendatangi kabar ibu nya dan terlihat ibu nya yg sedang memandangi foto seorang gadis remaja sambil menangis. Dengan kasar Harry mengambil foto itu membuat Raya tersentak.


"Kak Laura pergi gara gara Mama, kalau suatu hari nanti aku dan Kak Nasha pergi. Mama akan menyesali seberapa buruk perlakuan Mama sama kami..." ujar Harry dingin dan ia langsung pergi dari kamar mama nya dengan membawa foto itu. Sementara Raya terdiam dengan tatapan yg kosong.


.........


Azhar memikirkan apa yg di katakan Bilal tentang diri nya dan Nasha, walaupun Azhar memang merasakan sesuatu yg indah pada Nasha namun Azhar masih belum percaya diri jika harus mengajak Nasha taaruf karena ia tahu siapa diri nya.


Dan Nasha juga masih sangat muda, perempuan zaman sekarang tak mungkin mau menikah muda dengan alasan menghindari zina. Perempuan zaman sekarang pasti akan lebih suka hidup bebas dan mengejar karir impian mereka, apa lagi Nasha adalah mahasiswi kedokteran. Azhar yakin Nasha pasti masih ingin sukses menjadi dokter dan tak mungkin memikirkan sebuah pernikahan dan hidup dalam rumah tangga.


▫️▫️▫️


Tbc...