True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 52



Azhar menyetir dengan sangat lambat, bahkan beberapa kali pengendara yg di belakang nya meng klakson beberapa kali.


Azhar mencoba menenangkan hati dan fikiran nya, ia menepi di sebuah jembatan. Azhar turun dari mobil dan berdiri di pinggir jembatan itu, Azhar memandangi air sungai di bawah sana. Seketika ia teringat dengan Laura, gadis yg malang. Fikir nya.


Tak bisa Azhar bayangkan bagaimana mengerikan nya kehidupan gadis remaja itu, dan Nasha? Bagaimana jika Nasha melakukan hal yg sama?


Azhar kembali masuk ke dalam mobil nya dan menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang sambil terus menggumamkan dzikir guna menenangkan hati nya yg patah dan fikiran nya yg kacau.


Sesampainya dirumah, Azhar berpapasan dengan taksi yg baru keluar dari rumah nya. Azhar berfikir mungkin itu Abi nya "Sepertinya aku memang harus menabung setidak nya buat beli motor, kasian Abi" gumam Azhar.


Azhar masuk ke dalam rumah nya dan ia tercengang saat melihat Nasha berada di ruang tamu sambil menikmati sepiring nasi goreng.


Gadis itu tidak menyadari kehadiran Azhar, ia makan dengan sangat lahap seolah ia sangat kelaparan.


"Assalamualaikum..." seru Azhar dan seketika Nasha mendongak.


"Azhar, akhirnya kamu pulang juga..." seru Nasha tanpa menjawab salam Azhar. Ia segera meneguk air dari gelas dan setelah itu berdiri menghampiri Azhar yg diam mematung di tempatnya. Nasha berjalan dengan sedikit pincang.


"Azhar, aku kabur dari rumah. Aku engga mau menikah sama Ramos, Mama paksa aku. Aku engga bisa, aku engga mau, Ramos juga bukan pria yg baik. Dia pernah membentak ku dan dia.. Dia..." Nasha berbicara tanpa jeda sedikitpun, ia terlihat sangat panik bahkan matanya sudah memerah dan berkaca kaca.


"Sshtt, Nasha... Tenang, Sayang.. Tenang, okey?" Azhar berusaha menenangkan Nasha dan tanpa sadar ia memanggil nya sayang. Nasha terdiam namun ia masih tidak terlihat tenang "Sekarang kita duduk dulu, kamu selesaikan makan nya dan setelah itu kita bicara" ucap Azhar dengan sangat lembut. Nasha mengangguk dan mereka berdua kembali ke sofa.


Setelah itu Ummi Rifa datang dengan membawa teh hangat untuk Nasha dan ia juga terlihat membawa salep


"Lanjutkan makan nya, Nasha. Tidak apa apa..." seru Azhar karena Nasha masih terdiam.


"Tadi dia datang kesini naik taksi, kaki nya keseleo dan juga kelaparan" ucap Ummi Rifa sambil terkekeh.


"Nasha belum makan sejak tadi malam, Ummi. Maaf ya merepotkan" ucap Nasha sungkan. Ummi Rifa terkekeh kecil.


"Engga apa apa, ya udah kamu makan dulu. Kasian perut mu keroncongan terus dari tadi" ucap Ummi Rifa dan Nasha pun kembali makan.


Azhar memandangi Nasha dan entah kenapa ia merasa prihatin melihat wajah kekasih nya itu, mata nya sembab, ada lingkaran hitam yg terlihat jelas di bawah mata nya.


"Kamu nangis terus ya?" akhir nya Azhar bertanya. Nasha mengangguk sambil mengunyah "Pelan pelan saja makan nya" ucap Azhar lagi dan Nasha kembali mengangguk.


Ummi Rifa menatap Nasha dengan begitu sendu, merasa kasihan dengan nasib gadis ini "Setelah makan, oleskan salep di kaki mu ya" ujar Ummi Rifa.


"Memang kaki nya kenapa?" tanya Azhar sambil refleks menunduk dan melihat kaki Nasha.


"Keseleo tadi pas turun lewat jendela" jawab Nasha dan ia kembali meminum air putih nya, nasi nya pun sudah habis. Setelah itu ia meminum teh hangat yg di sodorkan Ummi Rifa.


"Jadi, apa yg terjadi, Nasha?"


.........


