
Nasha pulang kerumah saat sore hari sesuai dengan janji nya pada Habib, dan sesampainya di rumah, ternyata rumah nya sudah ramai dengan kedatangan Oma dan Opa nya Habib, juga kedua Bibi nya yg menolak di panggil Bibi.
Di ruang tengah, berbagai mainan Habib sudah berserakan di lantai.
"Assalamualaikum..." seru Nasha dan Habib yg saat ini sedang bermain bersama Mera langsung berlari menghampiri ibu nya.
"Mama..." teriak nya girang.
"Di kasih mainan sama Bibi Mera, Nak?" tanya Nasha saat melihat sebuah mainan pesawat di tangan putra nya itu.
"No Bibi..." gerutu Mera kesal "Aunty, Aunty Mera" kata Mera yg membuat Nasha mencebikan bibir nya.
"Tante saja" sambung Hanin yg kembali membuat Mera mendengus kesal.
"Suami mu engga ikut, Mer?" tanya Nasha kemudian sambil menggandeng putra nya masuk.
"Harry lagi ke luar kota, Kak. Urusan pekerjaan kata nya" jawab Mera.
"Paling paling datangi istri baru nya" goda Hanin yg membuat Mera langsung melotot kesal, Nasha dan Hanin pun hanya tertawa. Harry bekerja di salah satu perusahaan ternama, karena Harry ingin memulai karier nya dengan jalan nya sendiri tanpa di pengaruhi keluarga nya maupun keluarga istri nya yg super kaya itu.
"Mama, Oma dan Opa bawakan baju baru..." ujar Habib girang namun Nasha tampak tak senang dengan hal itu.
"Sha, kamu sudah pulang" kata Mama nya.
"Iya, Ma. Kata Habib Mama bawa baju baru lagi buat Habib" kata Nasha.
"Iya, Mama beli di Paris" jawab Mama nya dengan senang hati.
"Ya Allah, Ma Ma... Baju nya Habib itu banyak banget"
"Ya mau bagaimana lagi, Sha. Mama liat lucu lucu sekali, keingetan Habib terus, jadi beli deh" jawab Mama nya itu.
Nasha pun melihat baju baru Habib yg di belikan nenek nya itu, Nasha menghitung nya dan ada 10 lembar. Membuat Nasha geleng geleng kepala.
"Yg di belikan Oma Raya dan nenek Rifa nya saja masih banyak yg belum buka bungkus" kata Nasha.
"Habib, kalau baju Habib sebagian di kasih ke orang, boleh tidak?" tanya Nasha. Putra nya itu melirik ke atas sambil mengetuk ngetukan jari nya di dahulu, seolah sedang berfikir serius, membuat Nasha merasa begitu gemas dengan tingkah anak nya.
"Boleh, tapi jangan yg ini ya..." kata Habib kemudian mengambil sebuah jaket yg ada motif warna kuning nya di leher nya "Dan ini..." ia menarik baju hem yg juga berwarna kuning "Dan ini..." ia kembali menarik sepasang setelan yg juga ada warna kuning nya. Hal itu membuat kedua nenek nya tertawa.
"Inti nya asal jangan yg ada warna kuning nya" kata Ummi Rifa.
"Berarti semua nya boleh ya, Habib?" tanya Nasha memastikan dan anak nya itu mengangguk.
"Ada ada saja..." gumam Nasha.
"Ma, aku mandi sebentar, habis ini aku sama Habib mau ziarah ke makam Papa nya Habib" ujar Nasha kemudian.
"Bareng Abi sekalian, Nasha. Sebentar lagi juga pulang kata nya" kata Ummi Rifa.
"Iya, Ummi"
.........
Kini, keluarga Nasha sudah sampai di makam mendiang suami nya. Nasha mengelus nisan yg bertuliskan Azhar Ubaidillah Bin Muhammad Fadlan. Nasha begitu merindukan nya, masih tak jarang ia bermimpi tentang suami nya itu. Mimpi yg selalu terasa nyata saat Nasha membuka mata.
