True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 79



"Papa nya gadis bau kencur itu..." seru Nasha pada Azhar.


Azhar sudah menceritakan tentang kerja sama nya dengan Pak Niranjan, ia bahkan menceritakan kalau sebenarnya Pak Niranjan dan istri nya itu masih keturunan India karena itulah nama nya ala ala India.


"Nama nya Mera, Sayang. Tidak sopan memanggil orang seperti itu" ujar Azhar sembari melepaskan pakaian nya dan melempar nya ke keranjang baju kotor "Pantas ya Mera cantik, rupa nya berdarah India" ucap Azhar kemudian yg tentu saja membuat Nasha mencebikan bibir nya kesal.


"Jadi aku engga cantik gitu? lagian ya, kamu itu sudah punya istri. Engga boleh lho melirik wanita lain, kata Ustadzah, pandangan itu harus di jaga. Dosa lho nanti" tukas Nasha sembari menutup horden jendela kamar nya karena hari sudah petang.


"Istri ku wanita paling cantik di dunia" puji Azhar kemudian ia mengecup gemas pipi Nasha "Oh ya, tadi kata Ummi, ada Ramos ke toko dan kamu bersikap aneh" Azhar berkata dengan hati hati,tak ingin membuat Nasha tersinggung maupun tak nyaman.


"Iya, cuma ingat masalah yg dulu" jawab Nasha dengan suara rendah.


Azhar membawa Nasha duduk ke tepi ranjang, ia merapikan rambut Nasha yg berantakan dan menyelipkan rambut itu ke belakang telinga nya dengan mesra.


"Jika ada yg mengganjal di hati mu, katakan saja, Sayang. Aku bukan hanya ingin menjadi pria yg kamu cintai, tapi aku juga ingin menjadi pria yg menjadi sandaran mu, tempat curhat mu, sahabat mu" Azhar berkata dengan begitu tulus, membuat hati Nasha tersentuh.


"Aku merasa tidak nyaman bertemu dengan Ramos karena dia sering mengirim pesan yg berisi pujian. Maksud ku, itu tidak seharus nya di lakukan pada wanita yg sudah bersuami, kan?" tutur Nasha yg sebenarnya sangat mengejutkan Azhar. Namun Azhar berusaha bersikap tenang dan berusaha menyunggingkan senyum kemudian berkata


"Nanti aku akan berbicara dengan nya, terima kasih kamu sudah jujur, Sayang"


"Kamu engga marah? Kesal? Atau kefikiran?" tanya Nasha kemudian dan Azhar lagi lagi tersenyum lembut.


"Aku akan khawatir kalau kamu engga bicara jujur sama aku, kamu istri ku dan sebagai suami aku harus bisa melindungi mu dan menjaga mu, terutama dari pria lain" tutur Azhar masih dengan senyum lembut nya. Nasha tersenyum senang, Azhar begitu mengayomi nya, membuat Nasha semakin mencintai Azhar.


"Hem hem..." gumam Nasha dan ia hendak memeluk Azhar namun Azhar mencegah nya.


"Aku mau mandi dulu, Sayang" ucap nya.


"Ikut..." rengek Nasha manja dan keduanya pun bergegas ke kamar mandi. Sementara Azhar hanya terkekeh, melihat betapa manja nya Nasha pada nya dan mengingat Nasha yg sama juga begitu galak pada Hanin dan Mera.


Setelah mandi, mereka melanjutkan aktifitas seperti biasa. Sholat berjemaah, membaca Al Qur'an dan Azhar masih harus mengajari Nasha membaca Al Qur'an yg baik dan benar.


Setelah sholat isya, mereka pun makan malam dan setelah itu, mereka kembali ke kamar masing masing untuk beristw.


Sebelum tidur, Azhar meminta Nasha menghafalkan setoran nya untuk esok. Dan Azhar akan menjelaskan apa yg sebenarnya di hafal oleh Nasha.


