True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 60



Harry yg berjalan tanpa tujuan di kagetkan dengan bunyi klakson, kemudian sebuah mobil yg sudah sangat ia hafal berhenti di depannya.


"Har..." Harry mendongak, mendapati gadis yg sangat tidak di sukai Nasha sedang berteriak dari dalam mobil.


"Hai, Mer..." sapa Harry dengan wajah datar nya. Mera memperhatikan penampilan Harry dari ujung rambut hingga ujung kaki, gadis itu terkekeh geli menampilkan sederetan gigi nya yg rapi.


"Kamu baru bangun tidur? Dari mana dan mau kemana? Emang nya engga mau ke sekolah?" tanya Mera.


"Mau bolos aja hari ini, males" jawab Harry "Oh ya, bisa anterin aku kerumah Steve?"


"Bisa, duduk di depan gih. Di belakang ada kakak ku" ujar Mera.


Harry pun masuk ke dalam mobil, ia duduk di depan. Harry menoleh dan tersenyum ramah pada Kakak nya Mera "Hai, Kak. Maaf merepotkan" ujar Harry.


"Engga apa apa..." jawab kakak Mera itu. Harry melirik kakak nya Mera yg bernama Hanin itu, terkadang Harry merasa bingung, mereka saudara tapi sangat berbeda.


Hanin selalu memakai pakaian tertutup dengan jilbab besar dan panjang, sedangkan Mera memakai pakaian yg ketat dan pendek.


"Kak Hanin mau ke kampus?" tanya Harry membuka perbincangan.


"Engga, kelas hari ini di batalkan sama Dosen kakak. Katanya dia akan libur selama tiga hari ke depan" jawab Hanin.


"Oh, gitu..." jawab Harry.


"Kenapa kamu lirik Kak Hanin terus?" seru Mera cemberut.


"Bukan apa apa, cuma kamu itu... Emm kenapa engga berpakaian seperti kakak mu?" tanya Harry dengan ragu ragu. Mera langsung memberengut kesal mendengar pertanyaan itu.


"Semua orang selalu bandingin aku sama Kak Hanin, ish... Nyebelin" gerutu Mera yg membuat Harry terkekeh begitu juga dengan Hanin.


"Oh ya, minggu depan Mera ulang tahun yg ke 17. Datang ya, Har..." ujar Hanin "Acara nya di rumah"


"Tapi kalau misalnya engga di bolehin pacar nya ya engga apa apa" sambung Mera sambil membuang muka.


"Pacar?" gumam Harry dan seketika ia teringat Nasha "Oh, itu... Hm kita liat nanti aja deh" lanjut nya yg membuat Mera semakin terlihat kesal.


Tak lama kemudian Harry meminta sopir Mera berhenti, karena katanya rumah Steve tidak jauh dari sana.


"Makasih ya tumpangan nya" seru Harry pada kedua gadis itu.


"Sama sama..." jawab Hanin sementara Mera masih memasang wajah cemberut nya.


"Kenapa sih, Dek? Cemburu sama pacar nya Harry?" tanya Hanin menggoda.


"Ih, engga lah. Aku sama Harry cuma teman" elak Mera "Tapi aneh aja Harry mau pacaran sama tante tante" lanjut nya dengan sewot.


"Tante tante? Masak sih?" tanya Hanin tak percaya.


"Yaa... Engga tante tante juga sih, cuma lebih tua dari Harry keliatan nya. Mungkin seumuran sama Kak Hanin" ujar Mera sambil menghela nafas berat.


"Cantik engga?"


"Lumayan"


"Nama nya siapa?"


"Nasha..."


"Nasha?" Hanin mengulang nama itu "Kayak engga asing nama nya" gumam nya.


.........


"Sayang, Nasha..." untuk yg kesekian kalinya Azhar menepuk nepuk pelan pipi istrinya yg masih bergelung dengan guling dan selimut nya.


Jam sudah menunjukan hampir pukul 9, sementara Nasha masih tertidur pulas sejak setelah sholat subuh tadi.


Azhar mengelus rambut Nasha yg masih basah setelah keramas tadi, padahal Azhar sudah menyuruh Nasha mengeringkan rambut nya dulu sebelum tidur. Tapi istrinya itu seperti nya sangat mengantuk dan kelelahan.


"Sayang, ayo bangun..." seru Azhar sembil mengusap pipi Nasha. Nasha mengerang lirih, ia menggeliat malas dan perlahan membuka mata nya.


"Apa?" gumam Nasha sambil mengucek mata nya.


"Ummi nyariin..."


"Huh..." Nasha langsung duduk, kedua mata nya terbuka lebar, ia bahkan langsung menyingkirkan selimut dan melemparkan guling yg sejak tadi di peluk nya.


"Kenapa? Ummi mau buat sarapan ya? Mau nyuci? Atau bersihkan rumah? Aduh, aku kesiangan..."


Azhar tertawa geli dengan respon istrinya yg baru menyadari bahwa kini ia tinggal di rumah mertua nya dan sebagai menantu tentu seharusnya ia tahu diri.


