
Mengurus usaha yg akan di perbesar sangatlah tidak mudah, Azhar berjuang keras untuk bisa membangun usaha ayah nya itu agar lebih sukses lagi sementara di sisi lain ia juga harus berperan sebagai Dosen di kampus dan Ustadz di pesantren. Lelah, sangat lelah yg ia rasakan.
Fikiran nya bercabang ke segala arah, begitu juga dengan tubuh nya yg terasa begitu letih. Namun semua itu terbayar setiap kali ia melihat perjuangan Nasha menjalani pendidikan nya sebagai santri maupun mahasiswi. Nasha menunjukan kemajuan yg sangat baik, seperti kata Ramos, Nasha adalah wanita yg cerdas. Rasa letih Azhar juga hilang setiap kali ia pulang ke rumah, di sambut hangat oleh istri nya, dan terkadang ia melihat istri nya dan Abi Ummi nya yg seperti teman saja. Apa lagi Abi Fadlan yg masih sering menggoda Nasha dengan mengatakan nya agresif. Sedangkan Nasha terus mengawasi Abi Fadlan yg sering mencuri minum kopi atau pun merokok.
Seperti saat ini, Abi Fadlan sedang keluar rumah dengan alasan mau bertemu tetangga nya hanya untuk mengobrol santai.
Nasha yg nakal tapi juga cerdas malah mengikuti nya diam diam, dan benar saja, mertua yg sudah ia anggap ayah kandung nya sendiri itu sedang merokok dengan santai nya.
Semenjak Nasha memergoki nya merokok di balik pohon besar di halaman belakang rumah nya, sejak saat itulah Ummi Rifa dan Azhar selalu mencari Abi nya kesana. Sehingga tempat itu tak bisa lagi di jadikan tempat persembunyian Abi nya saat merokok.
"Assalamualaikum, Abi, Om..." seru Nasha dengan senyum lebar nya. Dengan cepat Abi Fadlan mematikan rokok nya saat Nasha datang.
"Waalaikum salam, Nak Nasha. Tumben ikut main sama mertua mu" jawab tetangga nya itu.
"Iya, kasian Abi kalau jalan jalan sendirian" jawab Nasha. Ia pun duduk di samping Abi Fadlan yg hanya tersenyum unjuk gigi ke Nasha.
"Sha, sudah sore. Pulang, Yuk. Nanti kamu di cariin sama Azhar" ujar Abi Fadlan dan Nasha dengan antusias langsung berdiri.
"Ayuk...." jawab nya.
Abi Fadlan pun berpamitan pada tetangga nya itu. Mereka berjalan menuju rumah melewati beberapa rumah warga.
Sesampainya di rumah, Azhar yg masih di toko Abi nya ternyata belum juga pulang. Padahal ini sudah hampir jam 6.
Abi Fadlan duduk di teras rumah nya, menunggu Azhar, begitu juga dengan Nasha.
"Bi.." seru Nasha lirih.
"Iya, kenapa, Nak?" tanya Abi Fadlan lembut, ia selalu berkata lembut pada menantu nya itu sekalipun saat menggoda nya.
"Abi tahu engga, sejak Nasha di lahirkan sampai usia Nasha 10 tahun, Nasha tidak punya sosok ayah. Dan saat usia Nasha 10 tahun hingga usia yg ke 20, Nasha punya sosok ayah tapi tidak mendapatkan apa yg Nasha harapkan dari sosok ayah. Dan saat usia Nasha 20 tahun, Nasha punya sosok ayah dan mendapatkan apa yg selama ini Nasha impikan dari sosok ayah, kasih sayang, dukungan, cinta yg begitu besar, kelembutan... " suara Nasha tercekat saat mengucapkan setiap kata itu, Abi Fadlan langsung menatap Nasha dan ternyata menantu tercinta nya itu sedang menahan tangis dan ia mengucek mata nya yg berair saat ia menceritakan keinginannya itu
"Dan sosok ayah itu adalah Abi" lirih Nasha dan ia tak sanggup menahan air mata nya.
"Nasha sangat sayang sama Abi, Abi adalah sosok ayah impian Nasha. Dan tolong jangan biarkan Nasha kehilangan sosok ayah itu, jangan merokok lagi, Abi harus jaga kesehatan Abi, karena Nasha takut, Bi..." Nasha terisak tanpa sengaja, membuat Abi Fadlan terenyuh dan tercengang "Nasha takut Abi kenapa napa...." lirih Nasha setengah berbisik. Air mata sudah membanjiri pipi nya, membuat Abi Fadlan semakin terenyuh. Sebegitu besar cinta menantu nya untuk nya, sebegitu peduli dan takut nya menantu nya kehilangan nya, sampai ia menangis terisak seperti ini.
