True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 33



Nasha mau pun Harry pergi dari rumah pagi pagi sekali, bahkan saat kedua orang tua nya masih belum terbangun.


Nasha pergi ke kampus, sementara Harry pergi ke sekolah nya. Kedua nya benar benar sudah muak dengan kelakuan ayah ibu mereka.


Saat ini Nasha berada di kelas nya yg masih sangat sepi, tentu saja. Bahkan tidak ada orang di sana selain beberapa Dosen atau petugas kebersihan. Nasha meletakkan kepala nya di meja, ia menggenggam liontin milik nya yg selalu ia kenakan selama ini, seandainya orang tua kandung nya tak membuang nya, mungkin cerita hidup Nasha akan berbeda. Itulah yg selalu di fikirkan oleh Nasha, tapi fakta nya? Mereka membuang Nasha.


"Apa yg harus aku katakan pada Azhar?" gumam Nasha merasa sedih sambil terus memainkan liontin berinisal nama nya itu, ia tak mau menikah dengan Ramos tapi bagaimana caranya melawan kehendak orang tua angkat nya.


"Katakan saja yg sebenarnya..."


"Huh????" Nasha langsung mendongak dan mendapati Azhar yg terkekeh, pagi ini Azhar terlihat sangat tampan dengan celana kain hitam polos, kemeja putih yg tak ia masukan kedalam celana nya dan jangan lupa bagaimana Azhar melipat lengan kemeja nya itu sehingga membuat dia terlihat seksi "Kamu kok ada di sini?" tanya Nasha kemudian.


"Ayo ikut aku, kamu pasti belum sarapan kan?" tanya Azhar dan Nasha langsung mengangguk, ia pun segera berdiri dan mengikuti Azhar dari belakang.


"Kita mau kemana?" tanya Nasha karena Azhar malah masuk ke dalam mobil butut nya.


"Sarapan..." jawab Azhar dan Nasha pun masuk ke dalam mobil nya "Aku sudah tahu apa yg terjadi, Harry memberi tahu ku" ujar Azhar kemudian dan ia pun tampak sedih. Sementara Nasha hanya bisa terdiam, ia menunduk dan fikiran nya kembali kacau "Apa keputusan mu, Nasha?" tanya Azhar yg melihat Nasha hanya terdiam.


"Keputusan yg mana?" tanya Nasha sedih "Aku engga pernah di ber kesempatan untuk memutuskan" lirih nya.


"Tapi pernikahan adalah sesuatu yg besar, Nasha. Kamu berhak memilih dan memutuskan. Dan apapun keputusan mu, selama itu membuat mu bahagia, aku akan menerimanya" tutur Azhar dengan rasa percaya diri yg sudah berkurang. Ia tahu Nasha mencintai nya, tapi kini ia juga tahu bahwa Nasha selalu mematuhi kedua orang tua angkat nya.


"Aku hanya ingin menikah dengan mu, titik engga ada koma. Harga pas engga ada tawar tawar lagi" jawab Nasha sambil mengulum senyum dan ia berpaling dari Azhar, merasa malu dengan jawaban nya sendiri. Sementara Azhar, sekali lagi ia di buat tercengang dengan jawaban Nasha yg cukup gila.


Padahal sebelumnya ia sudah sangat mengkhawatirkan Nasha saat Harry menelpon nya tadi, Harry menceritakan semua nya yg terjadi dan ia juga memberi tahu Azhar bahwa Nasha ke kampus terlalu pagi. Karena itulah Azhar menyusul nya.


Nasha sendiri merasa ia benar benar gila setiap kali bersama Azhar, dimana ia bisa melepaskan segala kegilaan nya, mengoceh semau nya dan bisa sedikit melupakan tekanan nya. Nasha merasa begitu bebas dan menjadi diri nya sendiri bersama Azhar.


"Ehem ehem..." Azhar mengambil air botol yg ada di pintu mobil kemudian ia meneguk nya "Jadi, kamu menolak Dokter kaya raya itu?" tanya Azhar kemudian.


"Iya" jawab Nasha tanpa ragu sedikitpun.


"Di bandingkan aku, dia jauh lebih baik dalam segala hal" tutur Azhar lagi.


"Hanya dari segi materi" jawab Nasha "Aku memang cuma dua kali bertemu Ramos, tapi dari segi kepribadian, aku tahu kamu jauh lebih baik"


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena kamu itu lembut, pengertian, pengetahuan agama mu sangat baik, dan yg pasti, aku mencintaimu"


"Nasha..." geram Azhar tertahan, setiap kali Nasha menyatakan perasaan nya, ada sesuatu yg menggelitik indah dalam diri nya "Berhenti menggoda, okey? Kita belum halal..." ujar Azhar sambil terkekeh, namun ia serius. Jika Nasha terlalu seiring menggoda nya seperti itu, Azhar takut perasaan nya semakin menggebu dan tak bisa ia kontrol lagi, Azhar takut melampaui batas.


"Aku engga menggoda, tapi kalau kamu memang tergoda ya berarti..."


"Berarti apa?"


"Aku penggoda yg baik, bisa menggoda setingkat Ustadz" gurau Nasha yg membuat Azhar langsung menepuk jidat nya, heran dengan tingkah gadis ini. Padahal tadi Harry mengatakan mungkin Nasha sedang stres dan menangis karena apa yg terjadi semalam, tapi lihat Nasha yg bersama Azhar sekarang?


Azhar menghentikan mobil nya di depan rumah nya, dan Nasha sedikit terkejut karena ternyata Azhar membawa nya kesana.


"Kita ke sini??" tanya Nasha dan ia melompat turun dari mobil.


