True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 36



Tak ingin kejadian lagi mendapatkan tamparan gara gara tak pulang, Nasha meminta Harry berbohong pada Mama nya bahwa ia dan Harry akan pergi ke mall. Dan sudah Nasha duga, Harry benar benar melakukan hal itu.


Dan kajian pun berlangsung dengan sangat lancar dan Nasha sangat menikmati nya. Asma bercerita bahwa sebenarnya setiap kamis sore itu kajian umum khusus santri putri maupun Ustadzah. Tak ada kewajiban untuk mereka mengikuti nya, namun Asma mengatakan jika Nasha suka maka bisa datang setiap kamis. Tentu Nasha sangat senang, semua orang memperlakukan nya dengan sangat baik dan ramah, bahkan tak terkecuali Ummi Mufar.


Setelah kajian selesai, Nasha pun berpamitan pada Asma dan yg lain nya.


"Azhar sudah cerita kalau kalian sedang menjalani taaruf..." ujar Asma yg membuat Nasha sedikit terkejut, kapan cerita nya? Fikir Nasha "Aku tahu dari suami ku, kadang kadang Azhar memang bercerita pada Bilal jika ia ingin mengambil keputusan yg besar" lanjutnya dan Nasha pun mengangguk mengerti "Kalau bisa, jangan terlalu sering jalan berdua, itu akan jauh lebih baik dan lebih aman untuk kalian"


"Iya, Azhar memang sedikit begitu..." ucap Nasha lirih.


"Sedikit begitu gimana?" tanya Asma yg memang tak mengerti maksud Nasha.


"Aku mandangi dia engga boleh, bilang aku cinta dia juga engga boleh" tutur Nasha yg membuat Asma terkekeh geli.


"Bukan engga boleh, tapi belum boleh" jawab Asma sambil tersenyum lembut "Kalian masih belum menjadi pasangan yg halal, alangkah baik nya kalau kalian menghindari hal hal yg bisa menjerumuskan pada hal yg haram. Contoh nya seperti saling memandang, pria dewasa dan wanita dewasa itu punya hasrat yg terkadang memberontak ingin di salurkan. Kalau ada sepasang kekasih yg saling memandang, kemudian mereka saling terpana, dan kamu pasti tau kan apa yg terjadi selanjutnya? Percikan hasrat akan menyala, mungkin saat ini hanya sekedar pelukan yg kata nya tanda sayang, kemudian besok akan berciuman yg katanya tanda cinta, dan besok nya naik level. Dan tanpa ikatan yg halal, maka hal seperti itu pun tidak halal sekalipun kalian saling mencintai. Cinta kalian pun akan ternoda dengan hasrat itu, karena itulah pacaran itu tidak boleh dalam islam karena itu sangat mendekati hal hal yg tidak halal"


Nasha mengangguk mengerti, dan ia tersenyum lembut pada Asma. Saat ini mereka hanya berdua di halaman kediaman Ummi Mufar, sembari menunggu Afsana yg masih menemani Baby Al yg sedang bermain dengan nenek buyut nya.


"Kenapa?" tanya Asma karena Nasha hanya dian saja "Aku tidak bermaksud menggurui, Nasha..."


"Bukan itu, Tante..." jawab Nasha dengan cepat "Sebenarnya.... Saya masih sedikit sungkan berbicara dengan seorang Nyai..."


Gelak tawa Asma pecah seketika mendengar pengakuan konyol Nasha itu, ia menepuk pundak Nasha pelan "Kamu ini ada ada aja, Nyai itu cuma title yg di berikan pada wanita yg terlahir atau hidup di tempat seperti ini..." ujar Asma masih tertawa kecil "Tapi itu hanya sebuah title. Nasha, pada dasarnya kita semua sama" jawab Asma "Ngomong ngomong, baru kali ini aku ketemu orang yg ngaku kalau dia sungkan" lanjutnya sambil terkekeh geli, Nasha pun ikut tertawa geli karena ia baru menyadari hal itu. Kini ia hanya bisa menunduk malu.


Setelah itu Afsana pun datang, mereka bertiga pun kembali ke rumah Asma yg segera di susul oleh Azhar dan Faraz sementara Bilal masih bersama Abi nya.


Azhar dan Nasha berpamitan, dan Nasha meminta Azhar mengantarkan nya ke sebuah mall dimana Harry sudah menunggu nya di sana.


"Azhar..." seru Nasha pada Azhar yg saat ini asyik menyetir.


"Ya?" tanya Azhar dengan lembut, dalam hati Nasha berdecak, kenapa Azhar selalu bersikap lembut pada nya? Bahkan satu kata 'ya?' itu saja terdengar sangat lembut.


