True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 80



Azhar mendatangi rumah Ramos setelah mendapatkan alamat rumah Ramos dari Harry. Maksud kedatangan nya adalah untuk memberi tahu Ramos agar tidak lagi mencoba mendekati Nasha, namun sayang nya Ramos tak ada di rumah nya saat Azhar datang.


Tapi Azhar menunggu, ia harus berbicara dengan Ramos hari ini juga. Setelah setengah jam menunggu, akhir nya pria itu datang juga.


"Kamu? Apa yg kamu lakukan di sini?" tanya Ramos sembari menghampiri Azhar yg menunggu di depan rumah nya.


"Ada yg ingin aku bicarakan, sebentar saja" ujar Azhar serius namun ia tetap menyunggingkan senyum ramah nya.


"Maaf aku tidak ada waktu" tolak Ramos dingin.


"Ini tentang istri ku" ujar Azhar yg membuat Ramos langsung menatap Azhar dengan aneh.


"Ada apa dengan istri mu?" tanya Ramos dengan nada dingin.


"Dia bilang selama beberapa hari ini anda sering mengirimkan pesan yg berisi pujian untuk nya, dan itu membuat istri saya tidak nyaman. Apa lagi status nya adalah seorang istri sekarang, saya harap anda bisa mengerti dan tidak melakukan itu lagi. Alangkah lebih baik nya kalau kita saling menghargai" tukas Azhar tegas dan terlihat raut wajah Ramos yg semakin dingin dan seolah menyimpan amarah.


"Aku hanya ingin berteman dengan nya, dan aku memuji nya dengan tulus Karena dia memang pantas mendapatkan pujian itu. Kecantikan nya, kecerdasan nya"


Azhar mengepalkan tangan nya mendengar penuturan Ramos, yg telah berani sekali memuji istri nya di depan nya secara langsung.


"Dia memang cantik dan cerdas, dan pujian anda tidak akan mempengaruhi kedua hal itu. Itu justru membuat nya tidak nyaman dan merasa tidak di hargai sebagai wanita yg sudah bersuami" tegas Azhar "Saya permisi, terimakasih waktu nya" ujar Azhar kemudian ia meninggalkan Ramos yg tampak kesal.


Tatapan Ramos begitu tajam memperhatikan mobil butut Azhar yg merayap keluar dari halaman rumah nya.


"Aku rela meninggalkan karir ku di Singapore demi memiliki Nasha" gumam Ramos sembari juga mengepalkan tangan nya dengan kuat.


.........


Azhar pulang dengan perasaan gelisah, di satu sisi ia merasa telah melakukan hal yg benar dengan berbicara dengan Ramos sebelum pria itu bertindak lebih jauh. Apa lagi Nasha sendiri yg mengatakan ia merasa tidak nyaman akan hal itu. Namun di sisi lain, ia takut Ramos malah tersinggung dan melakukan hal yg tidak tidak. Karena Harry juga sempat bercerita bahwa Ramos adalah orang yg dingin tapi ambisius dan juga mudah tersinggung, ia tidak suka di lawan karena itulah ia tidak begitu menyukai ibu nya yg di anggap nya telah melawan suami nya sehingga menyebabkan mereka bercerai, itulah yg Harry katakan pada Azhar dan Azhar tidak tahu apakah itu benar atau tidak.


Azhar pulang kerumah nya dan mendapati Nasha yg sedang bersih bersih rumah.


"Selamat datang, suami ku" sapa Nasha dengan nada nakal nya, membuat Azhar tersenyum dan merasakan perasaan yg begitu hangat. Setengah kegundahan hati nya musnah saat melihat senyum manis Nasha saat menyambut nya pulang.


"Terima kasih sudah menyambut ku, istri ku" ujar Azhar dan ia langsung menarik Nasha ke dalam pelukan nya, membuat Nasha mengernyit bingung.


"Ada apa?" tanya Nasha lembut, tatapan Azhar, senyum Azhar dan pelukan Azhar terasa berbeda. Seolah ada yg mengganjal dalam diri nya.


