True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 66



Masa liburan Azhar sudah berakhir, seharusnya begitu juga dengan Nasha. Ia harus kembali ke kampus dan melanjutkan kuliah nya, namun pagi ini wanita itu masih asyik menonton tv di kamar nya dan ia bahkan belum mandi.


"Nasha, kamu ada kelas engga hari ini?" tanya Azhar sambil mengancingkan kemeja nya, ia sudah rapi dan wangi.


Nasha beranjak berdiri, menghampiri Azhar dan menatap menilai penampilan Azhar dari atas sampai bawah.


"Kamu itu kan Dosen, jangan berpenampilan casual begini dong. Pantas aja mahasiswa mu itu sok dekat sama kamu" ujar Nasha yg membuat Azhar hanya bisa menaikan sebelah alis nya tinggi, apa lagi saat Nasha memasukan bagian bawah kemeja Azhar kedalam celana nya. Mengancingkan kancing paling atas kemeja nya "Punya dasi?" tanya Nasha dan Azhar hanya mengangguk sambil menunjuk ke laci.


Nasha pun mengambil nya, memakaikan dasi itu dan kemudian ia berdecak kagum dengan penampakan suami nya yg justru malah terlihat semakin tampan dari pada penampilan casual nya. Sekarang Azhar terlihat lebih dewasa dan penuh karisma.


"Nah, kalau begini kan penuh wibawa jadi mahasiswi mu itu engga akan sok dekat. Biar tahu, kalau kamu itu Bapak Dosen" ucap Nasha yg membuat Azhar terkekeh geli.


Sentuhan terakhir, Nasha menurunkan lengan kemeja Azhar yg selalu di gulung. Ia juga mengancingkan kancing lengan kemeja nya itu "Perfect" ujar nya.


"Okey, jadi sekarang giliran mu. Ayo kita ke kampus bareng" ucap Azhar namun tiba tiba Nasha malah menunduk "Kenapa?" tanya Azhar.


"Azhar, aku boleh bicara engga?" tanya Nasha dan Azhar langsung membawa Nasha ke tepi ranjang.


"Mau bicara apa, Sayang?" tanya Azhar lembut.


"Em aku... Aku mau berhenti kuliah" ucap Nasha dengan suara rendah, kemudian ia mendongak dan menatap Azhar "Aku mau kerja aja, em bantuin Ummi atau Abi" ucap nya kemudian. Sementara Azhar menatap Nasha dengan tatapan yg tak bisa Nasha artikan. Azhar terlihat marah, atau mungkin kecewa?


"Kenapa?" tanya Azhar kemudian.


"Engga apa apa..." cicit Nasha.


Padahal yg sebenarnya adalah ia tak ingin menjadi beban Azhar lagi, biaya kuliah itu sangat tidak murah dan apa lagi jika Nasha masih ada di bidang ke Dokteran. Biaya kuliah nya mahal dan sangat padat.


"Kamu mau pindah jurusan?" tanya Azhar dan Nasha menggeleng.


"Aku mau berhenti kuliah" ucap Nasha meyakinkan. Azhar menghela nafas berat, ia rasa ia mengerti alasan Nasha ingin berhenti kuliah.


"Aku masih mampu membiayai kuliah mu, Sayang. Aku janji" ucap Azhar sambil menggenggam tangan Nasha "Dan jika pun kamu engga mau melanjutkan kuliah kedokteran mu, kamu bisa mengambil jurusan yg lain. Aku engga mau kamu kerja sementara seharusnya kamu masih fokus dengan pendidikan mu"


Nasha hanya terdiam, ia juga benar benar malu pada mertua nya. Nasha datang kerumah itu sebagai beban dan tidak membawa apapun selain masalah. Apa lagi pekerjaan Azhar yg hanya menjadi Dosen, Nasha tahu itu tidak akan cukup untuk mereka.


"Nasha..." seru Azhar yg melihat Nasha hanya terdiam "Jangan buat aku malu dan merasa gagal menjadi suami jika sampai kamu berhenti kuliah dan malah bekerja" ucap Azhar kemudian. Nasha hanya tersenyum tipis dan kemudian ia mengangguk.


"Tapi kalau kamu memang tidak suka dan tidak bisa di bidang ke Dokteran, kamu pindah jurusan aja" ucap Azhar kemudian.


"Apa menurut mu aku bisa menjadi Dokter yg baik?" tanya Nasha


"Insya Allah, asalkan kamu melakukan pekerjaan mu sepenuh hati dan ikhlas karena Allah. Menjadi Dokter itu pekerjaan yg sangat mulia, Dokter itu adalah malaikat bagi setiap pasien nya. Tapi aku tidak mau kamu memaksakan diri mu pada sesuatu yg tidak kamu sukai"


Nasha masih terdiam, memikirkan semua kata kata Azhar yg di ucapkan dengan begitu lembut dan hati hati. Seolah Azhar takut ucapan nya itu akan menyakiti Nasha, dan hal itu kembali mengingatkan Nasha pada orang tua angkat nya. Dimana setiap ucapan mereka adalah sebuah perintah yg tak boleh di langgar.