"Sayang, putri Abi yg cantik, yg baik, jangan menangis ya, nak" hibur Abi Fadlan padahal ia sendiri ingin menangis melihat Nasha yg menangis sesegukan "Abi masih sangat sehat dan engga akan kenapa kenapa, kamu akan terus memiliki ayah mu ini" ujar Abi Fadlan meyakinkan.
"Janji?" tanya Nasha dengan suara parau nya.
"insya Allah, Nak" jawab Abi Fadlan yg membuat Nasha memberengut.
"Iya iya, begini saja, Abi engga akan mencuri mium kopi lagi, engga akan.... Eh akan mengurangi rokok, sedikit demi sedikit, Abi janji"
"Iya, janji benaran. Tapi Abi mau imbalan" ujar Abi Fadlan sembari tersenyum lebar.
"Mau imbalan apa?" tanya Nasha sembari mengusap air mata di pipi nya.
"Teruslah dampngi Azhar, karena dia sangat mencintai mu. Mungkin sekarang dia masih belum punya apa apa, bebum bisa membuat mu bahagia atau bangga. Tapi putra Abi itu adalah pria yg dewasa dan sangat bertanggung jawab"
"Abi bicara apa? Apa Abi tahu betapa berarti nya Azhar dalam hidup Nasha? dia segala nya, Azhar memberikan Nasha segala nya yg bahkan tidak bisa di berikan oleh orang tua kandung Nasha ataupun orang tua angkat Nasha. Dan Nasha sangat bangga memiliki suami seperti Azhar, semua wanita pasti iri saat tahu betapa sempurna nya Azhar menjadi suami Nasha"
Abi Fadlan tersenyum senang mendengar jawaban Nasha yg begitu dalam itu "Dan jika Abi pergi lebih dulu, titip Ummi ya, Sayang. Jaga dia...."
"ih, Abi... Kita jaga Ummi sama sama" sela Nasha yg membuat Abi Fadlan terkekeh.
Azhar yg baru sampai rumah langsung tersenyum senang melihat interaksi antara ayah nya dan Nasha. Mereka seperti ayah dan putri kecil nya.
Setelah bekerja seharian, Azhar merasa begitu letih, namun semua itu terhapus saat melihat orang orang yg di cintai nya bahagia.
"Kenapa malah mengobrol di luar? sebentar lagi maghrib" ujar Azhar.
Nasha segera berdiri dan berlari kecil menghampiri Azhar, Nasha mencium tangan Azhar "Selamat datang di rumah, Sayang" sapa Nasha.
"Terima kasih sudah menyambut ku, Sayang" jawab Azhar tersenyum lebar.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam.
Nasha langsung menyiapkan air hangat untuk suami nya, kemudian ia menyiapkan baju kokoh nya.
"Air hangat nya sudah aku siapkan, kamu pasti capek banget ya" ucap Nasha kemudian ia memberikan pijatan lembut di pundak Azhar.
"Tadi aku memang sangat lelah, Sayang. Tapi seperti nya sentuhan tangan mu ini punya magic, jadi lelah ku langsung hilang saat kamu menyentuh tubuh ku" goda Azhar yg membuat Nasha tertawa renyah. Nasha mengecup rahang Azhar sekilas.
"Love is magic" bisik Nasha yg membuat Azhar mengulum.
"And lover is a magician" Sambung Azhar yg membuat Nasha terkekeh.
"Baiklah, istri ku sudah wangi, arti nya pasti sudah mandi. Sekarang aku mandi dulu, setelah itu kita sholat, kemudian kita belajar mengaji lagi, tajwid mu masih kurang tepat sedikit" tukas Azhar dan Nasha mengangguk cepat.
Setelah seharian bekerja, melakukan banyak hal untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami dan anak.
Bahkan di malam hari nya Azhar masih harus kembali bekerja, bekerja keras membimbing istri nya memahami agama, aturan agama dan sebagai nya. Lalu bagaimana bisa Abi Fadlan mengatakan Azhar belum membuat Nasha bahagia atau bangga?
Nasha tersenyum samar mengingat perkataan Abi mertua nya itu, padahal Azhar begitu sempurna di mata Nasha. Memperhatikan Nasha dari segala aspek.