True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 29



"Kamu kapan akan kembali kembali ke Ausie?" tanya Ruben pada Ramos yg saat ini sedang menemani nya bekerja di rumah sakit mereka.


"Pa, Papa sudah lama kan sahabatan sama Om Surya dan Tante Raya?" tanya Ramos yg membuat Ruben mengerutkan kening nya, heran dengan pertanyaan anak nya itu.


"Sejak kami kuliah, kenapa?"


"Pa, jodohin aku sama Nasha ya?"


"Hah?" pekik Ruben bukan main terkejut nya "Kamu... Bicara apa, Ram?"


"Aku suka sama Nasha" jawab Ramos tenang, sangat tenang.


"Bukannya kamu cuek waktu pertama kali ketemu dia?" tanya Ruben yg masih tak yakin dengan pernyataan anak nya itu.


"Awalnya iya, tapi setelah ketemu dia lagi. Aku melihat sisi yg berbeda dari Nasha, dia sekarang berhijab, dia benar benar cantik dan dia juga penurut, dia akan jadi istri yg baik"


"Nasha itu baru masuk kuliah, Ram. Usianya masih 19 tahun, dan dia juga bukan anak kandung Surya dan Raya, dia anak adopsi"


"Aku engga peduli, aku mau menikahi nya dan menjadikan dia istri ku. Dia masih bisa kuliah setelah menikah. Aku akan membiayai semua kebutuhan dia dan apapun yg dia mau aku akan memberikan nya" tutur Ramos dengan pandangan yg berbinar, ia merasa sangat bahagia saat memikirkan Nasha. Wanita seperti Nasha lah yg ia inginkan dalam hidup nya, wanita baik baik dan penurut. Karena Ramos benci dengan wanita keras seperti mama nya sendiri dan rumah tangga orang tua nya pun hancur karena mereka sama sama punya ego yg besar. Sementara Nasha, Nasha akan sangat berbeda. Fikir Ramos.


"Dengan satu syarat..." pinta Ruben.


"Apapun itu..." jawab Ramos cepat membuat Ruben terkekeh.


"Sepertinya kamu sangat menginginkan Nasha ya"


"Sangat, jadi apa syarat nya?"


"Kamu pindah ke Indo dan tinggal sama papa"


"Oke" jawab Ramos yg tentu membuat Ruben sangat senang. Selama ini Ramos selalu tinggal bersama Jessica, mantan istrinya. Tapi sekarang jika dengan menjodohkan Ramos dan Nasha maka Ramos akan tinggal dengan nya, Ruben tentu dengan senang hati akan mengabulkan keinginan anak nya itu. Dan ia juga sangat yakin Surya dan Raya akan sangat senang dengan perjodohan itu.


..........


Nasha dan Elin pergi ke toko Ummi Rifa, kali ini bukan Nasha yg butuh sesuatu atau butuh mendekati sang CaMer. Tapi Elin yg mengajak Nasha, Elin ingin memembeli bebera roti karena orang dari desa nya akan datang. Tentu Elin dan kedua orang tuanya harus menyiapkan beberapa hal untuk menyambut mereka.


"Ummi..." seru Nasha manja pada Ummi Rifa, terkadang melihat sikap manja Nasha ini membuat Ummi Rifa berfikir, jika belum menjadi menantu nya saja sudah sangat manja begini, apa lagi kalau sudah jadi menantu nanti? Namun Ummi Rifa tentu tak mempermasalahkan itu, ia malah berfikir Nasha sangat menggemaskan.


"Apa?" tanya Ummi Rifa lembut.


"Azhar udah tiga hari hilang, engga hilang sih tapi kayak hilang hilangan gitu" ucap Nasha malu malu dan itu membuat Ummi Rifa dan Elin tertawa geli.


"Dasar..." seru Elin sambil menggetuk kepala Nasha dengan roti.


"Tanya saja sama orang nya..." ujar Ummi Rifa sambil memberi isyarat agar Nasha menoleh. Dan saat Nasha menoleh...


