True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 128



Azhar pulang setelah adzan maghrib, ia segera bergegas mandi dan melaksanakan sholat berjemaah bersama istrinya. Setelah sholat, Azhar memimpin dzikir dan berdoa seperti biasa. Yg di lanjutkan membaca Qur'an tapi dari ponsel karena Azhar tidak membawa Al Qur'an nya.


Setelah itu, Azhar pun mengobrol bersama Nasha seperti biasa dan menanyakan keadaan Nasha dan calon bayi mereka hari ini.


"Mual mual terus, tapi tadi makan nya lahap" jawab Nasha dengan wajah nya yg berseri seri.


Azhar bahkan merasa Nasha jauh lebih cantik semenjak istri nya itu hamil.


"Alhamdulillah, kamu harus jaga asupan mu. Halalan toyyiban. Yg halal dan baik" ujar Azhar.


"Iya, Papa. Tadi bayi nya tidak minta yg aneh aneh, cuma minta gorengan sama sambal petis. Enak sekali" kata Nasha.


"Terus beli dimana gorengan nya, Mama?" tanya Azhar.


"Mama nya Mera buatin" jawab Nasha yg membuat Azhar langsung tertawa geli.


"Mama nya Mera kan juga Mama mu, Sayang" tukas Azhar namun Nasha malah hanya cengengesan.


"Papa..." ia kembali merengek manja.


"Ada apa?" tanya Azhar lembut.


"Mau bakso, yg panas panas..." ujar Nasha yg membuat Azhar bernafas lega karena ngidam istri nya itu tidak yg aneh aneh lagi.


"Ya sudah, nanti Papa belikan ya, habis sholat isya. Sebentar lagi kan isya" ujar Azhar dan Nasha pun mengangguk antusias.


"Papa..." panggil nya lagi.


"Iya, Sayang. Ada apa lagi?" tanya Azhar dan bersamaan dengan itu terdengar suara Adzan yg berkumandang.


"Tadi Mama sudah tanyain Mera, naksir Papa apa tidak..." kata Nasha yg membuat Azhar langsung melongo tak percaya.


"Serius? Mama tanya itu sama adik Mama?" tanya nya.


"Serius Papa" jawab Nasha.


"Terus Mera jawab apa?" tanya Azhar penasaran, ia benar benar tidak menyangka ternyata Nasha serius saat cemburu pada Mera.


"Kata nya dia tidak mungkin naksir Mas Mas kayak Papa, dia naksir nya Harry"


"Tuh kan, apa juga Papa bilang..." ujar Azhar kemudian yg membuat Nasha kembali cengengesan.


Setelan itu mereka pun melaksanakan sholat isya dan setelah berdizkir dan berdoa, Azhar langsung bergegas Untuk pergi membeli bakso.


Sementara Nasha turun saat Hanin memanggil nya dan mengatakan makan malam sudah siap, di meja makan sudah ada beberapa makanan dengan berbagai menu namun Nasha tak terlihat berminat.


"Aku mau makan bakso, ngidam. Azhar lagi pergi beli..." ujar Nasha kemudian. Sementara semua anggota keluarga nya sudah ada di sana dan bersiap untuk makan malam.


"Oh ya sudah kalau gitu , kami makan duluan" ujar Mera.


"Eh jangan, kita tunggu Azhar saja. Jadi makan malam nya rame rame..." seru Bu Anjana yg tentu saja tidak membuat yg lain nya keberatan kecuali Mera. Apa lagi perut nya yg sudah keroncongan.


Tak lama kemudian Azhar pun datang dengan membawa beberapa bungkus bakso, Bu Anjana menyiapkan mangkuk untuk Nasha.


"Aku juga mau bakso nya..." seru Hanin saat tergoda aroma bakso yg masih panas itu.


"Aku juga..." sambung Mera.


"Boleh, aku beli beberapa bungkus kok" jawab Azhar.


"Ya sudah, berarti malam ini kita makan bakso saja" akhir nya Bu Anjana bersuara dan menyajikan bakso untuk suami, anak anak dan menantu nya.


