True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 40



"Kamu tadi engga liat betapa bahagianya Nasha saat bersama Azhar, dan Azhar itu seperti nya pria yg sangat baik dan sopan"


Surya berkata sambil melepaskan pakaian nya dan mengganti nya dengan piayam, sementara Raya hanya diam dengan pandangan yg lurus ke depan sambil memeluk foto putri nya, Laura.


"Ma..." Surya menyentuh lembut pundak Raya namun Raya malah menepis nya dengan kasar.


"Aku ibu nya, aku yg berhak menentukan hidup nya" seru Raya emosional, ia beranjak dari ranjang. Mengambil botol obat, mengeluarkan nya beberapa biji dan kemudian ia menelan nya.


"Hentikan minum itu, mau sampai kapan?" seru Surya marah. Raya tak menggubris nya, ia kembali ke ranjang dan merebahkan diri di sana.


Semenjak kematian Laura, Raya tak bisa lepas dari obat depresi itu. Namun saat Nasha datang ke kehidupan keluarga mereka, Raya mulai lebih baik. Tapi ketika ia merasa marah jika kehendak nya tak di turuti, maka ia akan menjadi tertekan dan kembali mengkonsumsi obat depresi itu. Karena itu lah selama ini Surya tak bisa berbuat banyak ketika Raya memaksakan kehendak nya pada anak anak mereka, apa lagi terkadang Raya mengancam akan bunuh diri dan menganggap Surya sudah tak perduli pada nya lagi.


"Aku akan menghentikan semua ini kalau kamu bisa menuruti apa yg aku mau..." ucap Raya kemudian.


"Memang nya apa lagi yang kamu mau, Ma?"


"Aku mau Nasha menikah sama Ramos, kamu harus bujuk dia"


"Oh Tuhan..." geram Surya "Kenapa kita harus selalu memaksa dia?"


"Aku bilang bujuk, bukan paksa..." seru Raya marah.


"Aku mohon, Ma. Kali ini saja, biarkan Nasha memilih jalan hidupnya. Apa lagi ini tentang pernikahan..."


"Azhar engga akan bisa kasih dia apa apa, sementara Ramos bisa memberikan segalanya untuk Nasha. Cinta itu omong kosong, setelah menikah cinta itu engga berlaku" tutur Raya.


"Tapi, Ma..." Raya menutup telinga nya dengan bantal dan ia mulai memejamkan mata. Seperti inilah selalu akhir dari segala pembicaraan suami istri itu.


.........


Keesokan hariny, wajah Nasha tampak berbinar karena ia fikir kini hidup nya ada di tangan nya.


"Selamat pagi, Pa. Tumben masih di rumah" ujar Nasha sambil tersenyum lebar. Melihat senyum Nasha itu, Surya tidak tega jika harus meminta Nasha meninggalkan Azhar, tapi jika tidak...


"Sayang..." panggil Surya lembut "Boleh Papa bicara sebentar?"


"Boleh, memang nya mau bicara apa, Pa?" tanya Nasha sembari mengunyah buah apel yg ia pegang.


"Kita bicara di ruang tengah ya, di sofa" ujar Surya dan Nasha pun mulai mencium aroma yg tak enak, perasaan nya mengatakan apa yg akan di katakan Papa nya itu bukan lah hal baik.


Kini Nasha dan Surya duduk di sofa, mereka berhadapan. Tampak sekali Surya berat untuk berbicara, tapi ia tak punya pilihan lain


"Pa..." seru Nasha karena ayahnya itu masih diam "Papa mau bicara apa? Soal hubungan ku sama Azhar?" cicit Nasha.


"Iya, Nak..." jawab Surya dengan suara rendah "Papa fikir sebaiknya kamu menerima Ramos saja"


Deg


Jantung Nasha seolah berhenti berdetak mendengar apa yg baru saja di katakan ayahnya itu. Apel yg ia kunyah bahkan terasa sangat pahit dan sangat sulit di telan. Nasha masih terdiam mematung saat Surya terus menatap nya dengan penuh rasa bersalah.


"Sha..." Surya mencoba menyentuh pundak Nasha namun Nasha menghindar.


"Kenapa, Pa?" tanya Nasha lirih, ia menatap Surya dengan mata yg berkaca kaca dan pada akhirnya ia tak sanggup lagi menahan air matanya "Aku tahu, secara materi Azhar memang di bawah Ramos jika memang itu yg Papa permasalahkan. Tapi uang engga akan menjamin aku bahagia kan?"


"Demi Mama mu, Sayang..." bujuk Surya "Ya, kamu mau ya terima Ramos. Dia juga pria yg baik dan Papa yakin pelan pelan kamu pasti bisa melupakan Azhar dan mencintai Ramos" ujar Surya mencoba meyakinkan Nasha.


Nasha menggeleng dan isak tangis nya tak bisa lagi ia tahan "Aku engga bisa, Pa. Tolong sekali ini saja fahami perasaan ku, Pa..." lirih Nasha lagi di tengah isak tangis nya.


