
Azhar dan Nasha duduk berdampingan di depan toko Ummi nya, mereka sama sama diam dan sibuk dengan pemikiran nya masing masing. Hingga mobil Harry datang untuk menjemput Nasha.
"Aku pulang dulu..." lirih Nasha tanpa menoleh pada Azhar.
"Iya, hati hati" jawab Azhar sambil berdiri mengikuti Nasha yg juga berdiri.
Nasha masih menunduk, seolah ada beban besar di kepala nya yg membuat nya tak mampu mendongak. Apa lagi beban itu kalau bukan ketakutan akan orang tua angkat nya. Azhar membukakan pintu untuk Nasha dan itu berhasil membuat Nasha mendongak dan menatap Azhar dengan seutas senyum di bibir nya.
"Jangan khawatir, Allah akan bersama kita selama kita tidak melakukan hal yg salah " ujar Azhar sambil menyunggingkan senyum hangat nya, dimana kehangatan itu langsung menular ke hati Nasha dan berhasil membuat Nasha juga tersenyum manis.
Harry yg melihat itu hanya bisa mengerutkan dahi nya, apa lagi ia melihat kakak nya itu seperti habis menangis.
Nasha masuk kedalam mobil dan Azhar kembali menutup pintu nya "Jangan sampai telat sholat nya, ya" ucap nya lembut dan Nasha hanya mengangguk pelan.
"Ayo, Har..." seru Nasha namun tatapan nya masih pada Azhar.
"Kak Nasha kenapa? Habis nangis ya? Azhar bikin nangis?" tanya Harry dengan emosi yg sedikit tinggi.
"Engga kok" jawab Nasha dengan wajah yg merona "Sebenarnya kakak dan Azhar..."
"Kenapa kakak dan Azhar?" tanya Harry tak sabar.
"Kami sudah mengutarakan perasaan kami" jawab Nasha dengan senyum malu malu, Harry terdiam dan terlihat berusaha mencerna apa yg baru saja di katakan oleh Nasha.
"Maksud nya kalian resmi pacaran?" tanya Harry kemudian.
"Bukan pacaran, Har. Ini namanya taaruf, proses saling mengenal satu sama lain. Azhar juga mau ke rumah, mau menemui Papa Mama..." lirih Nasha di akhir kalimat.
Harry yg mendengar itu tampak terkejut, namun ia juga terlihat senang meskipun beberapa detik setelah nya ia terlihat kaku. Sama seperti Nasha, ia berfikir orang tua nya takkan menerima Azhar.
"kakak takut kalau Papa Mama engga nerima Azhar" ucap Nasha kemudian sambil tertunduk sedih.
"Mereka harus menerima nya" tegas Harry menyemangati "Selama ini kakak selalu mengikuti apa yg mereka mau, ini saat nya mereka mengikuti apa yg kakak mau" ujar Harry berusaha memberikan dukungan pada Nasha. Nasha menoleh dan menatap Harry dengan seksama.
"Apa itu bisa?" tanya Nasha yg masih sangat tidak percaya diri dan rasanya ia takkan sanggup melawan orang tuanya.
"Pasti bisa, asal kakak jangan mau ngalah lagi sama Papa Mama. Kakak harus bisa bersikap tegas, itu engga akan dosa kok, dan itu bukan membangkang. Kak Nasha juga berhak menjalani hidup seperti yg Kak Nasha mau, Kak Nasha juga berhak bahagia, Kak. Cukup Kak Laura aja yang..." Harry tak bisa melanjutkan kata kata nya, ekspresi nya terlihat sangat tegas namun juga tersirat kesedihan di kedua matanya.
Nasha hanya bisa menyinggungkan senyum samar, Nasha harus bersyukur punya adik seperti Harry walaupun bukan adik kandung. Tapi Harry selalu mendukung nya, terkadang Harry tak hanya berperan sebagai adik, tapi ia juga bisa menjadi kakak dan ayah bagi Nasha karena Harry selalu berada di sisi nya.
.........
