True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 72



Azhar membawa Nasha ke pesantren dan langsung menemui Asma, selaku orang yg bertanggung jawab atas pondok pesantren putrj di sana. Azhar mengutarakan niat nya untuk menyekolahkan Nasha disana, dan belajar ilmu agama.


Sementara Asma yg mendengar penuturan Azhar itu malah cengengesan, mengingat diri nya sendiri yg juga masih harus jadi santri sementara ia sudah bersuami. Hanya saja bedanya ia masih jadi santri karena memang ia masih belum menyelesaikan pendidikan nya dan malah harus di nikahkan.


"Engga boleh ya, Tante?" tanya Nasha yg melihat Asma hanya cengengesan.


"Boleh, khusus untuk mu boleh" ucap Asma "Dan zaman sekarang memang beda dengan zaman dulu, dulu semua santri memang harus menginap di asrama santri. Tapi sekarang, tetangga di pesantren ini memang ada yg sekolah tanpa menginap asrama di santri. Tapi tetap harus mematuhi peraturan yg di buat pesantren dan harus menjaga nama baik pesantren" Nasha mengangguk mengerti.


Begitu banyak yg Azhar lakukan di hidup Nasha, sehingga Nasha perlahan mulai sedikit melupakan kesedihan nya karena di buang keluarga angkat nya. Azhar mengganti apa yg hilang dan mengisi apa yg kosong dalam hidup Nasha.


Setelah melakukan pendaftaran dan registrasi, Asma mengantarkan Nasha ke kelas nya.


Ia memulai dari kelas SP (Sekolah Persiapan). Biasanya untuk para santri yg masih minim pengetahuan tentang ilmu agama nya atau pun dalam mata pelajaran yg lain.


Di sini, Nasha benar benar harus memulai semua nya dari awal.


"Teman kelas ku masih kecil kecil semua" bisik Nasha pada Azhar, dan Azhar terkekeh.


"Mereka berusia antara 13 sampai 16" jawab Azhar santai.


"Huh????" pekik Nasha tak percaya, bagaimana bisa ia satu kelas dengan anak anak seperti itu?


"Aku paling tua dong?" ucap Nasha cemberut dan Azhar kembali mengangguk santai.


"Tidak apa apa, Nasha. Di sini tidak ada yg memperhatikan umur, semua yg di perhatikan adalah pengetahuan mu dan kedisiplinan mu" ucap Asma yg mendengar ucapan terkahir Nasha.


Nasha memperhatikan anak anak di kelas itu, ada setidak 45 orang disana. Dan mereka duduk di lantai, tidak di kursi seperti di kampus Nasha. Kemudian Nasha melirik papan tulis yg bertuliskan bahasa Arab.


"Bisa baca?" tanya Azhar dan Nasha menggeleng.


"Tidak apa apa, nanti kita belajar pelan pelan" hibur Azhar.


Kemudian Asma memperkenalkan Nasha pada teman teman nya, dan mereka pun menyambut Nasha dengan riang gembira.


Nasha seperti remaja SMP yg baru pindah sekolah.


"Ada kabar baik, Nasha" bisik Asma karena ia melihat ekspresi Nasha yg tampak ragu untuk memulai sekolah "Azhar juga akan mengajar di sini" ucapan Asma itu membuat Nasha melotot terkejut sekaligus senang, ia teringat saat mengikuti kajian dengan Azhar yg memberi materi. Rasanya sangat menyenangkan.


"Tapi tetaplah bersikap sebagai santri pada Ustadz nya, di kelas, kalian adalah santri dan Ustadz. Di luar kelas, itu terserah kalian" lanjut Asma dan Nasha mengangguk mengerti. Ia melirik suami nya dengan senyum bahagia, dan Azhar pun ikut merasa bahagia melihat itu.


Azhar hanya sedang berusaha membuat hidup istrinya berimbang, antara keperluan dunia dan akhirat.


.........


Kini Harry dan Mera semakin dekat, tampak sekali kedua remaja itu sedang kasmaran namun Harry berusaha menahan diri mengingat kakak tersayang nya belum memberi restu, selain itu ia masih di pusingkan dengan kelakuan Mama nya yg semakin menggila dan menyebalkan semenjak Nasha pergi.


