
"Sha, malam ini ikut Mama ya" seru Raya pada Nasha yg saat ini sedang menonton tv bersama Harry.
"Kemana?" tanya Nasha masih fokus dengan tayangan televisi itu.
"Ketemu Ramos dan Mama nya" seketika Nasha dan Harry langsung menoleh dan menatap curiga pada Mama nya.
"Mama engga ada niatan jodohin Kak Nasha sama Ramos kan?" tanya Harry dengan nada menuduh. Nasha pun memikirkan hal yg sama dan itu membuat nya sangat takut, bahkan tanpa sadar ia menahan nafas menunggu jawaban dari Mama nya.
"Ikut aja dulu" jawab Raya yg membuat Nasha menghela nafas berat.
"Ma, Nasha banyak tugas" ucap Nasha pada akhir nya.
"Cuma sebentar, Sha. Kamu bisa kerjain tugas mu itu pas pulang nanti" bujuk nya.
"Tapi, Ma... Nasha engga di mau jodohin" ucap Nasha akhir nya dengan tegas.
"Siapa juga yg mau jodohin kamu, Sha. Mama mau kamu itu kuliah yg bener, jadi Dokter yg sukses dulu baru nanti mama carikan calon suami" jelas Raya namun Nasha dan Harry masih menatap curiga pada Raya "Sudah, jangan mikir yg aneh aneh. Kalau engga mau ikut ya engga apa apa" ujar Raya dengan memasang tampang memelas yg tentu membuat Nasha langsung merasa tak nyaman.
"Ya udah Nasha ikut" jawab Nasha pada akhirnya.
"Gaun..."
"Nasha engga mau pakai gaun yg terbuka..." ucap Nasha cepat memotong ucapan ibu angkat nya itu.
"Ya, terserah kamu aja" jawab sang ibu.
..........
Nasha dan Mama nya sudah berada di sebuah restaurant dan tak lama kemudian Ramos dan Mama nya pun datang. Tatapan Ramos kali ini tampak berbeda pada Nasha, ia menyunggingkan senyum dan bahkan terang terangan menatap Nasha dengan tatapan seolah memuja. Membuat Nasha merasa tak nyaman.
"Aku permisi sebentar..." ujar Nasha kemudian.
"Mau kemana?" tanya Raya.
"Restroom" jawab Nasha dan Raya mengangguk.
Nasha segera pergi dari sana dengan membawa ponsel nya.
Nasha masuk ke dalam bilik toilet dan ia duduk di atas closet.
"Kayaknya ada yg engga beres sama pertemuan ini" gumam Nasha kesal. Ia pun memeriksa ponsel nya untuk melihat apakah Azhar sudah membalas pesan nya. Dan senyum lebar mengembang di bibir nya saat melihat ada pesan masuk dari Azhar.
^^^Ustadz Azhar^^^
^^^"Kenapa? Udah kangen ya sama aku? Atau takut kehilangan aku? "^^^
Nasha melongo membaca pesan itu "Aroma nya bukan Azhar neh" gumam nya sembari membalas pesan itu.
Me
..."Kamu siapa?"...
^^^Ustadz Azhar^^^
^^^"Azhar, siapa lagi?"^^^
Me
"Bukan, Azhar engga pernah menggoda. Kamu curi hp dia ya?"
^^^^^^Ustadz Azhar^^^^^^
^^^"Astagfirullah, Nasha. Ini aku, Azhar. Kenapa? Kalau kamu engga percaya, ayo video call"^^^
"Hmmm" Nasha menggigit jari nya sembari memikirkan tawaran yg ia yakini bukan Azhar ini.
Dan Nasha pun langsung melakukan video call, ia menunggu dengan perasaan was was. Dan sesaat kemudian.
"Masya Allah, cantik juga calon Az..."
Nasha langsung memutuskan sambungan telpon nya, apa dia bilang? Itu bukan Azhar. Beberapa orang pria terlihat di layar ponsel nya tadi dan itu berhasil membuat jantung Nasha dag dig dug sakit kaget nya.
"Aduh, mereka siapa ya?" gumam nya dan ponsel nya pun berdering membuat Nasha terlonjak kaget. Tertera nama Ustadz Azhar di layar smartphone nya itu, Nasha ragu untuk menjawab nya namun pada akhir nya ia pun menjawab nya.
"H... Halo..." sapa Nasha gugup.
"Assalamualaikum, Nasha" Nasha langsung menghela nafas lega saat terdengar suara lembut Azhar dari seberang telpon.
"Waalaikum salam, Azhar. Tadi itu siapa?"
"Maaf, tadi itu teman teman aku. Mereka jahilin kamu ya?"
"Iya, tapi aku sudah tahu kalau itu bukan kamu"
"Tahu dari mana?"
