True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 50



"Penyesalan yg sangat terlambat, rasa bersalah yg begitu besar dan cinta yg juga tidak sempat di tunjukan. Itu bisa membuat seseorang gila dan menjadi obsesi" Maryam menutup buku dairy pink yg ada di pangkuan nya. Ia juga meneteskan air mata membaca buku milik kakak Harry itu yg di berikan oleh Azhar pada nya.


"Penyesalan, rasa bersalah dan cinta yg sebenarnya begitu besar untuk Laura yg tidak di tunjukan, kini Nyonya Raya seolah ingin mengulang waktu semua nya dari awal dengan menganggap Nasha adalah Laura dan memberikan semua yg pernah Laura inginkan pada Nasha, tapi masalah nya Nasha bukanlah Laura dan mereka dua pribadi yg berbeda. Jadi apapun yg Laura inginkan dan Nyonya Raya paksakan pada Nasha, maka itu tidak akan berhasil "


"Lalu, apa yg sebenarnya harus di lakukan supaya Nyonya Raya berhenti menganggap Nasha sebagai Laura, Neng Maryam?" tanya Azhar.


"Memaafkan diri nya sendiri dan mengikhlaskan kepergian putri nya" jawab Maryam sambil menyerahkan kembali buku itu pada Azhar.


"Aku tidak terlalu mengenal mereka, aku sendiri sangat terkejut dengan kenyataan ini. Pantas saja Harry sangat membenci orang tua nya, dan ini seperti gangguan jiwa, bukan?"


"Sebuah obsesi sudah bisa di katakan gangguan jiwa apa lagi Nyonya Raya seolah ingin menghidupkan kembali putri nya dalam diri Nasha. Aku faham, yg dia lakukan untuk Nasha karena untuk menebus rasa bersalah nya pada Laura yg tidak pernah dia perdulikan, tapi cinta dan kesalahan itu baru ia sadari setelah kepergian Nasha. Dan dia sangat berlebihan dalam hal itu, karena itulah, itu sudah bukan cinta lagi tapi obsesi "tutur Maryam.


"Harry juga mengatakan Nasha engga akan pernah bisa lepas dari Mama nya meskipun dia sudah menikah, jika pria yg di nikahi adalah pilihan Mama nya"


"Itu bisa benar terjadi, Azhar. Nasha akan terus berada di bawah bayang bayang Mama nya. Sebenarnya aku kasihan dengan dua gadis ini, mereka sama dalam menginginkan kasih sayang. Dan sama sama tidak mendapatkan seperti yg mereka mau, Nyonya Raya selalu memilih jalan yg salah. Jika dulu Laura melakukan segala kenakalan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua nya, dan kenakalan itu tak bisa ia bendung hingga pada tingkat yg paling parah. Dan Nasha juga melakukan hal yg sebaliknya namun dengan harapan yg sama, dia melakukan segala perintah Mama nya untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian, tapi itu juga tidak baik untuk Nasha jika dia mengabdi dengan membabi buta seperti itu"


"Apa Tante Raya tidak bisa di hentikan atau menyadari kesalahan nya? Kasian Nasha, dia sangat tertekan sebenarnya"


"Bisa, jika ada yg mendukung nya selalu dan membantu nya untuk melupakan masa lalu, memaafkan diri nya dan mengikhlaskan kepergian Laura"


Azhar tertunduk sedih, ia merasa prihatin bukan hanya pada Nasha, tapi juga pada Raya. Ini tentang mental dan juga hati.


"Mungkin Nasha dan Harry bisa membantu, Azhar" ujar Maryam kemudian.


"Aku harap begitu, aku akan coba berbicara pada Harry dan Nasha. Karena Harry sendiri tidak bisa memaafkan orang tua nya"


"Ezra...."


Azhar dan Maryam menoleh pada asal suara itu, terlihat Ezra yg berlari kecil sambil tertawa dan Amar mengejar nya dari belakang.


"Disini rupanya ibu nya, bersama pria lain..." ujar Amar yg membuat Maryam terkekeh geli.


"Ya, bersama pria lain emmm lebih tepat nya Ustadz idaman para santri. Kalau di lihat lihat, boleh juga kan?" goda Maryam yg membuat Amar mendelik kesal. Sementara Azhar hanya tertawa kecil.


