True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 104



Persidangan selanjutnya, jaksa penuntut semakin menyudutkan Nasha apa lagi tanpa mereka ketahui ternyata Ramos sudah sadar kan diri dan memberikan kesaksian yg juga menyalahkan dan memberatkan Nasha.


Hakim meminta Nasha mengakui perbuatan nya karena itu bisa meringankan hukuman Nasha.


Nasha menatap pengacara nya dan menggeleng, memberi isyrat ia tidak mau mengakui nya. Azhar pun memberikan isyarat yg sama, ia menatap sang pengacara dan ia juga menggeleng kan kepala. Sebelum nya Azhar memang sudah mengatakan, ia lebih ikhlas istrinya di hukum untuk memperjuangkan hak dan kebenaran nya dari pada terbebas dari hukum dengan menyerah yg batil.


"Yang Mulia..." seru Bramasta lantang "Tersangka telah merugikan korban dan keluarga korban, bahkan korban hampir saja kehilangan nyawa nya dan sekarang tersangka tidak mau mengakui perbuatan nya itu. Yang Mulia, tersangka telah mempersulit jalan nya persidangan dan membuang buang waktu sedangkan bukti dan saksi sudah berkata yg sebenarnya..."


"Yang Mulia..." seru Pak Sriwijaya "Klien saya tidak akan pernah mengakui hal itu karena itu memang bukanlah kesalahan nya, Dan..." ucapan Pak Sriwijaya teropotong saat salah satu tim nya tiba tiba datang dan membisikan sesuatu yg membuat Pak Sriwijaya tercengang.


"Yang Mulia, saya memiliki saksi dan bukti baru yg akan membebaskan klien saya dari semua dakwaan yg tidak benar pada nya. Yg Mulia, jika anda izinkan, saya ingin menghadirkan saksi dan bukti itu..."


Mendengar pernyataan sang pengacara, semua orang terdiam terutama Nasha dan Azhar. Mereka menatap sang pengacara dengan bingung karena sebelum nya tidak ada saksi maupun bukti yg di bicarakan oleh tim pengacara Nasha.


Nasha menoleh dan menatap Azhar penuh tanda tanya, Azhar menggeleng tanda ia juga tak tahu. Sementara semua pengunjung yg juga keluarga Nasha hanya bisa terdiam dan menunggu bukti dan saksi yg di maksud. Ruben yg juga menghadiri persidangan ia tampak bingung.


Hingga Bagas dan istri juga putri nya memasuki ruang sidang, Ruben terbelalak kaget melihat hal itu.


Sementara Suster Marina hanya bisa menunduk dalam dia ia menggenggam tangan suami nya dan anak nya dengan erat.


"Istri saya akan bersaksi kembali dan membawa bukti nya.." seru Bagas pada Pak Sriwijaya. Bu Anjana yg melihat kedatangan bagas dan keluarga nya tak bisa membendung air mata haru nya, karena usaha nya tidak sia sia.


Ummi Rifa yg ada di samping Bu Anjana pun juga tampak senang namun juga tegang.


"Mereka akan mengakui yg sebenernya" seru Bu Anjana.


"Bagaiamana bisa?" tanya Ummi Rifa.


"Doa kami semua terkabul, Bu"


Sementara Azhar dan Nasha hanya bisa menatap bingung Suster Marina yg kini datang bersama suami dan anak nya. Mereka semakin merasa gugup namun mereka juga berharap ini adalah jawaban dari doa doa mereka.


Bagas menyerahkan sebuah tentengan pada Pak Sriwijaya dan Pak Sriwijaya pun memeriksa nya. Ia mengeluarkan isi dalam tentengan itu dan memperlihatkan nya pada Nasha yg langsung membuat Nasha terkejut bahkan sampai berdiri dari kursi nya.


"Nasha, apakah ini milik mu?" tanya pak Sriwijaya.


"Ya, itu milik ku..." seru Nasha tegas.


"Apakah baju ini yg kau kenakan di saat Ramos menculik mu?"


"Iya" Nasha menjawab dengan tegas.


"Karena ulah nya, aku tidak berbohong kan?" kini Nasha yg mengajukan pertanyaan itu.


"Yang Mulia, ini adalah bukti kedua yg hilang..." Pak Sriwijaya menyerahkan bukti itu pada hakim.


