True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 42



Nasha tidak mengikuti kelas nya hari ini, namun ia tetap berada di kampus dan menunggu Azhar di parkiran.


Setelah sekian lama menunggu, akhir nya pria tampan itu muncul juga.


"Nasha? Kamu ngapain di sini?" tanya Azhar heran.


"Ada yg mau aku bicarakan sama kamu" jawab Nasha dan Azhar mengangguk.


"Oh ya, bagaimana keadaan mu sekarang?"


"Aku baik baik aja, tadi aku cuma sedikit tertekan" jawab Nasha lirih sambil menunduk. Azhar mengernyitkan kening nya mendengar jawaban Nasha itu.


"Kita bicara di rumah? Atau di toko Ummi? Engga enak di sini, di liatin banyak orang" ucap Azhar. Nasha memperhatikan sekeliling nya, dan memang ada beberapa orang yg memperhatikan mereka berdua.


"Gimana kalau kita bicara di cafe dekat sini?" tanya Nasha, karena di tengah tekanan nya itu, ia masih ingin merasakan berkencan atau makan siang di luar bersama sang pujaan.


"Okey" jawab Azhar yg membuat senyum Nasha langsung mengembang di bibir nya.


.........


Nasha dan Azhar memasuki sebuah cafe yg tak jauh dari kampus, kedua nya duduk di kursi dekat jendela. Nasha mengatakan ia suka melihat pemandangan luar.


"Jadi, kamu mau bicara apa, Nasha?" tanya Azhar kemudian.


"Kita pesan minum dulu ya..." ujar Nasha karena ia masih tak tahu bagaimana cara nya memberi tahu Azhar.


"Ya udah..." jawab Azhar, ia memanggil pelayan dan memesan lemon tea, sementara Nasha memesan jus jeruk saja.


Sambil menunggu minuman datang, Nasha memperhatikan jalan raya yg sangat ramai. Ia melihat beberapa anak jalanan di sana.


"Aku pernah ada di posisi itu..." ujar Nasha menunjuk anak anak itu "Tapi Alhamdulillah aku tidak pernah mengemis, tapi aku pernah berjualan koran" mata Nasha berkaca kaca mengingat masa masa kecil nya yg jauh dari kata 'indah'.


Azhar pun hanya bisa menatap Nasha dengan sedih "Kamu gadis yg kuat, Nasha. Allah sudah menguji mu sejak kecil, itu artinya Allah sangat sayang sama kamu dan Dia tahu kamu gadis yg kuat dan pemberani..." tutur Azhar yg lagi dan lagi membuat hati Nasha menghangat.


"Kamu tahu, Azhar. Semenjak kenal sama kamu, aku lupa siapa aku sebenarnya atau justru aku menjadi diri ku yg sebenarnya, entah lah"


"Maksud nya?"


"Azhar, dulu aku engga pernah merasakan apa itu bahagia, banyak yg bilang aku cuek, murung, jarang tersenyum. Karena aku memang merasa sangat tertekan, tapi setelah kenal kamu, aku menjadi gadis apa ada nya, ceplas ceplos, dan yaa... Seperti yg kamu lihat" ujar Nasha.


Pelayan datang membawa kan minuman mereka, Nasha langsung menyerudup jus jeruk nya itu yg langsung terasa sangat menyegarkan di tenggorokan nya.


"Aku suka kamu yg sekarang..." ujar Azhar dan Nasha merona mendengar nya.


"Aku juga merasa aneh setiap kali ada kamu, seperti tadi... Tadi aku pingsan bukan karena lapar, tapi aku benar benar tertekan. Dan saat aku melihat kamu, tekanan itu seperti hilang, aku merasa tenang, aku merasa akan Selalu baik baik saja setiap ada kamu... "


Kini Azhar yg tersipu mendengar ungkapan perasan gadis mungil ini "Memang nya apa yg membuat kamu tertekan, Nasha? Apa semua nya baik baik saja?" Nasha menggeleng.


"Papa engga merestui hubungan kita dan dia minta aku menerima Ramos..." lirih Nasha dan seketika itu juga air nya menetes begitu saja, dengan cepat Nasha menghapus nya.


Sementara Azhar, ia terkejut dan terpukul mendengar apa yg di katakan Nasha. Namun Azhar tak tahu harus apa sekarang, ia hanya bisa terdiam.


Meyakinkan Nasha? Tentu ia sangat ingin melakukan itu, tapi...


Nasha menggeleng, tatapan nya tampak bingung dan itu membuat harapan Azhar untuk memiliki Nasha sedikit memudar.


