
"Kamu duduk dulu, Sha. Biar Azhar pergi beli makanan mu ya" tukas Ummi Rifa penuh pengertian yg tentu saja membuat Nasha memekik senang "Sate ayam engga usah pakek ayam, terus di campur lontong dan sayuran. Ingat ya, Azhar. Itu pesanan Mama nya bayi, ayo pergi sekarang" perintah Ummi Rifa dan tentu Azhar tak bisa menolak perintah ibunya itu.
.........
Azhar memutar otak nya untuk memenuhi permintaan aneh Mama dari bayi nya itu.
"Sate ayam engga usah pakek ayam, aroma dan rasa nya beda" gumam Azhar.
Ia pun membeli satu porsi sate ayam dan Azhar meminta agar bumbu nya di kasih banyak banyak.
Setelah membeli sate, Azhar pergi untuk membeli gado gado tanpa bumbu kacang nya. Tentu saja hal itu membuat sang penjual heran.
"Gado gado tanpa bumbu kacang bagaikan aku tanpa kamu" ucap penjual yg masih muda itu, membuat Azhar terkekeh geli. Si penjual pun juga tertawa, mendapatkan pembeli yg tampan nya bak pangeran Arab tentu saja takkan ia sia siakan, fikir nya.
"Mau di bawa pulang, Mas?" tanya penjual itu dengan nada manja.
"Iya, tapi sebelum di bungkus aku mau campur bumbu nya dulu di sini" jawab Azhar sambil meletakkan kresek yg berisi sate.
"Oh, bawa bumbu sendiri, khusus ya, Mas? Seperti aku yg menyiapkan tempat khusus untuk mu di hati" gurau penjual itu lagi dengan wajah yg berseri seri, Azhar hanya bisa menahan senyum geli nya mendengar godaan itu. Sang penjual pun meletakkan kotak makan yg berisi satu porsi gado gado tanpa bumbu kacang di meja Azhar.
"Iya, khusus untuk istri saya yg sedang hamil" jawab Azhar dengan santai nya namun itu berhasil memadamkan cahaya yg berseri seri di wajah sang penjual.
"Alamak, di lihat dari wajah guanteng nya memang tidak mungkin dia masih jomblo..."
"Mbak, boleh minjam sendok nya kan?" tanya Azhar kemudian sambil mengambil sendok yg memang sudah di sediakan di meja.
"Boleh" jawab penjual itu dengan wajah yg sudah layu, sementara Azhar kembali hanya bisa menahan senyum geli nya.
Azhar pun menuangkan bumbu sate itu ke gado gado gado nya kemudian mengaduk nya. Si penjual masih setia mengamati Azhar dari samping. Setelah semua nya tercampur rata, Azhar meminta penjual itu kembali membungkas nya.
Setelah Azhar membayar gado gado itu, ia pun segera bergegas pulang karena Nasha pasti sudah lapar.
Sesampainya di rumah, Azhar langsung menyajikan apa yg di idamkan istri nya itu dan Nasha tampak sangat girang.
Ia menghirup aroma makanan itu dalam dalam, dan tentu memang tercium aroma khas sate.
"Terima kasih, Papa. Papa baik sekali, benar benar pengertian dan perduli pada Mama dan calon bayi" ungkap Nasha yg membuat Azhar terkekeh geli. Padahal beberapa menit yg lalu Nasha menyebut nya tak perduli dan bukan suami yg siap siaga.
"Jangan lupa berdoa dulu sebelum makan" pinta Azhar lagi karena Nasha langsung melahap makanan nya.
"Sudah, dalam hati" jawab Nasha sambil mengunyah. Mertua Nasha yg melihat itu hanya geleng geleng kepala.
Tidak hamil saja tingkah Nasha sudah ajaib, apa lagi jika hamil muda begini, fikir mereka berdua.
.........
Keesokan harinya, Azhar membawa Nasha kerumah orang tua kandung Nasha dan tentu mereka menyambut gembira kedatangan Nasha dan Azhar. Bahkan Mera juga tampak senang mereka.
"Kakak ipar mau di bikinkan teh atau kopi?" tanya tawar Mera setelah mempersilahkan Azhar dan Nasha duduk di sofa.
"Jangan sungkan dan jangan seperti tamu, ini juga rumah kalian" ujar Bu Anjana yg membuat Azhar tentu langsung tersenyum. Namun tidak dengan Nasha yg sejak tadi memperhatikan Mera.
Gadis itu masih tidak memperbaiki rambut nya yg seperti pelangi, dia hanya memakaai kaos oblong dan hot pants.
"Kamu engga punya celana panjang ya, Mer?" tanya Nasha tanpa basa basi.
"Banyak, kenapa?" tanya Mera santai.
"Ganti gih, nanti paha mu di gigit lalat" ujar Mera yg langsung membuat Mera mendengus.
"Aku sudah ingatkan beberapa kali, Sha. Supaya Mera tidak pakai celana pendek tapi dia tetap tidak nurut" ujar Hanin kemudian.
"Iya, Sha. Mera memang sedikit bandel" sambung Bu Anjana.
"Itu mah bukan sedikit bandel, tapi sangat bandel" ujar Nasha terang terangan "Kamu itu anak perempuan lho, Mer. Keluyuran sama Harry pakai celana sejengkal, itu engga baik" tegas Nasha lagi.
"Ya kan aku cuma nyaman aja begini, simple gitu" ujar Mera kemudian yg memang tak mau di beri tahu.
"Nasha benar, Mer..." Azhar pun ikut menyambung "Ada baik nya kamu berpakaian yg lebih tertutup, demi diri mu sendiri. Memang nya kamu mau badan kamu di liatin cowok cowok mata keranjang? Rela kamu jadi tontonan gratis mereka?" Azhar bertanya dengan begitu lembut bahkan sambil tersenyum, namun justru itu yg berhasil membuat Mera merasa malu sendiri dan ia hanya bisa cengengesan.
"Ya sudah, aku ganti dulu" ujar Mera kemudian yg justru malah membuat Nasha cemberut.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Nih bocah naksir kakak ipar nya sendiri, awas saja nanti..." geram Nasha dalam hati.