True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 146



5 tahun kemudian...


"Kamu semakin cantik, apa kamu menyadari itu?"


Wajah Nasha tentu langsung merona saat mendengar pujian dari sang kekasih tercinta, kekasih nya itu menyelipkan rambut Nasha ke belakang telinga nya dengan mesra. Nasha menunduk malu, sang kekasih menangkup kedua pipi nya yg merah merona dan membuat nya tampak semakin cantik.


"Wajah mu ini selalu terbayang dalam benak ku, Sayang. Setiap kali aku menutup mata, aku hanya bisa melihat mu" Nasha semakin di buat melayang oleh nya, bibir nya tersenyum malu malu, bak gadis yg baru di pinang oleh pujaan hati.


"Sayang ku, apa kamu merindukan ku?"


"Mama..."


"Mamaa...."


"Mamaaaa"


Nasha terlonjak kaget mendengar suara nyaring yg mengganggu tidur nya.


Sepasang tangan mungil menepuk kedua pipi nya dengan begitu lembut, perlahan Nasha membuka mata dan tatapan nya langsung menangkap sepasang mata bulat dan besar yg saat ini menatap nya dengan cemberut.


"Ada apa, Nak?" tanya Nasha sambil beranjak duduk dan ia menggeliat malas.


'Mama, sudah subuh. Sholat subuh nya kapan?" tanya nya.


" Hah, sudah adzan subuh? "pekik Nasha kemudian ia langsung melihat jam di layar ponsel nya.


"Astagfirullah, Habib. Mama telat bangun nya ya..." kata Nasha dan ia langsung melompat turun dari ranjang nya. Nasha memakai sandal jepit nya.


Habib sendiri juga merangkak turun, karena tubuh nya yg masih kecil, ia harus tengkurap dulu di tepi ranjang kemudian menurunkan kedua kaki nya dengan posisi berjinjit. Saat di rasa jempol nya sudah menyentuh lantai, ia menarik badan nya supaya melorot turun hingga ia berhasil menapak sempurna di lantai.


Kaki kecil nya langsung memakai sandal yg bergambar mobil mobilan itu.


Nasha bergegas ke kamar mandi sambil melipat lengan panjang piyama nya yg berwarna biru yg bermotif mobil mobilan juga. Habib memakai piyama dengan warna dan motif yg sama, ia juga melipat lengan panjang nya hingga ke atas siku seperti yg di lakukan ibu nya. Saat hendak memasuki kamar mandi, Nasha melipat bagian ujung celana nya hingga lutut, Habib pun melakukan hal yg sama.


Kemudian Nasha mengambil wudhu di kran khusus, ada dua kran yg bersebelahan di sana. Habib pun melakukan hal yg sama dan mengambil wudhu di kran yg lain.


Setelah itu, kedua nya bersiap sholat.


Nasha menghamparkan sejadah nya, Habib melakukan hal yg sama. Ia menghamparkan sejadah nya yg kecil di samping sejadah ibu nya. Nasha mengenakan mu kena nya dan Habib memakai peci nya mungil nya.


Nasha melaksanakan sholat sunnah dua rakaat sebelum subuh yg di susul dengan sholat subuh. Habib pun dengan sabar mengikuti semua pergerakan ibu nya dan ia membaca bacaan shokat yg sudah ia hafal, walaupun sesekali ia masih menguap dan mengucek mata nya saat ia merasa mengantuk.


Setelah sholat, Nasha berdizkir dengan khusyuk, sementara Habib tampak nya sudah mengantuk berat. Bahkan saat berdizkir ia tertidur dan hampir jatuh dari duduk nya, Nasha yg menyadari itu tersenyum. Kemudian ia mengangkat anak nya itu dan menidurkan nya di pangkuan nya sementara bibir nya masih terus berdizkir. Habib mencari posisi paling nyaman di pangkuan sang ibu, yg membuat nya langsung tertidur nyenyak, Nasha menutup dzikir dengan doa.


Setelah itu, Nasha mengangkat tubuh kecil putra nya itu kembali ke ranjang, menidurkan nya dengan pelan pelan, menyelimuti nya dan mengecup kening nya dengan sayang.


