
Nasha merapikan baju Azhar dan menarik keluar liontin yg selalu Azhar masukan kedalam baju nya.
"Kenapa di keluarin?" tanya Azhar dan kembali memasukan liontin itu kedalam baju nya.
"Ini kan inisial N, biar orang orang tahu kalau Azhar itu punya Nasha" jawab Nasha kembali menarik keluar liontin itu.
"Kamu ini, posesif nya melebihi Om Bilal"
"Memang nya Om Bilal posesif?"
"Oh, jangan tanya, Sayang. Bahkan santri yg tidak sengaja menatap Tante Zahra akan langsung mendapatkan teguran tegas dari nya"
Nasha langsung tertawa mendengar penuturan Azhar, memang beberapa kali ia melihat tingkah lucu pasutri lansi itu.
Setelah berpamitan dengan Abi Ummi nya, Azhar dan Nasha pun langsung bergegas munuju restaurant.
Selama dalam perjalanan, Nasha terus mengingatkan Azhar agar menjaga jarak dari Hanin. Membuat Azhar terkekeh geli padahal ia tidak merasa dekat dengan Hanin namun Nasha masih tak percaya.
Sesampai nya di restaurant, Nasha menggandeng tangan Azhar dan mereka menuju meja yg sudah di pesan oleh Pak Niranjan.
"Maaf kami terlambat" ucap Azhar karena ia melihat keluarga Pak Niranjan sudah berkumpul disana.
"Tidak sama sekali, kami juga baru saja sampai" jawab Pak Niranjan.
"Hai, Mera... Kamu ikut juga? Memang nya sudah mengerjakan PR mu?" tanya Nasha yg membuat Mera langsung melotot kesal pada nya.
"Nasha, jangan mengganggu Mera" tegur Azhar sembari menarikan kursi untuk Nasha dan mempersilahkan Nasha duduk. Nasha duduk berhadapan dengan Mera, sementara Azhar duduk berhadapan dengan Hanin.
"Tau tuh, kasian banget Harry punya kakak nyebelin" gerutu Mera yg justru langsung mendapatkan pelototan dari ibu nya dan teguran dari Hanin.
"Engga boleh seperti itu, Dek. Nasha itu lebih tua dari kamu jadi kamu harus menghormati nya ya"
"Bener apa kata kakak mu tuh, justru aku yg kasian sama Hanin, kakak dan adik kok kayak bumi dan langit"
"Begini saja...." seru Azhar menengahi, karena seperti nya adu mulut antara Nasha dan Mera tidak akan pernah berakhir "Karena Harry dan Hanin sama sama baik, biar mereka jadi kakak adik. Nah, Karena Nasha dan Mera sama sama menyebalkan, kalian saja yg jadi kakak adik. Cocok kan?"
"Kasian kami nya, Azhar" sela pak Niranjan yg ikut ikutan "Bisa bisa kami berdua terkena darah tinggi kalau harus menghadapi Nasha dan Mera yg seperti tikus dan kucing" lanjut nya yg membuat Azhar tertawa.
"Sudah sudah, makanan nya sudah datang" seru Nyonya Anjana, ia bahkan tak menyangka suami nya ikut ikutan perdebatan anak muda itu.
Pelayan datang dan menyajikan beberapa menu makanan di meja. Pak Niranjan dan Azhar sesekali membicarakan bisnis mereka, sedangkan Nyonya Anjana dan Hanin sibuk membicarakan menu yg mereka pesan yg kata nya sangat lezat. Sedangkan Mera dan Nasha masih sibuk saling menyindir..
"Aku sangat berharap secepat nya bisa mengembalikan modal yg Pak Niranjan berikan" ujar Azhar.
Sementara Nasha juga memotong steak nya dan tanpa sengaja ia malah menjatuhkan pisau nya yg tentu saja menjadi bahan ledekan Mera.
"Potong steak saja tidak bisa" ledek Mera.
"Dek, itu pisau nya jatuh, bukan engga bisa" tegur Hanin yg geram juga dengan tingkah tidak sopan Mera. Sementara Nasha hanya mendengus.
