
Merasa kasihan dengan Bu Anjana dan suami nya yg terus menerka nerka apakah Nasha putri mereka atau tidak, akhir nya Azhar membantu mereka melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Nasha dengan menggunakan rambut Nasha yg tertinggal di sisir nya.
"Tapi kenapa kita tidak memberi tahu Nasha, Azhar? Aku ingin sekali Nasha tahu bahwa orang tua nya mencari nya" ujar Bu Anjana.
"Maafkan aku, Tante. Tapi kondisi Nasha saat ini tidak memungkinkan untuk itu, apa lagi setahu ku Nasha sangat marah dan mungkin membenci orang tua nya yg ia fikir membuang nya" jawab Azhar.
"Tidak apa apa, Ma. Yg penting sekarang kita tahu dulu Nasha itu putri kita atau bukan" sambung Pak Niranjan.
Saat ini ketiga nya sedang berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan tes DNA.
.........
Sipir penjara memanggil Nasha karena ada yg berkunjung, Nasha merasa heran siapa lagi yg mengunjungi nya. Karena Azhar dan mertua nya sudah berkunjung, bahkan Harry, Mera, Elin dan Hanin juga sudah berkunjung.
Saat di ruang pertemuan, Nasha sedikit terkejut karena akhirnya kedua orang tua angkat nya mengunjungi nya.
"Sha..." seru Raya.
"Ada apa?" tanya Nasha dingin.
"Kami hanya ingin minta maaf, Nak..." ujar Pak Surya sembari berdiri karena Nasha tak kunjung duduk.
Setelah membaca diary mendiang anak pertama mereka, mereka menyadari kesalahan yang mereka buat terhadap anak anak nya.
"Untuk apa?" tanya Nasha lagi, Pak Surya dan istri nya tampak tak bisa berkata kata. Apa lagi tatapan Nasha yg seolah sangat kecewa pada mereka.
"Minta maaf untuk kesalahan yg mana?" tanya Nasha lagi dengan mata yg memerah dan sudah mulai berair "Seandai nya Mama bisa menghargai pernikahan ku sedikit saja, Ma..." seru nya dengan suara bergetar "Mungkin Ramos engga akan gila dan terpengaruh dengan omongan Mama..." lanjut Nasha dan akhir nya ia tak bisa membendung air mata nya lagi, Nasha sudah mendengar cerita dari Harry bahwa Mama nya itu masih sering mengandai andai Ramos menikahi Nasha "Aku mungkin memang anak adopsi kalian, tapi aku bukan boneka kalian" tegas Nasha kemudian ia berbalik badan saat air mata nya semakin deras.
Nasha meminta sipir untuk mengantar nya kembali ke sel tak perduli kedua orang tua angkat nya yg memanggil nya dan memohon maaf.
"Saat ini Nasha masih marah..." seru Surya pada istri nya yg kini juga menangis.
"Aku menyesal, aku fikir Ramos pria yg sangat baik untuk Nasha. Aku hanya ingin memberikan yg terbaik untuk Nasha, tapi ternyata aku salah" lirih Raya.
"Sudahlah, jangan menangis. Aku yakin kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kita"
..........
"Kita menemui jalan buntu, semua saksi dan bukti yg kita kumpulkan hanya berputar dalam satu tempat saja. Satu satu nya yg bisa menjawab kebenaran ini adalah Ramos" seru Pak Sriwijaya pada Azhar dan juga tim nya.
Mereka sudah hbekerja keras untuk menemukan bukti dan petunjuk sekecil apapun, namun semua nya tetap menemui jalan hbuntu.
"Lalu apa yg harus kita lakukan?" tanya Azhar putus asa.
"Menemukan saksi baru atau pun membuat saksi yg sudah ada berkata jujur" jawab Pak Sriwijaya.
"Mereka ada di pihak lawan, jadi tidak mungkin mereka mengubah kesaksian dan memberatkan lawan"
"Jangan khawatir Azhar, aku yakin pasti masih ada jalan lain. Persidangan selanjut nya minggu depan, masih ada cukup waktu untuk menemukan bukti yg lain"
Azhar mengangguk mengerti, ia tahu semua orang sudah bekerja kerasa siang dan malam untuk mempelajari kasus Nasha dan mencari petunjuk sekecil apapun untuk bisa mengeluarkan Nasha dari kasus yg menjerat nya.
Sekarang Azhar hanya bisa berserah diri pada yg Maha kuasa, karena Azhar sudah tidak tahu lagi akan mengandalkan kekuatan yg mana untuk mengeluarkan Nasha dari penderitaan ini.