"AZHAR...." teriak nya girang dan ia langsung berlari hendak memeluk Azhar yg tentu saja langsung di hentikan Azhar.


"Hm?" hanya itu respon Azhar sambil menahan senyum geli, sementara Nasha hanya bisa cengengesan sambil menggaruk tengkuk nya.


"Kangen" jawab Nasha spontan yg langsung membuat Elin dan Ummi Rifa melotot sempurna. Sementara Azhar, ia hanya terkekeh geli.


"Kamu ngapain di sini? Beli roti lagi? Emang nya kamu makan roti setiap hari?" tanya Azhar sembari berjalan masuk dan ia mencium tangan Ummi nya dengan hormat. Ia juga mengabaikan pernyataan rindu Nasha walaupun jauh dalam hati nya ia menjawab rasa rindu itu.


"Ya engga, cuma tadi nemenin Elin kesini" jawab Nasha malu malu setelah spontan menyatakan perasaan rindu nya "Oh ya, kenapa kamu pulang engga bilang bilang? Pergi juga engga bilang bilang, udah kayak setan aja kamu. Sebentar di sini sebentar di sana..."


"Udah kayak apa kamu bilang?" tanya Azhar sambil melirik Nasha sekilas.


"Hehe, kayak hantu" jawab Nasha ngeles.


"Ya aku engga bilang karena kamu engga nanya" jawab Azhar kemudian.


"Ya aku engga nanya karena aku engga kefikiran kamu bakal pergi pergi gitu" seru Nasha lagi yg tak mau kalah dan itu membuat Azhar hanya bisa geleng geleng kepala. Keras kepala juga, fikir nya.


"Kamu tuh engga tahu malu banget deh, Sha. Agresif banget sama Azhar" bisik Elin.


Setelah memilih beberapa macam roti, Elin pun membayar nya "Lin, kamu pulang aja duluan" bisik Nasha pada Elin.


"Kenapa?" Elin bertanya juga berbisik.


"Aku ada perlu" ujar Nasha sambil tersenyum tipis.


"Perlu apa?" tanya Elin lagi, karena tadi Elin menjemput Nasha ke rumah nya dan meminta izin pada Raya untuk belanja sebentar. Raya berpesan agar Nasha segera pulang dan Elin takut Nasha maupun diri nya di marahi Raya nanti kalau Nasha tidak segera pulang.


"Ada lah, nanti aku minta jemput sama Harry" ucap Nasha meyakinkan.


"Oke" jawab Elin kemudian.


"Kamu engga pulang?" tanya Azhar yg melihat Elin sudah keluar sementara Nasha masih tetap berada di dalam toko.


"Azhar, sebenarnya aku..." ucapan Nasha terpotong saat ia melirik Ummi Rifa yg saat ini juga melirik nya. Nasha kembali cengengesan sambil kembali garuk garuk kepala membuat Ummi Rifa tertawa geli "Bisa kita bicara berdua?"


"Berdua?" pekik Azhar heran dan Nasha mengangguk.


"Bicara saja di depan sana, Ummi engga akan menguping tapi Ummi masih bisa mengawasi kalian. Jadi jangan macam macam ya" ujar Ummi Rifa yg membuat Nasha tersipu malu, sementara Azhar hanya kembali tertawa kecil.


Mereka pun duduk di salah satu kursi yg ada di depan toko, yg memang sengaja di sediakan jika ada yg ingin makan roti di sana.


"Mau bicara apa, Nasha?" tanya Azhar kemudian.


"Em...." Nasha hanya menggumam sambil terus menunduk malu, dan itu membuat Azhar sangat gemas. Seandainya Nasha sudah menjadi kekasih halal nya, Azhar pasti akan mencubit gemas pipi lembut Nasha itu.


"Kalau kamu engga mau bicara aku..."


"Mau mau..." seru Nasha dengan cepat saat Azhar hendak berdiri.


