True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 139



Abi Fadlan memeriksa nafas Azhar di hidung nya, memeriksa nadi Azhar dan seketika ia hanya bisa terdiam kaku dengan air mata yg langsung mengalir deras di pipi nya.


"Innalillahi wa Innalillahi rojiun"


Tangis Nasha semakin pecah begitu juga tangis Ummi Rifa, Nasha langsung meletakkan kepala nya di dada sang suami dan ia memang tidak lagi merasakan detak jantung suami tercinta nya.


"Azhar, bangun...."


"Aku mohon, Sayang..."


"Jangan meninggalkan ku, aku mohon, Azhar"


"Azhar!!!!" Nasha begitu histeris dan ia sangat berharap Azhar mendengar panggilan nya dan kembali pada nya, namun takdir berkata lain. Takdir telah berjalan sesuai dengan garis nya.


Ummi Rifa terjatuh lemas di sisi jasad sang putra, dada nya begitu terasa sesak seolah ia juga akan kehilangan nafas nya.


Sementara Abi Fadlan juga begitu sulit menerima kenyataan nya, ia memegang dada nya dimana jantung nya seolah berhenti berdetak. Rasa nya begitu sakit saat melihat putra nya telah menghembuskan nafas terakhir nya.


"Nak...." lirih Abi Fadlan membelai kepala Azhar hingga pada akhir nya ia terjatuh tak sadarkan diri, hal itu membuat Ummi Rifa dan Nasha semakin histeris.


Sementara Pak Niranjan dan yg lain nya langsung berlari naik saat mendengar teriakan histeris itu.


" Panggil ambulance..." seru Pak Surya dan ia segera memeriksa keadaan Abi Fadlan yg saat ini kepala nya sedang di pangkuan oleh Ummi Rifa. Denyut nadi nya begitu lemah dan itu membuat nya cemas, namun saat ia melihat Nasha yg masih di atas ranjang. Kemudian ia menatap Azhar yg sudah begitu pucat.


Pak surya memeriksa denyut nadi Azhar dan seketika Pak Surya terdiam mematung.


"Tidak mungkin..." kata Bu Anjana lirih.


Tangis Nasha kembali pecah, Bu Anjana pun langsung merangkak naik ke atas ranjang dan langsung menarik Nasha ke dalam pelukan nya, berusaha menenangkan putri nya yg saat ini masih histeris itu.


"Seharusnya kalian bisa membawa nya berobat lebih cepat..." seru Nasha penuh emosional, Bu Anjana hanya bisa mendekap nya lebih erat.


"Kenapa kalian tidak membawa nya berobat..." teriak nya lagi di tengah isakan nya.


"Azhar..."


"Azhar...." ia terus memanggil nama suami nya itu hingga tiba tiba tubuh nya melemah dan ia pun juga kehilangan kesadaran nya.


Bu Anjana membaringkan Nasha dengan pelan pelan di samping Azhar, ia menghapus air mata putri nya itu sementara air mata nya sendiri mengalir dengan begitu deras.


Ummi Rifa pun masih dalam keadaan yg sama, putra nya meninggal, suami nya terkena serangan jantung dan menantu nya pingsan Karena tak kuasa menghadapi kenyataan terpahit dalam hidup nya itu. Ummi Rifa pun berteriak histeris untuk meluapkan segala rasa sakit yg ada dalam hati nya.


..........


Malam hari telah tiba, hari menjadi begitu gelap saat sang mentari telah kembali pada tempat nya. Namun tak segelap itu ketika masih ada cahaya rembulan di langit, yg di kelilingi dengan bintang bintang yg begitu indah, cantik.


Dulu, dia di panggil Ustadz Azhar, sekarang, ia almarhum Azhar.


Begitulah hidup, yg tak ada, ada maka akan kembali tak ada.


Tak semua nya akan abadi, tidak kebahagiaan, tidak penderitaan.


Rumah almarhum kini telah di penuhi oleh orang orang yg melayat, datang untuk mendoakan dan memberikan ucapan bela sungkawa.


Ketika seseorang telah menjadi jenazah, maka memandikan, mengkafani dan mensholati adalah perpisahan sesungguhnya antara ia dan dunia yg fana ini.


Kesedihan yg di tinggalkan sungguh tak terbendung, air mata seolah tak ada habis nya dan terus saja mengalir bebas di pipi yg sudah sebab. Sementara bibir yg bergetar karena tangis juga harus tetap melantunkan doa.


Nasha, entah cobaan apa yg tak ia rasakan. Semua nya telah ia rasakan.


Apa lagi sekarang, saat ia kehilangan sosok yg begitu berarti bagi nya, ayah dari janin yg bahkan belum genap 4 bulan di rahim nya. Nasha seolah merasakan semua penderitaan di dunia ini sedang menghantam nya sekarang.


