True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 89



Azhar hanya mengantar Nasha ke kampus nya karena hari ini ia tidak ada kelas, Azhar memutuskan untuk mengurus toko Abi nya.


"Nanti telpon kalau kelas mu selesai ya, biar aku jemput" ujar Azhar saat Nasha mencium tangan nya.


"Aku naik taksi saja" jawab Nasha.


"Jangan, aku jemput" "tegas Azhar dan Nasha mengangguk dengan senyum lebar. Azhar mengecup pelipis Nasha sebelum akhirnya Nasha lah yg mengecup pipi Azhar.


"Iya iya, Sayang. Takut banget sih kehilangan ku" goda Nasha yg membuat Azhar tersenyum geli.


"Beneran takut banget, Sayang" ujar Azhar yg membuat Nasha langsung mesem mesem.


Kemudian Azhar pun meninggalkan kampus setelah Nasha memasuki gedung kampus nya.


Azhar kembali sibuk mengurus pekerjaan nya, dan ia sangat bersyukur Karena beberapa barang di toko Abi nya laku semakin banyak, bahkan ia juga mendapatkan pesanan dari beberapa orang bahkan juga dari perusahaan. Membuat Abi Fadlan dan Azhar mengucapkan syukur tanpa henti.


"Azhar, bagaimana kalau kita buat syukuran? Alhamdulillah penjualan kita laku dengan sangat cepat" Saran Abi Fadlan "Toko Ummi juga semakin ramai apa lagi online nya, semua ini berkat Nasha" lanjut nya.


"Boleh, Bi. Nanti panggil anak anak panti saja" jawab Azhar senang.


"Oh ya, Bagaiamana Nasha? masih ngambek?"


"Mana bisa dia ngambek lama lama, Bi" jawab Azhar dengan percaya diri yg membuat Abi Fadlan terkekeh.


"Dia kekurangan kasih sayang sejak kecil, jadi saat dia mendapatkan cinta dan kasih sayang yg tulus. Tentu itu sangat berarti bagi nya"


"Iya, aku berharap Nasha selalu bahagia bersama kita, Bi. Meskipun kita tidak bisa memberikan apa yg keluarga angkat nya berikan"


"Pada dasar nya, yg di inginkan manusia adalah kenyamanan, nak. Dan tentu harus punya rasa syukur, kaya yg sebenar nya adalah ketika kita hidup dengan usaha kita sendiri dan juga kita selalu mampu berbagi dengan orang lain, baik berbagi cinta maupun materi. Bagi Abi, itulah definis kaya yg sesungguhnya" jawaban ayah nya itu tentu membuat Azhar tersenyum bangga dan ia mengangguk setuju.


"Azhar, sudah siang. Sebaiknya kamu ke kampus Nasha, jemput dia" perintah Abi nya kemudian setelah ia melirik jam.


"Iya, Bi" jawab Azhar.


.........


Setelah menyelesaikan kelas nya, Nasha memanggil taksi karena ia tak ingin merepotkan Azhar. Saat menunggu taksi, ia melihat Elin dan ingin sekali rasa nya Nasha menyapa Elin namun Nasha tak berani, karena bukan hanya sekali Elin mempemalukan nya.


Tak lama kemudian taksi Nasha datang, namun saat ia hendak masuk, tiba tiba Ramos datang entah dari mana.


"Kamu naik taksi, Sha? dimana suami mu?" tanya Ramos sembari celengekan ke kanan dan ke kiri.


"Maaf, aku buru buru" tegas Nasha dan hendak masuk ke dalam taksi namun Ramos malah mencekal tangan nya yg tentu saja langsung di tepis oleh Nasha.


"Dari pada naik taksi, lebih baik aku antar ya" tawar Ramos namun lebih ke perintah.


"Engga usah, Ram. Terima kasih" jawab Nasha dan ia hendak kembali masuk ke dalam taksi namun sekali lagi Ramos malah menarik tangan nya dan kali ini ia mencengkram lengan Nasha dengan erat, Nasha mencoba melepaskan tangan nya dari Ramos namun Ramos benar benar memegang nya dengan erat.


"Kamu kenapa? Kamu membenci ku, hm?" tanya Ramos yg membuat Nasha mulai merasa tak nyaman dan takut.


"Ram, Lepasin aku. Engga enak di liatin orang" desis Nasha dan tampak sekali bahwa ia mulai gelisah.


"Yang seharus nya marah itu aku, Sha. Kamu meninggalkan ku di saat seharus nya kita bertunangan" tegas Ramos dan kini ia malah terlihat seperti psikopat yg berdarah dingin, membuat rasa takut Nasha semakin menjadi.


"Aku engga pernah memutuskan untuk bertunangan dengan mu, sejak awal aku sudah menolak mu" tegas Nasha namun suara nya malah terdengar bergetar. Ia juga masih berusaha menarik tangan nya dari cengkraman Ramos yg semakin dan semakin erat mencengkram nya.