Tak sedikit yg melamar Nasha selama lima tahun ini, dari kalangan sesama Dokter, maupun Ustadz Ustadz di pesantren Al Hikmah.
Nasha berhasil lulus di pesantren itu, tepat nya lulus satu tahun yg lalu. Itu lah yg membuat para Ustadz di sana kagum pada Nasha dan ini meminang nya, seperti yg di lakukan Ustadz Yahya. Karena Nasha adalah wanita mandiri, modern, namun tetap tak malu belajar tak perduli dengan usia nya yg semakin tua maupun teman teman sekelas yg masih jauh di bawah usia nya.
Nasha memang tak ingin berhenti belajar, karena Azhar pernah bilang, bahwa sekolah pertama seorang anak adalah ibunya. Nasha harus memastikan ia mampu menjadi sekolah terbaik anak nya.
Abi Fadlan memimpin doa yg khososkan untuk orang tua nya, kakek nenek nya dan mendiang putra nya juga para ahlul qubur yg lain.
Setelah acara doa selesai, meraka pun bergegas pulang.
Nasha yg menyetir, masih menggunakan mobil hadiah Azhar. Bukan Nasha tak mampu membeli mobil baru, apa lagi keluarga kandung nya yg jauh lebih kaya dari keluarga angkat nya sangat mampu membelikan mobil baru setiap tahun pada Nasha. Namun Nasha tak ingin mobil baru, ia hanya ingin memiliki apa yg di berikan Azhar.
Begitu juga dengan rumah, bisnis yg di tinggalkan Azhar maju pesat, Abi Fadlan sangat mampu membeli atau membangun rumah yg juga lebih besar dan mewah, namun mereka tak ingin meninggalkan rumah yg penuh kenangan indah bersama putra mereka.
Sesampainya di rumah, Nasha membukakan pintu untuk Abi Fadlan karena Habib sedang tertidur di pangkuan nya. Abi Membawa nya ke kamar Nasha dan menidurkan nya dengan perlahan.
Sementara di bawah, Ummi Rifa kedatangan seorang tamu pria yang ingin bertemu dengan Nasha dan tentu dengan mertua nya juga.
"Teman nya Nasha?" tanya Ummi Rifa.
"Iya, Tante. Nama ku Dilan, aku teman kampus nya Nasha dulu" kata Dilan.
"Dilan?" seru Nasha saat ia baru turun dari tangga "Ada apa?" tanya Nasha sambil melirik Ummi Rifa sekilas.
Selama dua tahun ini Dilan memang kembali menghubungi nya setelah mereka lost contact Saat Dilan memutuskan pindah ke London.
"Hai, Sha..." sapa Dilan sambil berdiri.
"Hai, silahkan duduk" kata Nasha dan ia pun duduk di samping Ummi Rifa.
"Sha, Tante. Sebenarnya kedatangan ku kesini karena aku... Aku ingin mengatakan bahwa..." Dilan melirik Nasha dengan gugup, membuat Nasha kebingungan.
"Bahwa apa?" tanya Nasha.
"Sebenarnya, Nasha. Aku sudah mencintai mu sejak 6 tahun yg lalu. Dan aku masih mencintaimu sampai sekarang" tukas Dilan dalam satu tarikan nafas yg membuat Nasha tercengang begitu juga dengan Ummi Rifa.
Abi Fadlan yg baru bergabung dengan mereka tak kalah terkejut nya.
"Dilan, kamu bicara apa? Aku fikir kamu sudah menikah. Hehe " kata Nasha kemudian berusaha mencairkan suasana yg sempat tegang.
"Belum, Sha. Aku belum menemukan wanita yg bisa mengisi hati aku, karena....karena hati aku masih terisi dengan kamu" kata Dilan lagi. Ummi
Dan Abi saling melempar tatapan.
