
"Apa sudah semua?" tanya Ummi Rifa saat ia melihat Azhar dan Nasha yg baru turun dari kamar nya.
Hari ini Azhar akan melakukan penerbangan ke Singapore bersama Abi Fadlan dan Pak Niranjan.
"Sudah, Ummi. Nasha sudah mempersiapkan semua barang barang Azhar di dalam koper" jawab Nasha.
Di sana sudah ada Pak Niranjan dan juga Bu Anjana.
Sementara Papa angkat Nasha yg akan mengantar mereka ke bandara.
Nasha merangkul Azhar dan membawa nya ke dalam mobil, kemudian ia menyusul dan duduk di samping sang suami. Ummi Rifa pun masuk ke mobil yg sama sementara Pak Surya yg akan menyetir, sementara di mobil yg lain ada Abi Fadlan dan dan Pak Niranjan, Bu Anjana dan Bu Raya yg juga ingin mengantar keberangkatan menantu nya ke Singapore.
Nasha tampak gugup dan sedih karena akan berpisah dengan suami nya, Azhar yg menyadari itu langsung menggenggam tangan Nasha dan mengecup nya. Mobil pun mulai bergerak meninggalkan area rumah Azhar dan berjalan menuju bandara.
"Kamu jangan sedih terus ya" lirih Azhar dan Nasha memaksakan diri nya tersenyum "Lagian kan Papa pergi nya cuma sebentar, Sayang. Dan sejauh apapun Papa pergi, Papa akan tetap berada di sini, ya kan?" tanya Azhar menunjuk dada Nasha dan Nasha tentu mengangguk.
"Papa harus semangat ya berobat nya, kami menunggu Papa pulang dengan sehat" kata Nasha. Ummi Rifa dan Pak Surya sesekali melirik Nasha dan Azhar di belakang, Ummi Rifa tentu sama sedih nya dengan Nasha, bahkan jauh lebih sedih karena Azhar adalah anak tercinta nya, yg ia rawat dengan penuh kasih sayang dan cinta yg begitu tulus sejak ia masih dalam rahim nya.
Azhar yg tiba tiba merasa pusing langsung menyenderkan kepala nya di pundak Nasha, pandangan nya kembali langsung buram dan hidung nya lagi lagi mengeluarkan darah. Kepala nya juga begitu sakit, Nasha yg menyadari itu langsung berteriak memanggil Papa nya.
"Papa, Azhar..." pekik nya yg membuat Pak Surya langsung menginjak rem secara mendadak.
"Azhar" gumam Ummi Rifa panik saat ia menoleh dan sudah mendapati Azhar yg sudah pingsan di pangkuan Nasha.
"Sayang, bangun..." lirih Nasha cemas.
Sementara mobil Pak Niranjan juga berhenti karena mobil di depan nya berhenti. Khawatir dengan keadaan Azhar, mereka pun segera keluar dari mobil dan berlari ke mobil yg di tumpangi Azhar.
"Azhar, jangan pingsan, Sayang. Aku mohon..." lirih Nasha lagi dan ia sudah tidak bisa membendung air mata nya begitu juga dengan Ummi Rifa, air mata Nasha bahkan sudah jatuh dan membasahi pipi Azhar. Sementara Pak Surya langsung memeriksa kondisi Azhar.
"A.. Ada apa?" tanya Abi Fadlan panik karena ia melihat Azhar yg sudah tak sadarkan diri di pangkuan Nasha.
"Kita harus putar balik, Azhar harus di bawa ke rumah sakit sekarang juga" seru Pak Surya dan ia kembali ke kursi kemudi begitu juga dengan Abi Fadlan dan Pak Niranjan yg kembali ke mobil mereka.
Tangis Nasha semakin menjadi selama dalam perjalanan ke rumah sakit, sementara Ummi Rifa berusaha keras agar tangis nya tak pecah dan ia tetap berusaha menenangkan menantu nya.
"Nak, jangan menangis terus, Azhar kan cuma pingsan, nanti juga bangun" kata Ummi Rifa dengan suara yg tercekat di tenggorokan nya.
Air mata juga terus mengalir deras di pipi nya, bibir nya bergetar karena tangis dan ia terus melantunkan doa tanpa henti, memohon agar putra nya di selamatkan.
"Ya Allah, habma memohon kepada Engkau yg maha pengasih, kasihanilah kami"
.........
Sesampai nya di rumah sakit, Azhar langsung di bawa ke ruang UGD dan beberapa Dokter dan suster langsung menangani Azhar dengan cepat.
Sementara yg lain nya hanya bisa menunggu dengan rasa cemas, takut dan sedih yg bercampur menjadi satu.
Ummi Rifa dan Nasha terus menangis tiada henti, Abi Fadlan berusaha menenangkan istri nya itu meskipun ia sendiri sangat tidak tenang, bahkan saat ini jantung nya seolah akan berhenti berdetak.
