True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 71



Setelah acara tiup lilin selesai, Azhar berpamitan pada Mera dan kedua orang tuanya. Ia juga minta maaf karena sebenarnya ia dan Nasha tidak di undang, mereka datang karena Nasha ingin menemani Harry.


"Oh ya? Kenapa kamu tidak mengundang mereka, Mera? Padahal mereka keluarga Harry dan orang orang yg sangat baik" tegur Anjana yg membuat Mera mencebikan bibirnya.


"Kami memang orang baik, Tante. Karena itulah Mera tidak suka" ujar Nasha yg membuat Anjana tertawa geli.


"Ya, bisa jadi" jawab nya yg sekali lagi membuat Mera mencebikan bibir nya karena ia merasa mama nya malah sangat dekat dengan Nasha bahkan membela nya.


"Tapi pesta nya kan baru di mulai, kenapa kalian sudah mau pulang?" tanya Niranjan.


"Sepertinya Nasha tidak enak badan" jawab Azhar.


"Oh begitu, kau sakit, Nak?" tanya Anjana sembari meletakkan punggung tangan nya di kening Nasha. Dan entah mengapa hal itu membuat hati Nasha seperti merasa suatu kehangatan "Tapi badan mu tidak panas" lanjut Anjana dan Nasha hanya tersenyum tipis "Sebelum pulang, setidaknya makan kue dulu ya. Ini acara syukuran putri putri ku, aku tidak bisa terima jika ada tamu yg pulang tanpa makan" Anjana berkata sembari memotong kue tart dan meletakkan nya di piring kecil, tak sampai disana, ia bahkan menyaupi Nasha dan Nasha manut saja, menerima suapan dari wanita asing ini.


"Kue nya enak" lirih Nasha sekena nya, karena saat Anjana menyaupi nya, Nasha merasa kue itu memang sangat enak, seolah belum pernah ia makan sebelum nya.


"Kamu suka?" tanya Anjana lembut dan seketika Nasha mengangguk cepat. Mera yg melihat itu mendelik kesal, sementara Hanin dan yg lain nya hanya terkekeh.


"Kalau begitu, bawa saja sebagian kue ini" ujar Anjana lagi.


"Jangan!" seru Nasha dan Azhar bersamaan "Kami datang tanpa undangan, masak iya kami pulang bawa kue. Selain itu, kami bahkan pulang sebelum acara selesai" tukas Azhar yg membuat Anjana dan Niranjan terkekeh.


"Seandai nya kami yg mengenal kalian lebih dulu, kami pasti memberikan undangan VIP pada kalian" ujar Niranjan yg membuat Nasha tersenyum.


"Sebenar nya Pak Azhar ini juga dosen Hanin, Pa. Dia mengajar Bahasa Arab. Nasha juga kuliah di kampus yg sama dengan Hanin, hanya saja di Kedokteran" sambung Hanin.


"Oh ya, dunia sempit sekali" pekik Anjana senang.


"Semua nya ngobrol, Mera di abaikan. Heh" gerutu Mera yg mengundang tawa, bahkan Nasha ikut tertawa kecil.


"Ya, padahal ini pesta mu gadis bau kencur. Tapi seperti nya malah aku yg menarik perhatian" gurau Nasha sambil terkekeh.


"Nasha, dia bukan gadis bau kencur" ujar Azhar dengan cepat "Maafkan Nasha, Om, Tante" ucap Azhar merasa malu.


"Engga apa apa, Mera memang masih anak kemarin sore" ucap Niranjan menggoda Mera, membuat Mera memberengut kesal.


Sementara Harry yg memperhatikan hal itu sejak tadi hanya bisa tersenyum, ia seperti melihat sebuah keluarga yg begitu sempurna.


"Ya udah, kami pulang dulu. Har, kalau kamu masih mau disini engga apa apa" ucapan Nasha itu tentu membuat Harry dan Mera merasa senang.


"Tunggu dulu, Tante serius saat mengatakan kamu harus membawa sebagian kue ini" ucap Anjana.