Dan syukurlah karena tiba tiba saja Azhar datang dan langsung mendorong Ramos menjauh dari Nasha, melihat suami nya datang, Nasha langsung menempel ke Azhar dan ia bisa bernafas lega.


"Anda berpendidikan, jadi bersikaplah layak nya orang yg berpendidikan" tegas Azhar kemudian ia membawa Nasha menjauh dari Ramos. Meninggalkan Ramos yg hanya bisa tersenyum sinis.


"Engga apa apa" jawab Nasha lirih. Azhar sendiri langsung menyusul masuk.


Kemudian ia menaikan lengan baju Nasha dan melihat lengan Nasha yg me merah. Azhar menggeram marah karena Ramos telah menyakiti istri nya.


"Dia menyakiti mu" desis Azhar dan ia hendak turun untuk memberikan pelajaran pada Ramos namun Nasha mencegah nya.


"Aku engga apa apa, pulang ya" rengek Nasha, Azhar menatap khawatir pada Nasha kemudian ia mengangguk.


Sebelum menjalankan mobil nya, Azhar menarik lengan Nahsa dan mengusap nya dengan lembut kemudian memberikan kecupan lembut juga. Membuat Nasha tersenyum dan kini ia merasa lebih baik.


"Lain kali, jika dia menyakiti mu lagi kamu harus langsung kasih tahu aku ya" tegas Azhar dengan begitu serius dan Nasha mengangguk.


Semnatara Ramos hanya menatap dingin mobil Azhar yg kini semakin menjauh hingga tak terjangkau dari pandangan nya.


....... ...


Azhar mengantar Nasha pulang untuk beristirahat karena nanti Nasha masih harus sekolah ke pesantren.


Azhar masih memikirkan apa yg sudah Ramos lakukan, hal itu tidak seharus nya di lakukan apa lagi pada wanita yg sudah bersuami. Azhar bisa terima jika diri nya yg di sakiti, Azhar memilih sabar dan ikhlas seperti yg ia katakan pada Nasha. Tapi jika sudah menyangkut keluarga nya, istri nya, Azhar tak bisa menerima nya. Apa lagi Ramos seperti nya bukan lah pria baik karena satu peringatan Azhar sebelumnya tak di indahkan oleh nya.


Sementara Nasha kini beristirahat di kamar nya sembari menunggu waktu untuk ke pesantren. Ia kembali melakukan penjualan roti nya di media sosial nya, ia juga berusaha melupakan apa yg sudah Ramos lakukan tadi. Namun tak bisa Nasha pungkiri bahwa ia juga takut pada Ramos.


Harry menghubungi nya dan Nasha langsung menjawab nya.


"Assalamualaikum, Kak" terdengar suara girang adik nya itu.


"Waalaikum salam, Har" jawab Nasha lemas.


"Kenapa kayak engga semangat gitu? Kak Nasha ada masalah?" tanya Harry.


"Tadi Kakak ketemu Ramos di kampus, dia...dia bertingkah aneh" adu Nasha dan ia menceritakan apa yg terjadi "Untung saja Azhar datang" ucap nya kemudian.


"kurang ajar, memang lah dia itu psikopat berdarah dingin. Awas saja nanti" desis Harry.


"Sudah, Har. Jangan ladeni dia, Azhar sudah menegur nya tadi" ucap Nasha dan terdengar Harry yg menghela nafas panjang.


"Lain kali kak Nasha harus hati hati, kalau ada dia, Kak Nasha harus menghindar" tegas Harry.


"Sayang..." Terdengar suara Azhar yg memanggil nya.


"Har, sudah dulu ya. Kakak mau siap siap ke pesantren"


"Iya, kalau ada apa apa, kasih tahu Harry ya"


"Iya, Dek" jawab Nasha dan ia segera memutuskan panggilan telepon nya.


Azhar pun masuk dan menyunggingkan senyum pada istri nya itu "Harry yg telpon?" tanya Azhar dan Nasha mengangguk "Siap siap ya, habis ini aku antar ke pesantren" ujar Azhar dan Nasha kembali mengangguk.


Azhar pun duduk di samping Nasha dan ia mengusap kepala Nasha dengan lembut "Kamu kenapa? Masih kefikiran yg tadi?" tanya Azhar dengan begitu lembut, Nasha hanya tersenyum tipis.


"Engga apa apa, Sayang. Lupakan yg tadi, nanti aku akan berbicara lagi dengan nya supaya tidak mengganggu mu" tegas Azhar.


"Terima kasih sudah datang tepat waktu tadi" lirih Nasha dan Azhar pun tersenyum sembari mengangguk.


"Aku tunggu di bawah"