Sementara kedua Ibu Nasha memeluk Nasha dan menenangkan nya, walaupun begitu, itu tak bisa memberikan Nasha ketenangan sedikitpun karena yg ia inginkan saat ini hanyalah suami nya.
"Mama, aku tidak mau kehilangan nya" lirih Nasha di tengah tangis nya, suara nya bahkan sudah hampir hilang.
"Kami tidak mau kehilangan nya" kata Nasha sambil memegang perut nya.
"Nak, tenanglah" pinta Bu Anjana.
Tak lama kemudian Dokter Azhar dan juga Pak Surya keluar dari UGD, raut wajah mereka begitu sendu. Terutama Pak Surya, ia menatap sendu putri angkat nya itu. Perlahan ia berjalan mendekati Nasha, membelai kepala nya dengan lembut.
"Suami mu ingin berbicara dengan mu, Sayang" kata Pak Surya.
"Apa dia baik baik saja, Papa?" tanya Nasha dengan suara yg sangat serak karena terus menangis.
"Ayo, Papa antar, Nak" kata Pak Surya tanpa bisa menjawab pertanyaan Nasha. Ia pun mengantar Nasha untuk bertemu dengan suami nya.
Sementara Dokter Azhar kini berbicara dengan keluarga Azhar yg lain.
"Pasien bersikeras ingin pulang dan...." Dokter itu hampir tak bisa melanjutkan kata kata nya apa lagi saat ibu dari Azhar yg tampak sangat terpukul.
"Dan dia bilang ingin menghabiskan sisa hidup nya di rumah, bersama keluarga nya" kata Dokter itu yg membuat tangis Ummi Rifa semakin pecah, bahkan Abi Fadlan kembali menangis.
"Dokter..." lirih Pak Niranjan, kenapa bicara begitu? kami... Kami akan pergi ke Singapore, kami sudah membuat janji dengan Dokter terbaik di sana"
Dokter itu hanya bisa menggeleng lemah sebagai jawaban, karena dari hasil pemeriksaan memang sudah tidak mungkin lagi menyelamatkan Azhar.
Sementara di dalam, Azhar hanya bisa tersenyum pada istri nya yg menangis. Nasha menggenggam tangan Azhar dan mengecup nya berkali kali.
"Papa sudah sehat?" tanya Nasha dengan suara parau nya. Azhar mengangguk lemah masih dengan senyum di bibir nya.
"Penerbangan nya di tunda, besok pagi" kata Nasha lagi "Karena tadi Papa pingsan dan Dokter nya lama sekali membuat Papa sadar" ia berkata sambil terisak kecil.
"Tidak apa apa, Sayang. Aku baik baik saja, aku sungguh merasa baik. Aku juga ingin pulang" kata Azhar lemah.
"Jangan, Papa di sini saja. Biar bisa di rawat Dokter" kata Nasha sambil menghapus air mata nya. Azhar menggeleng.
"Aku ingin di rawat kamu dan Ummi" Azhar berkata dan lagi lagi masih dengan senyum.
Karena Azhar bersikeras ingin pulang, mau tak mau Dokter memberi nya izin begitu juga dengan keluarga nya.
Selama dalam perjalanan pulang, Azhar terus menyenderkan kepala nya di pundak Nasha sementara tangan nya menggenggam tangan Ummi nya yg kini duduk di samping nya.
Semua nya hanya bisa diam dan hanya air mata juga genggaman tangan yg berbicara.
Sesampai nya di rumah, Abi Fadlan dan Ummi Rifa memapah Azhar naik ke kamar nya dan Nasha mengikuti nya dari belakang.
Ummi Rifa menarik bantal dan meletakkan nya di bawah kepala Azhar, menidurkan putra nya dengan lembut seperti yg selalu ia lakukan saat putra nya masih kecil.
"Istirahat lah, Nak...." lirih Ummi Rifa dan ia hendak pergi namun Azhar menarik tangan Ummi nya dan menggenggam nya dengan sangat erat. Nasha naik ke ranjang dan duduk di samping suami nya.
"Papa istirahat ya, biar cepat sembuh" pinta Nasha dan Azhar mengangguk lemah. Nasha menggenggam tangan Azhar yg lain dan mengecup nya lagi dan lagi.
Hingga perlahan Azhar menghela nafas yg terasa begitu berat. Abi Fadlan membelai kepala putra nya itu dengan sayang.
Hingga tiba tiba tangan Azhar melemah dan ia menutup mata.
Abi Fadlan yg menyadari itu langsung berusaha membangunkan Azhar dengan menepuk pipi nya dan memanggil putra nya itu berkali kali, begitu juga dengan Ummi Rifa. Sementara Nasha tak berani mengangkat wajah nya, ia menunduk masih dengan menggenggam tangan Azhar yg sudah basah karena air mata.
Abi Fadlan memeriksa nafas Azhar di hidung nya, memeriksa nadi Azhar dan seketika ia hanya bisa terdiam kaku dengan air mata yg langsung mengalir deras di pipi nya.
"Innalillahi wa Innalillahi rojiun"