"Jika kalian ingin berbicara empat mata, tidak apa apa" kata Abi Fadlan kemudian ia mengajak istri nya meninggalkan Nasha dan Dilan.
"Nasha, apa kamu sudah punya calon ayah untuk Habib?" tanya Dilan gugup setelah mertua Nasha pergi.
"Dilan, aku minta maaf..." kata Nasha tulus "Tapi aku benar benar tidak pernah memikirkan tentang hubungan yg baru, aku masih mencintai dan ingin terikat dengan hubungan ku yg lama. Aku minta maaf" kata Nasha, menolak pernyataan cinta Dilan dengan lembut.
"Apa kamu tidak ingin mencoba nya dulu, Sha?" tanya Dilan penuh harap dan Nasha menggeleng.
"Maaf, Dilan. Tapi aku tidak bisa menggantikan posisi suami ku, aku akan sangat senang kalau kita menjadi teman dan saudara saja" kata Nasha yg membuat Dilan menghela nafas putus asa, namun Dilan tetap tersenyum mengerti. Dilan tahu sejak dulu, Nasha memang sangat mencintai Azhar, namun Dilan tak pernah menyangka Nasha akan tetap mencintai Azhar setelah lima tahun lebih di tinggal oleh Azhar.
.........
Saat jam makan malam, Abi Fadlan melirik Nasha beberapa kali begitu juga dengan Ummi Rifa. Kedua nya sejak tadi seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Nasha bingung.
"Sha, tadi teman mu itu..."
"Dilan?" tanya Nasha.
"Iya, Nak. Dia seperti nya pria yg baik dan sangat mencintai mu, bahkan sejak 6 tahun yg lalu. Tapi.... Tapi kenapa kamu menolak nya, Nak?" tanya Ummi Rifa hati hati.
Nasha tersenyum simpul mendengar pertanyaan Ummi nya itu.
"Sha, kami tahu kamu masih mencintai Azhar. Tapi mungkin Habib butuh sosok ayah, Nak. Usia mu juga masih sangat muda, sampai kapan kamu akan merawat Habib sendirian?" tanya Abi Fadlan.
"Nasha tidak merawat Habib sendirian, Ummi. Ada tiga keluarga yg merawat Habib. Ada tiga kakek dan tiga nenek, aku yakin itu sudah cukup bagi Habib" Jawab Nasha.
"Sekalipun Nasha menikah lagi, apakah suami Nasha nanti akan mencintai Habib seperti anak kandung nya?" tanya Nasha kemudian.
"Sayang..." ibu Rifa berkata dengan lembut "Pria seperti Ustadz Yahya dan juga Dilan, pasti akan jadi sosok ayah yg sangat baik untuk Habib"
"Ummi, Nasha tidak bisa" jawab Nasha lebih tegas "Nasha tidak bisa menggantikan sosok Azhar sebagai suami dan ayah Habib" dan Nasha berkata dengan mata yg tiba tiba berkaca kaca.
Hal itu membuat mertua nya merasa bersalah karena sudah membahas hal seperti itu.
"Sayang, kami faham. Maafkan kami, Nak" kata Ummi Rifa.
"Tidak apa apa, Ummi" kata Nasha kemudian ia menarik nafas dalam dalam.
"Nasha akan memanggil Habib untuk makan malam" lanjut nya kemudian ia bergegas ke kamar nya.
"Seharusnya kita tidak membahas hal seperti ini ya, Bi. Kasihan Nasha" kata Ummi Rifa.
"Iya, Mi. Seperti nya keputusan nya sudah bulat untuk tidak menikah lagi, padahal Nasha masih sangat muda dan banyak yg ingin meminang nya. Bahkan Ustadz nya Habib juga menaruh perhatian pada nya"
"Ya sudah lah, Bi. Kita hormati saja keputusan Nasha, kita juga harus merawat Nasha dan Habib sampai akhir hayat kita"
Nasha melihat Habib yg sedang duduk di tengah ranjang sambil memegang sebuah buku.