Alhasil, mereka pun benar benar makan malam bakso dan makan yg sudah di siapkan Mbok malah tersingkir. Nasha bahkan menghabiskan dua porsi bakso dengan lahap nya.


...........


Nasha terbangun di tengah malam yg begitu sunyi dan sepi, ia memegang perut nya yg tiba tiba saja kembali merasa lapar.


"Padahal sudah makan banyak..." gumam Nasha. Ia melihat suami nya yg saat ini masih tertidur dengan pulas, Azhar pasti sangat lelah, fikir nya.


Nasha mengecup gemas kening Azhar sebelum akhir nya ia pergi keluar untuk mencari makan di dapur.


"Jadi pengen mie kuah yg panas panas..." gumam Nasha namun ia tidak tahu apakah ada mie kuah di dapur itu.


Akhir nya Nasha pergi ke kamar Mera dan mengetuk pintu kamar adik nya itu berkali kali sampai akhir nya Mera keluar dengan rambut yg sudah seperti ekor singa sambil mengelap air liur di pipi nya.


"Apa?" tanya Mera sambil menguap.


"Aku lapar..." rengek Nasha.


"Bangunin mbok gih, aku ngantuk..." jawab Mera dan hendak kembali masuk ke kamar nya namun Nasha mencegah nya.


"Mbok pasti capek bekerja seharian, aku cuma mau masak mie kuah. Di mana tempat nya?" tanya Nasha.


"Di lemari pojok kanan atas" jawab Mera dan Nasha pun langsung kembali ke dapur sementara Mera kembali ke ranjang nya dan ia hendak kembali tidur. Namun tiba tiba ia teringat Nasha yg saat ini sedang di dapur sendirian.


"Pasti ngidam lagi deh..." gumam Mera dan akhirnya ia pun bergegas ke dapur, Mera merasa kasihan kalau Nasha sendirian.


Di dapur, Mera melihat Nasha yg mulai merebus mie kuah nya.


"Sudah masak?" tanya Mera yg membuat Nasha tersentak kaget dengan kehadiran tiba tiba Mera itu.


"Bikin kaget saja, kenapa kesini?" gerutu Nasha.


"Aku juga lapar" jawab Mera berbohong karena ia hanya ingin menemani Nasha.


"Mau mie kuah juga?" tanya Nasha dan Mera mengangguk. Ia kemudian mengambil dua telur dari kulkas untuk di campur dengan mie nya dan Nasha mengambil satu bungkus lagi mie kuah nya.


Mereka berdua pun memasak bersama dan kali ini mereka adem ayem tanpa perdebatan sedikit pun.


Saat Mie sudah masak, mereka membawa nya ke meja makan dan sama sama makan dalam diam, hingga akhirnya Mera yg lebih dulu bersuara.


"Kenapa tidak membangunkan kakak ipar?" tanya Mera.


"Kasihan dia, seharian sudah bekerja" jawab Nasha dan Mera hanya mengangguk anggukan kepala.


"Terima kasih ya, sudah mau menginap di sini. Papa sama Mama terlihat sangat bahagia" ujar Mera kemudian dengan begitu tulus, membuat Nasha tercengang selama beberapa saat.


"Mereka sangat sayang sama kamu, aku tidak ingat sejak usia ku berapa Mama memperkenalkan sosok kakak ku. Aku yakin pasti sejak bayi, meskipun kami tidak pernah melihat mu tapi kami selalu mendoakan mu dan hati kami mencintai mu dengan tulus..."


Nasha hanya mendengarkan ucapan panjang lebar adik nya itu dan ia tampak enggan merespon nya walaupun ia tetap mendengarkan nya dengan baik.


"Mama selalu sensitif saat ada sesuatu yg berhubungan dengan mu, dan itu terjadi karena Mama sangat merasa bersalah karena kamu tidak di rawat oleh nya dan ia merasa bersalah karena sudah melakukan kesalahan yg fatal sama Papa" tukas Mera lagi.


"Aku faham" jawab Nasha kemudian "Aku juga sedang berusaha menerima mereka di hati ku dan di hidup ku. di hati yg sudah mereka hancurkan dan di hidup yg sudah mereka telantarkan"