
Hari sudah mulai gelap, sementara baik Azhar maupun keluarga nya tidak bisa menemukan Nasha dimana pun. Azhar juga sudah menghubungi semua teman Nasha yg Nasha kenal, bahkan termasuk Elin. Namun mereka tidak tahu dimana Nasha.
Azhar seperti akan gila rasanya memikirkan entah dimana istrinya sekarang.
Akhir nya, Azhar dan kedua orang tua nya melapor kan kehilangan Nasha ke kantor polisi terdekat namun mereka tidak bisa menangani kasus itu karena Nasha belum hilang 24 jam, selain itu tidak ada tanda tanda yg mencurigakan.
Azhar dan kedua orang tuanya tidak bisa apa apa selain berusaha mencari lagi dan berdoa.
Mereka pulang untuk melaksanakan sholat, dan ternyata di depan rumah mereka sudah ada Pak Niranjan dan istri nya.
"Assalamualaikum..." sapa Abi Fadlan masih berusaha menyambut tamu nya dengan ramah.
"Waalaikum salam, Pak Fadlan" jawab Pak Niranjan dan perhatian nya tertuju pada Azhar yg tampak cemas.
"Maaf, Pak. Apa ada keperluan penting?" tanya Abi Fadlan lagi karena ia tidak ada waktu untuk menemui tamu nya saat ini.
"Iya, kami ada keperluan yg penting" jawab istri pak Niranjan.
"Apa sangat penting? Karena saat ini kami sedang dalam masalah" ujar Azhar kemudian yg membuat Pak Niranjan dan istri nya terkejut.
"Masalah apa, Azhar? Mungkin kami bisa membantu" seru Pak Niranjan.
"Nasha menghilang sejak tadi sore" seru Azhar yg tentu saja membuat kedua orang tua Mera itu sangat terkejut apa lagi kedatangan nya ini karena untuk menemui Nasha.
"Sudah lapor polisi?" tanya Bu Anjana khawatir, karena meskipun belum terbukti Nasha adalah putri kandung nya namun ia tetaplah seorang ibu yg tentu saja naluri keibuan nya bekerja dengan baik.
"Sudah, tapi karena tidak ada yg mencurigakan dan ini belum 24 jam, polisi tidak bisa menangani masalah ini" jawab Ummi Rifa sedih.
"Mungkin Nasha pergi ke suatu tempat" ujar Bu Anjana dan ia meneteskan air mata tanpa sengaja. Perasaan takut dan khawatir memenuhi hati nya.
"Kami sudah mencari nya kemana mana, semua teman nya sudah kami hubungi. Semua tempat yg mungkin dia datangi sudah kami datangi, tapi Nasha benar benar tidak ada. Kami juga bertanya pada semua tetangga tapi tidak ada yg melihat Nasha" tutur Azhar dengan suara tercekat dan gemetaran.
Pak Niranjan yg melihat itu merasa kasihan, bisa ia lihat betapa takut dan khawatir nya Azhar saat ini.
"Kami akan ikut mencari, kalian jangan khawatir" seru Pak Niranjan dan kemudian ia meminta foto Nasha pada Azhar. Tentu Azhar dengan cepat memberikan nya.
"Dan kepolisian tetap harus bertindak" seru Pak Niranjan kemudian ia menghubungi kenalan nya yg ada di kepolisian. Pak Niranjan meminta pihak kepolisian mencari Nasha sekarang juga dan menyebarkan foto Nasha.
"Terima kasih banyak sudah membantu" ujar Azhar tulus.
Mereka pun masuk kerumah untuk melaksanakan sholat, setelah itu Azhar dan Abi Fadlan kembali melakukan pencarian sementara Ummi Rifa tetap menunggu di rumah dan mereka berharap Nasha segera pulang.
"Aku juga mau ikut mencari Nasha, dia putri kita" ucap Bu Anjana setengah berbisik pada suami nya.
"Ma, ini bukan waktu yg tepat untuk membicarakan itu. Sebaiknya sekarang aku antar Mama pulang" seru Pak Niranjan juga setengah berbisik.
.........
Nasha mengintip ke jendela dan mencoba mencari celah untuk kabur, dan setelah memperhatikan sekeliling nya,nasha hanya bisa tercengang saat menyadari Ramos menyekap nya di rumah sakit. Tentu Nasha tahu hal itu, karena ayah angkat nya seorang Dokter sekaligus manager di rumah sakit itu, sejak kecil Nasha sudah sering ke rumah sakit dan terkadang ia dan Harry bermain di sekitar gedung rumah sakit. Nasha sangat hafal tempat itu.
Nasha merasa frustasi saat ia sama sekali tidak menemukan celah untuk pergi. Ia kembali menangis dan terus memanggil suami nya, Azhar.
