True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 129



Nasha memikirkan apa yg Mera katakan pada nya, tentang kedua orang tua kandung nya. Bahkan sampai detik ini Nasha masih tak bisa memanggil mereka dengan sebutan Mama Papa. Bukan nya Nasha belum bisa memaafkan mereka, tapi hati nya masih memiliki sedikit rasa sakit dan kecewa pada mereka.


Selama sehari semalam Nasha tinggal bersama mereka, justru membuat Nasha semakin mengingat masa kecil nya dan status diri nya sebagai anak yg di buang.


Mereka hidup begitu mewah, di rumah megah dan semua kebutuhan mereka sangat mudah terpenuhi.


Sementara Nasha? Masa kecil nya ia habiskan di panti asuhan, untuk memiliki baju baru saja kadang setahun sekali. Kebanyakan barang barang ia miliki adalah barang bekas, sumbangan, bahkan ia makan juga sumbangan, dia hidup dalam belas kasih orang lain.


Dan saat Nasha di adopsi, bukan keluarga yg penuh kasih yg ia dapatkan. Melainkan sebuah keluarga yg otoriter, yg memperlakukan Nasha bak boneka dan selalu mengungkit identitas Nasha yg anak adopsi.


Saat ini, Nasha sedang menunggu antrian untuk memeriksa kandungan nya, tentu dengan di temani suami tercinta nya. Nasha menyenderkan kepala nya di pundak sang suami.


"Pa..." panggil Nasha lirih.


"Ada apa?" tanya Azhar sambil membelai kepala istri nya.


"Jika aku sulit memaafkan kesalahan orang tua yg sudah membuang ku, apakah aku akan berdosa?" tanya Nasha kemudian.


"Jika pun tidak berdosa, maka akan jauh lebih baik jika kamu memaafkan mereka. Memaafkan itu hal yg sangat mulia, dengan memaafkan kamu akan menghilangkan beban mu, melapangkan dada mu, menenangkan jiwa mu" tutur Azhar lembut.


"Aku tahu itu, tapi masalah nya rasa nya aku sakit hati setiap kali mengingat apa yg sudah mereka lakukan pada ku. Sementara kamu lihat sendiri mereka hidup mewah, bergelimang harta" tukas Nasha dan ia tampak kesal.


"Sayang..." Azhar berkata dengan begitu lembut "Aku tahu, kesalahan seseorang tidak akan pernah bisa kita lupakan sampai mati, apa lagi jika kesalahan itu berdampak pada kehidupan kita. Tapi Kalau kamu ingin memaafkan seseorang, maka cobalah untuk tidak memikirkan kesalahan nya. Mungkin di masa lalu kita menderita karena itu, tapi kalau kita masih menyimpan benci, maka di masa depan pun kita akan tetap menderita karena hati kita tidak tenang. Hmmm "


Nasha tersenyum samar dan ia mengecup pipi suami nya itu dengan mesra.


"Tidak salah aku memilih Papa untuk anak anak ku" bisik Nasha yg membuat Azhar terkekeh.


"Sungguh?" tanya Azhar "Papa nya anak anak tidak bergelimang harta lho" tukas nya.


"Aku tahu, tapi entah kenapa aku merasa hidup ku sangat indah, tenang dan nyaman semenjak menikah dengan dan tinggal bersama Abi dan Ummi. Semua yg aku butuhkan aku menemukan nya di rumah" papar Nasha.


"Jika begitu, lalu kenapa masih memikirkan orang tua mu yg bergelimang harta? Bukan kah hidup nyaman dan tenang lebih penting dari pada hidup mewah?"


"jauh lebih penting" jawab Nasha tegas.


Tak lama kemudian nama Nasha di panggil dan mereka pun segera masuk ke ruang chek up.


Dokter kandungan Nasha menyapa Nasha dan Azhar dengan ramah, menanyakan keadaan Nasha selama masa masa hamil muda ini.


"Mual, lemas, selera makan hilang tapi kadang sangat ingin makan sesuatu dan itu seperti membuat ku tidak tahan untuk segera memakan nya dan juga sering lapar" jawab Nasha yg membuat dokter itu terkekeh.


