True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 39



Nasha berdandan secantik mungkin, ah bukan, tapi se anggun mungkin. Ia hanya memakai riasan tipis seperti biasa, namun butuh hampir satu jam bagi Nasha untuk memilih pakaian yg cantik dan cocok untuk nya. Malam ini ia akan menyambut Azhar dan soal kedua orang tua Nasha, mereka setuju Azhar datang dan hal itu membuat Nasha merasa sangat bahagia.


Terdengar suara bel dari bawah, Nasha dengan cepat berlari turun untuk membukakan pintu calon suami nya itu. Namun saat pintu terbuka, wajah bahagia Nasha lenyap seketika, tubuhnya bahkan terasa kaku dan ia terlihat kesal.


"Selamat malam, Sayang..." Nasha segera mundur menghindar saat Ramos hampir saja mencium pipi nya. Nasha menatap dingin pada Ramos yg ia anggap telah sangat kurang ajar pada nya, Ramos hanya terkekeh dan ia menyodorkan sebuket bunga pada Nasha.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Nasha dengan nada yg sangat dingin dan ia menolak menerima bunga Ramos.


"Untuk membicarakan pernikahan kita" jawab Ramos enteng, kedua orang tua Ramos juga datang menyusul dan hal itu membuat Nasha merasa panik.


Dimana Azhar? Dan apa yg akan Azhar lakukan nanti?


"Hai, Jes. Mas Ruben..." sapa Raya ramah dan ia cipika cipiki dengan dua orang itu, Surya pun datang dan juga menyambut tamu tamu nya.


"Mama ngundang mereka?" tanya Nasha setengah berbisik walaupun itu tetap di dengar oleh Ramos dan kedua orang tuanya.


"Engga, tapi Ramos bilang mau kerumah, mau lamar kamu secara resmi" jawab Raya tenang dan ia tampak senang.


"Tapi kan Azhar..."


"Mama juga menerima dia datang kan? Jadi apa salah nya kalau Mama juga menerima Ramos" jawab Raya yg membuat emosi Nasha terpancing namun ia hanya bisa diam.


"Ayo silahkan masuk..." ujar Raya kemudian sambil ia menarik Nasha.


"Aku mau nunggu Azhar..." seru Nasha berusaha melepaskan diri dari cengkraman Mama nya, apa lagi Raya seperti nya dengan sengaja mencengkram dengan kuat lengan Nasha sebagai bentuk intimidatasi nya. Ia bahkan setengah menyeret Nasha dan Nasha hanya bisa meringis, hingga tiba tiba Harry datang dan langsung melepaskan tangan Raya dari Nasha dengan paksa.


"Jangan menyakiti kakak ku!" tegas Harry menatap dingin pada ibu nya itu.


"Jangan bikin malu!" tegas Raya yg tak kalah dingin nya.


Raya pun membawa Nasha dan yg lain nya ke ruang tamu. Di sana sudah di siapkan minuman dan beberapa cemilan ringan.


Baru saja mereka duduk, kembali terdengar suara bel pintu. Nasha beranjak hendak membukakan pintu karena ia yakin itu Azhar, namun Raya mencekal tangan Nasha.


"Mbok... Buka pintu..." teriak Raya pada pembantu nya, pembantu nya pun segera melaksanakan perintah itu. Nasha hanya bisa memberengut namun ia tak bisa apa apa.


Mbok membawa Azhar dan kedua orang tua nya ke ruang tamu, tampak mereka yg terkejut karena ternyata sudah ada tamu lain. Namun mereka tetap menyunggingkan senyum ramah dan mengucapkan salam, mereka pun menjawab salam itu juga dengan ramah.


Azhar menatap Nasha penuh tanda tanya, namun Nasha malah membalas tatapan itu dengan begitu sendu. Seolah Nasha tak menginginkan hal seperti ini.


"Silahkan duduk..." ujar Surya dan Azhar juga kedua orang tuanya pun duduk.