"Habib..." panggil Nasha yg langsung membuat putra nya itu mendongak "Lagi apa, Sayang?" tanya Nasha dan ia baru menyadari buku yg sedang di mainkan oleh Habib adalah jurnal Azhar.
"Mama, Mama dapat surat dari Papa ya?" kata Habib.
"Ter Cin Ta" ia membaca tulisan yg ada d jurnal itu.
"Kekasih... Tercinta" kata Habib.
"Mama, apa itu kekasih?" tanya nya yg membuat Nasha tersenyum.
"Kekasih arti nya orang yg sangat kita cintai" jawab Nasha.
Habib membuka jurnal itu lagi secara acak dan ia kembali membaca isi nya.
"Wah, Papa pintar sekali. Nanti Habib tulis surat juga buat Papa ya"
"Iya, Sayang. Tapi sekarang waktunya makan malam ya" bujuk Nasha. Habib pun mengangguk dan ia merangkak turun dari ranjang seperti biasa.
Nasha membawa Habib turun, kakek nenek nya langsung menyambut nya dengan senyum lebar.
"Ummi, dua hari lagi aku mau ke desa Elin ya. Resepsi nya di adakan di desa" kata Nasha.
"Iya, lagian, Elin sudah tumbuh besar di kota, kok resepsi pernikahan nya malah di desa nya" sambung Ummi Rifa.
"Soal nya keluarga besar nya di sana, Ummi. Suami nya juga berasal dari kampung nya dan memiliki keluarga besar di sana, kakek nenek nya yg sudah tua juga kata nya masih hidup tapi tidak bisa melakukan penerbangan. Maka nya resepsi nya di desa" tutur Nasha yg membuat Ummi Rifa mengangguk anggukan kepala nya mengerti.
.........
Dua hari kemudian, Nasha dan Habib sudah berada di bandara. Habib tampak senang setiap kali naik pesawat, bahkan ia pernah meminta pada Mama nya untuk membelikan pesawat. Nasha tertawa saat itu dan ia mengatakan Insya Allah, suatu hari nanti Habib akan punya pesawat.
Saat pesawat sudah terbang di udara, Habib tidak takut dan ia bahkan terus melihat keluar jendela.
"Mama, apa Papa ada di atas awan?" tanya Habib tiba tiba.
"Iya" jawab Nasha. Habib hanya tertawa.
Di Bandara, Nasha di jemput oleh Paman Elin, yg dulu juga menjemput Nasha saat pertama kali ia ke desa itu. Sementara Nasha mendengar kalau nenek Elin yg dulu dekat dengan Nasha sudah meninggal. Rem
"Putra mu tampan sekali, mirip mendiang Ustadz Azhar ya" kata paman Elin "Apa lagi mata nya, persis"
"Iya, semua orang bilang begitu" jawab Nasha.
Sesampainya di rumah Elin, Nasha dan Habib di sambut hangat oleh keluarga Elin. Nasha di persilahkan ke kamar Elin untuk bertemu dengan Elin.
"Sha..." pekik Elin girang "Oh, pangeran Arab ku, akhir nya datang juga" ia mencium pipi tembem Habib dengan gemas berkali keli, dan Habib langsung mengelap pipi nya bekas ciuman Elin yg membuat Elin mendengus, sementara Nasha hanya tertawa.
"Mahal banget sih, Habib" kata Elin memberengut.
"Harus dong" sambung Nasha.
"Oh ya, Sha. Aku dengar, kamu menolak cinta Dilan ya" kata Elin kemudian.
"Dilan yg kasih tahu?" tanya Nasha.
"Iya, aku undang dia ke resepsi pernikahan ku" kata Elin yg membuat Nasha tertawa geli.