Berat nya cobaan ini bahkan membuat Nasha berfikir bahwa mungkin kematian jauh lebih baik bagi nya.


Namun tidak ketika ia melihat sang ibunda dari mendiang suami nya, yg tentu jauh lebih terpukul dari pada diri nya. Apa lagi ketika ayah mertua nya terkena serangan jantung dan harus di rawat dengan intensif di rumah sakit.


Apakah takdir itu berarti sesuatu yg sangat tak adil?


Yg membiarkan seorang ayah bahkan tak bisa mengantar putra nya sendiri ke peristirahatan terkahir nya.


Yg membiarkan seorang ayah tak memiliki kesempatan untuk melihat anak nya lahir dan tak membiarkan seorang anak di sambut oleh ayah nya saat ia lahir ke dunia ini. Tak membiarkan ia di adzani oleh ayah nya saat ia lahir ke dunia ini.


Nasha melihat ibu mertua nya yg sudah seperti raga tanpa jiwa, ia di kelilingi oleh begitu banyak orang yg mendukung nya, menyemangati nya dan mendoakan nya, namun ia masih seperti raga tanpa jiwa dalam kesendirian dan kesepian.


Sahabat dan sauadara sauadara Nasha juga datang untuk memberikan dukungan nya pada Nasha.


"Yang kuat, Kak. Kami semua di sini" kata Mera dengan begitu lembut, Nasha tak mampu menanggapi nya. Ia hanya bisa menarik nafas dengan begitu berat, kemudian beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan gontai menghampiri ibu mertua nya.


Nasha duduk di depan wanita paruh baya yg berperan sangat besar bagi hidup Nasha dan suami nya. Yg telah mencintai Nasha seperti putri kandung nya sendiri.


"Ummi..." Nasha memanggil nya dengan suara yg hampir hilang, kemudian ia memeluk nya dan air mata kembali jatuh di pipi nya.


"Tidak ada yg abadi, apa lagi kehidupan seseorang yg memang di takdir kan memiliki batasan nya. Tapi akan ada saat nya dimana semua nya akan menjadi abadi...." Nasha berbicara masih sambil memeluk ibu mertua nya "Yaitu kehidupan setelah kematian" lanjut nya dengan suara yg tercekat.


"Azhar meninggalkan dunia fana ini, untuk kehidupan yg abadi, dan insya Allah kehidupan yg jauh lebih baik, Ummi"


"Kata Azhar, apapun itu, itu karena kehendak Allah, dan apapun kehendak nya, itu karena Allah sayang sama kita, sabar dan ikhlas, kita harus belajar melakukan dua hal itu"


Ummi Rifa yg sejak tadi hanya diam mematung kini kembali menangis histeris dan ia membalas pelukan menantu nya itu.


Apa yg di katakan Nasha juga sering Azhar katakan pada nya sejak dulu, sejak saat pertama kali ayah nya di diagnosa memiliki penyakit jantung.


"Azhar butuh doa kita dan keikhlasan kita untuk melepaskan nya pergi, biarkan dia tenang dan menunggu kita di sana" kata Nasha lagi yg lagi lagi membuat Ummi nya semakin histeris.


Sebagai ibu, yg ia harapkan adalah anak nya yg akan mengantar nya ke peristirahatan terakhir nya, bukan ia yg mengantarkan anak nya seperti ini.


.........


Nasha menguatkan tekad nya untuk melihat Azhar saat Azhar di kafani, Nasha memandang wajah teduh itu untuk terkahir kali nya, wajah tampan yg membuat nya terpana saat pertama kali melihat nya.


Nasha mengecup kening semua nya cukup lama, sebagai ciuman perpisahan yg pasti akan sangat ia rindukan. Ciuman nya itu turun ke kelopak mata sang suami, dimana kedua mata itu menatap nya dengan begitu lembut dan penuh cinta.


Setelah di kafani, kini jenazah sang suami akan segera di sholati di masjid yg tak jauh dari rumah Nasha. Tentu Nasha ikut mensholati nya, sekali lagi, sebagai salam perpisahan dengan suami nya.


Sementara Ummi Rifa kondisi nya tidak memungkinkan sehingga ia tetap di rumah dan di jaga oleh kedua ibu Nasha.


Setelah di sholati, kini Jenazah akan di bawa ke rumah terkahir nya, rumah yg akan ia tempati hingga menjelang akhir dunia nanti.


Kalimat tahlil mengiringi Jenazah dengan setia hingga sampai di tempat nya.


Kedua Papa Nahsa dan Harry lah yg masuk ke liang Lahat untuk menidurkan jenazah suami Nasha itu.


Setelah semua nya selesai, liat itu kembali di tutup dengan tutup tanah dan Nasha juga mengambil segenggam tanah dan menjatuhkan nya.


"Selamat jalan, Sayang. Tunggu aku di sana, cinta sejati mu..."