True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 143



Nasha yg tidur harus terbangun karena tiba tiba perut nya terasa mules, ia juga merasa ingin buang Air kecil sehingga Nasha langsung bangun dari ranjang nya dan bergegas ke kamar mandi. Sementara di luar terdengar suara petir yg menyambar kemudian hujan yg turun dengan begitu lebat.


Setelah itu, Nasha kembali lagi ke ranjang nya masih dengan perut yg terasa begitu mules dan sakit, Nasha bahkan sampai meringis dan itu membangunkan Mera yg ada di samping nya.


"Kenapa, Kak?" tanya Mera sambil mengucek mata nya dan ia berusaha duduk.


"Perut kakak mules, Mer. Aduh..." rengek Nasha sambil memegang perut nya.


"Mau melahirkan ya, Kak? Kata nya masih dua minggu lagi?" tanya Mera yg membuat Nasha kesal.


"Aduh, mana kakak tahu, Mer" kesal nya, Nasha bahkan merasakan seolah anak nya menggeliat di dalam.


"Assalamualaikum, Nak. Kamu tidak tidur? tenang ya..." kata Nasha sambil mengelus perut nya yg semakin dan semakin sakit. Mera yg melihat itu tentu langsung cemas, ia menyusun bantal di belakang Nasha dan menidurkan kakak nya itu di ranjang dengan menyenderkan punggung nya ke tumpukan bantal.


"Ya Allah, Mera...." pekik Nasha saat perut nya terasa begitu sakit, ia bahkan mengejan tanpa sengaja.


"Tunggu, tunggu..." seru Mera "Aku panggil Ummi sama Abi dulu" ujar nya kemudian ia berlari keluar, Nasha mendengar dengan jelas suara kaki Mera yg berlari menuruni tangga.


Mera langsung mengetuk pintu kamar mertua Nasha itu dan mengatakan kalau Nasha sakit perut.


Abi Fadlan dan Ummi yg mendengar itu langsung terbangun dan bergegas membuka pintu.


"Kak Nasha kesakitan..." kata Mera panik.


Abi Fadlan dan Ummi Rifa langsung berlari naik tangga,mereka melihat Nasha yg masih mengerang kesakitan di ranjang.


"Ummi, ketuban Nasha pecah" Nasha memberi tahu Ummi nya dengan cemas.


Sementara di luar hujan makin lebat dan suara petir masih menyambar dimana mana, cuaca terasa begitu dingin dan suasana malah semakin mencekam.


Sayang, kamu mau melahirkan? kita kerumah sakit" kata Abi Fadlan.


"hujan nya sangat deras di luar, Bi. Sebaik nya panggil ambulance saja" saran Ummi Rifa kemudian ia mengambil selimut dan menyelimuti Nasha.


"Nasha mau melahirkan, rasa nya sakit sekali" erang Nasha.


Sementara Abi Fadlan langsung memanggil, Mera dan Ummi Rifa berusaha menenangkan Nasha yg tampak sangat kesakitan.


"Ummi, sudah engga kuat" erang Nasha lagi dan kini ia kembali mengejan.


"Mungkin bayi nya sudah mau keluar' celetuk Mera yg cemas namun ia tidak tahu harus apa begitu juga dengan Abi Fadlan.


" Sabar ya, nak. Sebentar lagi ambulance datang dan kami akan membawa mu kerumah sakit" kata Abi Fadlan. Tapi Nasha menggeleng dan kembali mengejan.


" Aggghh... "Nasha kembali mengejan kuat bahkan seluruh wajah nya sudah memerah. Otot otot nya terasa begitu tertarik dan ia merasakan perut nya yg semakin sakit dan bergejolak.


"Ambulance nya lama sekali, kita bawa saja Nasha kerumah sakit sekarang" kata Ummi Rifa yg mulai cemas.


"engga kuat, Ummi. Aaggh..." teriak Nasha. Suara angin yg berhembus kencang begitu terdengar dan terasa, menambah suasana semakin tegang dan mencekam. Mera memperhatikan Nasha baik baik sebelum akhir nya ia berkata.


"Mungkin kita yg harus membantu Kak Nasha melahir kan" kata Mera.


Kemudian ia berdiri di bawa kaki Nasha dan menekuk lutut kakak nya itu.


"Huf, Bismillahirrahamanirrahiim" kata Mera yg bersiap membantu kakak nya melahirkan tanpa mendengarkan apa yg di katakan kakak nya tadi.