"Mau kemana, Ma?" tanya Surya yg melihat Raya tampak sangat rapi.


"Mau ke butik sama Nasha, Pa. Mau cari baju buat acara pertunangan nya nanti" jawab Raya sambil menarik tas nya.


Ia pun segera keluar dari kamar, kemudian ia naik ke lantai dua untuk menghampiri Nasha di kamar nya.


"Sha..." seru Raya sambil membuka pintu, namun ia tidak mendapati Nasha disana. Ranjang nya masih sangat rapi, meja belajar nya pun sama, jendela juga tertutup rapat "Sha, kamu di kamar mandi?" teriak Raya sambil berjalan ke kamar mandi.


"Bi... Bi Tanti..." Raya berteriak memanggil asisten rumah tangga nya itu. Wanita paruh baya itu pun segera berlari tergopoh gopoh menghampiri Nyonya besarnya.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Bi Tanti dengan nafas yg sedikit memburu.


"Dimana Nasha?" tanya Raya dengan nada tinggi.


"Saya tidak tahu, Nyonya. Non Nasha tidak pernah keluar kamar sejak tadi malam" jawab nya.


Raya pun segera bergegas ke kamar Harry yg ada di sebelah kamar Nasha, Raya langsung membuka pintu dan Harry terlihat sedang sibuk dengan gitar nya dan ia memakai headphone.


"Har..." Raya melepaskan headphone Harry yg tentu saja membuat putra nya itu memberengut kesal.


"Apa sih, Ma?" tanya Harry ketus.


"Dimana Kakak mu?" tanya Raya dengan mata yg berapi api.


"Dikamar nya lah" jawab Harry masih dengan sangat ketus.


"Engga ada, Har. Bilang sama Mama, dimana Nasha sekarang?" bentak Raya.


"Mana aku tahu..." Harry balas membentak. Raya menggeram kesal dan ia segera meninggalkan kamar Harry.


.........


Abi Fadlan dan Ummi Rifa menatap Azhar dan Nasha secara bergantian. Nasha sudah mengungkapkan segala isi hati nya dan tekanan yg ia rasakan. Begitu juga dengan Azhar, pria Itu juga sudah mengungkapkan rasa cinta nya pada Nasha di depan kedua orang tua Azhar. Azhar juga sudah memberi tahu Nasha bahwa tadi ia pergi kerumah Nasha dan bertemu dengan Ramos dan yg lain nya disana.


"Aku benar benar engga bisa, Azhar. Ini tentang kehidupan ku selanjutnya dalam ikatan pernikahan, ini akan jauh lebih berat dari pada kuliah di bidang kedokteran" tutur Nasha "Membayangkan bertunangan dengan Ramos saja aku sudah tidak sanggup, apa lagi jika aku harus menjadi istrinya"


"Tapi bagaimana pun juga kamu masih harus pulang, Nasha. Kita akan bicara dengan orang tua mu sekali lagi, ya? Semoga saja sekarang mereka mau mengerti" ucap Azhar mencoba meyakinkan Nasha.


"Tapi aku takut, bagaimana kalau mereka tetap tidak mau mengerti?"


"Kalian harus mencoba nya dulu" ujar Abi Fadlan "Kami akan mengantar mu pulang setelah sholat Maghrib" lanjut nya.


Nasha hanya bisa mengangguk pasrah. Ia sangat tidak yakin dengan keputusan Abi Fadlan, tapi Abi Fadlan juga ada benar nya.


Apa lagi Nasha malah pergi kerumah Azhar, orang orang bisa saja berfikiran yg buruk tentang Azhar dan keluarga nya karena Nasha.


"Sebaiknya kamu mandi dulu, Nasha. Sebentar lagi adzan" ucap Ummi Rifa dan Nasha kembali hanya mengangguk.


Ummi Rifa mengambilkan pakaian ganti untuk Nasha dan mengantar Nasha ke kamar tamu yg ada di lantai satu, agar Nasha mandi dan berganti pakaian disana.


Azhar hanya bisa memandangi Nasha dari belakang, dan ia merasa kasihan melihat Nasha yg berjalan sedikit pincang.


"Kamu juga, Nak. Sebaiknya kamu mandi dan kita sholat bersama, kita harus segera mengantar Nasha pulang"


"Iya, Bi..."


▫️▫️▫️


Tbc....