True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 118



Setelah kelas nya selesai, seperti biasa Nasha akan menunggu Azhar di depan kelas nya. Dan tiba tiba Maryam kembali mendatangi nya dan kali ini ia bersama seorang wanita asing yg sedang menggandeng anak nya yg sepertinya baru belajar berjalan.


"Cantik sekali..." ujar Nasha yg melihat anak perempuan itu yg tampak sangat menggemaskan.


"Secantik ibu nya" jawab Maryam sambil terkekeh, Nasha memperhatikan ibu dari anak itu dan ia memang terlihat sangat cantik.


"Iya" balas Nasha dengan polos nya yg membuat wanita itu tertawa kecil.


"Kamu juga cantik sekali, Nasha. Maryam sering bercerita tentang mu, dan kamu memang secantik yg dia ceritakan" ujar wanita yg membuat Nasha hanya bisa tersenyum sungkan.


"Oh ya, aku Maria..." wanita bernama Maria itu mengulurkan tangan nya dan Nasha pun menyambut nya dengan ramah.


"Salam kenal, Maria..." ucap Nasha "Dan siapa nama mu, cantik? Kamu cantik sekali, seperti boneka saja" ujar Nasha lagi.


"Nama nya Khair" jawab Maria dan membantu Khair berjabat tangan dengan Nasha, membuat Nasha semakin gemas. Khair bahkan mengenakan jilbab berwarna pink, membuat ia benar benar seperti boneka hidup saja.


"Khair..." gumam Nasha "Nama yg unik"


Tak lama kemudian Azhar datang dan menyapa Maryam dan Maria dengan senyum ramah nya, ia juga menyapa Khair yg saat ini bergerak gerak manja dan menggemaskan.


"Assalamualaikum, Khair..." ujar Azhar sambil mencubit gemas pipi bayi mungil itu.


"Waalaikum salam, Ustadz Azhar" jawab Maria mengecilkan suara iya, mewakili sang anak yg saat ini sedang tertawa saat Azhar kembali mencubit pipi nya.


"Masya Allah, cantik sekali kamu, Nak. Hm... Pintar ya sudah pakai jilban" ucap Azhar dan ia mencoba menggendong anak putri Maria itu.


"Iya, dia masih kecil tapi kok sudah pakai jilbab?" tanya Nasha dan ia juga terus memandangi Khair.


"Belajar saja, Sha. Biar nanti dia terbiasa" jawab Maria.


"Indah sekali" gumam Nasha merasa terharu.


Nasha berandai andai seandainya saja keluarga nya seperti keluarga Maryam, seandainya saja ia terlahir di tengah keluarga seperti keluarga Maryam. Mungkin drama kehidupan nya takkan sepahit ini.


"Kenapa?" tanya Maria yg melihat Nasha melamun, Nasha tersenyum tipis dan ia teringat kembali dengan fakta diri nya yg membuat Nasha merasa begitu sedih dan terpukul, begitu sulit ia terima.


"Putri mu sangat beruntung, terlahir dari wanita anggun seperti mu, tumbuh di tengah keluarga yg harmonis, faham agama" ujar Nasha yg membuat Maria tersenyum simpul.


"Hidup memang begitu, Nasha. Terkadang kita melihat seseorang begitu sempurna, padahal kenyataannya sebaliknya. Senyum yg kita lihat, mungkin saja hanya sebuah topeng untuk menutupi kesedihan nya"


"Ya, aku tahu. Aku pernah ada di posisi itu, harus berpura pura baik baik saja padahal tidak" lirih Nasha.


"Aku ingin tahu, bagaimana rasanya bermain bersama ayah kandung? Seperti nya sangat menyenangkan" celetuk Nasha asal, karena ia melihat Khair yg tampak sangat bahagia bersama ayahnya.


"Ayah kandung nya Khair sudah meninggal, Nasha..." ujar Maria tiba tiba yg langsung membuat Nasha melotot terkejut.


"Bagaiamana bisa? Maksud ku, maaf..." ucap Nasha salah tingkah namun Maria hanya menanggapi nya dengan senyum.


"Tidak apa apa" jawab Maria "Hidup ku dan hidup Khair tak seindah yg kamu lihat, kami mengalami banyak hal. Dan kamu tahu? Sewaktu masih dalam kandungan, aku mencoba bunuh diri dua kali" tukas Maria yg membuat Nasha semakin terkejut.


"Tapi.. Tapi kenapa?" tanya Nasha.


"Karena aku sama sekali tidak mengharapkan kehadiran Khair, dia adalah sebuah kesalahan. Tapi saat dia lahir, aku malah sangat mencintai nya, melebihi hidup ku sendiri" tutur Maria yg membuat Nasha semakin tercengang heran.


"Tapi jika dia tahu nanti, bukan nya dia akan marah? Pasti malu juga, kan?" tanya Nasha dengan suara lirih, karena ia juga berada di posisi yg sama.


"Aku tahu, tapi apapun itu, aku akan menjelaskan pada nya bahwa aku sangat mencintainya. Aku menyesali perbuatan ku, aku bahkan hampir membunuh nya saat dia dalam kandungan ku, dan sekarang aku sangat menyesal, aku yakin dia pasti akan mengerti"


jawban Maria membuat Nasha kembali berfikir tentang diri nya, hidup nya dan keluarga nya.


...... ...


Setelah dari pesantren, Nasha langsung pulang karena hari sudah sore dan Ummi nya juga sudah di rumah.


Sementara Azhar masih pergi ke toko Abi nya untuk melanjutkan pekerjaan nya di sana dan menggantikan Abi nya.


Kini mereka sudah memiliki 4 karyawan untuk menjaga toko yg semakin hari semakin maju, Azhar mempekerjakan orang juga supaya Abi nya tidak terlalu lelah dan hanya bertugas mengawasi toko saja. Sementara Azhar malah punya rencana ingin membuka toko baru, hal itu membuat Abi nya sedikit terkejut.


"Memang nya ini belum cukup, Azhar? Abi rasa ini sudah sangat cukup untuk mu dan Nasha" ujar sang ayah, karena ia melihat Azhar yg tampak nya semakin hari semakin berambisi untuk meluaskan bisnis nya. Abi Fadlan hanya merasa kasihan dengan Azhar yg pasti sangat lelah mengurus banyak hal, namun Azhar seperti nya sangat menikmati itu.


"Alhamdulillah ini sangat cukup, Abi. Tapi kan kalau punya lebih itu jauh lebih baik, nanti juga aku dan Nasha kan pasti punya anak, butuh biaya lebih lagi" jawab Azhar.


"Iya, Abi faham, Nak. Abi cuma khawatir saja, kamu melakukan banyak hal. Kenapa kamu tidak berhenti saja menjadi dosen? Dan fokus ke bisnis mu saja?" tanya Abi Fadlan lagi.


"Nanti aku fikirkan lagi, Bi. Tapi Inysa Allah aku bisa melakukan semua nya"


"Asal tetap jaga kesehatan, Azhar. Jangan sampai kamu sakit karena pekerjaan mu"


"Inysa Allah, tidak, Bi"