"Azhar, tolongin aku...." lirih nya sembari sesegukan. Nasha duduk meringkuk di sudut ruangan. Ia hanya bisa memeluk lutut nya dan terus menangis.
Sementara Ramos malah tetap bertugas dengan tenang nya di sana, ia bahkan bertemu dengan Surya dan mengobrol santai.
Hingga kemudian Raya datang dan ia ingin berbicara dengan Suami nya.
"Oh ya, Om. Om pulang saja, biar aku yg menggantikan tugas Om malam ini" ujar Ramos kemudian yg tentu saja membuat Surya senang.
"Terima kasih, Ram. Kalau begitu aku dan istri ku pulang dulu" ujar Surya dan Ramos hanya mengangguk mempersilahkan.
Surya dan istri nya pun pulang dan Raya menceritakan bahwa Keluarga Niranjan menemui nya karena kemungkinan Nasha adalah kandung mereka. Tentu hal itu sangat mengejutkan Surya bahkan membuat ia sampai tidak bisa berkata kata.
"Bagaimana jika itu benar?" tanya Surya kemudian.
"Ya bagus dong, Pa. Ternyata kita pernah merawat anak konglomerat, kita berjasa untuk mereka lho" jawab Raya senang.
"Terus habis ini Mama mau apa? Mama masih terus memuji Ramos dan mengandai andai kalau saja Ramos yg menjadi suami Nasha, itu membuat Ramos benar benar menginginkan Nasha lho, Ma. Ruben sendiri yg bercerita sama aku, bahkan Azhar sampai mendatangi Ramos untuk memperingatkan nya karena Ramos pernah menemui Nasha" tukas Surya kemudian.
"Ya karena Nasha memang lebih cocok sama Ramos, Pa. Apa lagi kalau memang benar Nasha itu anak kandung Pak Niranjan, mereka juga akan lebih memilih Ramos dari pada Azhar, mereka satu kelas" ujar Raya percaya diri namun Surya hanya diam karena ia tak tahu harus menaggapi seperti apa.
.........
Ramos membiarkan Nasha tetap berada di ruangan nya dan ia tidak menemui nya sedikitpun, Ramos malah merasa senang sekarang karena ia sangat yakin saat ini Azhar pasti kaalng kabut mencari Nasha. Ramos tersenyum miring membayangkan hal itu.
Setelah larut malam, Ramos memeriksa keadaan Nasha yg ia sekap di ruang isolasi yg ada di pojok gedung.
Namun saat membuka pintu, Ramos tidak menemukan Nasha di sana. Perlahan Ramos melangkah masuk dan ia yakin Nasha pasti bersembunyi di balik pintu karena tidak ada tempat bersembunyian di ruangan yg kosong itu, namun tiba tiba Nasha memukul wajah Ramos dengan tangan kosong karena di sana memang tidak ada apapun. Tentu pukulan Nasha tidak berarti apapun bagi Ramos. Karena marah dengan kelakuan Nasha, Ramos langsung menampar Nasha dengan keras, membuat Nasha terlempar dan sudut bibir nya berdarah.
"Berani nya kamu...." desis Ramos marah dan ia berjalan mendekati Nasha yg masih terkapar di lantai. Nasha bergerak mundur dengan rasa takut yg menggebu apa lagi melihat amarah di mata Ramos "Bukan hanya menyakiti hati ku, kamu juga ingin menyakiti fisik ku, huh?" teriak Ramos marah dan ia berjongkok, mencengkram pipi Nasha dengan kuat membuat Nasha langsung menangis saat merasakan tulang pipi nya seperti akan patah.
"Lepasin aku, Ram..." pinta Nasha dengan berderai air mata.
"Nanti, setelah aku membalas sakit hati ku pada suami mu" seru Ramos dan ia merobek baju Nasha, membuat Nasha menjerit takut.
Ramos membabi buta hendak melecehkan Nasha dan Nasha dengan sekuat tenaga melawan sembari terus berteriak meminta Ramos berhenti.
Ramos bahkan sudah berhasil menarik lepas baju atasan Nasha membuat Nasha semakin takut dan berteriak histeris, ia berteriak meminta tolong dan tak berhenti sedikitpun untuk mencoba melawan. Dari mencakar, menendang, namun tentu kekuatan Nasha yg ketakutan tak sebanding dengan kekuatan Ramos yg sangat marah. Hingga ada sebuah gunting bedah yg jatuh dari kantong jas Ramos, Nasha yg menyadari itu dengan cepat mengambil nya dan menusuk tepat di leher kanan Ramos. Membuat Ramos mengerang kesakitan dan ia langsung menjauhi tubuh Nasha yg sudah setengah telanjang. Nasha sendiri sangat terkejut dengan apa yg sudah ia lakukan, ia melihat tangan nya yg gemetar dengan gunting yg berlumuran darah.