
Penulis : Ramanda
Judul : Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Cuplikan...
Langkah kaki Ardiyan pun terhenti, disaat ia melihat seorang gadis bercadar yang sedang duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari kayu dan tali tambang yang terikat di bawah pohon rindang di pinggir danau kecil.
Dengan perlahan Ardiyan menghampirinya.
"Assalamu'alaikum " salamnya pada gadis bercadar itu. Saat gadis bercadar itu menoleh kebelakang tempat ia berdiri dan mata mereka bertemu.
Deg......
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh bang" Anisah membalas salam Ardiyan dengan mata masih bertemu lalu ia mengembalikan pandangannya melihat danau yang ada didepannya.
"Anisah, bisakah kita bicara?" ucap Ardiyan lembut.
"Duduklah bang" balasnya sambil tangannya mempersilakan Ardiyan agar duduk di sebuah ayunan yang ada di sampingnya.
Nampak Ardiyan ragu Melihat ayunan tersebut.
"Apakah ini kuat?" Tanyanya dengan pandangan ke atas melihat dahan pohon tempat tali ayunan terikat.
"In syaa Allah kuat kok bang lihatlah dahannya besar jadi dia akan mampu menahan kita." jawabnya santai.
Ardiyan pun menurut, dia langsung duduk di ayunan tersebut. Suasana di sekitar danau begitu tenang, hembusan angin menambah suasana menjadi sejuk.
Suasana terasa hening.Untuk beberapa saat Anisah dan Ardiyan masih menikmati kediaman mereka. Sembari keduanya menikmati ayunan berayun lambat.
"Anisah?" Suara Ardiyan lembut memecahkan keheningan.
"Hmmm?" Balas Anisah berhem saja.
"Maaf!" Ucap Ardiyan dengan wajah menunduk.
"Maaf buat apa bang?" Tanya Anisah.
"Maaf.. karena aku sudah meintimidasikan mu hanya dari pengelihatan ku" ucapnya sendu
"Lupakanlah bang, jadikan ini sebagai pembelajaran untuk diri kita kedepannya agar kita tidak salah lagi menilai sesuatu " ucapnya lembut.
"Di dalam Al Qur'an juga di jelaskan,:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"
"Intinya kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari pandangan kita saja bang" jelas Anisah panjang lebar. Suaranya yang lembut membuat hati Ardiyan menghangat dan kekagumannya semakin bertambah.
"Tuhan mengapa mendengar perkataannya suasana hatiku menjadi menyaman" batin Ardiyan.
"Anisah Apakah itu artinya kamu sudah memaafkan aku? Tanyanya lagi.
"Alhamdulillah Anisah sudah memaafkan bang Diyan jauh sebelum Abang memintanya" balas Anisah.
"Anisah?"
"Hmm"
"Bolehkah?..." Ucap Ardiyan tergantung ada sedikit takut.
"Maksudnya bang Diyan?"
"Bolehkah aku melihat wajah mu?" Ucapnya lirih namun masih terdengar oleh Anisah.
Tanpa menjawab Anisah dengan perlahan membuka cadarnya. Terlihatlah wajah cantik nan mulusnya membuat Ardiyan begitu terpanah dalam diamnya cukup lama ia memandangi istrinya yang lagi sedikit menunduk karena tak berani membalas pandangan Ardiyan.
"Benar kata kakek kau adalah bidadari yang Allah berikan untukku walaupun aku merasa tak pantas untukmu namun aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuk mu" _batin Ardiyan.
"Astagfirullah.. ini jantung ana kenapa jadi tak menentu sih.. aduh bang Diyan jngan pandangi Nisah seperti itu.. bisa-bisa nih jantung ana meledak"_ batin Anisah*.
"Bang jangan lihat Nisah seperti itu.. Nisah malu" ucapnya menyadari Ardiyan dari lamunannya.
"Eh.. maaf maaf " ucapnya kikuk.
"hm Anisah?"
"yaa"
"Bisakah kau mengajariku menjadi imam yang baik untuk mu?" tanyanya dengan wajah tertunduk.
"Dengan senang hati bang.. mari kita belajar bersama untuk menyempurnakan kekurangan kita masing-masing" balas Anisah sambil mengulurkan tangannya kepada Ardiyan sambil tersenyum..
Ardiyan langsung meraih tangan Anisah dan menggenggamnya sambil membalas senyuman manis Anisah lalu mencium tangannya.
"Terimakasih istriku" ucap Ardiyan membuat Anisah tersipu karena mendengar kata "Istriku" dan ia hanya membalas ucapan Ardiyan dengan anggukan.
Hening kembali tercipta mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing namun tangan mereka masih terkait satu sama lainnya sambil mengayunkan ayunan mereka dengan kaki masing-masing.