True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 46



Setelah bertemu dengan Azhar, Nasha merasakan ada sedikit beban yg terangkat dari pundak nya. Entah sihir apa yg di lakukan pria tampan itu, namun Nasha selalu merasa nyaman karena nya. Tatapan nya yg lembut, suara nya yg lembut, nada bicara nya yg lembut. Semua itu benar benar membuai Nasha dan membuat hati nya semakin bergejolak, begitu juga dengan logika nya.


Bahkan Nasha masih tak sanggup melawan ibunya saat ia menyuruh Nasha pulang karena Ramos menjemput nya dan ingin membawa nya pergi keluar sekedar untuk makan dengan alasan untuk saling mengenal lebih jauh lagi.


Nasha menolak pada awal nya, tapi seperti biasa ia tak bisa benar benar menolak. Pada akhirnya Nasha akan mengalah.


Hingga akhir nya sekarang ia berada di sebuah restaurant, duduk berdua bersama Ramos.


"Aku harap kita bisa sering keluar bersama seperti sekarang, supaya kita bisa lebih saling mengenal" ucap Ramos dan Nasha hanya menjawab nya dengan gumaman. Hal itu membuat Ramos jengkel "Saat seseorang mengatakan sesuatu, jangan pernah menjawabnya dengan gumaman. Itu tidak sopan, Nasha. Kamu wanita yg berpendidikan dan berasal dari keluarga yg berada" tegas nya. Dan entah kenapa Nasha merasa tak suka dengan teguran itu.


"Jujur saja, Ram. Aku engga mood untuk makan di luar sekarang, Mama maksa aku..." jawab Nasha yg juga merasa jengkel. Ramos menghela nafas panjang, ia menatap Nasha dengan sendu.


"Maaf kalau aku kasar" ucap nya, Nasha langsung menatap heran pria itu "Aku cuma engga suka wanita yg engga bisa menghargai orang lain, apa lagi orang yg bersama nya"


"Aku bukan nya engga menghargai kamu, Ram. Aku cuma sedang banyak fikiran dan Mama terus memaksa aku"


"Sha, Tante engga maksa kamu. Coba lihat dari cara pandang dia, dia cuma sedang berusaha melakukan yg terbaik untuk kamu. Kalau kamu ada di posisi nya sebagai seorang ibu, mungkin kamu akan melakukan hal yg sama"


"Aku rasa engga, aku engga akan pernah bertindak egois pada anak ku"


"Jadi menurut mu, Tante Raya egois? Kamu sadar engga dengan apa yg kamu katakan? Dia mengadopsi kamu, menyayangi kamu seperti menyayangi Harry, memberikan fasilitas yg sama seperti Harry. Itu yg nama nya egois?"


Mata Nasha langsung terasa panas dan berkaca kaca mendengar ucapan Ramos yg sekali lagi mengingatkan Nasha bahwa ia hanyalah anak angkat. Berbeda sekali dengan ucapan Azhar, semakin terlihat jelas di mata Nasha perbedaan dua pria ini. Apa lagi Ramos berbicara dengan nada yg sedikit tinggi, membuat perasaan Nasha semakin terluka.


"Aku engga pernah memimpikan sebuah fasilitas mewah dari keluarga ku, Ram. Yg aku impikan cinta mereka yg tanpa syarat"


"Mereka mencintai kamu, Nasha. Jika tidak, mereka tidak mungkin memperhatikan mu seperti ini. Memberikan mu pendidikan yang terbaik di sekolah sekolah elit, kurang cinta seperti apa lagi mereka sama kamu?"


Nasha menatap Ramos dengan tatapan bingung, karena Ramos seperti nya tak mengerti apa yang Nasha maksud kan dan Ramos tak mengerti apa itu cinta?


"Aku mau pulang..." ucap Nasha yg sudah merasa sangat kesal.


"Kita belum selesai..." Ramos menarik tangan Nasha dan membuat Nasha kembali duduk di kursi nya "Ini sudah yg kedua kalinya kamu pergi di tengah acara makan kita, bisa kan hargai aku sedikit?" tanya Ramos dengan nada yg sangat dingin. Jujur saja Nasha merasa takut dengan sikap Ramos ini, Nasha pun hanya terdiam tanpa menyentuh makanan nya lagi. Ramos yg melihat itu kembali menghela nafas panjang.


