
Karena Nasha berniat akan menginap akan menginap di rumah Bu Anjana malam ini, Bu Anjana dan Hanin mempersiapkan kamar tamu untuk Nasha dan Azhar.
"Tidak perlu repot repot, Tante..." ujar Azhar yg merasa tidak enak karena ibu mertua nya tampak sangat sibuk. Saat ia sedang mengganti seprei yg ada di kamar tamu.
"Tidak sama sekali, Azhar. Aku ingin Nasha nyaman di sini apa lagi saat ini sedang hamil" jawab Bu Anjana. Setelah memasang seprei, ia menyalakan AC dan menyalakan sebuah lilin aroma terapi, yg menyerukan aroma yg sangat menenangkan.
Sedangkan Nasha saat ini sedang sibuk membuka semua lemari dan lacidikamar Mera. Membuat Mera berdecak kesal karena Nasha seperti penyidik yg sedang menggeledah kamar Mera. Nasha bahkan menemukan sebuah laci yg di penuhi dengan berbagai macam cemilan.
"Kamu suka nyemil, mer?" tanya Nasha.
"He'em" jawab Mera malas, kemudian Nasha mengambil satu kotak cokelat dan mencicipi nya.
"Hem, enak nya..." gumam Nasha dan ia memakan nya dengan lahap. Sementara Mera hanya bisa mendesah lesu.
"Kamu sudah di siapkan kamar sama Mama, kesana saja ya. Jangan kesini..." bujuk Mera tapi Nasha malah merebahkan diri nya di ranjang Mera.
"Tapi aku suka di kamar mu, kamu suka warna kuning ya?" tanya Nasha lagi karena kamar Mera di dominan warna kuning emas dan ada banyak barang barang Mera yg berwarna kuning, dari boneka, hiasan lemari dan sebagai nya.
"He'em" jawab Mera lagi.
"malam ini aku tidur di sini saja ya, sama kamu" ujar Nasha kemudian yg membuat Mera memekik kaget dan tentu ia tidak akan setuju.
"Engga mau lah, aku engga suka berbagi kamar" jawab Mera.
"Ya sudah, kalau begitu kamu saja yg tidur di kamar tamu. Aku dan suami ku akan tidur di sini..." tukas Nasha yg membuat Mera melongo.
"Engga boleh gitu dong, masak iya kakak ipar tidur di kamar ipar perempuan nya" tukas Mera kesal.
"Kamu naksir suami ku kan?" tanya Nasha kemudian yg justru itu terdengar seperti sebuah tuduhan yg sangat kejam pada Mera.
"Aku naksir mu, adik kandung mu. Lah masa iya selera ku Mas Mas kayak kakak ipar" ujar Mera namun Nasha masih memasang tampang tak percaya nya.
"Masak? terus kenapa kamu selalu menuruti apa yg Azhar minta? apa lagi itu nama nya kalau bukan naksir? Awas saja ya kalau kamu berani macam macam, aku cincang kamu sampai halus seperti bawang" ancam Nasha yg membuat Mera bergidik ngeri.
"Ya terus masak aku lawan kakak ipar? Kan engga enak, malu' jawab Mera dan ia berkata dengan lirih di akhir kalimat nya. Nasha mencebikan bibir nya sambil mengangguk anggukan kepala nya.
"Dia itu baik tahu, cara ngomong nya itu terlalu kalem dan lembut, jadi susah di lawan" tukas Mera lagi yg membuat Nasha bernafas lega.
'baguslah, dan selama kami di sini, kamu tidak boleh berpakaian yg tipis dan pendek. Aku engga mau mata suami ku ternoda karena kamu" ujar Nasha kemudian turun dari ranjang Mera.
"Aku engga jadi tidur di sini, silahkan menikmati kamar mu..." lanjut nya sambil menarik sebuah boneka beruang yg berwarna kuning dan dengan santai nya Nasha membawa nya keluar kamar, tentu Mera mengejar nya dan protes dengan sikap kakak nya itu.
