
Nasha masih uring uringan karena memikirkan Elin, namun Azhar dengan sabar menghibur nya dan mendengarkan curhatan istri tercinta nya itu.
"Padahal aku kan engga salah, kenapa harus aku yg di benci? Kalau di fikir fikir Elin tuh menyebalkan juga" untuk yg kesekian kali nya, kata itu keluar dari mulut sang istri dan Azhar tetap dan selalu menanggapi nya dengan tenang.
"Elin sedang terbakar api cemburu, jadi tentu saja dia belum bisa berfikir jernih. Kita doakan saja semoga Elin bisa move on dari Dilan dan mau berteman lagi dengan mu" ucap Azhar lembut.
"Iya, tapi engga harus teriak teriak juga kan? Malu di liatin orang" gerutu nya lagi.
"Dia sedang di kuasai amarah, Sayang. Aku yakin, akan ada saat nya nanti Elin akan menyadari kalau kamu engga salah dan kamu adalah sahabat terbaik nya" Nasha masih cemberut, namun ia mengharapkan hal yg sama.
"Lebih baik sekarang kita belajar menulis ya" seru nya lagi dan ia segera mengambil kertas dan pena. Dari pada membicarakan masalah Elin yg tidak ada habis nya, fikir nya.
Nasha tiduran tengkurap di atas ranjang, ia mengambil kertas dan pena yg Azhar serahkan. Kemudian Nasha menuliskan huruf hijaiyah satu persatu sesuai dengan yg di contohkan Azhar.
"Pintar nya..." seru Azhar sembari mengusap kepala Nasha dengan sayang "Habis itu belajar menulis kalimat ya"
"Gampang" jawab Nasha dengan sombong nya membuat Azhar terkekeh.
Kemudian Azhar menyuruh Nasha menuliskan kalimat bismillah, dan benar saja, istri iya itu bisa melakukan nya.
"Ini mah kecil" ucap Nasha lagi sambil tersenyum lebar, Azhar kembali terkekeh.
"Baiklah, sekarang coba tuliskan doa sebelum tidur"
Nasha mengambil ponsel nya, mencari doa sebelum tidur di Internet dan kemudian ia menulis nya di kertas. Setelah selesai, Azhar memeriksa nya "Hem, istri ku memang cerdas" ia memuji dengan tulus "Karena sudah bisa menulis, sekarang baca ini" Azhar menyerahkan sebuah kertas dengan tulisan bahasa Arab dan Nasha hanya terdiam memandangi kertas itu karena ia tak bisa membaca nya.
"Engga bisa baca, engga ada harkat nya. Itu alif nya di baca A apa I. Fathah apa kasroh? Atau jangan jangan sukun..." ia merengek dengan manja dan itu membuat Azhar tertawa.
"Sayang, Alif kalau ada hamzah di atas nya sudah pasti di baca A atau U dan engga ada Alif sukun di depan"
"Oke oke, jadi apa itu baca nya?"
"أنت توأم روحي ، بدونك أنا مثل الأرض بدون السماء"
"Artinya?" tanya Nasha sembari memangku dagu nya dengan tangan nya, ia menatap Azhar dengan mata berbinar.
"Kamu belahan jiwa ku, tanpa mu aku bagaikan bumi tanpa langit" jawab Azhar sembari menyunggingkan senyum lebar nya. Sedangkan Nasha langsung menubruk tubuh Azhar dengan tubuhnya setelah mendengar kata romantis itu. Kedua nya terjatuh ke ranjang.
"Gampang kan?" tanya Azhar kemudian dan Nasha menggeleng. Ia masih berada di atas tubuh Azhar yg terlentang di tengah ranjang "Gampang kok, kalau kamu mau bisa baca kitab yg engga ada harakat nya, tinggal pelajari aja nahwu dan shorrof"
"Aku pernah mendengar kata itu sewaktu kita ke pesantren" ujar Nasha.
"Nahwu dan shorrof itu seperti sepasang kekasih yg saling melengkapi" jawab Azhar dan Nasha mengangguk mengerti.
"Kemudian kitab kuning itu seperti pernikahan yg tidak akan bisa di capai jika tidak ada keduanya?" tanya Nasha dan Azhar langsung tertawa "Kenapa malah ketawa?" tanya Nasha cemberut.
"Karena kamu bilang kitab kuning itu seperti pernikahan"
"Ya karena kamu bilang nahwu dan shorrof itu sepasang kekasih, apa lagi yg di harapkan sepasang kekasih selain penyatuan cinta dalam pernikahan"
"Ya ya... Itu masuk juga" ucap Azhar sembari menyelipkan anak rambut ke telinga Nasha "Aku suka rambut panjang mu, Sayang. Jangan di potong ya" lirih nya dan Nasha mengangguk. Ia kemudian meletakkan kepala nya dada Azhar dan Azhar membelai rambut sang istri.
"Aku sangat tidak sempurna, Azhar. Menjadi pendamping mu membuat ku merasa seperti rakyat jelata yg berdiri di samping pangeran"
"Bukankah itu kisah cinta yg sangat mengharukan? Seperti Cinderella?" goda Azhar yg membuat Nasha tersenyum, Azhar membelai pipi sang istri dengan mesra "Seperti nahwu dan shorrof, seperti itu lah kita, saling melengkapi, membuat jalan yg sempurna dalam mengarungi pernikahan kita"
.........
Anjana dan suaminya pergi ke mall tempat ia bertemu seorang pria yg mengenakan liotin putri nya karena Anjana terus terusan meyakinkan suami nya kalau itu liontin putri nya.
Disana mereka memeriksa cctv.
"Itu dia..." seru Anjana saat ia melihat seorang pria yg sedang membantu iya memungut barang barang nya.
"Tapi cuma keliatan dari belakang, Sayang"
"Coba cari di rekaman yg lain" pinta Anjana memaksa. Sang suami pun mau tak mau meminta petugas keaman itu memeriksa semua rekaman cctv di hari itu namun mereka tidak mendapatkan apapun.
"Sudahlah, mungkin kamu salah lihat" ucap nya yg membuat Anjana kembali bersedih.
"Aku yakin sekali itu milik putri ku, perasaan ku juga mengatakan hal yg sama" lirih nya dan seketika air matanya menetes begitu saja.
"Aku mohon, Anjana! Berhenti berharap, itu hanya akan menyakiti mu" sang suami berkata dengan nada yg meninggi, membuat Anjana menatap nya dengan kesal dan ia segera bergegas pergi.