"Iya, ayo masuk..." ujar Azhar.


Ummi Rifa pun keluar menyambut mereka berdua, dengan sedikit sungkan Nasha pun masuk ke dalam rumah Azhar. Di sana Abi Fadlan juga menyambut nya.


"Pas sekali, sarapan sudah siap" ujar Abi Fadlan.


Ummi Rifa membawa Nasha ke meja makan, sudah tersedia beberapa menu di sana.


"Silahkan duduk, Nak..." ujar Ummi Rifa karena Nasha masih terlihat canggung.


Mereka pun duduk di meja makan, Abi Fadlan memimpin doa sebelum makan dan setelah itu mereka pun menikmati sarapan buatan Ummi Rifa itu.


Sambil menikmati sarapannya, Ummi Rifa dan Abi Fadlan mengajak Nasha mengobrol ringan supaya Nasha tidak canggung dan bisa sedikit melupakan tekanan nya, mereka tahu apa yg di alami Nasha dari Azhar, terutama perjodohan itu dan bagaimana Nasha menolak. Mereka melakukan hal ini bukan supaya Nasha lebih memilih Azhar, tapi karna mereka merasa kasihan dan bersimpati pada gadis muda ini.


Nasha harus akui, ia merasa inilah sebuah rumah, sebuah keluarga, dimana tak ada tekanan apa lagi ketegangan. Terselip obrolan ringan namun terasa begitu hangat, hal ini membuat hati Nasha semakin mantap memilih Azhar sebagai pendamping nya. Apa lagi terlihat sekali Azhar sangat menghormati ibu nya dan memuliakan nya, Azhar selalu merendahkan suara nya saat berbicara dengan ibu nya.


"Oh ya, jam berapa kelas mu di mulai?" tanya Azhar sambil membantu ibunya membereskan meja makan setelah sarapan usai, Nasha pun ikut membantu.


"Jam 9..." jawab Nasha, Azhar melirik arloji yg melingkar di tangan nya.


"Kalau gitu kita pergi sekarang..." seru Azhar dan Nasha mengangguk.


"Terimakasih sarapannya, ini benar benar enak" ujar Nasha pada Ummi Rifa.


"Kembali kasih, Nasha. Hati hati ya..." ujar Ummi Rifa, sementara Abi Fadlan sudah masuk ke kamar nya.


Azhar dan Nasha pun berpamitan pada Ummi Rifa "Engga pamitan juga sama Om?" tanya Nasha setengah berbisik.


"Abi lagi sholat dhuha" jawab Azhar dan Nasha pun mengangguk mengerti.


.........


Sesampainya di kampus, Nasha langsung ke kelas nya sementara Azhar langsung menemui Yunus karena hari ini Azhar akan di interview, Azhar sangat membutuhkan dukungan dari Yunus. Karena ia sedikit tidak percaya diri, walaupun begitu Azhar harus bisa melewati interview ini karena ini adalah cita cita nya dan cita cita kedua orang tuanya.


Sementara Nasha kini sudah berada di kelas, ia melirik arloji nya kemudian melirik pintu masuk. Sedikit heran karena Elin belum juga datang, Nasha pun keluar dari kelas hendak mencari Elin.


Namun yg ia lihat malah Dilan bersama teman teman nya, Nasha pun memanggil nya. Dilan dan teman teman nya langsung menoleh ke arah Nasha "Kalian duluan aja..." ujar Dilan pada teman teman nya sementara ia berlari menghampiri Nasha.


"Ada apa?" tanya Dilan sambil tersenyum manis.


"Kamu engga bareng Elin tadi?" tanya Nasha dan Dilan menggeleng.


"Kenapa memang nya?"


"Dia belum datang, engga biasa nya dia telat"


"Mungkin masih di jalan..." jawab Dilan dan Nasha pun mengangguk anggukan kepalanya.


"Okey, kalau gitu aku kembali ke kelas" Ujar Nasha namun saat hendak berbalik, Dilan malah mencekal pergelangan tangan nya, Nasha dengan cepat melepaskan tangan nya sebelum ada yg melihat "Ada apa?" tanya Nasha berusaha bersikap tenang, begitu juga dengan Dilan yg tampak berusaha bersikap santai.


"Ini aku punya cokelat..." Dilan mengeluarkan sebatang cokelat yg seperti nya dari luar negeri dan ia menyerahkan itu pada Nasha.


"Nanti aku kasih ke Elin kalau dia datang" ujar Nasha sembari mengambil cokelat itu.


"Bukan buat Elin, buat kamu..." seru Dilan sambil tertawa kecil, seperti biasa, layak nya teman.


"Buat aku?" tanya Nasha sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, engga usah mikir yg aneh aneh. Aku udah kasih Elin juga kok, Papa dapat itu dari Amerika. Aku juga pengen ngasih kamu, ya sebagai teman kita kan saling berbagi" tutur Dilan. Walaupun tampak ragu, namun Nasha menerima cokelat itu.


"Okey, makasih, Dilan. Aku ke kelas dulu..." ucap Nasha sambil tersenyum tipis, Dilan mengangguk dan memperhatikan Nasha yg berjalan menjauh.


Hingga sebuah tepukan mengagetkan nya, dan ternyata itu teman teman nya yg tadi "Bohong ya, itu cokelat mahal lho. Papa mu juga baru datang tadi pagi dari Amerika, kamu juga belum ketemu Elin. Coklat itu memang buat Nasha kan?" tuduh salah satu teman nya, bukan nya menjawab Dilan malah memukul kepala teman nya itu sambil tertawa.


"Sok tahu..." ucap nya kemudian.


▫️▫️▫️


Tbc...