Mera memang pernah mengatakan ia ingin menjadi bidan namun itu bukan cita cita yg benar benar ia kejar, tapi melihat kakak nya yg akan melahirkan seperti ini membuat keinginan itu muncul kembali.


"Mungkin kita memang harus membantu Nasha melahirkan di sini" kata Abi Fadlan kemudian ia menggenggam tangan Nasha yg langsung membuat Nasha mencengkram ayah mertua nya itu dengan kuat.


"Bismillah, ya Allah. Mudahkan ini untuk kami, selamatkan cucu dan putri kami" doa Ummi Rifa sebelum akhir nya ia mencoba mendorong perut Nasha ke bawah dan meminta Nasha kembali mengejan. Mera pun memeriksa Nasha di bagian bawah.


"Ayo, Sayang. Dorong yang kuat..." pinta Ummi Rifa dan Nasha pun mengejan dan sekuat tenaga.


"Ayo, nak. Kamu bisa, dorong lagi" Abi Fadlan juga menyamangati nya.


"AAHHHH" Nasha kembali mengejan dan cengkraman nya di tangan ayah mertua nya semakin kuat.


"Tarik nafas, Nak..." pinta Ummi Rifa dan Nasha menarik nafas "hembuskan perlahan, Sayang' kata nya lagi dan Nasha pun menghembuskan nafas nya pelan.


" Bagus, sekarang dorong lagi yg kuat, Nak... "


Selama beberapa menit berlalu dan Nasha terus berusaha mendorong, keringat sudah membanjiri tubuh nya dan ia sudah merasa lelah, otot otot nya juga sudah terasa lemah namun ia kembali bersemangat saat Mera mengatakan kepala anak nya sudah terlihat.


"Ayo, Kak. Lagi, Kak..." seru Mera.


"kepala nya sudah kelihatan. Dorong lagi, Kak..." kata Mera penuh semangat.


Nasha mendorong sekuat tenaga namun karena kelelahan ia malah pingsan. Hal itu membuat semua orang panik.


"Kak Nasha..." teriak Mera.


"Nasha, sayang, bangun, nak" Abi Fadlan menepuk nepuk pipi menantu nya itu.


"Sayang, Nasha. Ayo bangun..."


"Hey, Sayang. Ayo bangun..." Nasha menggeliat malas dan bukan nya membuka mata, ia malah mendesakan tubuh nya ke tubuh hangat yg sedang memeluk nya ini.


'' Sayang, ayo bangun... " bibir Nasha tersenyum dan ia kembali menggeliat malas sambil perlahan membuka mata.


"Nanti saja, masih mau peluk" kata Nasha manja, terdengar suara kekehan renyah dari sang pemeluk "Oh, Sayang. Kamu wangi sekali sih, hm" kata Nasha sambil menghirup aroma suami nya itu dalam dalam.


"Tapi ini sudah saat nya kamu bangun, Sayang" kata suami nya itu sambil membelai kepala Nasha dengan sayang, kemudian ia mengecup seluruh wajah nya dengan kecupan kecupan kecil yg membuat Nasha cekikan senang.


"Masih mau peluk" kata Nasha manja dan ia mencari posisi paling nyaman di pelukan suami nya itu, Nasha bahkan melingkarkan tangan nya di pinggang suami nya dengan erat.


'Baiklah, kalau kamu memang mau aku peluk, aku akan memeluk mu" kata suami nya itu dan ia semakin mendekap Nasha, membuat Nasha merasa begitu bahagia dan hati nya berbunga bunga.


"Rasa nya aku tidak mau beranjak dari pelukan mu yg nyaman dan hangat ini, Sayang" kata Nasha lirih, ia menyembunyikan wajah nya di dada suami nya itu dan sekali lagi menghirup aroma suami nya.


"Aku juga ingin selalu memeluk mu dan mencium mu seperti ini" kata suami nya juga dengan begitu lirih, ia mengecup pucuk kepala Nasha cukup lama. Ia memandang istri nya itu dengan begitu lembut dan penuh cinta, Nasha mendongak dan tatapan kedua nya bertemu, tatapan penuh cinta dan rindu. Bibir Nasha kembali tersenyum manis begitu juga dengan suami nya itu.


"Tapi sekarang sudah saat nya kamu bangun, hm?"