True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 2



Azhar di sambut hangat oleh keluarga Rafa, terutama oleh Rafa sendiri. Ia sangat senang Karena Azhar datang ke pernikahan nya, dan sekarang Rafa mendoakan Azhar semoga ia cpat menyusul.


"Aku belum pengen nikah, doa nya jangan lupa 'nanti' kalau aku sudah mapan" ujar Azhar pada Rafa yg membuat semua orang tertawa.


Di sana juga ada sepupu Rafa dan pasangan mereka masing masing, mereka bahkan sudah punya bayi yg lucu lucu "Sekarang aku ngerti kenapa kamu kebelet nikah, pasti pengen punya anak anak kayak ini ya?" seru Azhar sembari bermain dengan bayi Maryam dan Afsana, adik sepupu Rafa "Siapa nama mu, boys?"


" Ezra dan Al" jawab Rafa.


"Kalian lucu lucu banget sih,. Pengen aku bungkus bawa pulang. Tak kasih ke Ummi, pasti langsung bahagia Ummi ku" seru nya lagi. Ia tak bisa menahan dari melihat kedua bayi tampan itu yg sedang bermain, namun terkadang mereka berebutan mainan dan tak mau kalah satu sama lain.


"Makanya cepat nyusul, jodoh itu memang di tanga Allah. Tapi kita juga harus berusaha kan" ujar Rafa yg tak di perdulikan olAzhr.


Keluarga besar Rafa berkumpul semua disana, dan pernikahan nya pun akan di gelar esok. Karena itulah Azhar langsung kerumah Rafa tanpa pulang kerumah nya dulu. Dan Azhar sangat menikmati persiapan pernikahan ala desa Rafa itu. Ia juga sangat menyukai desa itu, yg bagi nya sangat segar dan indah.


Ada sungai yg mengalir di sepanjang perjalanan nya tadi, sawah sawah yg hijau, tumbuhan yg besar besar. Membuat rasa takjub Azhar tak pernah hilang sekalipun ia sudah sering ke desa ini.


Setiap kali melihat keadaan alam yg masih begitu alami, Azhar hanya bisa menggumamkan pujian pada sang pencipta yg menciptakan segala nya dengan begitu indah. Namun sayang, kadang manusia sendirilah yg memperburuk nya.


.........


"Bagaiamana kuliah mu, Sha?" tanya Raya, yg tak lain adalah Mama nya Nasha. Saat ini mereka sedang makan malam.


"Nasha pingsan lagi, Ma. Kayak nya Nasha emang..."


"Jangan gampang menyerah, Sya. Papa mu dulu juga gitu, tapi sekarang dia bisa jadi Dokter yg baik" sela Raya yg tak membiarkan Nasha bicara. Tak lama kemudian adik Nasha, lebih tepatnya anak kandung Surya dan Raya yg bernama Harry datang dan bergabung di meja makan.


"Ma, coba deh sesekali ngertiin Kak Nasha. Kasian kan dia tertekan dengan kuliah nya" sambung Harry dengan berani. Nasha menatap Harry Dan memberi isyarat agar diam.


Tapi walaupun bukan saudara kandung, Harry sangat perduli pada Nasha karena Nasha kakak nya. Nasha merawat nya dengan baik bahkan sering menjadi teman curhat Harry. Harry sendiri baru kelas tiga SMA namun ia bisa jadi pria dewasa dan pelindung bagi kakak nya.


"Engga akan lah, masak iya tertekan dengan kuliah. Di luar sana banyak lho orang yg pengen jadi Dokter dan kuliah ke dokteran tapi engga mampu. Nasha sangat beruntung kan karena kami adopsi dan kami kuliahkan di jurusan kedokteran" ujar sang Mama yg lagi lagi membuat hati Nasha tercubit. Mengingatkan Nasha bahwa ia hanyalah anak adopsi.


"Ma..." tegur Harry tak suka namun Nasha segera menghentikan nya.


"Iya, Ma. Nanti Nasha belajar lagi" jawab Nasha dengan senyum masam di wajahnya.


Setelah acara makan malam, Nasha kembali ke kamar nya. Harry pun segera menyusul nya karena ia merasa khawatir dengan kakak nya itu.


"Ada apa, Her?" tanya Nasha.


"Kak, coba nanti Kak Nasha jelasin ke Mama kalau passion Kakak bukan di kedokteran" ujar Harry sembari masuk ke kamar kakak nya. Kamar yg di dominasi warna biru muda dan putih, yg kata Nasha melambangkan ketenangan.


"Kayaknya kakak sudah lakukan itu, tapi kamu tahu sendiri Mama Papa gimana. Ya udah lah, kamu doain aja semoga Kakak bisa jadi dokter seperti yg mereka mau" ujar Nasha mencoba lapang dada.


"Sabar ya, Kak. Semoga aja nanti mereka ngerti" ujar Harry prihatin. Nasha tersenyum manis, Harry selalu tampil sebagai penghibur dan penyemangat diri nya.


"Ya udah, kamu balik gih ke kamar. Kakak mau telpon Elin" ujar Nasha dan Harry pun mengangguk Kemudian keluar dari kamar Nasha.