"Tega banget kamu, Lin. Mau balas dendam sama mantan mu?" tanya Nasha.
"Bukan begitu, Sekarang kita sudah baikan. Aku juga sudah move on, Sekarang kita teman yg baik" tutur Elin.
.........
Jam 7 malam, resepsi Elin di gelar. Banyak tamu yg hadir, dan Nasha bertemu kembali dengan Dilan. Nasha berusaha bersikap bisa saja begitu juga dengan Dilan.
Dilan juga menyapa Habib dan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti berapa usia Habib, sudah sekolah apa belum, dan sebagainya. Habib menjawab semua pertanyaan Dilan dengan sangat serius, membuat Dilan merasa begitu gemas.
"Kasih kado apa buat mantan mu, Dilan?" goda Nasha yg membuat Dilan tertawa.
"Tiket honeymoon" jawab nya yg membuat Nasha langsung tertawa.
Acara resepsi berjalan dengan lancar, Nasha dan Habib menginap di rumah Nasha karena Nasha tak ingin anak nya kelelahan jika harus kembali ke Jakarta lagi.
.........
Keesokan harinya, sebelum kembali ke kota, Nasha Membawa Habib jalan jalan di desa. Untuk mengenang Azhar, tentu saja.
Karena di desa itu lah Nasha pertama kali melihat Azhar, bertemu Azhar, berkenalan dengan Azhar dan untuk permata kali nya ia naksir pada seorang pria.
Nasha mengenang masa masa indah itu dengan senyum yg mengembang di bibir nya.
"Mama, Habib suka di sini" kata Habib "Mama, ada layangan..." pekik nya kemudian menunjuk sebuah pohon, dimana ada layangan nyangkut disana.
Seketika Nasha teringat dengan Azhar, dimana saat itu ia terjebak di atas pohon karena sok jadi pahlawan pada anak anak yg layangan nya nyangkut di atas pohon. Namun pahlawan sesungguhnya adalah Azhar, ketika Azhar datang dan membantu nya turun. Bahkan memberikan sorban nya untuk menutupi baju Nasha yg robek karena tersangkut ranting pohon.
"Mau Mama ambilkan?" Nasha menawarkan diri pada putra nya itu.
"Memang nya Mama bisa memanjat?" tanya Habib meragukan.
"Bisa dong, dulu Papa sama Mama memanjat di pohon itu" kata Nasha.
"Wah, Mama hebat. Mau layangan nya, Ma" pekik Habib girang sambil melompat.
"Habib tunggu di sini ya, Mama ambil dulu layangan nya" kata Nasha.
"Iya, Mama" jawab Habib patuh, ia duduk bersila di bawah pohon dan mendongak ke atas, memperhatikan Mama nya yg benar benar memanjat ke atas pohon dengan hati hati.
Nasha berhasil mengambil layangan nya dan kemudian ia turun, namun seperti biasa, ia takut saat melihat kebawah.
"Mama..." teriak Habib "Bisa turun nya?" tanya nya.
Melihat Habib, rasa takut Nasha hilang, karena yg ia lihat bukan tinggi nya pohon itu, melainkan ia hanya fokus pada Habib yg menunggu nya di bawah.
"Bisa dong" jawab Nasha. Kemudian ia berusaha turun dari sana.
"Injak di sana..."
"Lepaskan tangan mu yg di sana, dan pegang ke ranting itu..."
Nasha teringat bagaimana Azhar mengarahkan nya dulu dan...
Hap...
Dia berhasil melompat turun, Habib bertepuk tangan dengan riang gembira dan Nasha memberikan layangan itu pada Habib.
"Habib mau lihat sungai tidak?" tanya Nasha kemudian dan Habib mengangguk sambil menilang nilang layangan yg sudah ia pegang itu.
Nasha menggandeng tangan mungil Habib dan kedua nya berjalan menuju sebuah sungai yg tak jauh dari sana.
