
Azhar ikut Abi nya membuka toko nya karena kebetulan hari ini ia dan Nasha sama sama tidak ada kelas.
Sementara sekolah di pesantren itu siang, maka pagi nya Azhar ikut Abi nya sedangkan Nasha ikut Ummi nya membuka toko mereka masing masing.
"Abi, Azhar ingin bicara..." ucap Azhar setelah mereka berdua membuka toko dan menata toko nya sedemikian rupa.
"Mau bicara apa, Nak?" tanya Abi Fadlan.
"Azhar ingin memperbesar toko Abi, Azhar punya teman yg bisa memberikan pinjaman sebagai modal"
"Berhutang?" tanya Abi Fadlan tak suka.
"Azhar menyebut nya investasi, karena dia akan mendapatkan bagian dari keuntungan kita nanti. Itu pun jika Abi setuju" ucap Azhar. Abi Fadlan tersenyum dan ia menatap putra nya lekat lekat.
"Abi tahu, kamu butuh lebih banyak uang untuk biaya kuliah Nasha kan?" tanya Abi Fadlan dan Azhar mengangguk pelan.
"Maaf, Bi. Azhar masih merepotkan" ucap Azhar dan ia benar benar merasa malu karena belum bisa mandiri.
"Merepotkan apa nya, Azhar? Sebenarnya Abi dan Ummi mu sudah membicarakan itu sejak lama, hanya saja selama ini kamu sibuk di kampus dan pesantren. Kami memang berencana memberikan toko toko kami untuk mu, anggap saja sebagai warisan. Hanya ini yg kami punya, Nak. Sedangkan kami sudah tahu, penghasilan kami kalau bukan untuk mu dan Nasha, memang nya untuk siapa lagi" Azhar terenyuh mendengar ucapan ayahnya itu, betapa beruntung nya ia di karunia pria hebat seperti ayahnya.
"Iya, tapi kan sekarang Abi dan Ummi yg bekerja. Jadi Azhar memutuskan juga akan mengurus toko ini dan mengembangkan nya"
"Abi kamu membicarakan itu dengan Nasha?" tanya Abi Fadlan dan Azhar menggeleng.
"Sebenernya sudah sejak lama Nasha ingin berhenti kuliah dan ingin bekerja bersama Ummi, tapi Azhar tidak mengizinkan nya. Azhar yakin masih mampu menguliahkan Nasha sampai selesai"
"Pasti mampu, Nak. Insya Allah. Kan masih ada Abi dan Ummi mu" seru Abi Fadlan yg membuat Azhar terharu.
"Maaf Azhar belum sukses dan belum membanggakan Ummi dan Abi" ucap nya, ia tulus meminta maaf dari hati.
"Kamu sudah sukses dan dengan memperjuangkan pendidikan istri mu, kamu sudah sangat membanggakan kami" ujar sang ayah.
.........
Sementara di toko roti, Nasha melihat pembeli yg semakin hari semakin rame saja. Nasha dengan begitu semangat membantu ibu mertua nya itu.
"Jeng Rifa..." Nasha dan Ummi Rifa menoleh mendengar suara cempreng itu.
"Eh Jeng Retno, dari mana?" tanya Ummi Rifa dan wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Ummi Rifa yg saat ini menata kue di etalase.
"Dari mall tadi, Jeng. Terus pengen roti, jadi mampir deh. Oh ya, ini menantu mu yg sering kata nya sangat cantik itu ya..." Bu Retno mencolek dagu Nasha membuat Nasha tertawa kecil.
"Iya, nama nya Nasha. Cantik kan?" pamer Ummi Rifa.
"He'em, cantik sekali. Engga kebayang nanti cucu Jeng Rifa seperti apa. Bapak nya ganteng kayak orang Arab, emak nya cantik kayak orang India, duh, anak nya bisa seperti pangeran British nanti" ujar nya yg membuat Ummi Rifa tertawa senang sementara Nasha tersenyum malu karena di puji sedemikian rupa.