Sebenarnya Nasha berbohong, ia tak ingin menelpon Elin. Tapi Nasha ingin menangis, mengeluarkan tangis yg ia tahan sejak tadi. Setelah mengunci pintu dan mematikan lampu kamar nya hingga kamar nya menjadi gelap, Nasha naik ke atas ranjang. Menutup wajah nya dengan bantal dan ia berteriak sambil menangis.


Nasha bukan nya tak bersyukur dengan apa yg ia miliki, kedua orang tua angkat nya itu bahkan memberikan Nasha hadiah mobil di ulang tahun nya yg ke 19. Tapi bukan itu yg Nasha harapkan.


Nasha hanya berharap mereka mengerti bahwa Nasha punya perasaan dan keinginan sendiri walaupun ia hanyalah anak adopsi.


.........


Azhar tak memiliki ikatan darah sedikitpun dengan keluarga Rafa, tapi ikatan Azhar dengan keluarga Rafa begitu kuat yg berasal dari persahabatan nya dengan Rafa.


Mau bagaimana lagi, di mata keluarga Rafa, Azhar adalah pria yg sangat baik, lembut, dewasa, pintar, sopan. Bahkan mereka membandingkan karakter Azhar yg hampir sama dengan Bilal, suami dari Tante Rafa.


Sementara istri Rafa ternyata sangat cantik, dia adalah putri dari sahabat ayahnya. Dan pernikahan itu adalah perjodohan, tapi di pandangan pertama kedua nya malah saling jatuh cinta. Sehingga pernikahan itu bukan hanya atas dasar perjodohan.


"Kapan nyusul?" Azhar sedikit terkejut mendengar suara bass itu. Ia menoleh dan langsung menyunggingkan senyum nya.


"Om Bilal..." seru nya "Em nanti, Om. Kalau sudah ada calon nya" jawab Azhar.


"Setiap manusia yg lahir itu sudah di persiapkan calon nya. Tinggal kamu cari aja, dengan cara berdoa terus menerus" ujar Bilal.


"Inysa Allah, Om"


"Kayaknya kamu ini belum ada tanda tanda pengen nikah ya" ujar Bilal lagi yg langsung membuat Azhar tertawa.


"Soalnya masih ingin mengabdi sama orang tua, Om. Kan aku anak tunggal, jadi pengen fokus sama mereka"


"Justru karena kamu anak tunggal, menikahlah. Dan pilih wanita yg terbaik, bawa dia bersama mu. Supaya bisa membantu merawat orang tua mu"


Azhar terdiam sesaat, ia berfikir masih terlalu muda untuk menikah. Dan masih banyak yg ingin dia lakukan sebelum menjadi kepala rumah tangga. Azhar bahkan merasa belum menjadi anak yg baik untuk kedua orang tua nya.


"Inysa Allah, Om. Semoga Allah mengirimkan wanita terbaik untuk ku"


"Aamiin. Tapi perhatikan juga diri mu, apakah kamu sudah termasuk dalam kategori pria terbaik? Jangan hanya perhatikan calon mu apakah sudah yg terbaik atau bukan. Sementara kamu lupa memperhatikan apakah kamu adalah calon yg terbaik untuk pasangan mu nanti"


Azhar langsung tercengang mendengar penuturan Ustadz Bilal itu. Bukan karena tersinggung, tapi karena ia baru merasakan bahwa memang seharusnya begitu. Selama ini Azhar sering sekali membaca atau mendengar kata kata bijak seperti itu, namun saat Bilal mengatakan nya di saat mereka membicarakan tentang Azhar sendiri, Azhar seolah baru mendengar kata kata itu. Langsung menancap tepat di hati nya.


"Terimakasih, Om. Sudah mengingatkan" ujar Azhar.


"Nikmati acara nya, Azhar. Biar engga sia sia kamu datang jauh jauh dari Mesir langsung ke sini" tutur Bilal yg membuat Azhar terkekeh.


"Iya, Om. Pasti"


.........


Elin memberi tahu Nasha bahwa dia akan pulang ke desa nenek nya. Hitung hitung ingin liburan karena sudah lama sekali ia tak berkunjung kesana. Dan dengan sangat antusias Nasha ingin ikut.


"Kamu serius?" tanya Elin dan Nasha langsung mengangguk berkali kali.


"Berapa lama?" tanya Nasha kemudian.


"Semingguan sih"


"Lumayan lah. Aku Lagi sumpek banget, Lin. Pengen refreshing, dan sebuah desa adalah tempat refreshing terbaik. Udaranya segar, pasti banyak pepohonan dan sawah sawah yg hijau, sungai yg mengalir... Hmmm. Pasti sangat menyenangkan dan menenangkan" tutur Nasha yg terlihat tak sabar ingin pergi kesana.


"Ya udah, besok lusa kita berangkat. Tapi bakal di izinin engga sama Papa Mama mu?"


"Nanti deh aku minta bantuan Harry buat bujuk mereka. Semoga aja di kasih, karena aku benar benar udah sumpek banget"


▫️▫️▫️


Tbc...