"jangan, Tante" tolak Nasha sungkan.


"Jangan menolak, atau tahun depan kami tidak akan mengundang kalian lagi" sambung Niranjan.


Anjana memerintahkan salah satu pelayan nya untuk membungkus kue itu dan memberikan nya pada Nasha.


"Terima kasih banyak" ucap Nasha malu malu.


"Kembali kasih" jawab Anjana.


Dan sesampainya di rumah, seperti nya kedua orang tua Azhar sudah tidur.


"Sayang, kamu langsung saja ke kamar ya. Biar aku menyimpan kue ini di kulkas" Azhar berkata sembari membuka pintu dengan kunci yg ia bawa.


"Aku masih pengen makan kue nya" ucap Nasha.


"Hem, baiklah" gumam Azhar.


Mereka berdua pergi ke dapur, Azhar mengambil kue dan satu piring kecil. Kemudian ia memotong kue itu dan meletakkan nya di piring, Nasha mengunyah nya dalam diam.


"Ada apa?" tanya Azhar, dan seketika Nasha tertawa masam.


"Engga apa apa, cuma seperti nya tadi kue ini enak. Tapi sekarang biasa saja, seperti kue tart pada umumnya" jawab Nasha yg membuat Azhar mengernyit bingung.


Nasha pun meletakkan kue itu ke kulkas "Tidur yuk. Aku ngantuk" rengek nya manja pada Azhar, membuat Azhar terkekeh.


"Iya iya, tapi sebelumnya ganti baju dulu dan wudhu dulu. Okey?"


"Okey"


"Oh ya, gimana kalau kamu itu nyantri, Sayang" Azhar berkata sembari merangkul Nasha yg bergelanyut manja di lengan nya, bahkan Azhar sedikit kesulitan membuka pintu kamar nya karena tiba tiba saja Nasha begitu manja seperti bayi.


"Nyantri apa?" tanya Nasha bingung.


"Jadi santri, masuk pesantren"


"Huh?" pekik Nasha dan ia langsung melepaskan diri dari Azhar.


"Kenapa?" tanya Nasha lagi.


"Bukan apa apa, cuma siapa tahu kamu mau jadi santri. Belajar ilmu agama di pesantren, engga nginep kok dan insya Allah engga akan ganggu kuliah kamu"


"Memang nya bisa? Setahu ku jadi santri itu tinggal di pesantren bertahun tahun"


"Bisa, nanti aku uruskan"


"Kan kamu bisa ajarin aku di sini, Sayang" lirih Nasha kemudian yg menyadari ilmu agama nya bukan hanya minim tapi bahkan hampir tak ada. Ia bahkan tidak bisa membaca Al Qur'an dengan lancar, bacaan sholat cuma hafal yg wajib wajib saja.


Azhar sangat mampu untuk mengajari Nasha hal itu, namun Azhar ingin Nasha mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak bisa di dapatkan di tempat luar. Yaitu sebuah pergaulan yg benar, yg beradab.


Azhar memperhatikan Nasha terkadang tidak memperhatikan tingkah dan ucapan nya dimana pun dan kapan pun, dan itu sungguh merugikan Nasha sendiri. Azhar juga bisa menegur Nasha dan memberi tahu bagaimana cara ia beradab dengan orang lain.


Namun dengan menjadi santri, Nasha akan belajar pelan pelan. Akan terbawa suasan dan beradab seperti orang orang pesantren. Selain itu, Nasha akan lebih rajin dan menikmati jika belajar bersama teman teman nya di pesantren nanti ketimbang belajar sendiri bersama Azhar. Tentu Azhar juga akan mengajari Nasha di rumah, namun ia yakin, dengan memasukan Nasha ke pesantren akan membuat pribadi Nasha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.


"Iya, aku akan mengajari mu di sini. Tapi nanti coba dulu ya sekolah di pesantren, setidak nya seminggu dulu. Kalau kamu suka, nanti lanjut"


"Okey" jawab Nasha dengan antusias.