"Sayang..." seru Azhar kembali menenangkan Nasha yg masih terlihat panik "Ummi sudah siapkan sarapan" Azhar menunujuk ke atas nakas, dimana disana sudah ada roti dan susu "Kata Ummi, minum susu nya. Biar ada tenaga lagi..." goda nya yg membuat Nasha mendengus namun pipi nya pun merona.


"Masih sangat mengantuk ya?" tanya Azhar sambil duduk di belakang Nasha, ia mengurai rambut Nasha yg masih sedikit lembab.


"Iya" jawab Nasha kemudian mengambil gelas susu itu dan langsung meneguk nya "Aku juga sangat lapar ternyata" ujar nya yg membuat Azhar terkekeh.


"Makan nya pelan pelan, jangan lupa juga baca doa sebelum makan"


"Iya sudah dalam hati" jawab Nasha "Oh ya, habis ini aku ngapain? Maksud ku, pekerjaan rumah apa yg harus aku lakukan?" tanya Nasha sambil mengunyah.


"Pertanyaan mu seperti asisten rumah tangga saja, Nasha" jawab Azhar "Di sini kamu istri ku, menantu kedua orang tua ku. Jadi jika ada pekerjaan, kita kerjakan bersama. Jika tidak ada, kita menghabiskan waktu bersama. Aku, Ummi dan juga Abi seperti itu. Kami selalu saling membantu"


Nasha tersenyum mendengar jawaban Azhar, betapa bahagia dan damai nya keluarga mereka tanpa bergelimang harta, tanpa pembantu yg harus mengurus segala kebutuhan mereka.


Kini Azhar berpindah duduk di depan Nasha, ia menyelipkan rambut Nasha ke belakang terlinga Nasha dengan mesra. Ia menatap Nasha dengan begitu dalam, membuat Nasha salah tingkat "Nasha, maaf jika mungkin ini bukan apa yg kamu impikan. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa membahagiakan mu" tutur nya, Nasha menggeleng, ia menggenggam tangan Azhar dan mengecup nya.


"Yg membuat aku bahagia itu kamu, Azhar. Yg membuat aku merasa nyaman juga kamu, jadi asal selalu bersama mu, aku pasti akan selalu bahagia" tutur Nasha dan sekali lagi mengecup tangan Azhar. Membuat jantung Azhar kembali berdebar hebat.


Azhar membelai pipi Nasha dengan lembut "Nanti malam Ummi mau mengadakan syukuran untuk ulang tahun mu sekalian untuk pernikahan kita" ujar Azhar.


"Acara lagi?" tanya Nasha sedikit terkejut, Azhar mengangguk "Tapi aku rasa engga perlu, Azhar. Kita sudah menghabiskan biaya yg cukup..."


"Tunggu...." sela Azhar sambil menatap Nasha lekat lekat "Biaya? Nasha, ini syukuran, engga masalah dengan biaya, Sayang. Aku masih mampu kok"


"Iya, tapi kan malu sama Abi dan Ummi..." cicit Nasha, seketika Azhar tertawa.


"Jadi sejak kemaren kamu selalu khawatir dengan biaya karena kamu berfikir aku menggunakan uang Abi dan Ummi gitu?" tanya Azhar dan dengan polos nya Nasha malah mengangguk.


"Ya kan aku malu, ini pernikahan kita. Sementara aku engga mengeluarkan uang sepeser pun, bahkan pakaian ku pun di belikan Ummi..."


"Aku yg membelikan nya" jawab Azhar dengan cepat "Itu semua uang ku, Nasha. Uang yg aku tabung selama ini, dan saat menempuh pendidikan d Cairo aku juga bekerja dan menghasilkan uang disana. Aku menyimpan nya dan menggunakan nya untuk biaya pernikahan kita" tutur Azhar yg membuat Nasha terdiam, merasa bodoh dengan pemikiran nya sendiri "Kamu tega sekali berfikir aku tidak punya apa apa" ucap Azhar kemudian merajuk.


"Maaf..." seru Nasha dengan manja.


"Kamu engga akan pernah berubah, selalu berfikir yg tidak tidak..." seru Azhar lagi. Ia hendak pergi namun Nasha segera menarik tangan nya.


"Maaf, Azhar..." rengek Nasha namun Azhar seolah tak peduli "Azhar..." Nasha kembali merengek, ia menatap Azhar dengan begitu menggemaskan membuat Azhar tersenyum geli.


Azhar kembali duduk di tepi ranjang, ia mengecup pipi Nasha dengan gemas "Istirahatlah, aku mau belanja keperluan untuk syukuran nanti malam"


"Aku boleh ikut?" tanya Nasha sambil tersenyum lebar.


"Bisa jalan? Udah engga sakit? Engga capek?" goda Azhar sambil terkekeh.


"Isshh... Kamu ini" Nasha mencubit pinggang Azhar membuat Azhar meringis, namun kemudian ia tertawa.


▫️▫️▫️


Tbc....