"Saya mengerti, Bu Nasha. Itu adalah hal biasa yg akan di alami ibu di masa awal kehamilan. Nanti juga mual nya akan hilang, tidak akan ada lagi tidak selera makan saat mual nya sudah berhenti dan yg ada ibu akan sering merasa lapar. Tapi mohon di jaga asupan gizi nya ya, Bu. Dan juga aktifitas nya" tukas dokter itu sambil mempersilahkan Nasha untuk berbaring di ranjang karena akan di lakukan USG.


Dokter mengoleskan sebuah gel ke permukaan perut Nasha dan kemudian mulai melakukan USG.


"Janin nya berkembang sangat baik" ujar nya kemudian.


"Masya Allah" gumam Azhar takjub, satu titik kecil itu yg kemudian akan tumbuh menjadi seorang anak nanti nya. Dari gumpalan darah, kemudian membentuk gumpalan daging, di tiupkan ruh oleh sang pencipta nya, kemudian anggota tubuh nya akan terbentuk satu persatu. Dan saat usia kandungan nya 9 bulan, seorang bayi mungil yg akan lahir.


Membayangkan itu sungguh membuat Azhar takjub dan merasa tidak sabar untuk menanti kehadiran sang buah.


Azhar mengecup tangan Nasha dengan mesra, sebagai ungkapan cinta dan terima kasih karena Nasha kini tengah mengandung buah hati mereka.


"Terima kasih, Sayang. Kamu menjaga nya dengan sangat baik" bisik Azhar penuh haru.


"Kita, yg menjaga nya kita dan kita akan selalu menjaga nya sampai dia tumbuh dewasa nanti" ujar Nasha.


...


Mera datang kerumah Azhar dengan membawa dua boneka beruang yg berwarna kuning dan biru, dan tentu nya boneka itu masih baru.


Dan karena Nasha masih pergi untuk memeriksakan kandungan nya, Mera pun dengan setia menunggu di sana, di depan rumah Azhar Karena seperti biasa rumah Azhar kosong saat siang hari.


Tak lama kemudian Nasha dan Azhar datang dan kehadiran Mera membuat mereka sedikit mereka sedikit terkejut. Kini Mera memakai jeans biru dan itu terlihat longgar, di padukan dengan kaos polos dan outer panjang.


"tumben, ada apa?" tanya Nasha sambil membuka pintu dengan kunci yg ia bawa.


"Aku kesini mau itu....." ucap Mera cengengesan.


"Mau itu mau apa?" tanya Nasha sambil melenggang masuk ke dalam rumah dan segera di ikuti Azhar.


"Mungkin cuma main Sayang" sambung Azhar.


"Mau ngasih sesuatu...." ujar Mera kemudian ia pergi ke mobil nya dan mengambil dua boneka beruang nya.


"Ini, tadi aku belikan. Supaya kita sama sama punya..." jawab Mera lirih dan sebenar nya Nasha merasa terharu dengan hal itu namun ia tetap berlagak cuek.


"Aku sudah dewasa, aku tidak main boneka" ucap Nasha.


"Aku tahu, aku juga sudah dewasa dan aku tidak main boneka. Cuma kan boneka biasa nya jadi teman tidur, apa lagi boneka nya besar, jadi bisa di peluk" tutur Mera.


"Aku sudah punya teman tidur, bukan cuma bisa di peluk tapi juga bisa memeluk" tukas Nasha sambil menunjuk Azhar dengan dagu nya, membuat Mera mendelik.


"Ya sudah, aku bawa pulang saja" tukas Mera akhir nya dengan kesal, Mera bahkan sudah hendak pergi dari sana namun kemudian Nasha berkata


"Jangan di bawa pulang lagi, mungkin keponakan perempuan dan akan suka boneka" ucap nya yg tentu saja membuat Mera merasa senang. Azhar pun juga terlihat senang dan tersenyum melihat kedua saudari itu.


Nasha mengambil hasil foto USG kandungan nya dari tas nya dan kemudian memberikan nya pada Mera.


"Mungkin Mama Papa mu ingin melihat perkembangan cucu nya" kata Nasha dan tentu Mera langsung mengambil dengan antusias, ia melihat foto hasil USG kandungan Nasha dan kemudian memeluk Nasha.


"Mereka pasti sangat senang, terima kasih. Ini cucu pertama mereka"