"Tidak ada apa apa, Sayang. Aku cuma takut kehilangan mu" Azhar berkata dengan begitu tulus namun Nasha malah menganggap nya menggombal.


"Abi... Ummi...." teriak Nasha dengan suara nyaring. Lantas Ummi nya yg sedang berada di dapur dan Abi nya yg sedang menonton tv pun segera menghampiri Nasha.


"Kenapa, Nasha?" tanya Ummi Rifa.


"Itu saja?" tanya Abi Fadlan.


"Yaaaa biar Abi sama Ummi tahu, kalau bukan Nasha saja yg agresif, tapi Azhar juga" lirih Nasha yg membuat semua orang langsung tertawa tak terkecuali Azhar.


"Memang siapa yg bilang kamu agresif?" tanya Azhar.


"Abi" jawab Nasha setengah berbisik.


"Memang kenyataan nya kok" jawab Abi Fadlan "Masak dia cium Azhar di mobil, Ummi. Berkali kali lagi, kalau Abi engga ngetuk kaca mobil nya waktu itu, engga akan berhenti ini anak"


"Nama nya juga cinta, Bi. Kayak engga pernah muda nya" gerutu Nasha.


"Ya ya ya... Dunia serasa milik berdua"


.........


"Kapan Nasha pulang kerumah?" tanya Surya pada istri nya. Mereka sangat berharap Nasha mau tinggal bersama mereka lagi,apa lagi Raya masih sangat menginginkan keberadaan Nasha sebagai putri nya.


"Azhar melarang nya pulang" jawab Raya lugas "Mungkin dia malu jika harus tinggal di rumah istri nya yg jauh lebih kaya, apa kata orang nanti, iya kan? karena itulah dia menolak tinggal di sini dan mengatakan hanya akan berkunjung"


"Ya memang pemikiran yg benar, sebagai suami harus punya harga diri. Pasti malu kalau tinggal di rumah istri nya apa lagi istri nya lebih kaya"


"Aku ragu bagaimana Azhar membiayai hidup Nasha, apa lagi kuliah kedokteran itu mahal dan proses nya panjang"


Harry turun dari kamar nya dan hendak pergi untuk latihan basket bersama teman teman nya, dan tanpa sengaja ia mendengar perbincangan kedua orang tua nya itu. Harry merasa kecewa Karena ternyata mereka tidak berubah, masih menjadi budak harta duniawi.


"Ma, Pa..." seru Harry menghampiri mereka.


"Mau pergi, Har?" tanya Raya.


"Iya, mau latihan basket" jawab Harry dengan wajah datar "Oh ya Pa, Ma. Kalian jangan khawatir sama Kak Nasha, selama ada Azhar di sisi nya, Kak Nasha tidak akan kekurangan apapun dan dia pasti bisa menjadi orang yg sukses di tangan Azhar. Karena Azhar bukan hanya mendorong Kak Nasha untuk kehidupan duniawi yg lebih baik, tapi juga menyeimbangkan nya dengan akhirat nya. Kehidupan yg sebenar nya. Azhar bahkan mempersiapkan Kak Nasha pada kehidupan nya untuk akhirat nya kelak, bisa kalian bayangkan betapa bertanggung jawab nya Azhar?"


Tukas Harry tegas yg membuat kedua orang tua nya terdiam dan hanya saling melempar tatapan. Semenjak Azhar masuk kedalam kehidupan Nasha, bukan hanya Nasha yg terpengaruhi tapi juga Harry.


Dulu Harry sering membangkang, memberontak terang terangan. Tapi semenjak mengenal Azhar dan bisa di bilang berteman dengan kakak ipar nya itu, Harry menjadi lebih santai walaupun masih memendam amarah, ia tidak berapi api seperti dulu. Lebih bisa mengontrol emosi nya.


"Teman ku sudah di depan, aku pergi dulu" ujar Harry kemudian ia pergi.


"Ada apa dengan Harry? semakin lama dia semakin melunjak dan sok pintar, bahkan sudah berani menggurui orang tua nya" geram Raya kesal.