"Maaf, Sha. Aku engga maksud maksa kamu, aku cuma mau kamu kasih kesempatan untuk membuktikan kalau aku sangat mencintai kamu dan aku akan selalu membahagiakan kamu" ucap nya lembut. Nasha semakin bingung dengan sikap Ramos yg mudah berubah ini dan emosi nya yg naik turun.


"Sha..." Ramos hendak menyentuh tangan Nasha namun dengan cepat Nasha menghindari nya "Okey, aku minta maaf..." ucap Ramos karena Nasha diam saja.


"Aku akan pulang setelah kita selesai makan..." ucap Nasha pada akhirnya dan ia menyantap kembali makanan nya. Kedua nya pun makan dalam diam, dan Ramos sama sekali tak mencoba membujuk Nasha kembali atau mengajak nya bicara. Pria itu diam dan makan dengan lahap, seolah tak terjadi apa apa.


Keesokan harinya, Nasha kembali menjalani hari nya sebagai mahasiswi kedokteran. Jurusan yg membuat kepalanya pening.


Sebelum kelas di mulai, Nasha menyendiri di lorong kampus. Ia hanya bisa memejamkan mata dan memainkan liontin nya. Hingga ia merasakan seseorang yg juga duduk di samping nya, Nasha berfikir itu Elin.


"Aku merasa lelah dengan drama hidup ini, Lin..."ucap nya tanpa membuka mata dan tangan nya terus sibuk di liontin nya "Kenapa harus aku yg mengalami semua ini?" lirih nya dan air mata mengalir dari sudut mata nya. Nasha merasakan ada tangan yg menghapus air matanya dengan lembut, Nasha tahu itu bukan Elin dan ia langsung membuka mata.


"Dilan???" pekik nya dan ia langsung berdiri.


"Duduk aja, Sha. Aku cuma engga tega tadi liat kamu kayak sedih gitu" ucap Dilan santai. Nasha pun kembali duduk "Kamu boleh curhat kok sama aku, aku janji engga akan kasih tahu siapapun. Meskipun aku engga bisa bantu masalah kamu, setidaknya kamu merasa sedikit ringan setelah bercerita. Ya, aku dengar itu dari beberapa orang" ucap Dilan yg membuat Nasha tersenyum simpul.


"Terlalu banyak masalah yg aku hadapi, Dilan. Sampai sampai aku engga tahu harus curhatin yg mana"


"Apa ini masalah Azhar? Elin cerita, katanya kalian engga di restui" ucap Dilan dengan suara rendah.


"Apa Elin selalu memberi tahu mu apa yg aku alami?" tanya Nasha sambil terkekeh.


"Engga juga, cuma kadang kadang dia merasa kasihan sama kamu dan bercerita sama kamu"


"Hidup ku sangat menyedihkan ya..."


"Engga kok, hidup mu luar biasa"


Nasha kembali terkekeh, dan hal itu membuat Dilan tampak senang "Gitu dong, kamu cantik saat tertawa..." Nasha langsung terdiam, Dilan sering sekali memuji nya dan terkadang itu membuat Nasha tidak nyaman apa lagi status Dilan yg pacar sahabat nya.


"Aku ke kelas dulu.." ujar Nasha sambil berusaha berdiri, namun tiba tiba ia kehilangan keseimbangan nya dan hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat Dilan menahan nya.


"Maka nya, lain kali hati hati..." ucap Dilan sambil membantu Nasha berdiri.


"Terima kasih..." ucap Nasha sambil tertawa kecil.


Sementara Elin yg berdiri tak jauh dari sana sudah memperhatikan mereka sejak Dilan mendatangi Nasha, hati nya bergemuruh melihat pemandangan itu. Apa lagi saat dengan begitu lembut nya Dilan menghapus air mata Nasha.


Elin menyadari, akhir akhir ini Dilan memang sedikit berubah. Dan sekarang ia tahu kenapa perubahan itu terjadi...


▫️▫️▫️


Tbc...