"Keberatan, Yang Mulia..." sela jaksa penuntut "Bisa saja itu bukti palsu yg memang di siapkan"


"Yang Mulia, izinkan saya memanggil saksi kunci kasus ini, Suster Marina..." seru Pak Sriwijaya dan hakim pun mempersilahkan nya.


Suster Marina kembali duduk di kursi saksi, kali ini ia lebih berekspresi walaupun itu adalah ekspresi ketakutan nya, bahkan ia juga menangis.


"Suster Marina, anda di sumpah sebelumnya untuk memberikan kesaksian yg sebenarnya benar nya. Tapi ada kejanggalan dalam kesaksian anda..." seru Pak Sriwijaya "Apakah anda berada dalam tekanan saat itu?"


Suster Marina melirik suami dan anak nya yg kini ada di kursi pengunjung, sang suami melemparkan senyum untuk memenangkan sekaligus memberi isyarat bahwa ia harus berkata yg sejujur nya


"Iya..." jawab Suster Marina kemudian "Saya berada dalam tekanan dari pihak rumah sakit, khususnya pemilik rumah sakit dan ayah korban"


Ruben begitu geram mendengar pengakuan suster itu, namun saat ini tentu ia tak bisa berkutik.


"Lalu, ceritakan apa yg sebenarnya terjadi..."


"Saat itu, saya akan meletakkan beberapa peralatan medis ke gudang. Namun saya mendengar teriakan dan tangisan seseorang wanita dari ruang isolasi, perlahan saya mendekati ruangan itu dan saya melihat Dr. Ramos yg terkapar di lantai, sementara Nasha saat itu ada di samping nya dan ia berusaha menekan luka di leher Dr. Ramos. Dia tampak sangat shock dan ketakutan, dia juga meminta pertolongan pada Saya, untuk menolong Ramos. Tapi... Tapi saya juga shock dan ketakutan melihat kejadian itu, karena itulah saya berlari dan menghubungi polisi. Setelah itu, saya teringat dengan Dr. Ramos dan saya menghubungi Dr. Ruben, Dr. Ruben memerintahkan saya untuk segera memanggil Dokter dan menangani Ramos sementara saat itu ia masih menuju rumah sakit. Dr. Ruben bertanya apa yg terjadi dan saya berkata yg sejujur nya, kemudian Dr. Ruben meminta saya kembali mengunci Nasha di ruang isolasi sampai dia datang"


Pak Niranjan, Abi Fadlan terutama Azhar langsung menatap penuh amarah pada Dr. Ruben setelah mendengar pengakuan yg sebenarnya nya dari Suster Marina. Sementara Nasha yg akhir mendapatkan pengakuan yg sejujur nya tak bisa menahan air mata haru nya, sama sekali tak menyangka semua tabir kebenaran ini akan terbuka dengan lebar dan jelas untuk nya.


"Lalu, benarkah pakaian ini milik Nasha?" tanya Pak Sriwijaya kemudian.


"Benar, karena saya sendiri yg menggantikan pakaian nya atas perintah dari Dr.Ruben..." jawaba nya dengan suara yg bergetar.


"Terima kasih, Suster Marina..." seru Pak Sriwijaya dan mempersilahkan Suster Marina untuk kembali ke suaminya. Sang suami menatap Suster Marina dengan bangga, ia bahkan mengusap kepala nya dengan sayang.


"Ini memang yg seharusnya kamu lakukan sejak dulu..." seru sang suami sementara istri nya hanya bisa terdiam dan mengangguk.


"Yang Mulia..." seru Bramasta kemudian "Jika pun keterangan suster Marina benar, tapi tindakan tersangka tetaplah salah karena ia mengancam nyawa Dr. Ramos..."


"Keberatan, Yang Mulia..." sela Pak Sriwijaya dengan lantang


"Yang Mulia, jika seorang wanita yg membela diri dan kehormatan nya di anggap sebagai pelaku kejahatan, maka para penjahat seksual di luar sana bisa saja memutar balikan fakta seperti yg terjadi dalam kasus Nasha ini. Dan jika klien saya di hukum karena membela diri, maka akan ada banyak wanita di luar sana yg akan takut membela diri karena mereka akan selalu berada di posisi yg salah. Mereka akan kesulitan untuk memilih, di hukum karena membela kehormatan nya atau bebas tapi tanpa kehormatan nya. Lalu dimana keadilan bagi wanita wanita itu, Yang Mulia? "