True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 93



Hingga ada sebuah gunting bedah yg jatuh dari kantong jas Ramos, Nasha yg menyadari itu dengan cepat mengambil nya dan menusuk tepat di leher kanan Ramos. Membuat Ramos mengerang kesakitan dan ia langsung menjauhi tubuh Nasha yg sudah setengah telanjang. Nasha sendiri sangat terkejut dengan apa yg sudah ia lakukan, ia melihat tangan nya yg gemetar dengan gunting yg berlumuran darah.


Nasha segera melempar gunting itu dan ia mendekati Ramos yg tampak sangat kesakitan sembari menekan luka di leher nya, namun darah terus mengucur dengan deras nya.


"Ram..." lirih Nasha hendak menyentuh Ramos namun tiba tiba ada seorang suster yg datang dan berteriak histeris melihat Ramos yg sudah terkapar bersimbah darah.


"Tolong, please!" lirih Nasha ketakutan namun suster itu malah berlari menjauh, membuat Nasha semakin ketakutan.


Sementara suster yg tadi langsung menghubungi polisi dan juga Ruben untuk mengabarkan apa yg terjadi. Suster itu tampak sangat shock dan juga ketakutan dengan apa yg baru saja ia lihat, karena dari kondisi Nasha, seperti nya ini kasus pelecehan juga. Suster itu tidak bisa mengambil tindakan karena melihat siapa Ramos.


.........


Azhar dan Abi Fadlan sangat terkejut saat mendapatkan kabar dari kepolisian bahwa Nasha melakukan penyerangan pada Ramos di rumah sakit. Pak Niranjan juga mendapatkan kabar itu dan mereka bertiga bergegas kerumah sakit milik Ruben, dimana di sana sudah ada banyak polisi dan Azhar melihat Nasha yg di bawa oleh beberapa polisi dengan tangan yg sudah di borgol. Bahkan ada media juga di sana yg meliput berita itu.


Azhar langsung berlari menerobos keramaian dan ia langsung memeluk Nasha, tak peduli dengan beberapa polisi yg hendak mencegah Azhar.


Nasha langsung menangis di pelukan Azhar dan ia tampak sangat ketakutan.


"Aku... Aku hanya membela diri" lirih Nasha di pelukan Azhar, ia menangis segegukan dan hal itu juga membuat Azhar juga tak bisa membendung air mata nya.


"Jangan takut, Sayang" seru Azhar dan ia menghapus air mata Nasha dengan tangan nya yg gemetar "Jangan takut, aku di sini, Sayang" lirih nya lagi.


"Aku tidak bermaksud....melukai nya" lirih Nasha lagi dengan terbata bata. Seorang polisi menarik Nasha dengan kasar.


"Kita bisa bicarakan itu di kantor polisi nanti" tegas nya yg tentu saja membuat Azhar dan Abi Fadlan marah.


"Tidak mungkin menantu ku melukai orang!" teriak Abi Fadlan dengan sangat marah, apa lagi melihat ketakutan di mata menantu yg sudah ia anggap putri nya sendiri, juga melihat tangan nya yg berdarah dan terborgol.


"Bukti dan saksi mengatakan sebalik nya" teriak Ruben yg muncul dari belakang kerumunan, ia juga terlihat sangat marah saat ini "Anak ku sedang sekarat saat ini karena ulah wanita ini" teriak nya yg membuat Nasha semakin menangis, ia menggeleng, menepis semua tuduhan itu. Menatap suami dan mertua nya bergantian dengan begitu memelas, Azhar hanya bisa merengkuh Nasha untuk menguatkan satu sama lain.


"Kami harus membawa tersangka ke kantor polisi sekarang juga" tegas polisi itu lagi yg membuat Azhar menggeram.


"Jangan berani menyebut istri ku tersangka!" seru Azhar dengan tegas, ia masih merengkuh Nasha dan enggan melepaskan nya. Begitu juga dengan Nasha yg sangat takut di lepaskan oleh Azhar.


Hingga beberapa polisi itu menarik paksa Nasha lepas dari pelukan Azhar membuat tangis Nasha semakin menjadi.


"Azhar...." lirih nya dengan suara yg tercekat di tenggorokan nya.


"Aku mohon jangan bawa istri ku..." teriak Azhar mengejar Nasha, Nasha hanya bisa menoleh dan menatap Azhar dengan berderai air mata, polisi itu memaksa Nasha masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil nya tak perduli dengan Azhar yg menggedor pintu mobil dan terus berteriak agar istrinya tidak di bawa pergi.


"NASHA!!!!!" teriak Azhar berlari sekuat tenaga mengejar mobil yg membawa Nasha pergi. Azhar hanya bisa terus berteriak memanggil nama istri nya di sela tangisan nya.


Abi Fadlan dan Pak Niranjan segera menyusul Azhar dan menenangkan nya.


"Tenang, Nak..." seru Abi Fadlan sembari merengkuh Azhar, menenangkan putra nya yg sedang terpukul karena apa yg di alami istrinya "Kita akan mengeluarkan Nasha dari masalah ini, Azhar. Kuatkan diri mu, jika kamu lemah maka Nasha tidak akan punya kekuatan lagi" bujuk sang ayah padahal ia sendiri begitu terpukul atas apa yg terjadi pada menantu nya.


"Aku akan membawa pengacara terbaik untuk membebaskan Nasha, Azhar" seru Pak Niranjan juga menguatkan Azhar. Apa lagi jika benar Nasha memang putri nya, tentu Pak Niranjan akan melakukan apapun untuk mengeluarkan Nasha dari masalah ini.


Sementara di dalam mobil, Nasha terus menoleh dan ia tidak bisa menghentikan tangis nya apa lagi melihat Azhar yg tampak sangat terpukul sekarang.


"Ini tidak adil, aku tidak bersalah" lirih Nasha namun tak ada yg memperdulikan nya dan mobil terus melaju menuju kantor polisi.


Nasha begitu takut dan sedih sekarang, keadaan memanpulasi kebenaran nya dan ia tidak tahu apakah Nasha bisa keluar dari masalah ini atau tidak.


Nasha hanya membela diri atas pelecehan yg di lakukan Ramos, ada bukti dan saksi akan hal itu.


Suster itu melihat keadaan Nasha saat itu, pakaian nya yg robek dan ia benar benar setengah telanjang.


Tapi Ruben tidak ingin anak nya terjerat kasus pelecehan dan ia memutar balikan fakta. Bahkan Nasha tidak tahu dimana pakaian nya sekarang karena saat ini ia memakai pakaian yg di berikan suster itu, pakaian yg sangat lengkap. Satu satu nya bukti yg di simpan kepolisian adalah gunting bedah itu yg berlumuran darah dan ada sidik jari Nasha di sana.


"Ya Allah, tolong hamba Mu ini. Tunjukkan lah kebenaran Mu dan keadilan Mu. Hamba memohon kepada mu, Ya Allah" Nasha hanya bisa terus berdoa dalam hati, berharap kebenaran akan apa yang terjadi terkuak.


Apa lagi saat melihat betapa terluka nya Azhar tadi karena keadaan Nasha.


Nasha tidak bisa hidup tanpa Azhar, begitu juga sebaliknya.