
Mera memperkenalkan Harry pada ayahnya, begitu juga dengan Azhar dan Nasha. Sementara Anjana sejak tadi memperhatikan Nasha yg terus di rangkul oleh Azhar, Anjana merasa tidak asing dengan Azhar maupun Nasha. Namun setelah berusaha mencoba mengingat mungkinkah mereka pernah bertemu, Anjana tak berhasil mengingat nya.
"Jadi ini teman kamu yg sangat baik itu? Ya engga pernah dekat sama cewek padahal semua cewek tergila gila sama dia?" tanya Niranjan yg membuat Mera langsung merengek malu.
"Ish, Papa..." rengek nya yg membuat Nasha bergidik ngeri.
"Udah centil, manja, lebay lagi. Ih, semoga Harry jauh jauh dari gadis macam ini" Hati Nasha berteriak tak suka.
"Kamu benar benar tidak menyukai anak ku, ya?" tanya Anjana setengah berbisik pada Nasha, Anjana yg sejak tadi memperhatikan Nasha bisa merasakan tatapan tak suka Nasha pada Mera.
"Engga" jelas, singkat, padat. Jawaban Nasha itu berhasil membuat Anjana meringis.
"Kenapa? Mera gadis yg baik kok sebenarnya" ucap Anjana lagi.
"Dia centil, manja, lebay. Engga cocok sama adikku yg cool" jawab Nasha yg lagi lagi membuat Anjana meringis.
"Sayang, engga baik berbicara seperti itu" bisik Azhar yg mendengar ucapan terakhir Nasha.
"Baiklah, acara nya akan di mulai" seru Anjana kemudian, karena seperti nya untuk saat ini ia tak bisa merayu Nasha untuk menyukai Mera. Dan jika Nasha berani berbicara hal seperti itu pada ibu kandung Mera, maka Anjana berfikir sampai kapan pun Nasha takkan menyukai Mera.
Kini acara di mulai, dengan sambutan yg di sampaikan langsung oleh Niranjan. Pria paruh baya itu menyapa semua tamu yg datang dengan ramah dan mengucapkan terimakasih atas kedatangan nya.
"Hari ini, tanggal 17 November adalah hari yg sangat spesial bagi kami. Karena pada 17 November, kami di karunia seorang putri yg cantik jelita, Niranjana Almera. Dan seperti tahun tahun tahun sebelumnya, kami selalu merayakan ulang tahun kedua putri ku bersamaan. Karena pada 7 November, 20 tahun yg lalu, kami di karunia permata pertama kami, putri sulung kami, cinta pertama kami, Niranjana Alezhea"
Seketika ,di layar proyektor menampilkan foto foto dua bayi yg baru saja lahir. Semua mata tertuju pada layar proyektor itu. Di bawah foto itu tertera nama Niranjana Alezhea, 07 Nov. Dan Niranjana Almera, 17 Nov.
"Mereka berdua adalah putri kami, tuan putri ku dan Anjana. Lambang cinta ku dan Anjana. Dan saat ini, pesta ulang tahun ini untuk kedua putri ku. Walaupun putri sulung ku kini sudah berada di surga sana, tapi aku ingin mengucapkan, selamat ulang tahun, Sayang" Niranjan berkata dengan suara lirih di akhir kalimat, bahkan nafas nya terasa tercekat di tenggorokan nya, mengingat sang buah hati kini tak ada lagi bersama nya.
Kini Mera menyerahkan mic ke pada ibu nya yg ternyata sudah berderai air mata, sang ibu menggeleng. Memberi tahu ia tak bisa bicara saat ini, namun Mera memaksa "Sepatah dua patah buat Kak Niranjana, Ma" bujuk Mera yg akhir nya dengan tangan gemetar Anjana mengambil mic itu.
"Aku..." suara Anjana bergetar, air mata tak mau berhenti mengalir sekalipun berulang kali ia menghapus nya.
Sementara Nasha yg kini duduk di sebuah meja, tak bisa berhenti memperhatikan Anjana. Dan saat mendengar suara bergetar Anjana, hati Nasha seolah ikut bergetar.
"Selamat ulang tahun, My first love" akhir nya Anjana berhasil mengendalikan jiwa emosional nya, kini ia bisa menampilkan senyum walaupun air mata masih setia mengalir di pipi nya "Maafin Mama karena Mama engga bisa jadi Mama yg baik, mungkin karena itulah Tuhan mengambil mu, karena Tuhan sendiri yg akan menjaga mu"
Nasha dan tamu yg lain mendengarkan dengan seksama, sementara perasaan Nasha semakin tidak karuan. Jantung nya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, mata nya kian rabun dan memanas dan ia tak tahu kenapa.
"Setiap detik dalam hidup Mama, Mama cuma bisa berharap bisa mengulang waktu dan memiliki mu di sisi Mama. Setiap detik dalam hidup Mama, Mama selalu berdoa agar Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada Mama. Setiap detik dalam hidup Mama, Mama... Hiks..." Anjana sudah tak mampu lagi menahan isak tangis nya, air mata semakin deras, suara nya semakin bergetar, namun ia tetap berusaha menyunggingkan senyum "Setiap detik dalam hidup Mama, Mama berharap bisa bertemu dengan mu, memeluk mu, menyuapi mu, menemani mu bermain, seperti seorang ibu yg terus menghabiskan waktu bersama buah hati nya" Anjana menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan, kini ia menampilkan senyum yg jauh lebih lebar dan ia menghapus air mata di pipi nya.
"Kamu nangis?" tanya Azhar heran saat melihat air mata mengalir bebas di pipi Nasha.
"Hah?" pekik Nasha dan ia memegang pipi nya yg sudah sangat basah, Nasha bahkan tidak sadar kapan ia menangis dan kenapa. Nasha kembali menyentuh air mata di pipi nya kemudian memperhatikan jemari nya yg basah karena air mata, Nasha hanya ingin memastikan apakah itu benar benar air mata? Dan kenapa ia berderai air mata? Nasha tidak tahu, hanya saja hati nya seperti mencolos saat mendengar setiap kata yg di ucapkan Anjana dengan suara bergetar dan air mata yg mengalir deras.
"Kenapa, Sayang? Kamu sakit, hm? Mau pulang saja?" tanya Azhar tetap lembut namun tersimpan ke khawatiran dalam suara nya itu.
"Aku kelilipan mungkin, atau mungkin karena kena cahaya lampu dan mungkin juga karena aku engga berkedip dari tadi" tutur Nasha dan ia sendiri sangat tidak yakin dengan apa yg keluar dari mulut nya sendiri.
"Sebaiknya habis ini kita pulang, ya" pinta Azhar yg mulai khawatir dengan istrinya. Karena Azhar yakin Nasha tidak mungkin kelilipan atau alasan yg lain, sementara Nasha hanya mengangguk sembari mengeluarkan tisu dari tas nya dan mengelap air mata nya. Azhar pun ikut mengusap pipi istrinya itu dengan lembut.
"Perayaan ini, tanda cinta ku dan suami ku untuk putri Putri ku. Selamat menikmati, para tamu undangan"