"Memang nya Nasha ada keturunan India ya atau Pakistan gitu?" tanya Bu Retno lagi yg seketika membuat Nasha terdiam dengan ekspresi kaku. Karena ia tidak tahu darah siapa yg mengalir di nadi nya.
"Iya, dia turunan Arab dan Pakistan. Maka nya cantik seperti miss World" jawab Ummi Rifa dengan cepat saat ia menyadari ekspresi Nasha.
"Aduh, Jeng. Carikan juga dong menantu yg seperti ini, sudah cantik, anggun, rajin lagi bantuin mertua nya" puji nya lagi yg membuat Ummi Rifa tertawa sementara Nasha hanya bisa mengulum senyum.
"Haha, doa saja, minta sama Allah" jawab Ummi Rifa. Kedua ibu ibu itu masih terus mengobrol sementara Nasha sibuk melayani pembeli yg datang silih berganti.
Nasha sendiri merasa heran dengan orang yg di panggil Bu Retno itu, padahal katanya dia datang karena ingin roti tapi sepertinya sebenarnya ia datang hanya untuk meng gosip.
Setelah adzan dzuhur, Azhar menjemput Nasha karena sudah waktunya mereka ke pesantren
Azhar juga bahkan masih sempat bertemu dengan bu Retno yang masih asyik meng gosip.
Setelah berpamitan pada Ummi Rifa dan Bu Retno. Azhar dan Nasha segera bergegas pulang, kemudian Kedua nya bersiap siap pergi ke pesantren.
Seperti biasa, Nasha belajar sama seperti santri pada umum nya. Namun yg membedakan ia masih tertinggal jauh.
Ia mulai bisa menulis tulisan bahasa Arab, namun masih sangat lembat dan sering salah. Itu kendala nya. Sisa nya, Nasha belajar dengan sangat cepat. Apa lagi setiap malam Azhar selalu mengulang pelajaran yg tadi siang dan kembali mengajarkan nya dengan santai pada Nasha.
Setelah menyelesaikan pelajaran nya di pesantren, Azhar dan Nasha menjemput Abi nya ke toko karena hari sudah sore. Sementara Ummi Rifa tidak perlu di jemput karena ia selaku mengendarai scooter tercinta nya.
"Azhar, aku boleh melakukan sesuatu engga?" tanya Nasha saat mereka masih dalam perjalanan menjemput Abi Fadlan.
"Minta apa, Sayang?" tanya Azhar lembut.
"Kalau aku bantuin Ummi Rifa jualan secara online, boleh?" tanya Nasha sembari menatap Azhar lekat lekat.
"Kenapa?" tanya Azhar masih dengan nada lembut.
"Toko Ummi itu kan semakin hari semakin ramai, hanya saja stock nya selalu sama setiap hari dan tempat nya terbatas. Kalau aku jual online kan pendapatan nya pasti nambah, terus bisa buat mengembangkan toko Ummi deh. Pasti nanti bisa jadi toko aneka roti dan kue yg sukses, toko nya bisa di perbesar juga" tutur Nasha dengan sangat serius dan Azhar mendengarkan ucapan istrinya itu baik baik.
"Ide bagus, tapi ingat! Jangan sampai menganggu aktifitas belajar mu ya" jawab Azhar yg membuat Nasha tersenyum senang. Ia langsung memberikan hadiah kecupan di pipi Azhar.
"Makin cinta deh, jadi suami kok pengertian banget sih kamu ini, hm? Gemes deh, pengen cium terus" ucap Nasha dan masih memberikan kecupan kecupan kecil di pipi Azhar. Bahkan ia sampai tidak sadar bahwa Azhar sudah menghentikan mobil nya sejak tadi dan Abi Fadlan juga sudah berdiri di samping mobil. Melihat kelakuan konyol menantu nya itu sembari geleng geleng kepala.
Abi Fadlan pun mengetuk pintu kaca depan yg membuat Nasha terkejut.
"Eh, Abi..." seru Nasha dan ia segera menjauh dari Azhar yg terkekeh.
"Anak ku yg laki laki kalah agresif" gumam Abi Fadlan dan ia masuk ke dalam mobil, duduk di Jok belakang.