True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 1



Seorang pria berlari lari kecil di Cairo International Airport. Bahkan nama nya sudah di panggil dua kali karena ia adalah penumpang terkahir yang belum check in.


Akhir nya, ia bernafas lega saat sudah check in.


Saat ia masuk ke dalam pesawat dimana semua penumpang sudah siap untuk penerbangan, ia malah masih sibuk mencari kursi nya. Membuat beberapa orang menatap kesal pada nya, penerbangan delay beberapa menit karena nya dan seperti nya itu membuat orang lain benar benar kesal.


Seorang pramugari yg cantik datang dan membantu pria itu menemukan kursi nya.


"Lain kali kamu telat, kami akan meninggalkan mu, Azhar" ujar pramugari itu membuat pria yg bernama Azhar itu pun cengengesan.


"Tadi kesiangan, ngantuk banget" ujar Azhar.


"Loh, Mbak orang Indonesia?" tanya seorang pria yg duduk di samping Azhar. Ia tampak terkejut karena pramugari cantik itu bisa berbahasa Indonesia.


"Bukan, cuma kebanyakan teman Indo nya, tanpa sengaja bahasa mereka terserap" jawab wanita itu.


"Jomblo engga?" bisik pria itu pada Azhar.


"Putune limo" jawab Azhar dalam bahasa jawa yg tak di mengerti pramugari itu "Ya kan?" tanya Azhar pada teman pramugari nya dan dia mengangguk saja. Membuat pria di samping Azhar itu patah hati seketika.


Azhar menyenderkan punggung nya di sandaran kursi sembari menghela nafas berat. Padahal jadwal pulang nya masih 4 bulan lagi, tapi ia terpaksa pulang sekarang demi sahabat nya yg akan menikah.


Sebenarnya ia tak melakukan nya dengan suka rela apa lagi senang hati, tapi sahabat nya yg bernama Rafael itu memerintahkan nya datang. Dan jika tidak datang, kata nya Azhar akan di kutuk membujang selama nya. Sementara jika datang, Azhar akan di karunia bidadari surga. Tentu Azhar tahu Rafa mengatakan seperti karena benar benar ingin Azhar menghadiri pernikahan nya.


Saat pesawat mulai lepas landas, Azhar memejamkan mata. Memikirkan hidup yg di jalani selama ini.


Azhar Ubaidillah, pria tampan bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan itu adalah santri lulusan pondok pesantren Al Hikmah. Dan sebuah keberuntungan ia bisa melanjutkan studi nya ke Al Azhar, Kairo. Dan di usia nya ke yg ke 23 ini, ia sudah menyelesaikan study nya dengan baik.


Sekarang yg ia fikirkan adalah masa depannya, dia akan jadi apa?


Bekerja dengan ayahnya di toko elektronik? Bekerja dengan ibu nya di toko kue?


"Seperti nya aku juga harus mengajar di pesantren, supaya ilmu ku bermanfaat dan sudah sepantasnya aku mengabdi di pesantren Abi Khalil"


..........


Sementara itu, di salah satu universitas ternama di Jakarta. Beberapa mahasiswa kedokteran sedang melakukan praktik autopsi mayat. Namun ada satu mahasiswi cantik dengan rambut nya yg tergerai tampak tak fokus. Ia merasa mual dan pusing, hingga tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan. Membuat dosen nya hanya geleng geleng kepala dan tak ada satupun yang terkejut dengan pingsan nya gadis itu, seolah itu hal yg biasa.


Dosen itupun mencoba membangun mahasiswi nya, sementara mahasiswa yg lain di perintahkan tetap fokus pada apa yg mereka lakukan.


Tak lama kemudian gadis itu sadar dan ia tampak sangat mual.


"Nasha, kamu engga apa apa?" tanya teman nya yg menyusul gadis yg bernama Nasha itu, lebih tepatnya Nasha Luara. Mahasiswi kedokteran tapi jiwa dan fikiran nya sangat jauh dari apapun yg berhubungan dengan kedokteran.


Gadis itu berusia 19 tahun, cantik, tinggi, kualitas nya putih seperti susu. Bahkan semua sering menyuruh nya pindah ke kelas model karena ia tak bisa apapun di bidang ke Dokteran. Melihat darah saja ia akan langsung pingsan.


"Entahlah, Lin. Aku udah engga tahan rasa nya" jawab Nasha pada teman nya yg bernama Elin itu.


"Ya udah, Kita pulang, kelas juga sudah selesai" ujar Elin dan Nasha pun mengangguk.


Di perjalanan pulang, Nasha masih tampak sangat lemas. Sedangkan Elin yg menyetir sesekali melirik ke arah Nasha.


"Masih pusing?" tanya Elin.


"Masih lah" jawan Nasha lemas.


"Udah deh, Sya. Jangan paksain. Buat jadi Dokter itu engga mudah. Kamu liat darah aja pingsan, gimana kamu mau lulus nanti?"


"Aku juga udah mau nyerah rasanya, Lin. Tapi mau gimana lagi, setiap kali aku bilang ke Mama kalau aku phobia darah dan aku sering pingsan. Mama bukannya khawatir, dia malah bilang aku belum terbiasa. Katanya aku harus terus berjuang untuk menaklukan phobia ku itu" tutur Nasha sedih.


"Repot juga sih kalau gitu, tapi kan profesi itu engga bisa di paksakan. Kalau passion kamu bukan di kedokteran, ya kamu engga akan bisa jadi Dokter yg baik" ujar Elin.


"Aku juga udah bilang gitu ke Mama, tapi dia engga mau ngerti. Dia bilang semua hal bisa di pelajari" jawab Nasha sambil menghela nafas lesu nya.


Nasha Laura, adalah gadis yatim piatu yang di angkat anak oleh pasangan suami istri kaya yg bernama Surya dan Raya. Nasha tak tahu apakah itu sebuah keberuntungan atau tidak.


Saat ia di adopsi oleh mereka usia nya baru 10 tahun, Nasha sangat bahagia karena akhir nya ia punya keluarga yg selalu ia impikan selama ini. Namun sejak memiliki keluarga, Nasha tak pernah jadi diri nya sendiri.


Segala hal dalam hidup nya harus sesuai keinginan kedua orang tuanya. Bahkan hal kecil seperti gaun apa yang harus di kenakan Nasha jika ikut mereka bertemu rekan bisnis nya. Apa dan bagaimana Nasha berbicara dan bahkan makan di depan rekan bisnis kedua orang tua nya. Sekolah dimana dan ambil jurusan apa, semua nya di putuskan oleh kedua orang tua nya.


Nasha senang jika mereka melakukan itu demi kebaikan Nasha, tapi mereka tidak memberi Nasha ruang sedikitpun untuk bergerak sesuai keinginan Nasha sendiri. Membuat batin Nasha tersiksa dan tertekan.


Namun saat ia berbicara dan mencoba menyampaikan keinginan atau sekedar isi hati nya. Kedua orang tua nya akan mengatakan 'Ini demi kebaikan mu sendiri, Nasha. Kami hanyalah orang tua angkat mu dan kami sangat peduli pada mu'.


Dimana kata kata itu seolah selalu mengingatkan Nasha pada siapa diri nya dan seolah kedua orang tua nya mengatakan 'Berterimakasih lah' atas apa yg mereka lakukan meskipun mereka bukan orang tua kandung nya.


▫️▫️▫️


Tbc...