"Biar aku yg ambil yg, Sayang" ujar Azhar dan ia menunduk untuk mengambil pisau itu. Sementara Nyonya Anjana tanpa sengaja melihat liontin Azhar yg menggantung di leher nya.
"Azhar..." seru Nyonya Anjana dan ia segera bangkit dari kursi nya, menghampiri Azhar dan bahkan memegang liontin yg menggantung di leher Azhar.
"Ada apa?" tanya Azhar heran sembari menunduk dan memperhatikan lionton yg sudah di pegang Nyonya Anjana. Semua orang juga terlihat heran dengan tingkah Nyonya Anjana.
"Dari mana kamu mendapatkan liontin ini?" tanya Nyonya Anjana dengan suara bergetar, sementara Pak Niranjan yg mendengar kata liontin pun ikut berdiri dan melihat liontin yg menggantung di leher Azhar.
"Ini....."
"Aku yg memberikan nya" seru Nasha cepat sembari menyunggingkan senyum.
"Kamu? Benaran ini milik mu, Nasha? Itu ar...."
"Bukan punya ku" seru Nasha kemudian yg membuat Azhar mengernyit bingung karena jelas jelas kalung itu milik Nasha.
"Lalu dari mana kamu mendapatkan nya?" tanya Nyonya Anjana dan mata nya kembali berkaca kaca. Jantung nya berdebar hebat saat ini dan ia berharap bisa mendapatkan petunjuk tentang anak nya.
Sementara Hanin dan Mera ikut tegang, mereka berdua sudah mendengar tentang anak pertama kedua orang tua mereka dan liontin yg sebenar nya terbuat dari berlian langka itu.
"Seseorang membuang nya di tempat sampah, karena bentuk nya bagus dan berinisial seperti nama ku, aku mengambil nya" jawab Nasha lugas yg membuat Azhar semakin bingung, bertanya tanya bagaimana istri nya bisa berbohong dan kenapa harus berbohong.
"Tempat sampah?" tanya Nyonya Anajan tak percaya, karena liontin itu harga nya sangat mahal dan jika orang yg tak mengerti tentang berlian tentu saja akan menganggap itu hanya liontin biasa.
"Iya, mungkin karena sudah tidak berharga lagi karena itulah di buang" Jawab Nasha sedih, karena liontin melambangkan diri nya yg memang di buang begitu saja "Memang nya kenapa, Tante? Apa tante mengenal orang yg membuang liontin ini?" tanya Nasha dan ia kembali memotong steak itu kemudian memakan nya dengan tenang, lebih tepat nya berusaha tenang Karena ia tak ingin terlihat sedih sekarang mengingat ia adalah anak buangan.
Nyonya Anjana dan Pak Niranjan saling melempar tatapan. Harapan mereka kembali musnah begitu saja mendengar jawaban Nasha.
"Tidak, Nasha. Hanya saja liontin mu ini sebenar nya berlian yg cukup langka" jawab Pak Niranjan kemudian. Dan air mata Nasha tanpa sengaja langsung menetes saat ia menunduk untuk makan. Karena jauh dalam hati nya, Nasha juga mengharapkan bisa mendapatkan petunjuk tentang kedua orang tua nya. Namun ia juga enggan mengakui bahwa itu milik nya yg sudah ada saat ia di buang di panti asuhan. Ia enggan mengingat kembali bagaimana ia di buang.
Kemudian Nasha langsung menghapus air mata nya itu sebelum ada yg menyadari nya. ia mendongak dan menyunggingkan senyum tipis.
"Ini hanya liontin biasa, kalau memang berlian tentu kami sudah menjual nya atau kami akan mencari pemilik nya" ucap Nasha kemudian "Tapi bagaimana kalian tahu ini berlian?"
"Kami berbisnis berlian sudah puluhan tahun, Nasha. Turun temurun, jadi itu mudah saja bagi kami" jawan Nyonya Anjana dan ia kembali ke kursi nya dengan hati yg terasa kosong. Sementara Nasha hanya mengangguk mengerti dan melanjutkan makan nya.