"Iya, aku mau" ucap Nasha kemudian "Aku akan berusaha sebaik mungkin dan membuat mu bangga sama aku" ucap Nasha sambil tersenyum.


"Kamu kasih aku segalanya, Sayang..." lirih Nasha sambil membelai pipi Azhar "Tapi aku engga kasih kamu apapun" Azhar langsung menggenggam tangan Nasha yg masih membelai pipi nya, Azhar mengecup tangan istrinya itu.


"Aku cuma mau kamu selalu ada bersama ku, Nasha. Aku mau kamu tersenyum, bahagia, dan kita akan selalu melangkah bersama apapun yg terjadi" ucap Azhar dengan tatapan yg begitu dalam.


"Aku janji kita akan selalu bersama" kemudian Nasha melepaskan liontin milik nya yg selama ini tidak pernah ia lepaskan "Hanya ini yg aku punya" ucap Nasha sambil memakaikan liontin itu pada Azhar "Aku tidak tahu ini punya ayah ku atau ibu ku, atau mungkin bukan punya mereka berdua. Tapi ibu panti bilang, liontin ini sudah menggantung di leher ku saat dia menemukan ku"


"Bukan kah seharusnya ini masih tetap kamu pakai, Sayang? Siapa tahu ini bisa membawa mu ke orang tua mu"


"Aku sudah tidak mengharapkan lagi" ucap Nasha dengan penuh rasa kecewa. Azhar mencoba memahami perasaan istri nya itu.


...... ...


Sesampainya di kampus, Azhar mengantar Nasha sampai di kelas nya. Sementara Azhar harus segera ke kelas nya sendiri.


Disana, Nasha melihat Elin yg sedang fokus membawa buku.


"Elin...." pekik Nasha girang. Ia sangat merindukan sahabat nya itu dan tidak sabar menceritakan apa yg sudah ia alami selama beberapa hari terakhir ini.


Sementara Elin, dia mendongak, melirik Nasha sekilas kemudian kembali fokus pada buku nya. Nasha berlari menghampiri Elin dan ia hendak duduk di samping nya sambil berkata


"Lin, ada yg mau aku ceritain..."


Ucapan Nasha terpotong saat Elin tiba tiba berdiri, menarik tas nya dan pergi dari sana tanpa melihat atau berbicara sedikitpun dengan Nasha. Membuat Nasha merasa bingung, ia pun berlari mengejar Elin yg sudah berjalan ke luar kelas.


"Lin, ada apa? Kamu marah sama aku?" tanya Nasha sambil terus mengikuti Elin yg berjalan cepat "Lin, ponsel ku di ambil Mama. Karena itulah aku engga bisa menghubungi kamu" ucap Nasha kemudian dan tiba tiba Elin berhenti, ia menatap Nasha dengan tatapan yg sangat berbeda.


"Aku engga peduli dan jangan mengikuti mu!" tukas Elin tajam yg membuat Nasha terkejut dan ia hanya mematung saat Elin kembali berjalan menjauh.


"Dia kenapa sih?" gumam Nasha. Kemudian ia kembali mengejar Elin.


"Kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku? Masalah nya apa?" tanya Nasha sambil berusaha menghalangi langkah Elin, namun Elin mengabaikan hal itu dan tetap berjalan "Lin, kalau ada masalah kan kita bisa bicara baik baik" ucap Nasha berusaha menghentikan langkah Elin dengan memegang pundak nya tapi tiba tiba Elin malah mendorong Nasha hingga Nasha terjerembab ke lantai.


Elin tampak terkejut karena ia tak bermaksud membuat Nasha terjatuh, sementara Nasha hanya terdiam dengan mata yg langsung berkaca kaca apa lagi saat semua orang menatap ke arah nya.


Bukan nya membantu Nasha, Elin malah berjalan melewati Nasha yg masih terjerembab di lantai. Hati Nasha terasa perih dan sakit, ia bahkan tidak tahu apa salahnya.


Tak ada yg membantu Nasha, semua orang hanya menatap nya. Hingga seseorang mengulurkan tangan nya, Nasha mendongak...


"Dilan?" gumam Nasha.


"Kamu engga apa apa?" tanya Dilan dan ia hendak membantu Nasha berdiri namun Nasha menolak nya. Ia berusaha berdiri sendiri.


"Aku engga apa apa..." jawab Nasha setelah ia sudah berdiri "Elin marah sama aku dan aku engga tahu kenapa" ucap Nasha sedih. Dilan tak tahu harus menjawab apa sehingga dia pun hanya terdiam "Ya udah, aku ke kelas dulu" ucap nya kemudian dan Dilan hanya mengangguk mempersilahkan.