
Kehamilan adalah anugerah terbesar dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran anak adalah impian terindah bagi setiap pasang suami istri. Begitu juga bagi Azhar dan Nasha. Kedua nya sepakat membuat syukuran atas kehamilan Nasha.
Seperti biasa, Azhar mengundang anak anak panti asuhan untuk acara syukuran itu. Ia juga mengundang keluarga guru nya yg tak lain Bilal dan keluarga nya. Dan juga orang tua kandung dan orang tua angkat Nasha.
Keluarga Azhar menyiapkan beberapa hadiah untuk anak yatim piatu yg akan datang kerumah nya dan juga menyiapkan beberapa macam makanan.
Acara di adakan jam 7, setelah semua nya di pastikan siap. Mereka bersiap menunggu anak anak panti asuhan dan tamu yg lain nya.
Tak lama kemudian Bilal dan istri nya datang dan ia mengabarkan keluarga nya yg lain tak bisa datang karena sedang ada halangan.
Terdengar suara deru mobil dari luar, Azhar dan ayah nya pun membuka pintu dan Nasha juga langsung keluar karena ia berfikir anak anak panti asuhan yg datang.
Namun ternyata yg datang keluarga angkat dan keluarga kandung Nasha.
Mereka pun menyambut nya dengan hangat dan mempersilahkan mereka masuk, tak lama kemudian dua bus datang dan anak anak panti asuhan keluar dari bus dengan teratur.
Anak anak itu menyalami tuan rumah satu persatu secara bergantian dan masuk ke dalam rumah.
Bu Anjana yg melihat anak anak panti asuhan itu seketika teringat dengan Nasha, sejak kecil Nasha sudah hidup di pantu asuhan seperti anak yatim piatu. Padahal nyata nya Nasha memiliki orang tua dan keluarga yg sangat lengkap. Rasa bersalah kembali menyeruak ke dalam hati nya.
"Sayang...." panggil Bu Anjana lembut pada putri nya itu yg saat ini sedang menyiapkan minuman untuk tamu tamu nya.
"Kenapa?" tanya Nasha tanpa menoleh sedikitpun.
"Kamu jangan terlalu capek, hamil muda itu harusnya banyak istirahat, Nak..." ujar nya.
"Tidak apa apa, aku baik baik saja" jawab Nasha karena ia memang ingin melayani anak anak yg sama seperti nya dulu itu.
"Nasha..." panggil Azhar dan ia menghampiri istrinya itu "Jangan bekerja, Sayang. Kamu duduk saja ya..." pinta Azhar. Nasha sempat ingin menolak permintaan suami nya itu namun tiba tiba ia melihat Mera dan Harry yg saat ini sedang menikmati cemilan.
"Mera..." panggil Nasha nyaring, yg di panggil pun langsung mendongak dan menatap Nasha, Nasha melambaikan tangan pada nya, meminta nya datang. Sambil cemberut, Mera pun menghampiri kakak nya itu.
"Ada apa?" tanya Mera ketus.
"Nih, bantuin layanin anak anak..." ujar Nasha santai.
"Aku? Engga, kan sudah ada Tante Rifa sama Kak Hanin, dan ada teman nya kamu juga tuh ..." ujar Mera sambil menunjuk Elin dengan dagu nya.
"Kasihan mereka, Mera. Capek..." ucap Nasha.
"Terus kamu sendiri?" tanya Mera berdecak kesal.
"Mera, kenapa memanggil dengan kata 'kamu' begitu? Tidak sopan ah, panggil kakak" pinta Bu Anjana namun Mera enggan menanggapi nya.
"Kata suami ku, aku istirahat..." ujar Nasha kemudian "Azhar yg minta kamu bantuin Ummi, ya kan, Sayang?" Nasha menatap suami nya itu sambil mengedipkan mata nya, Azhar pun mengangguk sambil menahan senyum.
"Oh, ya sudah" ucap Mera akhir nya yg membuat Nasha mendelik.
"Apa apa kalau Azhar yg suruh dia mau, waktu di rumah Mama Raya pas di suruh pulang sama Azhar juga mau. Jangan jangan ni bocah naksir suami ku, awas saja nanti kau ya..." batin Nasha menggeram marah.
Azhar pun membawa Nasha untuk duduk di antara anak anak panti asuhan yg kini sedang menikmati cemilan itu dengan di temani Harry.