"Aku datang kesini hanya untuk berbicara kepada calon psikolog. Sekarang aku permisi...." ujar Azhar sambil berdiri dari kursi nya "Dan senang berbicara dengan makmum idaman setiap imam..." Azhar ikut menggoda Amar yg membuat Amar langsung menatap tajam Azhar.


"Assalamualaikum..." ujar Azhar segera pergi dari sana sebelum Amar memukul wajah tampan nya.


.........


"Tunangan????" pekik Nasha terpercaya dengan apa yg baru saja di katakan Raya "Mama serius?" tanya nya lagi berharap ia salah dengar.


"Sha, Mama sudah memutuskan tiga hari lagi kamu tunangan sama Ramos. Jadi acaranya bersamaan sama ulang tahun kamu, kamu mau kan?"


"Tapi, Ma... Nasha belum memutuskan apapun" seru Nasha dan sekarang mata nya terasa panas, nafas nya mulai tercekat.


Bagaiamana tidak? Tiba tiba Mama nya datang ke kamar nya dan mengatakan ia akan bertunangan dengan Ramos dalam waktu tiga hari.


"Apa lagi yg perlu kamu putuskan?" tanya Raya lembut, ia mengusap kepala Nasha dengan lembut pula "Mama sayang sama kamu, Sha. Mama cuma mau kamu mendapatkan segala sesuatu yg terbaik buat kamu, pendidikan dan juga pasangan. Dan Ramos berjanji, dia akan menyekolahkan kamu di luar negeri nanti. Supaya kamu bisa jadi Dokter bedah yg hebat" tutur Raya dan tatapan nya seolah begitu tulus dan penuh harap.


"Nasha akan jadi Dokter bedah yg hebat, Ma. Asal Mama jangan paksa Nasha menikah sama Ramos" lirih Nasha sambil terisak.


Tiba tiba Raya menarik Nasha kedalam pelukan nya, ia memeluk Nasha dengan sangat erat dan pelukan itu terasa seperti cengkraman bagi Nasha. Ia merasa sesak dan Raya seolah ingin meremukan nya dalam pelukan itu.


"Mama lakukan ini karena Mama ingin jadi ibu yg baik, Nasha. Mama ingin memperhatikan mu, ingin memperdulikan mu, Mama ingin memberikan segala nya pada kamu apa yg tidak bisa Mama berikan pada Laura. Mama menyesal, dan sekarang Mama tidak mau kamu merasakan apa yg Laura rasakan"


Nasha hanya bisa terdiam dengan air mata yg terus berderai. Bagaimana cara nya Nasha mengungkapkan isi hati nya, bahwa bukan begini caranya memberikan yg terbaik untuk Nasha.


Raya melerai pelukan nya dan seketika Nasha menarik nafas dalam dalam "Mama mohon, Sayang. Kamu satu satu nya putri Mama, Mama cuma takut kehilangan kamu"


"Nasha engga akan pergi ninggalin Mama..." lirih Nasha "Tapi bukan begini cara nya, Ma" ucap nya dengan sangat hati hati.


Dan tiba tiba Raya menatap tajam Nasha, aura wajah nya menyiratkan kemarahan.


"Jadi maksud kamu Mama salah, begitu?" tanya Raya dengan nada yg tinggi dan hal itu berhasil membuat Nasha merasa takut, ia dengan cepat menggeleng "Mama bawa kamu dari panti saat usia mu 10 tahun, Mama kasih segala nya buat kamu, Nasha. Mama engga pernah membedakan antara kamu dan Harry karena Mama sayang sama kamu, dan kamu bilang bukan begini cara nya? Apa kamu tahu? Anak kandung ku sendiri yg sudah meninggal saat menginginkan apa yg kamu dapatkan sekarang, seharus nya kamu mensyukuri dan berterima kasih untuk itu"


Air mata Nasha kembali mengalir bebas mendengar setiap kata yg di ucapkan Mama angkat nya ini. Hati nya terasa perih mendengar semua itu namun Nasha tak bisa apa apa selain menangis.


Hingga Raya keluar dari kamar Nasha dan ia memabanting pintu dengan sangat keras. Membuat Nasha terkesiap dan tangis nya semakin pecah.


▫️▫️▫️


Tbc....