"Jadi, ini yg namanya Azhar?" tanya Ramos sambil melirik Azhar dari atas hingga bawah. Azhar bernampilan casual namun sangat sopan, beda hal nya dengan Ramos yg mengenakan jas dan tampak formal.


"Iya, Aku Azhar..." Azhar mengulurkan tangan nya dan Ramos menyambut nya.


"Ramos Saputra" jawab Ramos menyunggingkan senyum.


"Jadi, Om Tante... Kedatangan saya..."


"Tunggu..." Harry dengan cepat bersuara memotong pembicaraan Ramos "Silahkan di minum teh nya dulu" ujar Harry sambil melirik Nasha. Seperti biasa, kedua kakak adik itu sangat pandai memberi isyarat satu sama lain. Nasha yg mengerti maksud Harry langsung tersenyum dan kini ia menatap Azhar dan kedua orang tuanya bergantian.


"Pa, Ma... Ini Azhar, pacar Nasha. Dan Ini Abi Fadlan dan juga Ummi Rifa..." seru Nasha yg langsung membuat kedua orang tua Ramos terkejut. Sementara Surya menyambut perkenalan itu dengan senyum, beda hal nya dengan Raya yg masih memasang wajah dingin nya.


"Benar, Pak, Bu... Jadi kedatangan kami kesini untuk meminang Nasha, untuk putra kamu" ujar Abi Fadlan dengan tegas.


"Kedatangan kami juga dengan maksud yg sama, Ray" ujar Ruben "Dan kita sudah bersahabat sejak lama, kalian juga tahu dengan pasti maksud kedatangan kami. Ramos sangat mencintai Nasha, dia pasti bisa membahagiakan Nasha dan memberikan segalanya untuk Nasha" Raya tersenyum girang mendengar penuturan Ruben itu, namun beda hal nya dengan Nasha yg tampak sangat kesal. Sementara Azhar dan kedua orang tua nya hanya bisa terdiam.


"Aku menerima lamaran Mas Ruben." jawab Raya yg langsung membuat Nasha melotot sempurna.


"Tapi aku menolak nya!" tegas Nasha "Aku mencintai Azhar dan aku mau menikah sama Azhar"


"Aku juga sangat mencintai Nasha, aku akan berusaha menjadi pendamping hidup yg baik untuk Nasha" jawab Azhar.


"Saya mohon, Om, Tante..." Azhar menatap Surya dan Raya bergantian "Berikan saya kesempatan itu"


"Aku..." Surya menatap putri angkat nya itu, dan Nasha membalas tatapan Surya dengan memelas "Aku menyerahkan semua nya pada Nasha, karena yg menjalani pernikahan itu Nasha sendiri" jawab Surya yg membuat Nasha tersenyum senang begitu juga dengan Azhar.


"Terima kasih, Pa..." seru Nasha.


"Pernikahan bukan hanya tentang cinta..." sela. Raya "Ada banyak hal yg harus ada dalam pernikahan selain cinta, lagi pula siapa Azhar yg bisa menikahi Nasha Laura, putri dari Surya Hermawan?" seru Raya yg sebenarnya sudah memukul mental Azhar dan kedua orang tua nya.


"Putra kami memang bukan siapa siapa, Bu" jawab Ummi Rifa bahkan ia masih menyunggingkan senyum "Tapi Azhar adalah pria yg baik dan bertanggung jawab, mungkin dia tidak bisa memberikan kemewahan pada Nasha tapi dia pasti bisa memberikan kenyamanan pada Nasha. Apa lagi keduanya saling mencintai, saya tahu sebagai orang tua kita ingin yg terbaik untuk anak kita. Karena itulah terkadang kita harus mengalah demi kebaikan dan kebahagiaan mereka" tutur Ummi Rifa yg kini melukai ego Raya. Ia sadar betul, ia tak pernah mengalah pada kemauan Nasha dan apa yg Ummi Rifa katakan sudah sangat menyindir nya.


