True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 147



Nasha membelit tubuh kecil Habib dengan handuk setelah ia memandikan nya pagi ini, Nasha juga mengerikan rambut Habib dengan handuk yg lain.


"Mama..." kata Habib saat Nasha sibuk dengan aktifitas nya.


"Iya, Sayang..." jawab Nasha lembut.


"Mama, kata Ustadz Yahya, Habib itu anak yg tampan dan cerdas. Terus kata nya dia akan senang kalau misal nya Ibra sama Habib jadi saudara" tutur Habib dengan polos nya yg membuat Nasha meringis pelan.


"Benarkah?" tanya Nasha, karena ini bukan pertama kali nya Habib mengatakan demikian tentu pasti karena guru mengaji nya yg bernama Yahya itu. Sedangkan Ibra adalah putra nya yg dua tahun lebih tua dari Habib.


"Iya, Mam" Habib mengangguk dengan tatapan yg begitu serius "Ustadz Yahya sering bicara begitu"


"Kalau begitu, katakan sama Ustadz Yahya, kalau Ibra dan Habib itu memang Saudara seagama. Dan Mama akan senang kalau Ustadz Yahya juga jadi saudara Mama saja" kata Nasha sambil mencari pakaian untuk putra nya itu.


"Hari ini Habib mau Pakai baju warna apa?" tanya Nasha kemudian, ia selalu kebingungan mencarikan Habib pakaian saking banyak nya pakaian putra nya itu.


"Warna kuning" jawab Habib dengan girang, yg membuat Nasha menghela nafas berat karena putra nya ini suka sekali warna kuning.


"Kamu seperti bibi mu saja, suka warna kuning" kata Nasha kemudian menarik baju kokoh panjang warna kuning.


Nasha pun memakaikan baju tentu setelah memakaikan kaos dan celana pada putra nya itu. Setelah itu, Nasha menyisir rambut Habib dan kemudian mengambil kan peci nya.


"Nanti pakai kalau rambut Habib sudah tidak basah ya" ujar Nasha.


"Iya, Mama" jawab Habib dengan patuh.


Nasha pun bergegas mandi karena ia harus segera kerumah sakit, namun sebelum itu Nasha harus mengantar Habib ke pesantren Al Hikmah. Karena di sana lah Habib ikut sekolah tahfidz semenjak satu tahun yg lalu.


.........


Nasha dan Habib kini sudah sampai di pesantren Al Hikmah. Nasha langsung mengantarkan putra nya ke kelas nya, biasa nya sekolah akan berlangsung selama setengah hari.


Di sana, Nasha bertemu dengan yg nama nya Ustadz Yahya, guru mengaji anak anak yg ingin menjadi Hafidz.


"Assalamualaikum, Mama nya Habib" sama Ustadz Yahya namun tentu tanpa menatap Nasha sedikitpun.


"Waalaikum salam, Ustadz. Saya titip Habib ya, dan maaf, saya buru buru" kata Nasha berusaha menghindari Ustadz yg semenjak 6 bulan yg lalu ini seperti menaruh perhatian pada Nasha.


"Oh, ya, silahkan" kata nya lembut.


"Sayang..." Nasha berlutut di depan anak nya "Mama bekerja nya dulu ya, nanti siang kakek akan menjemput Habib. Terus nanti sore kita ziarah ke makam Papa"


"Iya, Mama..." Jawab Habib yg kemudian mengajak Ibra masuk ke kelas nya.


"Permisi, Ustadz Yahya, Assalamualaikum" kata Nasha dan Ustadz Yahya pun menjawab salam nya dengan senyum.


"Waalaikum salam"


.........


Sesampainya di rumah sakit, Nasha langsung fokus pada pekerjaan nya. Saat berjalan di lorong rumah sakit, ia berapapasan dengan seorang Dokter yg bernama Dokter Aiman yg juga bekerja di sana. Nasha menyapa nya dengan ramah, apa lagi karena Dokter Aiman juga sahabat Papa Surya.


Dokter Aiman memperhatikan Nasha yg terus berjalan hingga ia masuk ke sebuah kamar rawat pasien.


Kemudian Dokter Aiman bergegas ke ruangan Pak Surya.


"Dokter Surya..." seru nya.


"Ada apa, Dokter Aiman?" tanya Pak Surya heran karena pagi pagi sudah ada Dokter lain yg mengunjungi nya.


"Apa kau sibuk?" tanya Dokter Aiman.


"Tidak saat ini" jawab Pak Surya sambil melirik arloji nya.


Dokter Aiman kemudian duduk di kursi tanpa di persilahkan, membuat Pak Surya terkekeh.


"Aku cuma mau tanya, Putri mu itu belum punya calon ayah kan untuk anak nya?" Tanya Dokter Aiman yg membuat Pak Surya mengernyit bingung.


"Maksud nya?" tanya nya.


"Maksud ku, Dokter Nasha belum punya calon suami kan?" tanya nya setengah berbisik yg membuat Pak Surya kembali tertawa.


"Tidak, dia fokus pada anak dan karir nya" jawab pak Surya yg membuat Dokter Aiman seperti bernafas lega "Memang nya kenapa?"


"Sebenarnya aku... Aku hanya sedang berfikir kalau mungkin Dokter Nasha akan cocok dengan anak ku, dia akan menyelesaikan S2 nya tahun ini" ucap nya penuh harap. Pak Surya sedikit tercengang namun kemudian tersenyum.


"Aku rasa sebaik nya anak mu carikan wanita lain saja, karena Nasha pasti akan menolak"


"Kenapa kita tidak coba dulu pertemukan mereka? Anak ku tampan, masih bujang, S2. Pasti sangat cocok dengan Dokter Nasha" jelas Dokter Aiman.


"Setahu ku sebagai ayah nya, putri ku sudah menutup hati untuk pria lain. Dia masih sangat mencintai mendiang suami nya, dan dia bilang dia hanya akan menghabiskan sisa hidup nya untuk Habib" Dokter Aiman menghela nafas lesu setelah mendengar jawaban langsung dari Pak Surya. Karena sebenarnya ia juga mendengar bahwa Dokter Nasha, janda cantik beranak satu itu sudah menolak lamaran beberapa pria.


.........


Nasha menjalankan tugas nya sebagai Dokter dengan senang hati, ia teringat apa yg di katakan mendiang suami nya, bahwa Dokter adalah malaikat tak bersayap bagi pasien nya.


Nasha melayani pasien nya dengan sepenuh hati, memperlakukan mereka dengan begitu lembut bahkan dengan keibuan. Membuat pasien nya merasa begitu nyaman dan menyukai nya.


Nasha melayani beberapa pasien nya dan memeriksa nya satu persatu, setelah itu Nasha kembali ke ruangan nya dan duduk di kursi nya, Nasha merasa lelah. Menjadi Dokter sedikit lebih sulit dari yg ia bayangkan apa lagi ketika ia di hadapkan pada kondisi pasien yg kritis bahkan sekarat. Nasha terkadang merasa takut, takut tak bisa menyelamatkan pasien dan ia tak bisa membayangkan bagaimana sedih nya keluarga nya nanti. Karena Nasha sudah merasakan bagaimana sakit nya kehilangan seseorang yg di cintai.


Nasha menatap foto yg ia panjang di meja kerja nya.


Foto Azhar dan foto Habib, melihat wajah kedua pria ini menjadi obat tersendiri bagi Nasha.


"Obat anti stress ku, kalian berdua" Gumam nya