"Besok aja ya, sudah ngantuk..." sekali lagi Nasha merengek manja, ia memeluk Azhar seperti memeluk guling. Kaki nya bahkan menimpa kaki Azhar dan tangan nya melingkari perut Azhar


"Kalau besok kamu engga bisa menjelaskan makna dari bait bait hafalan mu, aku akan menghukum mu berdiri di depan sampai kelas selesai"


"Ugh, masak suami ku setega itu" Nasha menjawab sembari mengeratkan pelukan nya.


"Saat di kelas, aku adalah Ustadz mu"


"He'em. Karena ini masih di kamar, kamu suami ku" Nasha kembali membantah dan sekarang ia memberikan kecupan bertubi tubi di pipi Azhar.


Azhar hanya tertawa, ia memiringkan tubuh nya sehingga kini ia berhadapan dengan Nasha.


"Tetaplah seperti ini, ceria, nakal, manja" lirih Azhar sembari membelai pipi Nasha dengan lembut.


"Takdir selalu memiliki cerita yg menarik dan adil, Sayang. Aku sangat bersyukur memiliki mu, istri ku. Kamu adalah belahan jiwa ku" Nasha merona mendengar itu. Azhar menarik Nasha kedalam pelukan nya dan mendekap nya dengan erat, menghujani wajah Nasha dengan kecupan lembut nya "Sekarang tidur dan istirahat lah, karena seperti nya besok guru mu akan menghukum mu"


.........


Hari sebagai santri rupa nya juga sangat menyenangkan bagi Nasha, ia seperti memiliki masa kecilnya kembali. Ia bermain dan belajar dengan begitu menyenangkan, apa lagi teman teman nya memang masih remaja bau kencur, begitulah kata nya. Namun Nasha sangat menikmati berteman dengan mereka.


Dan saat ini, mereka harus menyetor hafalan kitab Imriti. Kitab nahwu yg menjadi kekasih shorrof. Setiap bait nya seperti lagu yg bernada indah dan tertata rapi, membuat Nasha dengan mudah mengingat nya namun saat di tanya penjelasan dari bait itu... Ia hanya bisa melirik teman teman nya kemudian menampilkan senyum polos nya.


"Lupa..." ucap Nasha.


"Lupa apa tidak tahu?" tanya sang Ustadz.


Ya, Ustadz yg tak lain adalah suaminya sendiri. Kali ini, tidak ada tatapan penuh cinta maupun keromantisan di mata sang suami. Yg ada hanya guru yg mengintimidasi.


"Tidak tahu...." jawab Nasha lirih sembari menunduk.


"Tidak belajar?" tanya Azhar dan Nasha menggeleng.


"Tidak ada yg mengajari ku dan aku tidak bisa belajar sendirian" Azhar menaikan sebelah alis nya dan menatap Nasha dengan tatapan misterius


"Fitnah yg sangat kejam, istri nakal ku"


"Baiklah, silahkan berdiri di depan sampai kelas selesai" titah Azhar yg membuat Nasha memberengut kesal


"Wina, maju dan setor hafalan mu juga beserta arti nya"


..........


Sepulang nya dari pesantren, Nasha enggan berbicara dengan Azhar. Ia terus memasang wajah cemberut nya membuat Azhar merasa gens sendiri.


"Kenapa sih, Sayang?" tanya Azhar lembut.


"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Aku berdiri di depan hampir 20 menit lho, pegal ini kaki, pegall...." rengek Nasha.


"Kenapa marah nya sama aku? Apa hubungannya sama aku"


"Ya karna kamu yg menghukum aku" geram Nadya kesal. Azhar kembali terkekeh geli.


"Tadi malam suami mu nyuruh apa? Menghafal dulu, terus biarkan aku jelaskan apa yg sudah kamu hafal. Tapi kamu nya malah mengantuk, ya wajar kalau Ustadz mu menghukum mu" tukas Azhar yg membuat Nasha semakin memberengut.


"Besok, aku akan rajin belajar lebih giat lagi sama suami ku. Engga akan aku biarin Ustadz kejam itu menghukum ku lagi" seru Nasha penuh keyakinan, membuat Azhar terkekeh.


Karena Nasha berbicara pada Azhar tentang Azhar sendiri yg memiliki peran ganda di hidup Nasha.


"Bagus dong, aku mendukung mu"