.........
Sementara di rumah sakit, Ruben masih dengan setia merawat putra nya yg masih dalam keadaan koma. Luka tusukan itu sebenarnya tidak terlalu dalam, namun yg membuat keadaan Romos menjadi sangat serius karena luka itu di leher nya dan ia kehilangan banyak darah.
Surya mendatangi Ruben yg ada di ruang rawat Ramos, ia juga memandangi Ramos yg terbaring tidak sadarkan diri.
"Jadi kamu percaya Ramos mencoba melecehkan Nasha?" tanya Ruben dingin.
"Aku percaya pada apapun yg di katakan anak perempuan ku, karena dia tidak punya alasan untuk berbohong" jawab Surya lirih.
"Sebaiknya keluar dari sini..." desis Ruben marah "Akan aku pastikan anak perempuan mu itu mendekam di penjara"
"Kamu tidak akan bisa melakukan itu..." seru Surya percaya diri kemudian ia bergegas pergi dari ruang rawat Ramos.
Surya juga mengenal sahabat nya itu, jika ia bertekad melakukan sesuatu maka pasti dia akan melakukan nya.
..........
Sementara itu, Suster Marina hanya duduk termenung di rumah kontrakan nya.
Ia bukan nya tidak takut dengan apa yg di hadapi nya saat ini, ia sangat takut. Tapi Ruben mengancam nya akan membuat dia kehilangan pekerjaan dan tidak akan di terima di rumah sakit mana pun jika dia berani buka mulut.
Ia tidak punya pilihan selain berbohong seperti permintaan Ruben, apa lagi saat ini ia sedang sangat membutuhkan pekerjaan nya. Suami nya hanya seorang guru SMP yg gaji nya tidak seberapa, sementara ia memiliki satu anak perempuan yang saat ini duduk di kelas 6 SD. Suster Marina juga butuh uang untuk anak nya saat ia masuk SMP nanti.
Suster Marina juga teringat dengan kemarahan mertua Nasha, ia juga merasa bersalah dan ia juga seorang perempuan. Namun saat ini ia merasa tidak punya pilihan lain.
Lamunan Suster Marina terbuyarkan saat terdengar suara klakson motor dari luar.
Ia segera bergegas keluar dan ia melihat anak perempuan nya yg melompat turun dari atas motor ayahnya.
"Ibu ..." teriak sang anak girang, suster Marina menyambut anak nya itu dengan senyum lebar.
"Kamu sakit, Mar?" tanya sang suami yang bernama Bagas.
"Engga, cuma engga enak badan" jawab Marina.
"Pasti kamu kefikiran gara gara kasus anak bos mu itu ya? Jangan khawatir, kasus nya kan sudah mau selesai. Yg penting kamu sudah memberikan keterangan yg sejujur jujur nya, sisa nya serahkan saja pada Allah" seru sang suami sembari tersenyum. Ia pun bergegas masuk ke dalam rumah kontrakan sederhana itu. Marina dan anaknya yg bernama Gladis pun mengikuti nya.
"Mar.... Marina...." seru sang suami dari dalam kamar.
"Kenapa, Mas?" tanya Suster Marina dan ia melihat suami nya itu yg tampak mencari sesuatu.
"Kamu lihat kresek hitam di sini?"
"K.. Kresek hitam?" tanya suster Marina dan suaminya mengangguk.
"Iya, isi nya seragam dinas ku yg sobek. Ingat kan waktu itu aku bilang baju dinas ku robek? Aku mau membawa nya ke tukang jahit sekarang karena besok mau di pakai" seru sang suami yg malah membuat suster Marina tercengang.
Beberapa hari yg lalu, ia membawa pulang baju Nasha yg robek dan ia bungkus di plastik hitam. Kemudian Ruben meminta nya untuk membakar nya, Suster Marina pun membakar nya.
"Aku... Aku..."
"Ibu membakar nya, Ayah..." tiba tiba Gladis menyambung yg membuat Suster Marina semakin gelagapan. Ia memang membakar sesuatu yg di bungkus dengan kresek hitam yg seharusnya itu adalah baju Nasha.
"Kamu membakar nya?" pekik sang suami heran.
"Bukan... Maksud ku, iya... Aku... aku fikir sampah" jawab Suster Marina.
"Astagfirullah, Mar... Mar... Itu baju dinas ku, kenapa kamu bakar? Beli lagi... Uang lagi..." gerutu sang suami kesal.
Sementara Suster Marina tak begitu memperdulikan baju dinas suaminya itu, sekarang ia sibuk memikirkan lalu dimana baju Nasha?