"Aku heran deh sama Kiai dan Nyai pesantren Al Hikmah itu, mereka di luar ekspektasi aku..." ujar nya mengingat kembali Bilal, Asma dan keluarga yg lain.


"Memang ekspektasi gimana tentang mereka?" tanya Azhar tanpa menoleh pada Nasha sedikitpun, sekarang ia menjadi was was saat berdua saja dengan Nasha seperti ini. Azhar teringat kata Ustadz Bilal nya itu, godaan setan itu halus, tidak akan terasa apa lagi sadar kalau sedang di goda.


"Aku fikir Kiai itu begini..." Azhar melirik sekilas saat Nasha duduk tegap dengan pandangan tajam lurus ke depan, membuat Azhar tertawa geli "Terus kalau Nyai, aku fikir begini..." kini Nasha menundukkan kepala nya dengan tangan yg di lipat rapi di atas lutut. Azhar kembali tertawa.


"Ternyata engga, mereka santai, bisa bercanda gurau juga, saling menggoda, bahkan Tante Zahra ketus sama suami nya yg seorang Kiai" tutur Nasha dan ia meringis kemudian, mengingat kembali Nyai yg ia fikir anggun, kalem, ternyata lucu, bar bar, apa lagi saat tertawa tadi ketiak Nasha mengaku sungkan pada nya.


"Nasha, Nyai dan Kiai itu hanya title. Pada dasarnya mereka sama seperti kita, yg akan terlihat membedakan ilmu dan adab" jawab Azhar "Mereka berilmu dan beradab, mereka tahu bagaimana adab nya menjadi ibu rumah tangga, menjadi kepala rumah tangga, menjadi teman, tetangga atau bahkan pebisnis. Mereka bisa menempati kan diri dan membawa diri mereka sesuai dengan tempat nya. Ya contoh nya saat Om Bilal bersama keluarga nya, ya dia akan menjadi ayah atau kakek seperti ayah dan kakek yg lain nya, saat dia bersama istrinya, ya dia akan seperti seorang suami pada umum nya, menggoda istrinya, bercanda atau sebagai nya. begitu juga dengan Tante Zahra, Faraz dan yg lainnya. Ya saat mereka menjadi guru, mereka akan beradab sebagai seorang guru dan begitu seterusnya" tutur Azhar dengan sangat hati hati, berharap Nasha mengerti apa maksudnya dan benar saja, Nasha mengangguk mengerti sambil tersenyum lebar.


"Pantas mereka terlihat asyik ya..." ujar nya kemudian.


"Iya, karena mereka tahu ilmu nya menjadi suami, istri, anak, menantu dan yaaa begitulah mereka" jawab Azhar.


"Kalau kita, bisa engga rumah engga rumah tangga kita seperti mereka nanti?"


Azhar tercengang mendengar pertanyaan Nasha itu, namun kemudian ia tertawa geli "Insya Allah, Nasha" jawab Azhar dan kini ia ia telah sampai di mall yg di maksud Nasha.


Di sana sudah ada Harry yg menunggu nya, cowok remaja itu terlihat tampan dengan kaos polo dan celana jeans selutut nya yg di padukan dengan sandal jepit hitam. Tampak sangat santai namun tetap terlihat mempesona.


Dan melihat Harry, entah kenapa perasaan Azhar menjadi sedikit cemburu apa lagi mengingat nama Nasha yg sangat romantis di ponsel Harry. Dan jangan lupakan bahwa mereka tak ada hubungan darah sama sekali, dimana hal hal yg lain bisa saja terjadi.


"Kok malah melamun?" tanya Nasha sambil melambaikan tangan nya di depan wajah Azhar yg memang melamun.


"Engga, engga apa apa. Kalau gitu aku langsung pulang ya"


"Iya..." jawab Nasha sambil tersenyum manis kemudian ia pun turun dari mobil Azhar.


"Kok aku engga di ajak ya? Apa Nasha memang mau berdua aja sama Harry? Tapi engga mungkin, Nasha jelas jelas cinta nya sama aku" Hati Azhar di buat tak karuan oleh nya. Nasha melambaikan tangan pada Azhar sebelum Azhar pergi, Azhar pun balas melambaikan tangan dan ia segera pergi.


"Kenapa Azhar engga di ajak, Kak?" tanya Harry kemudian.


"Dia itu anak rumahan, cuma keluar rumah kalau ada perlu nya aja. Dan dia engga melakukan sesuatu yg engga ada manfaat nya seperti keluyuran di mall"


"Wah, satu dari seribu tuh Azhar. Jarang lho ada cowok rumahan begitu"


▫️▫️▫️


Tbc...