"Jika kamu memang mau menerima Ramos dan menolak ku..." ucap Azhar dengan begitu sedih, ia tampak terpukul namun ia berusaha menguatkan diri "Itu tidak apa apa, Nasha. Asalkan itu yg membuat kamu bahagia..." lanjut nya dan Nasha kembali tak bisa membendung air matanya.


"Aku bingung, Azhar..." ucap Nasha setengah berbisik, tangis nya semakin menjadi, bahkan ada beberapa pelanggan yg sampai menoleh ke arah nya.


"Shhtt, tenanglah..." Azhar mengusap pucuk kepala Nasha, Nasha tersenyum masam... Sudah beberapa kali Azhar melakukan hal itu dan Nasha sangat menyukai nya, Azhar mengambil beberapa lembar tissue dan memberikan nya pada Nasha. Nasha mengambil nya, ia menghapus air matanya dan berusaha mengendalikan diri.


"Apa yg harus aku lakukan sekarang? Mama dan Papa benar benar ingin aku menikahi Ramos, tapi aku tidak mencintai nya...." tutur Nasha, ia mendongak dan menatap Azhar "Aku mencintaimu..."


Hati Azhar merasa sakit mendengar pernyataan Nasha, mungkin dia adalah orang pertama di dunia yg merasakan sesak di dada nya saat sang kekasih hati menyatakan cinta. Bagaimana tidak sesak? Cinta mereka tampak sangat lemah dan seperti tidak memiliki jalan untuk bersama.


"Aku pun sangat mencintai mu, Nasha..." lirih Azhar dan ia menundukkan pandangan nya "Semua keputusan nya aku serahkan pada mu. Dan aku akan selalu mendoakan yg terbaik untuk mu dam jika memang kebahagiaan mu bukan bersamaku, aku akan ikhlas"


Nasha juga menunduk sedih, ia menggigit bibirnya untuk menahan isak tangis nya.


"Apakah mereka berhak memaksakan pernikahan ku?" tanya Nasha bahkan suara nya itu hampir tak terdengar.


"Tidak..." jawab Azhar "Dalam agama, hanya ayah kandung yg punya hak untuk memaksakan anak nya menikah. Tapi alangkah jauh lebih baik nya kalau pernikahan itu tidak di paksakan..."


"Aku ingin sekali menolak keinginan mereka, Azhar. Tapi sebagai anak angkat, apakah itu artinya aku tidak tahu terimakasih?" tanya Nasha dan pertanyaan itu membuat Azhar langsung mendongak dan ia menatap Nasha dengan begitu sendu.


"Aku tidak tahu, Nasha..." jawab Azhar jujur, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi dari pertanyaan Nasha itu, Azhar mengerti... Ada kemungkinan yg cukup besar Nasha akan meninggalkan Azhar dan memilih Ramos. Dari pertanyaan itu Azhar juga mengerti, Nasha takkan pernah mampu menolak keinginan kedua orang tua angkat nya dengan alasan 'sebagai tanda terima kasih'.


Kini kedua insan ini pun hanya bisa terdiam, tak tahu harus melangkah kemana karena setiap jalan yg ada di depan nya seolah serba salah.


Nasha sangat mencintai Azhar, tapi rasa cinta itu seperti nya tak sebesar rasa sungkan dan cinta Nasha pada kedua orang tua angkat nya. Tak sebesar balas budi Nasha pada orang tua angkat nya.


"Apa kamu akan membenci ku jika aku meninggalkan mu?" tanya Nasha kemudian dengan suara yg tercekat.


Mata Azhar terasa panas mendengar pertanyaan itu, dia seperti akan menangis.


Azhar menatap Nasha, tersenyum tipis dan menggeleng.


"Aku terlalu mencintaimu, Nasha. Sampai sampai benci tidak akan pernah punya celah di sana..."


Air mata Nasha langsung mengalir deras di pipi nya mendengar jawaban Azhar. Ia bahkan sampai sesegukan. Adakah makhluk di dunia ini yg bisa mencintai Nasha sebesar cinta Azhar?


Tidak ada, tidak ibu kandung nya yg telah membuang nya, tidak juga ibu angkat nya yg terus memenjarakan nya.


Nasha menarik tas nya, ia beranjak dan perlahan pergi dari hadapan Azhar masih dengan berderai air mata dan tanpa sepatah kata pun.


Azhar hanya bisa menunduk sedih, hati nya perih, sakit, sesak.


Hanya seperti ini kisah cinta nya?


Bahkan tak ada perjuangan dalam kisah cinta nya.


Azhar segera mengucek mata nya yg berkaca kaca. Ia benar benar ingin menangis sekarang, seperti inikah rasa nya kehilangan cinta yg baru saja ia temukan?


▫️▫️▫️