"Hai..." sapa Mere pada Harry yg bersiap pulang. Harry hanya menanggapi nya dengan senyum simpul "Aku bawakan air mineral" Mera menyerahkan sebotol air mineral pada Harry dan Harry pun menerima nya.


"Terima kasih" ucap nya setelah meneguk air itu.


"Oh ya, pulang bareng yuk!" pinta Mera sembari menyunggingkan senyum dan menampilkan gigi gigi putih nya.


"Aku di jemput sopir" ujar Harry.


"Tapi aku yg engga di jemput" ucap Mera lagi. Harry terdiam sesaat, kemudian mengangguk.


Jemputan nya pun sudah tiba, Harry dan Mera segera masuk ke kursi belakang.


"Oh ya, makasih ya hadiah nya" ucap Mera kemudian. Karena hadiah yg waktu itu di berikan Nasha sebenarnya itu dari Harry dan hadiah itu berupa harmonika karena Harry tahu Mera suka bermain harmonika.


Dan sopir pun mulai menjalankan mobil nya meninggalkan area sekolah.


"Sama sama" ucap Harry masih berusaha bersikap biasa saja.


"Tau engga sih, dulu aku percaya banget kalau kakak mu itu pacar mu. Habis nya kalian seperti seumuran, udah gitu engga ada mirip mirip nya lagi jadi engga kefikiran sama sekali kalau itu kakak kandung mu" tutur Mera.


"Itu bukan kakak kandung ku, Kak Nasha kakak angkat ku tapi aku sangat sayang sama Kak Nasha" tutur Harry yg seketika membuat Mera menganga lebar.


"Jadi dia cuma kakak angkat?" pekik nya.


"Iya, Kak Nasha anak angkat Mama Papa tapi bagi ku dia segalanya. Karena sejak kecil Kak Nasha sangat perhatian sama aku dan selalu ada buat aku, aku bahkan menganggap nya ibu. Karena dia yg merawat ku dan mendukung ku dalam semua hal yg aku inginkan" tutur Harry sembari tersenyum.


"Wah, kita sama sama punya kakak angkat. Kak Hanin juga kakak angkat ku" ucap Mera yg membuat Harry juga terkejut.


"Oh ya? Bagaimana bisa? Dan aku juga baru tahu kalau kamu punya kakak yg sudah meninggal"


"Yg meninggal itu kakak kandungku, sebenarnya dulu sebelum menikah Mama itu hamil. Waktu itu Mama masih kuliah, dan karena takut sama kakek nenek aku dan keluarga yg lain, selain itu takut mencemari nama baik keluarga kami. Akhirnya Mama menyembunyikan diri selama kehamilan nya ke Surabaya. Terus pas lahiran mama titipkan anak Mama ke panti, papa sama Mama berniat mengambil nya saat mereka sudah menikah. Tapi dua tahun kemudian setelah mereka menikah, katanya panti itu kebakaran dan mendiang kakak ku menjadi korban kebakaran. Kata Papa, mama sedih banget saat itu, bahkan hampir depresi. Terus untuk mengobati rasa sedih dan rasa kehilangan Mama, Papa mengadopsi anak lain yg seumuran sama mendiang kakak ku. Ya kak Hanin itu. Awalnya Mama masih engga mau dan tetap mau anak kandung nya, tapi lama kelamaan Mama bisa menerima Kak Hanin dan merawat Kak Hanin dengan baik"


Harry tercengang mendengar cerita Mera, karena cerita itu sangat mirip dengan cerita keluarga nya.


"Itu sama juga dengan Mama, Kakak kandung ku juga meninggal dalam kecelakaan. Dan untuk mengobati rasa sedih dan rasa kehilangan Mama, Mama mengadopsi Kak Nasha. Ya meskipun Kaka Nasha engga seumuran sama kakak kandung ku" tutur Harry lagi dan kini Mera yg tercengang.


"Keluarga kita punya banyak kesamaan ternyata ya" gumam Mera sembari mengangguk anggukan kepala nya. Sementara Harry malah tersenyum kecut,karena ada satu perbedaan yg sangat mencolok. Yaitu bagaimana sang anak angkat di perlakukan oleh sang ibu angkat.


Hanin sangat beruntung, karena orang yg mengadopsi nya memperlakukan nya dengan sangat baik, beda hal nya dengan Nasha.


"Kak Nasha yg malang, andai kakak seberuntung kakak nya Mera" Harry membatin sedih.