Sementara Azhar menemani Bilal dan istri nya yg juga sedang mengobrol dengan para ayah dari Nasha.
"Mer, kenapa kamu nurut pas Azhar yg suruh?" tanya Bu Anjana karena ia juga penasaran dengan anak nya yg tengil ini dan seperti nya ia memang sungkan dan menurut pada Azhar.
"Soal nya kakak ipar itu kayak alim gitu, Ma. Lembut, kalem, jadi kalau menolak merasa dosa dan lancang, Ma" jawab Mera apa ada nya yg membuat Bu Anjana tertawa.
"Ada ada saja kamu ini..." ucap ibu nya.
"Kalian membicarakan apa? Serius sekali?" tanya Bu Raya yg bergabung dengan mereka.
"Oh ya? Azhar? Kenapa dengan kakak ipar mu?" tanya Bu Raya.
"Baik, kalem, lembut, perfect..." ujar Mera sambil terkekeh dan Bu Anjana juga tertawa. Seketika Bu Raya teringat dengan dulu saat ia mengira Ramos jauh lebih baik dari Azhar.
Bahkan Bu Raya mengira keluarga Bu Anjana juga akan lebih menyukai Ramos karena status mereka yg sama. Tapi ternyata semua nya salah.
Sementara itu, Nasha tiba tiba merasakan perut nya yg seperti melilit. Azhar yg memang sejak tadi memperhatikan istri nya itu pun langsung menghampiri Nasha saat melihat gelagat Nasha yg berbeda.
"Ada apa, Sayang?" tanya Azhar lembut.
"Aku ingin berbaring ke kamar, boleh?" tanya Nasha karena ia juga merasa lemas.
"Tentu saja boleh, Sayang" jawab Azhar dan ia pun membantu istrinya berdiri.
Azhar mengatakan pada yg lain kalau Nasha butuh istirahat dan mereka pun mempersilahkan. Sementara acara syukuran akan tetap berlangsung.
Di kamar nya, Azhar membaringkan Nasha dengan hati hati dan setelah itu ia juga naik ke ranjang, berbaring menyamping di sisi Nasha dan menyelipkan lengan nya di bawah kepala Nasha.
Nasha pun memiringkan badan nya sehingga kini berhadapan dengan Azhar. Nasha memainkan jemari nya di dada sang suami, membuat pola abstrak yg menggelitik.
"Sayang..." panggil Nasha yg lebih pada nada merengek.
"Hm, ada apa?" tanya Azhar sambil membelai kepala Nasha.
"Kamu jangan dekat dekat Mera ya..." pinta Nasha lagi yg membuat Azhar langsung mengernyit bingung.
"Kenapa memang nya?" tanya Azhar.
"Dia naksir kamu" jawab Nasha dengan lugas nya.
"Astagfirullah..." hanya itu respon Azhar secara reflek.
"Beneran, serius..." ucap Nasha bahkan kini ia merajuk, memanyunkan bibir nya.
"Kenapa bicara begitu? Mera itu naksir nya sama Harry, aku rasa itu juga sudah menjadi rahasia umum" ujar Azhar.
"Engga, dia juga naksir sama kamu. Buktinya dia selalu nurut sama kamu" kesal nya.
"Mungkin karena aku kakak ipar nya, dia nurut karena tidak nyaman untuk menolak" ucap Azhar tapi Nasha malah semakin cemberut dan merajuk.
"Pokok nya engga boleh dekat dekat, gadis itu centil nya minta ampun. Kalau dia rayu kamu nanti gimana? Seperti di sinetron..." ujar Nasha bersikukuh, yg membuat Azhar gemas sekaligus tak habis fikir dengan pemikiran istri nya itu.
"Ya?" pinta Nasha lagi ingin memastikan.
"Iya iya..." jawab Azhar supaya istri nya itu tenang, dan benar saja, Nasha langsung tersenyum dan memeluk suami nya.
"Kalau kamu sudah baikan, kita turun ya? Kan engga enak acara kita malah di tinggalin" ujar Azhar.
"10 menit, dan ingat! Nanti jangan dekat dekat sama Mera!"
"Iya, Mama"
"Kok Mama?"
"Kan sebentar lagi akan jadi Mama..." Nasha langsung merona mendengar ucapan suami nya itu, ia menyembunyikan wajah merona nya di dada Azhar.
"Papa bisa aja..." ucap nya manja yg membuat Azhar tertawa geli.