"Beb..." seru Elin pada Dilan, saat ini keduanya sedang berada di luar untuk makan malam bersama. Dilan menyampirkan jaket nya di kursi dan entah bagaimana tiba tiba sebuah gelang jatuh dari jaket nya, Elin yg menyadari itu langsung mengambil nya "Ini kan punya Nasha..." lanjut nya dan Dilan terlihat terkejut dengan hal itu, namun kemudian ia menyunggingkan senyum natural nya.
"Iya, waktu itu jatuh. Aku mau kasih ke dia tapi aku lupa terus, mending kamu aja yg pegang dan nanti kasih ke Nasha. Bilangin waktu itu jatuh di kampus" tutur nya dan Elin percaya saja apa yg di katakan Dilan itu. Sementara Dilan, ia menyunggingkan senyum samar sambil melirik gelang Nasha yg justru kini di pakai oleh Elin.
"Engga, tapi dia sih naksir cowok" jawab Elin santai sambil menikmati menu makan malam mereka. Sementara Dilan hanya ber oh ria sembari mengangguk anggukan kepala nya "Akhir akhir ini aku rasa kamu sering memperhatikan Nasha" ujar Elin kemudian, sesaat Dilan tampak tegang namun kemudian ia tertawa renyah.
"Iya sih, soalnya dia merubah penampilan nya dengan sangat drastis. Dan dia terlihat sangat anggun dengan penampilan baru nya, jujur aku kagum sama dia" ujar Dilan dengan senyum lebar di bibir nya sementara mata nya terus menatap Elin.
"Iya sih, aku aja yg perempuan merasa kagum apa lagi kamu yg laki laki..." ujar Elin sambil tertawa juga.
"Kamu engga cemburu aku memuji perempuan lain?" tanya Dilan menaikan sebelah alis nya, menggoda Elin.
"Engga lah, lagian kan Nasha sahabat kita. Aku juga percaya kok kamu itu setia, ya meskipun mungkin mata mu itu bisa mengagumi kecantikan wanita lain, tapi aku yakin hati kamu akan selalu mencintai aku" tutur Elin dengan senyum sumringah nya dan bukan nya senang, Dilan malah semakin terlihat kaku mendengar penuturan Elin itu. Ia berdeham kemudian meneguk jus yg ada di depan nya.
.........
Setelah mandi dan sholat isya, Nasha turun untuk makan malam. Ia sedikit terkejut karena sudah ada Papa nya di meja makan dan ada berbagai macam makanan di meja makan. Sangat jarang Papa nya bisa makan bersama mereka.
"Hey, Sayang. Udah turun? Tumben telat" seru Raya dengan lembut yg membuat Nasha bukan nya merasa senang malah itu membuat dia merasa khawatir. Karena jarang mama nya berbicara lembut begitu, kecuali ada mau nya.
"Iya, Ma. Tadi Nasha sholat isya dulu" jawab Nasha kemudian ia menarik kursi di sisi Harry yg juga sudah ada di sana.
"Makanan nya banyak amat, Ma. Tumben, ada tamu?" tanya Harry.
"Engga, cuma mau merayakan sesuatu" ujar Raya.
"Iya, ini kabar yg sangat baik dan wajib di rayakan" sambung Surya "Ini sih cuma perayaan kecil, besok malam perayaan yg sebenarnya"
"Perayaan apa? Kayaknya engga ada yg ulang tahun" seru Nasha dan ia mulai mengambil beberapa menu yg mau ia makan dan meletakkan nya di piring nya.
"Perayaan untuk kamu, Sayang..." ujar Surya sembari tersenyum pada Nasha.
"Aku?" Nasha menunjuk diri nya sendiri.
"Iya, Sha. Kamu itu sangat beruntung, karena masa depan kamu sekarang sudah sangat jelas dan masa depan kamu benar benar cerah" ujar Raya dengan sangat antusias.
Harry dan Nasha saling melempar pandangan, keduanya sama sama tampak khawatir dengan kabar itu karena keduanya sama sama sangat mengenal orang tua mereka. Kabar baik mereka adalah kabar buruk bagi anak anak nya.
"Mama bicara apa sih?" tanya Nasha kemudian.
"Kamu akan menikah sama Ramos!"
"APAAAA???!!!!"
▫️▫️▫️
Tbc....