"Ya udah, memang nya kamu mau bicara apa?" tanya Azhar dengan lembut.


Nasha menarik nafas dalam dalam dan kemudiaan menghembuskan nya perlahan "Azhar..." seru nya dengan suara rendah "Apa orang seperti mu, eh maksud ku..." ucap nya dengan gugup, sementara Azhar masih sabar menunggu. Azhar sudah mengenal sikap bar bar dan ceplas ceplos Nasha, dan sekarang Azhar sangat penasaran memang nya apa lagi yg ingin di katakan Nasha sampai dia gugup begitu.


"Kenapa orang seperti ku?" desak Azhar.


"Apa orang seperti mu hanya menginginkan wanita yg seperti mu juga? Maksud ku yg ahli agama juga?" tanya Nasha dengan gugup. Ugh, seharusnya dia mencatat pertanyaan itu dan menghafalkan nya. Tapi mau bagaimana lagi, tiba tiba saja ini terjadi dan Nasha tak merencanakan ini sedikitpun.


"Aku bukan ahli agama, Nasha" jawab Azhar sambil terkekeh pelan "Aku hanya suka belajar agama dan berusaha sebaik mungkin mempraktekan apa yg aku pelajari"


Dan jawaban Azhar itu tentu membuat hati Nasha menghangat, wajah tampan sudah pasti, pintar dan berpendidikan tak kalah pasti, lembut dan juga rendah hati. Tak ada lagi alasan bagi Nasha untuk tak semakin mencintai Azhar.


"Okey, ehem..." Nasha berdeham, berusaha mengatur detak jantung nya yg bergemuruh "jadi begini, apa kamu akan masalah jika misalnya istri mu wanita karir?"


"Tentu saja engga masalah, asal kan dia ingat tanggung jawabnya sebagai istri" jawab Azhar pasti. Nasha menghela nafas lega, satu pertanyaan sudah selesai dan ia mendapatkan jawaban yg sangat memuaskan.


"Em bagaimana kalau istri mu seorang Dokter?" tanya nya lagi.


"Kalau memang jodoh ku seorang Dokter, ya engga masalah. Justru Alhamdulillah, menjadi Dokter itu pekerjaan yg sangat mulia, Nasha. Bisa mengobati dan menyembuhkan orang, seorang Dokter bisa di anggap malaikat tak bersayap oleh pasien nya. Itu sangat mulia dan aku akan sangat bangga jika punya istri hebat seperti itu. " jawab Azhar dengan tenang, walaupun dada nya bergemuruh dengan pertanyaan Nasha yg seperti nya ada sesuatu di balik pertanyaan itu namun Azhar berusaha tak berfikir kemana mana.


"Ya, itu sangat mulia..." gumam Nasha merasa senang dengan jawaban Azhar "Aku juga dengar, kalau orang seperti kamu, eh maksud ku... Dalam islam itu engga ada pacaran, yg ada taaruf. Jadi aku... Emm aku.... " Azhar masih setia menunggu Nasha mengungkapkan apa yg ingin Nasha ungkapkan, gadis itu terlihat sangat gugup. Wajah memerah dan ia menautkan jari jemari nya satu sama lain, hingga akhir nya Nasha menghela nafas panjang dan memberanikan diri mengungkapkan isi hati nya dengan satu tarikan nafas saja "Aku pengen taarufan sama kamu, Azhar"


...... ...


"Tentu saja aku sangat senang dengan perjodohan ini, dari sahabat menjadi besan" ujar Raya tersenyum bahagia, sangat bahagia. Ia berpelukan dengan Jessica, sementara Ruben berpelukan dengan Surya.


Tanpa buang waktu, Ruben langsung mendatangi Surya dan Raya untuk membicarakan keinginan putra semata wayang nya. Dan benar dugaan nya, perjodohan itu di sambut hangat oleh Surya dan Raya. Kini mereka merayakan hubungan baru mereka itu, calon besan.


▫️▫️▫️


Tbc....