Surya bisa merasakan kemarahan istrinya setelah mendengar ucapan Ummi Rifa, ia segera berdiri sebelum istri nya lepas kendali.


"Sebaiknya kita makan malam dulu, dan soal keputusan ini, berikan kami kesempatan untuk memikirkan ini baik baik" ujar Surya.


"Baik lah, saya mengerti" ujar Abi Fadlan.


Surya membawa mereka ke meja makan, menu makan malam yg sangat mewah di sediakan. Namun tampak nya tak ada satu pun dari mereka yg berselera.


Walaupun pun begitu, mereka tetap menyantap makanan itu walaupun hanya sekedar formalitas.


Dan Nasha sangat pintar, ia duduk berhadapan dengan Azhar. Ia sering mencuri pandang walaupun Azhar mengabaikan nya, Nasha tahu Azhar bisa merasakan bahwa Nasha memperhatikan nya.


Dan di tengah makan malam itu, sesekali terselip obrolan ringan antara Surya, Abi Fadlan, Ummi Rifa dan Jessica. Sementara Raya dan Ruben tampak tak menyukai hal itu.


"Jadi Azhar lulusan S2 di Cairo?" tanya Jessica dan ia bersikap sangat natural, begitu juga dengan Surya.


"Iya, Tante. Alhamdulillah" jawab Azhar, terlihat sekali dari sorot mata Jessica bahwa ia menyukai sikap ramah dan lembut Azhar. Bahkan setelah di permalukan oleh Raya, Azhar tetap menyunggingkan senyum nya.


"Bagus sekali, kamu jadi Dosen dalam bidang apa?"


"Bahasa Arab, dan juga Tafsir dan Hadits" jawab Azhar.


Ramos menatap tajam Mama nya yg terus mengobrol dengan Azhar.


"Aku pulang duluan, permisi..." ujar Ramos dingin dan ia tidak menunggu siapapun mempersilahkan nya. Ramos langsung pergi begitu saja, Nasha yg melihat itu tersenyum miring begitu juga dengan Harry.


Mungkin Ramos memang punya harta, tapi attitude nya zero.


"Aku rasa aku juga harus pulang" ujar Ruben dan ia menatap Jessica, memberi isyarat untuk mengikuti nya. Jessica pun ikut bubar, begitu juga dengan Raya.


Azhar dan kedua orang tuanya pun sudah mulai merasa tak nyaman.


"Om, Saya..." ucapan Azhar terhenti saat Nasha meletakkan kuning telur rebus piring nya, Azhar menatap heran pada Nasha. Begitu juga dengan Abi Fadlan dan Ummi Rifa.


"Nasha, engga boleh seperti itu pada tamu" ujar Surya "Ayo ambil lagi..." dengan nakal nya Nasha menggeleng dan itu membuat Harry tertawa geli.


"Maaf, Azhar. Nasha memang tidak suka kuning telur kalau di rebus, pindahkan ke sini..." Surya menyerahkan piring kecil pada Azhar.


"Tidak apa apa, Om. Mubadzir kalau di buang" ujar Azhar dan ia menyantap kuning telur itu. Nasha tampak sangat senang.


Dan hal itu tak luput dari perhatian Surya, untuk pertama kalinya ia melihat Nasha berbuat nakal dan Nasha tampak sangat bahagia. Senyum itu, binar mata itu, membuat hati Surya menghangat. Surya bahkan tidak ingat kapan terkahir kali Nasha terlihat sangat bahagia seperti sekarang, atau kapan putri kandung nya, Laura, terlihat bahagia.


Abi Fadlan hendak berpamitan pulang, dan ia mengucapkan banyak terima kasih untuk makan malam nya dan juga meminta maaf jika menimbulkan ketidak nyamanan. Tapi Surya mengatakan ia senang dengan kedatangan Azhar dan kedua orang tuanya.


▫️▫️▫️


Tbc...