"Itu kan boneka ku..." rengek Mera.
"Tapi aku suka" jawab Nasha sambil memeluk boneka itu "Lagian Mama Papa mu itu kaya, beli ribuan boneka seperti ini mah kecil" lanjut nya.
Kini Nasha dan Mera sudah sampai di ruang tamu yg sudah di bersihkan dan siap di tempat.
"dari kamar Mera" jawab Nasha sambil melempar boneka nya ke ranjang yg segera di susul diri nya.
"Mama, boneka ku..." rengek Mera.
"kan boneka mu banyak, Dek" sambung Hanin.
"Nanti Mama belikan kalian boneka yg banyak" ujar Bu Anjana kemudian.
"Terima kasih" ucap Nasha yg membuat Bu Anjana tersenyum senang.
....
Nasha menghabiskan waktu nya seharian bersama keluarga kandung nya dan juga Hanin. Bu Anjana bahkan rela tidak pergi kemana pun seharian karena ia juga sangat ingin menghabiskan waktu bersama Nasha. Sementara Azhar sudah pergi bekerja seperti biasa begitu juga dengan ayah mertua nya.
Bu Anjana bahkan memasak sendiri untuk makan siang anak anak nya, ia juga dengan telaten membantu Nasha saat Nasha kembali mual dan tak ingin makan. Bu Anjana memberikan apapun yg di di inginkan Nasha, memasak apapun yg di ingin di makan Nasha.
Dan sekarang, ketiga suadara itu sedang main game bersama. Kadang mereka tertawa, kadang juga adu mulut, tentu saja itu kelakuan Mera dan Nasha. Sementara Hanin harus mati matian menjadi wasit di antara the sister's itu.
Saat sore hari, Pak Niranjan pulang lebih cepat dari biasa nya tentu Karena ia juga ingin menghabikan banyak waktu bersama Nasha.
Dan saat pulang kerja, biasa nya pembantu nya yg membukakan pintu namun kali ini ada yg berbeda, yang membuat nya sangat senang. Karena saat pintu terbuka, langsung menampilkan putri sulung nya yg menyambut nya dengan senyum sambil makan gorengan.
"Makan apa, Nak?" tanya pak Niranjan sambil mencium pelipis Nasha.
"gorengan, Mama nya Mera yg buat" jawab Nasha yg membuat Pak Niranjan menahan senyum nya saat Nasha mengatakan Mama nya Mera.
"Mama nya Mera pintar masak ya?" tanya Pak Niranjan dan Nasha mengangguk.
Kedua nya pun masuk dan di ruang tengah, Mera dan Hanin sedang menonton film action sambil di temani gorengan dan bumbu petis di sisi nya. Nasha pun bergabung dan duduk bersila di antara Hanin dan Mera.
Setelah main game, mereka bertiga memang memutuskan menonton dan Nasha memilih film action, tak perduli Mera yg menolak nya karena ia ingin menonton film romance.
"Ya Ampun, kenapa kalian menonton film kekerasan? ini pasti ulah mu, mer..." tuduh ayah nya yg membuat Mera memberengut.
"Bukan, aku yg mau" jawab Nasha dan ayah nya hanya ber Oh ria.
Bu Anjana pun keluar dari dapur dengan membawa satu piring lagi yg penuh dengan gorengan.
"tumben Mama buat gorengan banyak" tukas suami nya.
"Nasha tadi kata nya ingin makan gorengan sama sambal petis" jawab Bu Anjana kemudian kembali menyajikan gorengan itu di depan anak anak nya.
"Terima kasih, gorengan nya enak" ucap Nasha tulus.
"Sama sama, Sayang. Tapi makan nya jangan terlalu banyak ya, itu berminyak. Tidak sehat" ucap Bu Anjana kemudian bergabung dengan anak anak nya.