"Habib... Habib, kalau bangun lebih cepat dari biasa nya pasti tidur lagi habis sholat" gumam Nasha.


Ia memperhatikan wajah teduh putra nya itu, obat dari segala rasa sakit nya, penghibur dari segala rasa sedih nya, penenang dari segala resah dalam hati nya. Wajah nya yg tampan, setampan Azhar. Bahkan ada yg mengatakan, Habib lebih tampan dari Azhar. Kulit nya lebih putih dari Azhar, seperti kulit ibu nya, tapi hidung nya mungkin sedikit lebih pesek dari hidung Azhar yg mancung.


Nasha turun setelah mematikan lampu dan membuka horden jendela kamar nya, ia pergi ke dapur dan mendapati Ummi Rifa sedang memasak.


"Habib dimana, Sha?" tanya Ummi Rifa yg saat ini sedang memasukan kue ke oven.


"Tidur lagi habis sholat, Ummi" jawab Nasha sambil mengintip kue yg sudah masak yg ada di nampan.


"Memang nya dia bangun lebih cepat tadi?" tanya Ummi Rifa.


"Iya, Ummi. Nasha kesiangan lagi bangun nya"


"Mungkin kamu kelelahan, sebaiknya kamu istirahat di rumah hari ini"


"Nasha ada jadwal operasi hari ini, Ummi. Tapi sore Nasha sudah pulang, soal nya sudah janji sama Habib sore nanti mau ziarah ke makam Papa nya. Oh ya, Ummi buat apa pagi pagi begini?" tanya Nasha penasaran.


"Mau buat cookies buat Habib, dari kemarin sudah di tagih" kata Ummi Rifa sambil terkekeh.


Begitulah cucu kesayangan nya, jika di janjikan sesuatu pasti akan di tagih setiap saat.


Nasha memasak untuk sarapan pagi ini, sementara Ummi Rifa menyelesaikan buatan kue nya.


Saat matahari sudah sedikit tinggi, Nasha sudah selesai memasak tentu dengan di bantu oleh ibu mertua nya.


Saat mereka menata makanan di meja, terdengar suara langkah kaki yg mendekat.


"Selamat pagi..." suara nyaring yg selalu menjadi penyemangat mereka kini kembali terdengar begitu lantang, bahkan memenuhi dapur.


"Selamat pagi, Sayang" sapa Ummi Rifa kemudian ia menunduk, dan cucu nya langsung memberikan kecupan hangat di pipi nya.


"Nenek, dimana cookies nya?"


"Di meja makan, tapi sebelum makan itu, minum susu dulu ya" seru Nasha.


"Tapi kata Nenek hari ini Habib akan makan cookies yg banyak" kata nya memberengut.


"Hari ini kan? Bukan pagi ini? Hari ini kan masih ada nanti siang, nanti sore, ya kan? Habib anak pintar minum susu dulu ya, Nak" bujuk Nasha lembut bahkan di iringi dengan senyum lembut pula, ia juga menatap putra nya dengan sangat lembut dan penuh cinta.


"Iya, Mama" jawab Habib kemudian.


"Pintar sekali, sini, Mama kasih hadiah dulu" kata Nasha sambil membungkuk dan Habib mendekatkan pipi nya yg tembem untuk di cium ibu nya.


Tak lama kemudian Abi Fadlan juga keluar dari kamar nya, Habib langsung berlari ke arah kakek nya itu sambil mengangkat tangan nya pertanda ia ingin di gendong.


Sang kakek pun langsung menangkap cucunya itu dan menggendong nya.


Mereka pun sarapan bersama dengan Habib yg di pangku oleh kakek nya. Abi Fadlan bahkan menyuapi Habib dengan telaten, berkali kali Nasha meminta ayah mertua nya itu untuk membiarkan Habib makan sendiri, supaya belajar, tapi Abi Fadlan masih sering sekali menyuapi nya dan mengatakan dulu ia juga sering menyuapi Azhar. Nasha pun membiarkan ayah mertua nya itu memperlakukan cucu nya sebagaimana ia memperlakukan anak nya, Nasha berfikir mungkin itu bisa mengobati rasa rindu Abi Fadlan pada Azhar