"Kerasa aja di hati kalau itu bukan kamu" Nasha mesem mesem sendiri dengan jawaban yg ia berikan pada Azhar, tapi memang itulah fakta nya.
...... ...
"Kerasa aja di hati kalau itu bukan kamu"
Azhar yg saat ini sedang ada di pojokan kamar nya hanya bisa mesem mesem mendengar jawaban Nasha, ia sendiri tak menyangka teman teman nya akan menjahili Nasha bahkan sampai Nasha video call. Mereka semua mengira Nasha adalah calon istri Azhar karena selama ini Azhar tidak pernah berkomonikasi dengan seorang wanita, dan jika ada wanita dalam hidup nya sudah pasti itu calon nya. Ya itulah kata teman teman Azhar.
"Azhar..." bahkan panggilan itu terasa mengalun begitu indah di telinga Azhar.
"Iya, Nasha?"
"Kamu kapan pulang?" Azhar menggaruk kepala nya mendengar pertanyaan Nasha dengan nada seolah merengek itu.
"Mungkin dua bulan lagi" jawab Azhar dengan suara lirih, dan terdengar Nasha yg menghela nafas panjang di sana.
"Emang nya kamu ngapain disana sampai selama itu?"
"Melakukan beberapa hal, kenapa?"
"Engga apa apa" Azhar merasa ada yg salah dengan pendengaran nya karena kini ia mendengar suara Nasha seperti merajuk. Karena tak mungkin Nasha merajuk hanya karena ia selama itu di Kairo.
"Oh ya udah kalau gitu"
...... ...
"Oh ya udah kalau gitu"
Nasha langsung memberengut mendengar jawaban enteng Azhar itu, pipinya bahkan mengembung kesal dan bibir nya manyun. Ia benar benar merajuk dan Azhar sama sekali tidak peka, fikir nya.
"Ak..."
"Sha..." Nasha langsung berdiri kaget saat terdengar suara Mama nya dari luar.
"Iya, Ma..." teriak Nasha dari dalam tanpa memutuskan sambungan telpon nya.
"Lama banget, Sha. Kamu sakit perut?"
"Iya, Ma. Nasha sakit perut" jawab Nasha kemudian.
"Ya udah cepetan keluar, kita pulang kalau kamu memang sakit perut" ujar sang Mama yg membuat Nasha langsung tersenyum girang.
"Iya, Ma. Iya..." jawab nya dan terdengar suara langkah yg menjauh.
"Halo..." bisik Nasha sembari kembali menempelkan ponsel nya di telinga nya.
"Kamu di toilet?" tanya Azhar yg membuat Nasha tersenyum kikuk.
"Hehe, iya. Soalnya Mama ngajak aku ketemu sama teman nya, aku bosan disana. Jadi ya aku kabur aja ke toilet" tutur Nasha masih setengah berbisik.
"Tapi kamu engga lagi buang hajat kan?"
"Engga kok, beneran. Hehe"
"Kamu ini, ada ada aja. Tadi aku dengar Mama mu ngajak pulang"
"Iya, soalnya aku bilang sakit perut"
"Engga baik bohong sama orang tua, Nasha. ya udah sekarang kamu pulang. Di sana sudah malam kan? Sebaiknya kamu langsung istirahat kalau sudah sampai rumah, biar besok subuh nya engga kesiangan. Jangan lupa juga sholat isya, ya"
Nasha kembali mesem mesem sambil memegang dada nya yg berdebar mendengar celotehan Azhar yg terdengar romantis dan penuh perhatian itu. Pipi nya bahkan terasa panas dan ia yakin pipi nya pasti sudah merah merona sekarang.
"Ya udah, besok kita telponan lagi ya" ujar Nasha dengan polos nya dan terdengar suara kekehan Azhar di sana.
"Inysa Allah, Nasha. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Nasha keluar dari toilet dengan wajah yg memerah dan senyum yg mengembang di bibir nya.
"Ya walaupun Azhar ternyata bukan tipe cowok yg peka, tapi engga apa apa lah. Dia perhatian dan lembut, Lumayan" gumam Nasha senang.
Dan ia segera menteralkan ekspresi wajahnya saat sudah sampai ke meja nya.
"Masih sakit perut?" tanya Ramos dan Nasha mengangguk.
"Ada apotek di sekitar sini, aku belikan kamu obat ya" ujar nya lagi sok perhatian.
"Engga usah, makasih" jawab Nasha dingin "Ma, kita pulang aja Yuk" pinta Nasha pada Mama nya.
"Kamu belum makan, Sha. Sebaiknya kamu makan dulu sedikit, baru kita pulang" tegas Mama nya sambil menatap tajam Nasha.
Mau tak mau Nasha pun kembali ke kursi nya dan Ramos terlihat suka dengan hal itu. Karena ia langsung menyunggingkan senyum nya pada Nasha yg membuat Nasha bergidik ngeri.
▫️▫️▫️
Tbc....