Nasha teringat bagaimana dulu ia bertemu Azhar di sana, Azhar Serdang berada dalam sungai dan Nasha berfikir Azhar tenggelam. Nasha bahkan terus berfikir kalau Azhar adalah pria desa.
Nasha dan Habib duduk di sebuah bebatuan dan memasukkan kaki meraka ke dalam sungai dimana air nya begitu sejuk.
"Dingin sekali" kata Habib "Boleh mandi di sini, Ma?" tanya Habib.
"Boleh, tapi di tepi ya. Di sana dalam, nanti Habib tenggelam" kata Nasha. Habib pun tampak begitu girang.
Nasha membuka pakaian Habib dan hanya menyisakan celanna dallam nya saja. Kemudian Nasha membantu Habib turun dan meminta Habib menginjak sebuah be batuan di dalam. Habib langsung merasa sangat gembira dan ia memukul air dengan keras sambil tertawa. Nasha teringat dengan diri nya sendiri, dulu ia juga seperti Habib saat masuk ke sungai, ia juga memukul air dengan keras dan ternyata Azhar mengintip nya saat itu.
Kedua nya bermain air dengan sangat gembira, canda tawa mereka bercampur dengan suara air yg Habib mainkan, Nasha juga membantu Habib berenang. Hal itu membuat anak nya tertawa girang.
..........
Aku mencintaimu dan akan selalu mencintai mu, suami ku.
Tak perduli bahkan setelah dunia ini memisahkan kita, aku tetap mencintai mu dan kamu tidak akan terganti kan di hati ku dan di hidup ku.
Lalu kenapa takdir memisahkan kita?
Apakah takdir tak berpihak pada cinta kita?
Tapi...
Ketika bagi seorang anak ayah mereka adalah super hero meraka. Tapi bagi ku, kamu adalah super hero ku.
Jika bagi orang lain sahabat mereka adalah saudara mereka, tapi bagi ku kamu adalah sahabatku.
Dan ketika bagi mereka guru pertama mereka adalah ibu nya, tapi bagi ku kamu lah guru pertama ku.
Yg tak hanya mengajarkan ku berbagai ilmu dunia maupun akhirat, tapi mengajarkan ku arti dari sebuah kehidupan. Dimana dalam kehidupan pasti ada yg nama nya ujian yg harus kita lewati dengan yg nama nya sabar dan ikhlas.
Selama ini, aku fikir sabar hanya diam dan menerima. Tapi ternyata aku salah, sabar menerima dengan lapang dada dan percaya bahwa akan ada hikmah di balik setiap ujian.
Aku fikir selama ini aku sudah ikhlas dengan takdir hidup ku sebagai anak yg di buang dan di kekang. Tapi ternyata tidak, aku belum ikhlas sampai aku bisa melepaskan dengan perasaan yg rela. Sampai aku bisa menerima dan berdamai dengan takdir yg telah di gariskan.
Kamu mengajarkan ku semua itu, lalu bagaimana aku bisa menggantikan mu? Yg bukan hanya berperan sebagai seorang suami tapi juga guru sejati bahkan sampai detik ini aku hidup dengan berbekal ajaran mu.
Bagaiamana aku bisa berhenti mencintai mu sementara kamu mencintai ku sampai akhir hayat mu?
Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu sampai aku menghembuskan nafas terakhir ku.
Tunggu aku di sana, dan aku bersabar untuk menyusul mu. Sayang ku, cinta sejati ku.
...TAMAT...
.........
......Hai, kalian suka cerita ini?......
...Jangan lupa tap ❤️, kemudian tekan like, tinggalkan comments, dan aku sangat mengharapkan gift serta vote dari kalian ☺️....
...Jangan lupa juga follow SkySal supaya tidak ketinggalan Novel menarik lain nya. ...
...Aku tunggu jejak nya di setiap episode ya, thank you and I love you, all. 😘...