"Nak..." Surya menggenggam tangan Nasha "Kami faham, tapi percaya lah pada kami sebagai orang tua mu. Kami lakukan ini demi kebaikan mu, Sha. Demi masa depan mu, ya, Papa mohon sama kamu, Sayang"


Nasha menarik tangan nya dengan pelan, ia menatap begitu sedih pada ayah angkat nya itu. Air mata nya terus mengalir deras tanpa bisa ia hentikan.


Nasha menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, isak tangis nya semakin pecah.


"Sha, Papa...." ucapan Surya terpotong saat ponsel nya berdering, Surya melirik arloji nya dan ia baru ingat pagi ini ia ada janji dengan pasien nya.


"Sayang, kamu fikirkan lagi ya. Dan tolong maafkan Papa, Nak..." lirih Surya namun Nasha tak menggubris nya.


Mbok Tanti yg sebenarnya tak sengaja mendengarkan obrolan Surya dan Nasha tadi menjadi sangat prihatin dengan Nona muda nya itu. Mbok Tanti pun menghampiri Nasha dengan membawa segelas air.


"Non..." Mbok Tanti menyentuh pundak Nasha dengan pelan "Minim dulu, biar tenang..." ucap nya lembut.


"Aku pengen mati aja rasa iya, Mbok..." ucap Nasha masih berlinang air mata.


"Sshhtt, tidak boleh bicara seperti itu, Non. Dosa..."


"Tapi buat apa aku hidup kalau aku bahkan engga punya hak untuk memutuskan jalan hidup ku"


"Insya Allah semua ada jalan nya..." ucap Mbok nya lagi. Ia pun membantu Nasha meminum air agar Nasha bisa sedikit lebih tenang.


"Mama dimana?" tanya Nasha kemudian sambil mengusap kasar wajah nya dan ia berusaha menghentikan diri sesegukan nya.


"Masih belum bangun, Non..."


Nasha hanya mengangguk dan ia segera naik ke kamarnya, mengambil ransel dan kunci mobil nya. Nasha harus pergi ke kampus karena satu jam lagi dia ada kelas.


"Sepertinya Tuhan memang tidak menakdirkan aku bahagia..." gumam Nasha kesal.


.........


Dilan memandangi foto Nasha yg ia simpan di ponsel nya, foto itu ia ambil diam diam sejak beberapa bulan yg lalu.


"Kamu benar benar cantik..." gumam Dilan sambil tersenyum lebar.


"Siapa?" Dilan langsung mematikan ponsel nya saat mendengar suara Elin dari belakang nya.


"Apa nya?" tanya Dilan sambil menoleh dan ia mendapati Elin yg menatap curiga pada nya.


"Tadi kamu bilang 'kamu benar-benar cantik'. Siapa itu?" tanya Elin dingin.


Dilan tertawa kecil, ia menunjuk anak kucing yg berkeliaran di halaman kampus "Kucing tuh..." seru Dilan, dan Elin percaya saja karena ia tahu Dilan memang pecinta kucing, bahkan ia punya kucing yang sangat cantik di rumah nya.


"Kalau kamu suka, ambil aja bawa pulang" ujar Elin sambil terkekeh.


Dilan hanya garuk garuk kepala sambil cengengesan.


"Ayo aku anterin ke kelas..." ujar Dilan dan ia menarik Elin ke kelas nya.


"Nasha belum datang juga..." gumam Elin saat ia sampai di kelasnya.


"Mungkin masih di jalan..." ucap Dilan "Ya udah, aku ke kelas ku dulu" lanjut nya dan ia pun pergi dari sana.


Saat Dilan hendak kembali ke kelas iya, ia melihat Nasha yg berjalan lambat, ia tampak sangat lemas.


"Nasha..." panggil Dilan, dan merasa diri nya di panggil, Nasha pun menoleh.


Tiba tiba pandangan nya menjadi buram, samar samar ia melihat Dilan berlari ke arah nya.


"Kamu kena.... Nasha..." pekik Dilan saat Nasha malah ambruk, namun untunglah dengan sigap Dilan menangkap tubuh Nasha dan ia langsung menggendong nya.


Dengan buru buru Dilan membawa Nasha ke UKS dan ia berpapasan dengan salah satu teman kelas Nasha.


Sementara Elin masih berdiri di ambang pintu menunggu Nasha "Kamu ngapain berdiri di sini?" tanya salah satu teman kelas nya yg juga baru datang.


"Nunggu Nasha..." jawab Elin.


"Lah, tadi aku liat Nasha di gendong sama Dilan" jawab teman nya itu karena ia menang tidak melihat bahwa Nasha pingsan.


"Apa? Maksudnya?" tanya Elin dan teman nya itu hanya mengedikan bahu tak acuh.


▫️▫️▫️


Tbc....